logo text

14. Mulai Bergerak!

"Tolong ruang rapat di lantai 7 di bersihkan, saya akan memakai ruangan itu sekarang."
"Oh iya, sekaligus panggil Reza, Andi, dan Valen. Suruh mereka menunggu saya di ruang rapat, sekarang juga. Sebentar lagi saya sampai ke perusahaan."
***
Rafael yakin, jika dia meminta bantuan pada Reza, Andi, dan Valen. Kemungkinan besar Pembunuh itu dapat segera di temukan, karena mereka bertiga adalah karyawan yang paling bisa di andalkan, untuk segala sesuatu permasalahan.
"Siapa itu Reza, Valen, dan Andi, Kak? Aku belum pernah mendengar nama orang-orang itu, di perusahaan ayah." tanya daffin, penasaran dengan ketiga nama pria yang di sebutkan rafael saat menelepon sekretaris nya.
"Dia adalah Tim Khusus, untuk menjalankan misi yang sering di tugaskan ayah mu. karena dari dulu, keluarga mu selalu saja, mendapatkan teror dari seseorang yang membenci ayah mu." jawabnya.
"Orang yang membenci ayah? Apa, kematian ibu ada hubungannya dengan teror?" tanya nya. Yang masih tidak menerima kematian ibunya, secara tiba-tiba bukan karena penyakit apa pun.
"Soal itu aku tidak tahu, Aku hanya selalu di ceritakan oleh ayah, jika keluarga mu selalu mendapatkan teror dari seorang yang membenci kesusksesan ayah mu." jawabnya.
"Hanya sepele itu? Apa mungkin pesaing bisnis ayah? Yang Perusahaannya sama-sama hebat dengan Perusahaan ayah?" gumam nya, benar-benar ingin mencari tahu siapa pesaing bisnis pada saat ibunya masih hidup.
***
"Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dari ku. Apa yang ayah perbuat? Sampai-sampai keluarga nya sendiri, harus terkena dampaknya dari perbuatannya itu."
***
Sesampainya di perusahaan, daffin tidak di perbolehkan ikut bersama rafael. Karena, rafael hanya tidak ingin daffin tidak sabar dan menghancurkan rencana yang sudah di buat rafael.
"Kau tunggu saja di ruangan mu, aku akan pergi ke ruang rapat sendiri." ucapnya, memberhentikan langkah nya sebelum menuju lift.
"Lalu bagaimana dengan Tim khusus? Aku juga ingin bertemu dengan mereka." jawabnya, memaksa untuk ikut bersama rafael.
"Sudah aku katakan. Kau tunggu di ruangan mu! Aku akan pergi ke ruang rapat sendiri! Berarti aku tidak ingin kau mengikuti ku. Paham!" ucapnya, sedikit meninggikan nada suaranya.
"Tapi,-" jawab daffin, tetapi terpotong oleh sekretaris nya, yang sudah memberikan pekerjaan untuknya.
Sekretaris daffin menghampiri nya, "Selamat siang, Pak daffin." ucapnya.
"Aku pergi, sampai jumpa!" selak rafael, lalu kabur dengan menaiki lift lebih dulu.
"Ah, ada apa?" tanya nya, yang kesal dengan rafael, yang langsung kabur darinya.
"Maaf, saya ingin memberikan berkas ini. Bapak harus menandatangani berkas ini, sekarang juga." ucapnya.
"Nanti saja, saya sedang ada tugas lain." ucapnya, menolak. Lalu menekan tombol lift di sebelah lift yang sudah di pakai rafael.
Sekretaris nya menahannya, "Maaf Pak. Ini atas perintah, dari Pak rafael. Karena Pak rafael, ada tugas yang lebih penting. Jadi, dia memberikan pekerjaan nya pada Pak daffin." ucapnya, menahan kepergian nya.
"Oke! Aku akan mengerjakan nya. Puas kau!" jawabnya, dengan kasar. Lalu, "Hm, maaf. Aku terlalu kasar pada mu." ucapnya, dengan nada malu-malu.
"Tidak apa-apa, Pak." jawabnya, yang memahami emosi daffin.
*****
Rafael berhasil kabur dari daffin, lalu terlihat ada tiga pria dengan tinggi sekitar 180 cm, sedikit membungkukkan badannya, "Siang Pak, Bapak memanggil kami?" ucap ketiga pria itu.
"Iya. Saya perlu bantuan kalian bertiga, Kita bicara di dalam." jawab rafael.
Mereka semua masuk ke dalam ruang rapat, Rafael mengunci pintu, cctv di matikan, memeriksa sekitar, dan baru membicarakan teror yang baru di dapatkan daffin.
"Aku ingin memberikan kalian tugas yang sangat penting. Sebelum itu, akan aku ceritakan apa yang di alami daffin kemarin, di hari peresmiannya menjadi CEO di Perusahaan ini." ucapnya.
Andi menyela pembicaraan, dengan mengangkat tangan kanannya. "Pak, izin memotong. Memangnya di hari peresmian pak daffin, ada peristiwa apa?" tanya nya.
Rafael menghela nafasnya, *HUFFTTT...* dengan nada yang sangat lembut, "Andi. Saya baru ingin menceritakan itu, jadi kamu diam dulu sebentar ya. Jangan memancing emosi saya. Saya lagi tidak ingin memarahi mu kali ini, biarkan saya menyimpan kesabaran untuk mu ya." jawabnya.
"Uhm, maaf pak." jawabnya, lalu tertunduk.
Reza yang duduk di samping Andi pun ikut kesal dengan tingkah Andi, dia menyenggol lengan andi, dengan mengatakan "Lain kali, kalau Pak rafael lagi bicara. Jangan asal main di potong! Dari pada nanti dia emosi sama lo." bisik nya.
"Iya-iya maaf." jawabnya, sambil berbisik.
"Sudah-sudah. Saya lanjutkan saja." ucapnya, lalu membuka laptopnya.
Sambil menceritakan apa yang di alami daffin. Rafael mulai menyalakan laptopnya, dan mengeluarkan note yang bertuliskan nomor ponsel milik vera, untuk melacak lokasi terakhir nomor ponsel milik vera. Setelah mendengar cerita dari rafael, mereka bertiga pun paham apa yang di ceritakan Rafael, dan Andi Reza dan Valen sangat siap jika di tugaskan oleh Rafael untuk mencari Vera ke luar negeri.
"Jadi Pak rafael, meminta bantuan kita, untuk mencari wanita itu, jika wanita itu ada di luar negeri, bukan?" tanya valen.
Rafael memberikan apresiasi pada valen, yang cepat bertanya tentang tugasnya. "Tepat sekali!" jawabnya, sangat menyukai valen yang sepertinya, mulai siap untuk bertugas kembali.
Lalu, "Aku akan menyuruh kalian ke luar negeri, apabila wanita itu berada di luar negeri. Jika sekiranya, dia masih berada di sekitar Jakarta, aku sendiri yang akan melakukannya." jawabnya.
"Lalu, wanita itu berada di mana?" tanya reza, dengan semangat nya.
"Tunggu dulu, sabar. Aku masih memeriksa titik terakhir dia menelepon." jawabnya, masih fokus pada laptopnya.
"Oh, baiklah Pak." jawab reza, lalu kembali diam.
*****
"Ini saja? Tidak ada lagi kan?" tanya nya, sebelum pergi dari ruangannya.
Sekretaris itu tersenyum kecil, "Tidak ada, Pak." jawabnya.
Daffin berdiri dari kursinya, "Kalau begitu, saya permisi sebentar." ucapnya, sedikit melangkah keluar. Tetapi...
"Pak Daffin mau ke mana?" tanya sekretaris nya. "Bapak di perintahkan untuk diam di sini, sampai Pak Rafael datang ke sini sendiri." ucapnya, menahan kepergian daffin.
"Ah, apa-apaan kau ini. Aku memiliki kesibukan yang lain, jangan ikut campur. Minggir!" bentak nya.
"Tapi Pak,-" berusaha menahan pintu, agar daffin tidak bisa keluar dari sana.
Daffin dengan emosinya, menyingkirkan sekretaris itu hingga terjatuh ke lantai, dan membiarkannya begitu saja.
Tak lama dia kembali lagi, dan membangunkan sekretaris itu yang masih berusaha bangun.
"Ayo bangun." ucapnya, memberikan tangannya.
"Tidak perlu pak saya bisa sendiri." jawab sekretaris itu, yang sepertinya masih merasa takut dengan daffin.
Daffin menghentakkan kakinya, "Cepat! Jangan membantah!" bentak nya, masih dengan emosinya.
Sekretaris itu memegang tangan daffin, untuk membangunkan tubuhnya. "Terima kasih, Pak." jawabnya, dengan lembut.
"Seharusnya saya yang mengucapkan maaf. Karena saya telah mendorong mu secara kasar, hingga terjatuh ke lantai." ucapnya, mengakui kesalahannya.
"Tidak apa-apa Pak, saya juga yang salah karena menghalangi bapak pergi dari sini." jawabnya, memaafkan daffin.
"Memangnya kenapa kau menghalangi ku pergi? Sebenarnya apa yang akan di lakukan Rafael dengan Tim khusus?" tanya nya, sangat penasaran.
"Saya juga tidak tahu, apa yang akan di lakukan Pak Rafael, dengan Tim khusus. Saya hanya di perintahkan, untuk menjaga Pak daffin, agar bapak tidak mengecoh kan rencananya." jawabnya.
"Rencana?" ucapnya, terkejut. Lalu seketika diam, "Apa jangan-jangan, dia akan melakukan nya tanpa ku?" gumam nya, memikirkan hal lain. Lalu pergi berencana menemui Rafael di ruang rapat, lantai 7.
Sekretaris itu tidak bisa menahannya lagi, dia membiarkan daffin pergi. Lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada rafael, *Pak, maaf. Saya tidak bisa menahan Pak daffin lebih lama lagi, sekarang dia sedang menghampiri bapak ke ruang rapat.*
***
DAG-DAG-DAG!!! Daffin mencoba membuka pintu ruang rapat itu, "KAK! BUKA!!" teriaknya, meneriaki rafael.
DAG-DAG-DAG!!! Mengulang berkali-kali.
"DAPAT!!! AKHIRNYA KETEMU!!" teriak rafael, dari dalam ruangan. Tanpa membukakan pintu, yang dari tadi di ketuk keras oleh daffin.
"Huh ketemu? Vera di temukan?" gumam nya. Lalu, "Kak, beritahu aku. Kau sudah menemukan nya?" ucapnya, dengan raut wajah yang sangat senang.
Masih tak ada jawaban dari dalam, daffin pun mulai menggunakan emosinya, dan mencoba mendobrak pintu.
"Sial! Rafael! Jika kau tidak membukakan pintu ini, aku akan mendobraknya!" ancam daffin.
Tak butuh waktu lama, dia pun melakukan hal itu. Sattuuu... Duuuaaaaa.... Dua setengah... "Kak! aku akan benar-benar mendobraknya." teriaknya, sebelum hitungan ke tiga di ucap. Tiiiigggggaaaa... daffin mendobraknya, tetapi pintu itu sudah dibuka oleh rafael. Akhirnya daffin pun terjatuh.
DUGH!! Rafael sedikit mundur dari tempatnya berdiri. "Kau sedang apa di situ?" tanya nya.
Daffin berdiri, lalu "Kau sengaja melakukan ini!" ucapnya, sambil mendorong rafael, secara kasar.
"Melakukan apa?" tanya rafael, seolah-olah tidak mengerti apa yang di katakan daffin.
"Kau menyuruh sekretaris Aya untuk menghalangiku ikut bersama mu kan!" bentak daffin.
Rafael menjawab dengan laga nya, "Iya. Memangnya kenapa?" ucapnya, membuat daffin semakin marah.
Sekali lagi daffin mendorong rafael, secara kasar lalu, "Kau ingin menyembunyikan apa dari ku?" ucapnya, masih dengan pengucapan yang sangat kasar.
Rafael tidak tinggal diam, ia pun bergantian mendorong daffin secara kasar. "Aku tidak menyembunyikan apa pun dari mu. Hanya saja, aku tidak ingin melibatkan mu dalam pencarian berbahaya ini." ucapnya, sambil meredakan emosinya.
"Hei! Usia ku sudah 28 tahun, jangan memperlakukan ku seperti anak yang berusia 5 tahun. Pencarian berbahaya? Huh! Omong kosong!" jawabnya.
"Bagi ku, kau memang masih anak berusia 3 tahun." ucapnya, malah meledek daffin yang masih dalam emosinya.
"Huh? Usia kita tidak beda jauh ya! Cepat katakan apa yang kalian bicarakan di dalam!" jawabnya, sambil berteriak-teriak.
"Kau ini jangan berisik...!!" ucapnya, dengan menutup mulut daffin.
Daffin menghempaskan tangan rafael, *Cuh!* "Tangan mu bau sekali! Sudah berapa tahun, kau tidak pernah mencuci tanganmu?" ucapnya, sambil mengelap mulutnya.
"Ah berisik kau!" bentaknya.
"Cepat katakan apa yang akan kalian lakukan! Apa kalian sudah menemukan posisi vera saat ini?" tanya nya, sangat excited sampai melupakan kemarahannya.
"Apakah boleh mengatakan ini?" tanya rafael, melirik ke arah reza, valen, dan andi.
"Terserah bapak saja." jawab valen.
Rafael menghembuskan nafasnya, "Ah baiklah-baiklah." ucapnya, tetapi... "Ayo, kita jalan sekarang." ucapnya sambil menarik tangan daffin pergi dari sana.
Rafael bukan mengajak daffin untuk mengatakannya, tetapi dia langsung membawa daffin ke parkiran di basement.
"Mengapa kau membawa ku ke sini? Kenapa tidak bicara di dalam saja?" tanya daffin, sangat penasaran dengan apa yang ingin di katakan rafael padanya.
"Mendekatlah!" bisiknya, menarik kerah baju daffin. "Aku akan memberitahukan nya nanti." ucapnya, langsung memasuki mobilnya.
*ARGHHH!!* kesal daffin. Lalu mengikuti rafael yang masuk ke dalam mobil.
Rafael pergi entah ke mana, ia masih belum memberitahukan tujuan membawa daffin pergi. "Ini menyebalkan. Sangat-sangat menyebalkan!" ucapnya, sambil memukul stir mobil.
"Ada apa?" panik daffin.
"Kita terlambat." ucapnya, tak melanjutkan pembicaraan nya.
"Apa yang terlambat? Jelaskan dengan detail." tanya nya.
"Aku menemukan sinyal terakhir nya, tapi aku percuma saja. Aku rasa dia sudah melarikan diri." jawabnya.
"Sinyal? Memangnya kau menemukan nya di mana?" tanya daffin.
"Bandara Soekarno-Hatta. Sekarang, tim sedang menuju ke sana, untuk memeriksa cctv bandara." jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, kita ikut ke sana saja. Aku bisa meretas cctv bandara, jika pegawai di sana tidak memberi izin." ucapnya, sangat tidak sabar.
"Tidak perlu. Reza bisa mengatasinya." jawabnya, yang masih berfokus pada jalan.
Tak lama rafael memberhentikan mobilnya, lalu "Benar! Kita harus memeriksanya sendiri." ucapnya, sangat tiba-tiba.
"Ke mana? Ke bandara?" tanya nya.
Seketika rafael langsung memutar balikkan mobilnya. "Iya. Aku curiga, mereka bekerja sama dengan penjahat itu." jawabnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
***
"Halo, kalian di mana?" tanya rafael.
"Kita sedang di belakang ruang cctv bandara, untuk meretas cctv bandara, karena para pegawai tetap memaksa untuk tidak memberikan izin. Dan tidak memanggil kepala bandara." jawab reza.
"Baiklah, aku akan mendatangi mu." ucap rafael. Sambil berjalan kaki dengan langkah yang lebar.
"Baik, Pak." jawab reza, lalu menutup teleponnya.
***
"Mereka ada di mana?" tanya daffin.
"Mereka ada di ruang belakang cctv. Kita juga akan ke sana." jawabnya.
"Mengapa harus di sana? Bagaimana jika nanti ketahuan? Payah!" ucapnya, lalu tiba-tiba secara sengaja rafael memukul kepala daffin, di bagian belakang.
"Kau kira pekerjaan ini mereka lakukan tidak hati-hati. Huh?" ucap rafael, sangat kasar.
"Pastinya hati-hati. Tapi maksud ku itu, mengapa mereka tidak melakukannya di luar saja, biar tidak terlalu terlihat. Bagaimana jika nanti, Office Boy/Girl datang, atau pegawai yang lain memasuki ruangan yang mereka pakai? Apa tidak timbul masalah baru lagi?" jawab daffin, seolah mengerti segalanya.
"Ah, berisik sekali. Jika kau tidak tahu lebih baik diam saja!" ucap rafael.
***
Valen menghampiri rafael yang berada di depan ruangan belakang cctv tersebut, dengan wajah yang sangat gembira.
"Pak, kita menemukan lokasi kepergian wanita itu." ucapnya, berhasil melacak pesawat yang di naiki vera.
"Dia pergi ke mana?" tanya nya, tak santai.
"Dia menaiki pesawat dengan tujuan Bali. Itu menandakan kalau dia, masih berada di Indonesia Pak." jawabnya, masih dengan raut wajah bahagia.
"Baiklah, cepat kalian pesan lima tiket pesawat tujuan Bali, untuk ku dan daffin." ucapnya, menyiapkan segalanya.
"Baik Pak. Saya akan memesan sekarang." jawabnya, lalu pergi ke bagian pemesanan tiket pesawat.
***
Daffin diantara wajah senang dan kebingungan, dia hanya mengikuti langkah pergi nya rafael.
"Kak, kita pergi ke Bali? Apa tidak sebaiknya kita membawa pakaian bersih?" ucapnya, sambil berjalan cepat mengikuti langkah rafael.
Rafael mendengus kesal, "Kau kira kita ingin liburan? Kita ini ingin menangkap penjahat, tidak ada hubungannya dengan membawa pakaian bersih. Jika kau ingin berliburan, jangan ikut dengan ku!" ucapnya, dengan nada kasarnya.
"Ah, baiklah-baiklah. Aku hanya bercanda. Mengapa kau anggap serius?" jawabnya.
"Di saat seperti ini, kau masih mengajakku bercanda? Kau lihat saja, apakah wajah ku terlihat sedang ingin bercanda?" ucapnya, dengan tatapan dingin nya.
"Tidak, Kak. Maaf aku telah melakukan gurauan, di tengah suasana yang sedang panas-panasnya." jawabnya.
Tak lama valen menghampiri rafael, dan "Pak, sebentar lagi kita akan berangkat." ucapnya, sambil memberikan masing-masing tiket.
"Oh, baiklah. Aku akan menunggu di sana." ucapnya, lalu pergi ke kursi menunggu di sebelah loket tiket.
Sedangkan valen pergi menghampiri Reza, dan Andi yang masih di ruangan itu.
Tak lama, akhirnya mereka pun pergi dengan pesawat tujuan Jakarta-Bali. Rafael berharap kerja keras tim dan dirinya segera terbayarkan, dengan berakhirnya mereka menemukan vera dan pembunuh alea di Bali. Semoga saja.

Komentar Buku (248)

  • avatar
    Yxztna_28

    Bagus banget kk ceritanyaaaaa,,cepetan di up ya kk kelanjutannyaa gasabar niee,,,,semoga aja kenzie sama daffin bersatuu,,dan terornya selesaii,,jgn sampai kenzie nikah sama dirgaa,,jgn ya kk pliss,,udh bagus kalo kenzie sama daffin tpi apapun endingnya,,tetap semangat kk,,jangan lama2 ya kk upnyaa nungguin niee😊

    19/01/2022

      3
  • avatar
    SantikaRina

    novelah ini sungguh menarik

    16/04

      0
  • avatar
    GraceOlivia

    cerita yang menarik

    16/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru