logo text

Bab 47 Revan Bermimpi Di Siang Hari.

Alea ternyata bekerja di sebuah hotel Swiss yang juga ada restorannya, Alea sangat kaget ketika mendapati Andri yang sejak tadi menelpon dirinya. Alea kemudian meminta izin ke salah satu managernya buat menghubungi temannya Andri. managernya yang bernama Satrio memang sedikit kegatalan terhadap Alea dan dia menyukai Alea, Satrio berumur 39 tahun yang sudah 3 tahun memimpin sebagai manager di hotel tersebut. Alea mengetuk pintu managernya.
"Excuse me sir, I'm Alea Azura, I want to ask permission to call my colleague who is currently in the hospital," said Alea.
("Permisi pak, saya Alea Azura mau minta izin untuk menelpon rekan saya yang saat ini di rumah sakit," kata Alea.)
"Please Alea!" Satrio ordered which then flicked Alea's ass.
("Silahkan Alea!" perintah Satrio yang kemudian menyentil pantat Alea.)
Alea pun menatap kebelakang, akan tetapi Satrio langsung melepaskan tangannya, kemudian saat Alea keluar, Satrio membuka pintu untuk dirinya, lalu Satrio pun kembali menyentil pantat Alea, sehingga membuat Alea naik darah.
"Sir, sir, don't be rude, yes, to me as your employee, I can just shout by calling the employees here, because you have flicked my ass," angry Alea to the boss.
("Pak, bapak, tidak bersikap kurang hajar ya, kepada saya sebagai karyawan anda, saya bisa saja berteriak dengan memanggil karyawan disini, sebab anda sudah menyentil pantat saya," marah Alea kepada pak bos.)
"Calm down Alea, you don't have to shout like that, how about we chat over coffee?" asked Satrio.
("Tenang Alea, kamu tidak perlu berteriak seperti itu, bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum kopi?" tanya Satrio.)
Alea pun langsung meninggalkan pak bos yang sedang mematung di hadapan pintu ruang kerja.
"Anyway, I will not let you go Alea," said Satrio alone.
("Pokoknya saya tidak akan melepaskan kamu Alea," kata Satrio seorang diri.)
Tririringggg.....triririringgggg.....
Bunyi ponsel Andri yang menandakan adanya panggilan masuk dari Alea.
"Oiya, sayang saya minta maaf, saya tadi tidak sempat jawab panggilan kamu, ada sesuatu yang harus di selesaikan," kata Alea.
Andri pun yang menatap ponselnya, lalu mengangkat panggilan dari Alea.
"Apakah kamu sudah tak peduli saya lagi? kamu tidak mengantar saya makan? apa kamu ada yang lain?" tanya Andri yang menuduh Alea berselingkuh saat menerima panggilan.
"Ya Allah, sayang itu sama sekali tidak benar, saya peduli pada kamu tapi bukan berarti saya cinta, walau pun kamu pacar saya dan saya hargai kejujuran kamu," balas Alea saat mematikan ponselnya.
"Dasar cowok aneh, orang sudah katakan maaf, malah dituduh yang bukan-bukan," celetuk Alea seorang diri.
"Halo, halo, halo, Alea, apakah kamu mendengar saya? apakah kamu mematikan panggilan saya?" teriak Andri saat menelpon Alea yang sudah tidak menjawab panggilan darinya.
"Sial, berani sekali dia mematikan telpon saya, tidak seperti biasanya," celetuk Andri yang kemudian mematikan panggilannya juga.
"Tuh, apa saya katakan? jika dia cinta kamu, dia pasti ingin mengobrol bersama kamu pacarnya, tapi nyatanya tidak, justru dia mencintai cowok lain," Martin semakin memanasi Andri yang lagi naik darah.
Kemudian Martin pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap Andri, tidak lama kemudian seorang dokter memasuki ruang inap Andri.
"How are you today Andri?" asked the doctor Mark.
("Bagaimana kabar kamu pada hari ini Andri?" tanya dokter Mark.)
"Alhamdulillah fine doctor," Andri answer.
("Alhamdulillah baik dokter," jawab Andri.)
"I want check you Andri," said doctor Mark.
("Saya mau cek kamu Andri," kata dokter Mark.)
Andri pun mempersilahkan sang dokter memeriksa dirinya yang telah dinyatakan sehat total. namun dokter itu pun menyatakan kepadanya agar istirahat di rumah, Andri mendengarkan saran dari dokter tersebut.
"Awas saja Alea jika kamu menduakan saya, maka kamu akan ku singkirkan, seperti saya menyingkirkan papa dan selingkuhannya, akibat telah menyakiti mama saya," Andri bergumam dalam hati.
Waktu jam istirahat telah tiba, teman-teman Alea mengajak dirinya untuk makan bersama, namun tiba-tiba Martin datang ke lokasi kerja Alea.
"Alea, apakah kamu tidak ikut bersama kami makan siang di luar?" tanya salah satu karyawan restoran itu.
Alea menatap Martin saat tiba di lokasi kerjanya.
"Ya Allah Martin, bagaimana kamu bisa tahu lokasi kerja saya?" tanya Alea.
"Ya ampun Alea, saya kenal kamu itu jauh sudah lama, sebelum pacarmu Andri mengenal kamu, bahkan kamu tahu saya itu suka kamu dan cinta sama kamu, kamu ingat tidak saat kejadian di atap kampus, ketika saya frustasi dan saya keceplosan ungkapkan cinta kepada kamu, jadi tidak heran jika saya mengetahui segala apa pun tentang kamu," jelas Martin saat membonceng Alea dan menjalankan motornya.
"Saya minta maaf Martin, saya telat merespon perasaan kamu dan perasaan saya juga telah menjadi milik Andri, tapi hati saya hanya milik kamu Martin," Alea bergumam dalam hati.
"Alea, kita mau makan dimana?" tanya Martin.
"Ya, saya ikut kemana kamu pergi Martin," jelas Alea.
"Baiklah, kalau begitu saya akan bawa kamu ketempat cafe favorit saya bersama bang Kevin dulu, cafenya tidak jauh dari tempat kerja kamu," jawab Martin saat melanjutkan perjalanannya.
Tidak lama kemudian Martin pun tiba di cafe tersebut, sementara Andri mulai mengemasi barangnya dan keluar dari rumah sakit Swiss.
"Alea, kamu mau pesan apa?" tanya Martin.
"Saya dessert strauberry," jelas Alea.
"Koq bisa sama ya, saya juga dessert coklat nona," balas Martin.
"Baiklah, tunggu sebentar ya tuan," jelas pelayan itu dan lalu pergi meninggalkan mereka.
Disisi lain Andri memanggil taksi.tak lama kemudian pengantar makanan itu pun Datang.
"Tuan, nona, ini pesanan anda," ucap pelayan itu.
"Terima kasih mbak," kata Martin saat mulai makan dessert itu.
Alea pun langsung melahap dessertnya, sehingga mukanya jadi belepotan.
"Ya ampun, kamu makan nya lucu banget sampai belepotan lagi," jawab Martin.
"Ya namanya juga orang kelaparan tin," celetuk Alea ketika menyelesaikan makanannya.
Tak lama kemudian ponsel Martin berbunyi yang menandakan adanya panggilan masuk dari Febby.
Tririringgggg.......triririringgggg.
Bunyi ponsel Martin yang menandakan ada panggilan masuk dari Febby.
"Tin, ponsel kamu bunyi," kata Alea.
"Halo, siapa ini?" tanya Martin ketika mengangkat telpon.
"Saya Febby, kata pembantu kamu, kamu lagi tidak ada dirumah ya, soalnya saya ini ada di teras pintu rumah kamu tin, kebetulan tadi bibi yang jawab," ucap Febby saat menerima panggilan masuk dari Martin.
"Oh kamu Feb, saya lagi diluar bersama Alda, ini kita sedang makan di cafe," jawab Martin saat ingin mengakhiri panggilan nya.
"Oh jadi begitu tin, ya sudah lain waktu kalau ada kesempatan kita makan, oh iya besok lusa saya ulang tahun, jadi ingin panggil kamu ke acara saya," ucap Febby saat ingin mematikan ponsel.
"Boleh, saya akan hadir," jawab Martin singkat dan mematikan ponselnya.
"Siapa?" tanya Alea.
"Oh tadi Febby yang menelpon, dia undang kita ke party nya. apakah kamu cemburu?" Martin bertanya balik.
Febby meninggalkan rumah Martin, di dalam perjalanan hati nya berkata.
"Sial, lagi-lagi Alea yang di hati Martin, pokoknya saya harus singkirkan Alea untuk selamanya, kalau tidak, saya tidak akan mendapatkan Martin," kata Febby dalam hati.
