Beranda/Dunia Malam Anisa/
Bab 16 Tawar-menawar
Ryan tiba-tiba pulang ke rumah
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam, ya allah ryan anakku kamu darimana saja sampai beberapa hari tidak jawaban," ujar zarina.
"Ma, mama, maafin ryan karena telah bikin mama khawatir selama ini, ryan bikin kecewa mama sebagai orang anak kandung seharusnya ryan bisa bahagia kan mama," jelas ryan saat memeluk zarina.
"Sudahlah sayang yang berlalu biar berlalu, dan yang terpenting sekarang kamu lihat ke depan, agar kamu bisa mewarisi perusahaan sausage kl and deli group, namun kita lihat sementara revan mewarisi perusahaan tersebut," jelas zarina detail.
"Kalau begitu ryan istirahat dulu ya, ma,"
"Iya sayang, sebaiknya kamu mandi bersihkan otak kamu dengan sholat," jelas sang bunda.
Revan mengantar pengacara itu ke airport di karena kan mereka berasal dari taiwan.
Pada situasi lain Zarina kembali ke kamar, agar Anisa tidak menunggu lama.
"Maaf ya," jelas Zarina.
"Tak apa-apa," balas Anisa.
"Tadi obrolan kita sampai dimana," ujar Zarina.
"Sampai ada perkataan ya allah nyonya....," jelas Anisa.
"Ya Allah nyonya, apa yang kamu bicarakan? Saya bukan perempuan yang berasal dari keluarga konglomerat, saya hanya perempuan biasa, dan hanya sampai tamat sekolah menengah atas, jika tuan Revan menikah denganku akan menjadi aib bagi dia dan keluarga ini nyonya, lagi pula saya tahu tuan muda tidak akan menyetujui," jawab Anisa sambil memberi pengertian terhadap Zarina.
"Saya dan putra tiri saya Revan tidak membutuhkan itu, bisa dikata kan kami sudah ada segalanya yang diinginkan, tapi bukan itu yang bisa bikin Revan bahagia kehidupannya. Namun ternyata uang dan gelar yang sekarang ini kami punya tidak akan membuat saya dan Revan bahagia sepenuhnya. Coba kamu mengerti Anisa, saya sebagai istri merasa kesepian di rumah sendiri, begitu pula dengan Revan ku yang juga merasa kesepian," ucap Zarina sambil meyakini Anisa.
Pada saat mendengar itu Anisa pun tidak bisa berkata, Anisa bahkan tidak bisa membayangkan kalau dirinya harus menikah dengan cowok yang ia pikir suka marah.
"Apa yang bikin kamu sangat sulit menjawab perkataan saya Anisa? Saya sangat yakin sikap putraku yang kamu pikir suka marah perlahan akan berubah jika kamu mau sedikit bersabar menghadapi nya, lagi pula Revan tidak bisa menolak perkataan saya, karena anakku sebenar cowok baik dan patuh perintah orang tua," jelas Zarina sambil mengusap tangan Anisa.
Revan sejak tadi terus memikirkan masa kecil bersama ibu tirinya, terbayang ketika melihat ibunya lemah tidak berdaya, kini mulai berfikir tentang ucapan ibu nya, dia terus menimbang-nimbang dan pada akhirnya dia menemukan keputusan, lalu memilih turun ke lantai utama dan menghampiri kamar ibunya.
"Ehemm," kata Revan sambil ber dehem saat memasuki kamar ibunya ketika menengok Anisa sudah ada di dekat ibunya.
Ketika Anisa menengok Revan masuk, segera bangun dari tempat duduknya dan langsung membungkuk kan tubuhnya, Anisa mengingat ucapan Revan saat di telpon tadi pagi ketika pak aldi menghampiri dirinya ke rumah dan Revan menghubungi pak aldi, lalu pak aldi beri hp nya ke Anisa, Revan menjelaskan pada dirinya agar tidak diterima kerja di perusahaan mana pun, maka dari itu Anisa harus bersikap baik.
"Mama, aku mau bicara dengan Anisa sebentar," ucap Revan pada Zarina sambil menunjuk kan jari nya ke arah Anisa.
"Hey kamu, ikut lah bersama ku!" ucap Revan pada Anisa sambil keluar dari kamar ibunya Revan.
Anisa langsung mengikuti Revan yang ternyata membawa diri nya duduk di halaman belakang rumahnya. Revan pun kini duduk di kursi, sementara Anisa masih berdiri.
"Duduklah!" perintah Revan.
Anisa pun langsung duduk di bangku tepat di depan Revan, kini Revan dan Anisa saling berhadapan sambil menikmati suasana taman yang indah.
"Apakah mama saya sudah mengutarakan isi hati nya padamu?" tanya Revan langsung to the point.
Anisa pun kini mengangguk sambil terus menunduk, entah kenapa walau menyadari ketampanan Revan, namun saat Anisa menilai Revan adalah orang yang menyeramkan.
"Bagaimana tanggapanmu?" tanya Revan tanpa menengok muka Anisa.
"Baiklah, karena melihat kebaikan ibu anda, saya akan memutuskan buat menerima pernikahan ini karena Allah dan ibu kamu, walau pun kita beda kasta. Saya harap tuan muda bisa terima jawaban saya tadi," jelas Anisa gugup sambil memberi senyuman.
"Baiklah, karena kamu sudah memberi jawaban tersebut," ucap Revan.
"Tapi, tu, tuan muda saya mau minta satu syarat," ujar Anisa lagi.
"Apakah syarat yang ingin kamu minta?" tanya Revan lagi.
"Sebelum saya menikah dengan tuan, saya mau tuan menanggung biaya kuliah adik laki-laki saya bernama arif sementara biaya ibu saya sendiri biar saya yang menanggung nya sendiri tuan," jawab Anisa jujur.
"Sekarang biarkan saya bicara?" tanya Revan lagi.
"Saya dan kamu menerima pernikahan ini tanpa saling cinta, namun karena ibu saya yang meminta akhirnya saya terpaksa menikahi kamu," jawab Revan lagi.
"Yang terpenting adalah semua kebutuhan kuliah adik kamu sampai dia sukses saya yang tanggung, pokoknya berapa yang kamu butuh saya akan bayar untuk itu," ucap Revan yang menganggap pernikahan itu kecil.
"Ya Allah maksud ucapan anda apa tuan Revan? Apa bagi kamu buat sebuah pernikahan pun harus anda sogok dengan uang? Tanpa berdasar kan rasa cinta? Apa kamu bisa menerima pernikahan seperti itu?" ketus Anisa meninggikan suaranya.
"Tuan muda pernikahan itu sekali seumur hidup bukan 80 kali kita menikah," ujar Anisa lagi.
"Ya, saya hanya berusaha memenuhi keinginan ibuku," jawab Revan lagi secara santai.
Anisa mendengar itu hanya diam sambil menahan emosi, dia tidak mau ada kata-katanya menyinggung perasaan tuan muda yang sombong itu nanti akan bikin situasi menjadi sulit dan merugikan dirinya.
"Mari kita saling tawar-menawar, dan aku jamin kamu tidak akan merasa dirugikan dalam hal apapun," ucap Revan lagi.
"Apa itu?" tanya Anisa sambil mengernyitkan dahinya.
"Kita akan bicara tentang pernikahan ini langsung sama ibuku. Setelah menikah kamu bebas, dan aku akan pergi bersama kekasih saya bernama maira," ucap Revan lagi.
Namun Anisa cukup polos sama sekali tidak tahu dengan ucapan Revan. Akan tetapi dia lebih fokus dengan penawaran Revan karena dia mengabulkan semua keinginan Anisa.
"Maaf tuan Revan, bisakah kamu menjelaskan secara detail tentang ucapan anda tuan? Karena Anisa masih belum paham," ucap Anisa yang gugup.
"Dasar gadis idiot," celetuk Revan sontak saja bikin Anisa cengengesan.
"Maksud saya, kita memang akan melangsungkan pernikahan secara agama, namun pernikahan saya dan kamu akan di hadiri oleh warga, dan hanya di saksikan oleh papa, ryan, mama dan pembantu disini. selebihnya kita tidak perlu mengundang lebih banyak orang, sementara aku akan sewa warga disini seberapa saja, agar mereka melihat kita menikah, dan kamu akan tinggal di kediaman Revan Malik Syahputra, namun tidak berbagi kamar tidur, kamu akan tidur di sebelah kamar ryan, ibuku tidak pernah menaiki lantai 2, kamu hanya muncul pada saat sarapan pagi di hadapan ibuku, jam makan pagi, dan jam makan siang," Jelas Revan detail.
Sementara Anisa hanya memahami segala perkataan tuan muda dan terus memikirkan apakah ini akan sukses atau gagal, agar tidak bikin dirinya rugi.
"Sejauh ini apa kamu bisa mengerti ucapan saya dengan penjelasan tadi?" Tanya Revan sambil memastikan.
Tiba-tiba Anisa menangis karena tuan muda telah mempermainkan perasaan dirinya, Anisa melarikan diri dari rumah Revan, saat perjalanan Kevin andrean melihat Anisa yang lagi menangis.
"Ya Allah Anisa kamu kenapa menangis," Tanya Kevin sambil memeluk Anisa.
"Kevin, kenapa kamu masih di Malaysia, bukankah kamu bilang akan balik ke jakarta, aku nangis karena Allah mempertemukan aku dengan pemuda egois seperti Revan, kenapa bisa ada orang yang bersandiwara dengan sebuah pernikahan, sedangkan saya ingin menikah dengan orang yang kita cintai," Jelas Anisa detail.
"Sebaiknya kita mengobrol sambil cari makan, akan ku jawab pertanyaan kamu itu," Jelas Kevin.
Pada akhirnya aditya membawa Anisa ke mobilnya, dan mereka pun pergi dari rumah Revan.
"Pesawat yang ku tumpangi tiba-tiba bermasalah sehingga membuat saya ketinggalan pesawat," Jelas Kevin sambil menyetir.
Tririringgg...tririringggg....
Ponsel Anisa tiba-tiba berdering, dan ternyata Revan memanggil.
"Mengapa kamu pergi tanpa izin dari saya, apa kamu tidak peduli pada ibu dan saudara kamu?" marah Revan saat menelpon Anisa.
"Dengar ya tuan, bagaimana jika ibu anda tahu nanti soal pernikahan sandiwara ini? apakah anda tidak peduli dengan keselamatan ibu anda? ya, selebihnya kita masih sebagai suami istri setelah akad nikah selesai? saya tidak mengerti tuan kenapa Allah menjadikan manusia seperti anda," tanya Anisa lagi sambil terus menangis.
"Ya jadinya begitu. sekarang kamu sebutkan berapa bayaran kamu ingin kan agar aturan permainan saya bisa terwujud?" Jelas Revan sambil menutup hpnya.
Pada akhirnya Anisa dan Kevin tiba di sebuah restoran, sambil Kevin menenangkan Anisa.
Kemudian setelah selesai makan di sebuah restoran tersebut bersama Kevin, kini Anisa lagi-lagi dilanda dilema, dalam hatinya Anisa berkata kalau dia sama tidak menginginkan pernikahan seperti ini, sejak dulu dirinya menginginkan sebuah pernikahan yang bahagia bersama orang yang dia cintai dan cowok tersebut juga mencintai Anisa. akan tetapi nasib buruk lagi-lagi menimpa Anisa, dia mungkin memang sangat perlu uang karena buat pengobatan ibunya dan membiayai kuliah adik laki-lakinya. Anisa terus berpikir karena pada akhirnya dia pun menyerah dengan keadaan yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan hatinya.
Tiba-tiba Kevin mengejutkan Anisa dari belakang.
"Hey, mengapa kamu melamun Anisa, nanti kesurupan kamu nya, bagaimana kamu sudah siap buat pergi," jelas Kevin.
"Vin, tolong antar aku ke rumah Revan lagi, karena aku sudah ambil keputusan soal pernikahan tersebut," tegas Anisa.
"Anisa, apakah kamu sudah gila dengan balik ke rumah pemuda bernama Revan? tidak, aku pikir kali ini mengambil langkah yang salah," jelous Kevin.
Beberapa menit kemudian Anisa meninggalkan Kevin di restoran tersebut.
"Anisa, tunggu," panggil Kevin.
Pada akhirnya Kevin dan Anisa pun pergi ke tempat Revan, namun setelah mereka sampai di rumah Revan, Anisa menyuruh Kevin menunggu di luar, Revan pun melihat Anisa yang datang kembali kedalam kehidupannya.
"Aku tahu kalau kamu pasti bakal balik lagi ke rumahku, namun tidak semua orang yang akan menolak saya Revan Malik Syahputra, apa lagi kamu mengingat ekonomi keluarga kamu yang susah? sangkal saja jika ucapan saya salah," tegas Revan.
"Baiklah tuan Revan, berikan aku 400 juta buat semua itu," ucap Anisa setelah menghela nafas cukup panjang.
"400 Juta? apakah kamu sudah tidak waras lagi? itu uang cukup besar hanya karena sebuah pernikahan," jawab Revan.
"Jika kamu menolak ya sudah, saya bisa membatalkan nya, bagaimana juga yang butuh itu kamu tuan muda, saya akan menunggu jawaban anda," tegas Anisa.
"Baiklah, saya akan memikirkan itu," jelas Revan.
"Gadis ini apa dia sungguh idiot? buat sebuah perkawinan yang nanti dia jalani tanpa perasaan karena dia hanya meminta 400 juta?" celetuk Revan dalam hati.
"Ya, saat ini aku hanya ingin 400 juta tuan Revan," jelous Anisa.
"Sebaiknya kamu pergi dulu, namun saya akan menghubungi kamu nanti," jawab Revan.
Pada akhirnya Anisa pun meninggalkan kediaman Revan, namun Kevin bertanya terhadap Anisa.
"Bagaimana kamu tidak disakiti oleh cowok brengsek tersebut?" jelas Kevin.
Kemudian setelah Anisa melewati begitu banyak hari hingga malam, Anisa pun langsung merebahkan diri di atas ranjang, namun pada saat Anisa memejamkan mata, tiba-tiba ada orang yang melemparkan kertas berisi batu, dan kertas tersebut berisi.
“Ya Allah suara apa itu,” kaget Anisa
“Tolong kamu jauhi Revan, jika kamu berani mendekati calon tunangan saya, maka keluarga kamu akan terancam,” tegas orang misterius tersebut.
“Ya allah, apa maksud surat ini?” tanya Anisa dalam hati.
Tririringgg….triririringggg…
Panggilan masuk dari Kevin yang membunyikan whatsapp pada hp Anisa, kemudian Anisa langsung masuk kamar sambil mengecek hp miliknya, dan ternyata itu adalah Kevin.
“Assalamualaikum vin,” tanya Anisa.
“Wa,alaikum salam, ada apa nis, apakah sesuatu mengganggu kamu?” jawab Kevin.
“Justru ini sedikit mengganggu saya, jadi begini tiba-tiba ada orang yang lempar kertas batu ke rumah saya, Kevin,” jelas Anisa.
“Terus, apakah kamu melihat wajah mereka? karena ini tentang kehidupan kamu terancam nis, jadi lebih baik kamu waspada,” peduli Kevin.
“Ya, saya tidak melihat wajah mereka,” jelas Anisa.
Beberapa menit kemudian Revan pun menelpon, dan Anisa langsung mengangkatnya.
“Assalamualaikum, mengapa tuan muda menelpon saya?” tanya Anisa
“Baiklah, saya akan membayar 400 juta itu, setelah kita resmi menikah,” ucap Revan sambil memendam perasaan sukanya kepada Anisa.
“Ok,” jelas Anisa kemudian langsung menutup panggilannya terhadap Revan
Lalu Anisa pun tertidur pulas sehingga memimpikan Revan dalam tidurnya.
Pada keesokan harinya Kevin menghampiri rumah Anisa, dan itu langsung bikin Anisa terkejut.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu dari rumah Anisa
“Assalamualaikum,” jelas Kevin.
“Wa’alaikum salam, siapa ya?” tanya Anisa.
“Aku, Kevin,”
“Oh, iya saya sudah buat janji dengan Revan hari ini,” ucap Anisa.
“Vin, tunggu sebentar, saya mandi dulu,” jawab Anisa.
“Baiklah, nis,”
Pada akhirnya setelah menunggu beberapa jam karena Anisa mandi, namun Anisa pun keluar dengan hijab abu-abu.
“Maaf, sangat untuk hari ini aku mau kamu temani saya buat berjumpa Revan di kediamannya,” tegas Anisa.
“Tapi nis, ada apa lagi kamu dengan pemuda tersebut?” tanya Kevin.
“Tidak banyak tanya,” tegas Anisa
Namun Kevin pun mengalah dan menyalakan mobilnya, dan mereka pun pergi dari kediaman Anisa yang sempit itu.
Setelah mengakhiri perjalanannya yang cukup panjang bersama Kevin, pada akhirnya Anisa pun sampai di kediaman Revan Malik Syahputra, kemudian dia pun langsung turun dari mobil Kevin.
“Anisa, tunggu,” panggil Kevin
“Saya terima tawaran kamu Anisa,” jelous Revan saat melihat Anisa bersama laki-laki lain
“Tapi sampai kapan kita akan berpura-pura terhadap pernikahan tersebut?” tanya Anisa yang tiba-tiba hatinya terasa sakit dipermainkan.
“Oh ya kalau masalah itu mungkin hanya sampai setahun, nanti akan ku pikirkan alasan yang pantas untuk diberitahukan kepada mama agar kita bisa bercerai,” tegas Revan.
Anisa hanya mengatakan setuju. kini Anisa mulai bernafas lega karena tidak lagi pusing memikirkan biaya pengobatan ibunya. Anisa sengaja meminta 400 juta buat jaga-jaga karena takut ada panggilan dari pihak rumah sakit soal tambahan biaya sang ibunda.
Namun kevin tiba-tiba marah sendiri soal Anisa menerima tawaran Revan sehingga dia memecahkan barang yang ada di rumah itu, berupa pot-pot mahal.
“Pengawal sudah biarkan saja dia pergi,” ucap Revan.
“Oh ya kalau masalah itu mungkin bisa bertahan sampai setahun, lalu akan ku pikirkan alasan yang tepat buat diberitahukan kepada mama agar kamu dan aku bisa bercerai,” jelas Revan secara detail.
Anisa hanya bisa mengatakan setuju. kini Anisa bisa bernafas lega karena tidak perlu lagi mengingat biaya pengobatan ibunya. Anisa sengaja meminta 400 juta buat jaga-jaga karena takut akan ada panggilan dari pihak rumah sakit.
“Sekarang kamu bisa kembali ke kamar ibu saya, saya akan mengatakan ini secara langsung kepada mama,” ucap Revan.
“Baiklah tuan Revan,” jawab Anisa yang langsung bergegas kembali ke kamar Zarina.
Anisa pun langsung memasuki kamar Zarinadengan langkah yang masih ragu.
“Apa yang kalian katakan? apa Revan membenci kamu?” tanya Zarinakarena khawatir.
Anisa hanya menggelengkan kepalanya dengan jawaban tidak sambil duduk di dekat Zarina. tidak lama kemudian Revan pun masuk ke kamar Zarinadan berdiri di hadapan pintu kamar Zarina.
“Baiklah sesuai keinginan mama, saya akan menikahi Anisa,” ucap Revan sambil memasuki tangannya ke dalam saku celana.
“Papa sama sekali tidak habis pikir, mengapa kamu memilih gadis ini sebagai istri kamu,” jelas pak Ibrahim.
Revan langsung kaget ketika ayahnya tahu tentang pernikahan ini, dan langsung menutup pintu kamar Zarina.
“Lagian, saya sama sekali tidak ingin menikahi dia, akan tetapi mama yang meminta ini kepada Revan,” tegas Revan saat mengobrol bersama papanya.
“Terserah lah yang penting papa sudah ingatkan kamu, jika gadis ini bisa menghancurkan bisnis kamu,” ucap papanya lalu meninggalkan putranya itu.
Lalu Revan pun kembali ke kamar Zarina, dan melihat mama dan Anisa merasa perasaan tenang.
Zarina yang mendengar itu langsung sumringah kebahagiaannya, dia langsung memeluk Revan, Revan pun dengan bahagia segera meraih tubuh ibunya dan memeluknya begitu erat. sementara Anisa yang tidak jauh dari mereka tersenyum saat melihat pemandangan indah itu, baru kali ini Anisa menengok Revan memeluk ibunya dengan hangat dan wajah yang tersenyum.
“Ya allah ini pemandangan yang cukup manis,” ucap Anisa dalam hati.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (545)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
saya sangat perihatin dengan keadaan ekonomi yang dialami perempuan hebat itu
31/08/2023
0hii ..cerita ini menarik sangat ..saya suka dengan jalan cerita nya ..boleh meluangkan masa yang terindah ..sesuai untuk dibaca ..boleh membuat kita sayang dekat orang yang kita saya boleh menyedarkan kan kita sebelum terlambat ..ok sangat untuk org yang nak brubah....,...,..,.,......
22/07/2022
0terimakasih cerita dalam novel ini sangat bagus sekali dan wajib ditiru.
21/12/2021
0Lihat Semua