Pada akhirnya mereka selesai makan. taksi yang dipanggil oleh Andri pun tiba.
"Sir, please take me to this address!" Andri ordered.
("Pak, tolong antar saya ke alamat ini!" perintah Andri.)
"Yes sir,"
("Baik tuan,")
Pada akhirnya supir itu pun meninggalkan rumah sakit bersama Andri.
Pada situasi lain Tom tiba di kediaman Mayra dengan sambutan langsung dari papanya Mayra.
"Yes, Tom, please come in!" Mayra's father ordered.
("Ada nak Tom silahkan masuk!" perintah papanya Mayra.)
"Thank you uncle," said Tom.
("Terima kasih paman," kata Tom.)
Dengan izin dari papanya Mayra, Tom pun langsung masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada ayahnya Mayra tentang ibu nya Mayra.
"Uncle, what do you think is sick?" asked Tom.
("Paman, kira-kira tante sakit apa ya?" tanya Tom.)
"Yes, it's normal, Tom, his name is parents who think about their children," explained Mayra's father.
("Ya biasa nak Tom, namanya orang tua pasti pikirin anaknya," jelas papanya Mayra.)
"May I enter your uncle's wife's room?" asked Tom.
("Apakah saya boleh masuk ke kamarnya istri paman?" tanya Tom.)
"Oh God, son Tom, of course, uncle, let it be," said Mayra's father again.
("Ya Allah nak Tom tentu saja paman izinkan," jelas papanya Mayra lagi.)
Pada saat Tom memasuki ruangan ibunya Mayra, tiba-tiba Kevin datang dengan menghalangi dirinya.
"What are you doing here?" Kevin asked.
("Sedang apa kamu disini?" tanya Kevin.)
"Uncle who told Tom to enter Mayra's mother's room," continued Mayra's father.
("Paman yang menyuruh Tom buat memasuki ruangan ibunya Mayra," sambung papanya Mayra.)
"It's not like that, Uncle, Aldo doesn't want Aunt Isabel to get sick later, because of disturbances from this house," Kevin explained.
("Bukan seperti itu paman, Aldo tidak mau tante isabel nanti sakitnya tidak pulih, sebab adanya gangguan dari rumah ini," jelas Kevin.)
"Mayra agrees with Aldo pa's words, because she will be sick again," said Mayra.
("Mayra setuju dengan ucapannya Aldo pa, karena dia nanti mama jadi kembali sakit," ucap Mayra.)
"Your son is my son?" asked Mayra's mother.
("Putra kamukah itu anakku?" tanya ibunya Mayra.)
"No aunty, I'm Tom bringing fruit for aunty, may God heal aunty yes," answered Tom.
("Bukan tante, saya Tom membawa buah buat tante, semoga tuhan menyembuhkan tante ya," jawab Tom.)
"Auntie doesn't want to eat Tom, just take the fruit," Mayra's mother refused Tom's gift.
("Tante tidak mau makan nak Tom, bawa saja buahnya itu," ibunya Mayra menolak pemberian Tom.)
Kevin menertawakan Tom dengan tawaan pelan.
"Shit, I'm tired of buying this, this old woman dare refuse my gift," Tom muttered to himself.
("Sial, saya sudah capek membeli ini, perempuan tua ini berani sekali menolak pemberian saya," Tom bergumam dalam hati.)
"Tom, I'll take this, because I appreciate your efforts, thanks again," Mayra added.
("Tom, saya akan ambil ini, sebab saya hargai upaya kamu, sekali lagi terima kasih," tambah Mayra lagi.)
"Mayra, this is a special flower for a beautiful girl like you," Tom replied.
("Mayra, ini bunga spesial buat perempuan cantik seperti kamu," jawab Tom.)
"Then I'll excuse myself uncle," Tom said goodbye.
("Kalau begitu saya permisi dulu paman," Tom pun pamit pulang.)
"Mayra tomorrow I will pick you up," said Tom.
("Mayra besok saya jemput kamu ya," kata Tom.)
"If you want to go home, just go home, don't make too many excuses," Kevin was jealous of Mayra and Tom.
("Sudah kalau mau pulang ya pulang saja, jangan banyak alasan," Kevin cemburu pada Mayra dan Tom.)
"Looks like I have to go to the airport to bring Putra here, otherwise, I'm sorry Auntie Isabel is so stressed," Kevin muttered to himself.
("Sepertinya saya harus ke airport buat bawa Putra kemari, kalau tidak, kasihan tante isabel jadi stres begini," Kevin bergumam dalam hati.)
"Uncle, I want to ask permission to go out for a moment," Kevin replied.
("Paman, saya mau minta izin keluar sebentar," jawab Kevin.)
"Aldo where are you going?" Mayra asked.
("Aldo mau kemana kamu?" tanya Mayra.)
"Yes, uncle, let you go," said Mayra's father.
("Ya sudah paman izinkan kamu pergi," kata papanya Mayra.)
Pada akhirnya Kevin pun melajukan mobilnya menuju bandara Swiss.
Disisi lain Putra Al Kahfi tiba di bandara Malaysia.sedangkan Zain yang baru selesai menguburi Sabrina, dia langsung kembali ke rumah sakit bersama Fatimah.
"Alhamdulillah akhirnya saya sampai juga di Kuala Lumpur," celetuk Putra seorang diri.
Pada akhirnya Putra pun melangkahkan kakinya memasuki bandara Malaysia, tidak lama kemudian ia menabrak seseorang di bandara tersebut, ketika dirinya sedang berjalan di dalam bandara itu.
“Apa kamu tidak bisa melihat orang saat melangkahkan kakimu? sampai kamu harus menabrak saya?” tanya Faiz kepada Putra.
“Tunggu, jelas-jelas disini yang salah anda bukan saya, sementara saya sudah benar pada tujuan saya,” kata Putra.
“Anda bermain ponsel sambil berjalan, jadi berarti anda tidak bisa melihat, sedangkan kita ada hokum yaitu dilarang main ponsel saat berjalan,”
“Berani sekali awak bermacam-macam dengan bos kami,” sambung ajudan Faiz.
“Prajurit, berhenti!” perintah Faiz.
“Tunggu, anda mengajarkan saya hukum, anda tahu bahwa hokum itu bisa saja dibeli, bahkan orang munafik pun bisa beli hukum. apakah anda mengerti?” tanya Faiz.
“Saya berjalan memakai mata bukan lutut,” tambah Faiz lagi.
“Sudahlah, saya tidak ingin berdebat dengan orang seperti anda,” kata Putra yang akhirnya meninggalkan mereka.
“Ingat ya teman masalah kita belum selesai,” kata Faiz.
“Kita pasti akan berjumpa lagi,”
Putra tidak menggubris ucapan mereka dan dia terus fokus pada tujuannya sambil memanggil taksi.
Disisi lain Zain dan Fatimah akhirnya selesai memakamkan Sabrina palsu, pak ustad kembali memberi nasehat di pemakaman tersebut.
“Anak-anak saye sekalian, jenazah ni adalah pembelajaran buat kite semuanye, bahwe hidup ni sangat dekat dengan kematian kite semuanye ni, maka Allah ni suruh kite buat perbaiki amalan kite dan berbuat baik sesame friend dan family kite sebelum Allah panggil kite buat memasuki surganye,” kata ustad tersebut sambil berdoa bersama.
“Pak, maaf saya tidak bisa berlama-lama ini,” jelas Zain.
“Sekali lagi saya katakan terima kasih kepada kalian telah bantu saya,” tambah Zain lagi.
“Same-same anakku Zain, saye tulus bantu awak,” jelas pak ustad lagi.
Namun akhirnya Zain dan Fatimah pun meninggalkan pemakaman itu dan kembali ke rumah sakit, lalu mereka memanggil taksi saat di depan trotoar, akan tetapi ketika dalam perjalanan salah satu anak buah Ibrahim Malik Syahputra melihat Zain dan mereka melaporkan ke bossnya.
“Taksi, taksi,” panggil Zain saat ingin menghentikan taksi itu.
“Iya, ada apa tuan, nona?” tanya taksi itu.
“Tunggu, bukankah itu orang yang rumahnya kita bakar?” tanya anak buah Ibrahim ke temannya.
“Sini, coba saya lihat, benar kata kamu, itu mereka tapi disebelahnya siapa,” jawab anak buahnya Ibrahim.
“Kita akan beritahu bos ini berita penting,” tambah lagi anak buahnya Ibrahim.
Pada akhirnya mereka pun menghubungi bosnya yaitu Ibrahim Malik Syahputra.
“Tolong antar kami ke rumah sakit!” perintah Zain.
“Baik tuan,” jawab supir taksi itu.
Pada akhirnya pun pak supir taksi itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dan mereka mengikuti Zain.
“Cepat kita ikuti pemuda itu!” perintah anak buah Ibrahim.
Disisi lain.....
Hal itu langsung bikin Anisa begitu kaget.
“Ya ampun tuan Revan, mengapa kamu jadi begini?” Anisa yang jadi panic bertanya seorang diri saat berusaha menarik tangannya yang di peluk Revan.
Revan pun menginggau seorang diri.
“Saya sangat mencintai kamu, jadi saya mohon jangan tinggalkan saya seorang diri, apa salah saya sampai kamu tega meninggalkan saya?” Revan bertanya dalam mimpinya kepada seseorang.
Anisa yang mendengar Revan menjerit seorang diri seperti tadi, dia tidak tega meninggalkan suami dalam keadaan seperti ini. Anisa kembali mendengar perkataan Revan saat bermimpi tadi.
“Ya Allah, apakah tuan muda memimpikan sesuatu?” tanya Anisa dalam hati sambil memandangi ketampanan Revan yang begitu dekat dengan dirinya.
“Saya sangat mencintai kamu, jadi tetaplah berada disamping saya,” ucap Revan lagi yang masih menginggau.
“Siapa yang sedang dia pikirkan?” tanya Anisa dalam hati.
Anisa terus-menerus menatap Revan, namun Anisa semakin berusaha buat melepaskan tangannya dari genggaman Revan, dan karena ulah Anisa yang bikin Revan jadi terbangun. Revan pun kemudian membuka kedua matanya, lalu dia sangat kaget ketika melihat Anisa di pangkuan dadanya.
“Kamu, mengapa kamu bisa ada disini?” tanya Revan yang sontak bikin dirinya kaget.
“Ya ampun, mengapa kamu jadi bertanya? Justru kamu yang menarik tangan saya,” jawab Anisa lagi yang tangannya masih dalam genggaman Revan.
Revan pun langsung melepaskan tangan Anisa buat menutupi dadanya yang di pegang oleh Anisa.
“Ya Allah, apakah kamu berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan? atau kamu ingin bermacam-macam dengan saya ya?” tanya Revan dalam keadaan panic.
“Hey, apakah kamu bisa tidak menuduhku yang bukan-bukan?” Anisa bertanya balik pada Revan sambil bangun dari tempat duduknya dan merapikan busananya.
“Sudah jelas, kamu yang menyentuh tangan saya,” ucap Anisa yang merasa dirinya tidak menerima perkataan Revan.
“Untuk apa saya meraih tangan kamu? lagian saya tidak mungkin bisa ambil tanganmu kalau kamu tak berada di ruang ini, sedang apa kamu di ruang pribadi saya?” Revan bertanya balik kepada Anisa yang seolah menyerang Anisa.
“Saya kemari atas izin mama, mama meminta tolong kepada saya buat panggil kamu setelah sholat tadi, beliau sudah menunggu dirimu di meja makan, ayo turunlah,” ketus Anisa sambil keluar dari ruangan tersebut.
“Apakah tadi dia ingin melecehkan saya? kemudian dia kabur begitu saja tanpa ada rasa salah?” tanya Revan seorang diri.
“Untung saya cepat bangun, kalau tidak, bisa lenyap harga diri saya,” Revan berkata seorang diri sambil bangun dari tidur dan keluar dari ruang itu.
Revan pun merapikan busananya sebelum menyusul Anisa, lalu dia pun langsung menyusul Anisa buat menuruni anak tangga. Anisa pun kemudian menduduki bangku itu dan disusul oleh Revan yang mukanya masih sembab, akibat baru bangun tidur.
“Apakah kamu sengaja tidak membanguni diri saya? sehingga kita makan jam segini?” tanya Revan ketika mengusap mukanya.
“Mama pikir kamu tidak pulang ke rumah hari ini, sehingga mama tadi pagi makan sendirian, jadi sekarang mama masih lapar lagi,” jawab Zarina.
Revan dan Anisa pun hanya diam tanpa bersuara saat mamanya berkata seperti itu. namun akhirnya pun makan siang itu telah terjadi dan mereka menikmati secara bersama tanpa Ryan dan papanya.
Revan lalu menghabiskan sarapannya terlebih dahulu karena dirinya sangat lapar.
“Ma, mama besok lusa sudah mulai berangkat ke Swiss, adikku Ryan sudah menyiapkan tiket dan passport untuk mama,” kata Revan.
“Benar, mama baru saja memerintahkan pembantu untuk mengemasi barang mama kedalam koper,” jawab Zarina.
“Baguslah kalau begitu mama tinggal berangkat besok lusa, jadi saya tidak khawatir lagi tentang persiapan mama, apa pun itu," cetus Revan.
Makan siang pun selesai, Zarina kembali ke kamarnya terlebih dahulu karena mau memeriksa barang dibawanya nanti, tidak lama kemudian Anisa pun juga bangun, dia menelusuri anak tangga dengan santai, sedangkan Revan yang masih mematung disana hanya menatap Anisa.
"Ya Allah perempuan itu, setelah melakukan hal tidak lazim kepada saya, dia memilih pergi begitu saja," Revan bergumam dalam hatinya.
Pada akhirnya Revan dengan sangat kesal pun ikut bangun dari tempat duduknya, Revan berjalan begitu cepat menaiki tangga, sehingga menabrak pundak Anisa, dia berjalan begitu saja tanpa meminta maaf kepada Anisa karena telah menabrak dirinya, Anisa sedikit berhenti sambil memegang badannya yang sakit karena ditabrak oleh Revan, Anisa pun menarik nafasnya begitu dalam karena kesal pada Revan.
"Untuk apa juga dia bikin surat perjanjian itu, sementara dirinya pun tidak akan pernah berubah sama sekali," Anisa berkata seorang diri sambil terus berjalan di tangga menuju kamar nya.
Anisa pun duduk di atas ranjang sambil menghadap keluar jendela kamarnya.
Anisa pun bingung tidak tahu harus berbuat apa lagi, sehingga Anisa pun merebahkan badannya.
"Saya harus membeli novel, supaya saya tidak bosan pada saat seperti ini," kata Anisa seorang diri.
Anisa pun langsung menutup matanya, dan tidak butuh waktu begitu lama, dia pun langsung ketiduran begitu saja, Sedangkan Revan memilih duduk di sofa yang ada dalam kamarnya, Revan mengecek soal laporan saham restoran dan hotelnya menggunakan ipad miliknya, tidak lama kemudian Ryan sang adik pun menelpon yang membuat diri Revan merasa terganggu.
Tririringgggg…..tririringggg…..
“Cepat kamu bilang?” tanya Revan ketika menerima panggilan Ryan.
“Mengapa kamu begitu kasar saat menerima panggilan dari adikmu ini?” Ryan bertanya balik ketika mengangkat panggilan Revan.
Ryan pun mencoba merayu Revan, sehingga bikin Revan tiba-tiba ketawa sendiri, akibat ulah Ryan yang mencuri baksonya kemarin, Revan pun sangat ingin mematahkan hidung adiknya.
“Pasti ada sesuatu yang bikin kamu hubungi saya, ayo katakanlah, ada apa?” tanya Revan lagi saat menjawab panggilannya.
“Van, rekan bisnis kita dari jakarta telah sampai, dan dia hari ini langsung menuju hotel kamu,” jawab Ryan saat menerima panggilan sang kakak.
“Nanti sore jam 4 atau jam 5 bisa kamu jumpai dia di hotel kamu,”
“Pipit bilang hari ini jadwal saya kosong, ini rekan bisnis dari mana? Sehingga saya bisa dapat meeting hari ini? bagaimana kamu bisa lupa tadi pagi? Bahkan kamu yang memperlihatkan jadwal meeting hari ini kosong?”
“Ya Allah abang Revan, ini bukanlah meeting, akan tetapi bos besar dari perusahaan jakarta mau mengajak kamu minum kopi sambil berbincang dengan pemilik Sausage Café KL And Deli Group Company,”
“Adikku Ryan, mengapa kamu baru berkata sekarang?” Revan berkata seorang diri dengan kesal.
“Saya pun tidak mengerti van, mengapa beliau ingin menemui kamu? apakah kamu ingin hadir van? Soalnya mereka baru saja menelpon diriku? Mereka ingin makan malam bersama kita? Sudahlah kamu patuhi saja sebagai seorang pemimpin yang baik bagi negara, kamu harus menerima tamu itu dengan baik,”
“Baiklah adikku yang bawel, saya akan mendengar ucapan kamu,” ucap Revan yang kemudian mematikan panggilannya.
Revan pun menatap pada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 4, tak lama kemudian ponsel Revan kembali berbunyi yang menandakan ada whatsapp masuk.
Isi whatsapp Ryan :
“Ketika jam 18.30 sore, kamu sudah ada di hotel KL And Deli Group,”
“Ya Allah, mengapa engkau beri saya adik yang suka mengatur,” Revan berkata seorang diri karena kesal sambil melempar hpnya ke Kasur.
Revan pun menyandarkan badannya di kasur, dia memijat kepalanya sambil memejamkan matanya, Revan pun langsung teringat akan menginggaunya tadi siang. Revan yang tidak bisa tertidur pun membuka matanya kembali sambil meluruskan badan dan otot kakinya.
“Mengapa saya kembali mengingatnya tadi?” tanya Revan seorang diri sambil mengusap mukanya.
“Baiklah Revan kamu memiliki waktu beberapa jam lagi,” kata Revan yang kemudian keluar dari kamarnya.
Revan pun membuka pintu kamarnya, lalu dia menuruni anak tangga menuju ruang olahraga, Revan memilih menghabiskan waktunya dengan berolahraga, Revan pun membuka bajunya sehingga memperlihatkan badannya yang berotot, lagi dan lagi mimpi Revan tadi siang mengganggu pikiran Revan, sampai konsentrasinya pada olahraga jadi rusak, akan tetapi Revan mencoba untuk tidak mengingatnya sampai dirinya bisa focus pada olahraga yang ada beragam peralatan disini, Revan pun dipenuhi keringat seluruh badannya basah dengan bau keringat, sehingga bikin dirinya kelelahan, Revan pun melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 16.30, Revan pun mengakhiri aktivitas olahraganya, Revan pun berjalan keluar dari ruang gym dan memasuki rumahnya, lalu menaiki tangga menuju kamarnya, sehingga dia mengelap badannya dengan handuk besar, Revan pun langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, usai mandi Revan pun langsung berbusana rapi, lalu keluar dari kamarnya menuruni anak tangga, Revan membuka pintu kamar Zarina.
“Mama,” panggil Revan saat membuka pintu kamar Zarina.
“Iya anakku Revan, ada apa?” tanya Zarina yang lagi menyibukkan diri dengan barang-barangnya.
“Ma, mengapa mama membawa begitu banyak barang? apakah mama tidak bisa membelinya ketika tiba di Swiss?” tanya Revan kaget.
“Saya disana buat operasi, bukan buat berbelanja,” ucap Zarina santai.
“Terserah mama saja yang penting mama bahagia, oh iya ma? Saya mau jumpa rekan bisnis pada hari ini sekitar jam 18.30?” tanya Revan.
“Menemui rekan bisnis se-sore ini,” jawab Zarina.
“Saya pun tidak tahu ma, sebab ini mendadak karena Ryan yang menghubungi saya,”
“Ya sudah, apa pun itu kamu harus berhati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam, kasihan Anisa sendirian dirumah,” ucap Zarina sambil memperingati putra tirinya itu.
“Baiklah mamaku yang cantik,” Revan pun langsung keluar kamar Zarina.
Pada hari ini Revan mau mengembalikan mobil Ryan, dia tidak mau pak aldi mengantarnya, Revan pun menancap gas mobil milik adiknya, lalu meninggalkan kediamannya sendiri.
Bersambung…….
Para readers yuk mampir di dunia malam anisa, saya akan menciptakan cerita yang menarik sehingga bikin penasaran buat kalian, tunggu apa lagi……..
Ayo buruan serbu dunia malam anisa

Komentar Buku (545)

  • avatar
    AzizAbdul

    saya sangat perihatin dengan keadaan ekonomi yang dialami perempuan hebat itu

    31/08/2023

      0
  • avatar
    Eleviana

    hii ..cerita ini menarik sangat ..saya suka dengan jalan cerita nya ..boleh meluangkan masa yang terindah ..sesuai untuk dibaca ..boleh membuat kita sayang dekat orang yang kita saya boleh menyedarkan kan kita sebelum terlambat ..ok sangat untuk org yang nak brubah....,...,..,.,......

    22/07/2022

      0
  • avatar
    mememaylinda

    terimakasih cerita dalam novel ini sangat bagus sekali dan wajib ditiru.

    21/12/2021

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru