Bab 33. Merindumu

Nyonya Irene dan Juragan Prawiryo sudah sampai di apartemen Andre. Di dalam sudah ada Devan dan Andre yang menunggu.
"Ada hal penting apa, Ma?" tanya Devan yang sudah tidak sabar menunggu Nyonya Irene menyampaikan sesuatu yang penting.
Nyonya Irene pun mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Ada kabar baik. Nyonya Teti tersandung kasus korupsi uang arisan ibu-ibu sosialita, milyaran yang dia bawa. Para ibu-ibu siap membawanya ke meja hijau," ungkap Nyonya Irene dengan serius, tetapi wajahnya sedikit memancarkan kebahagiaan. Dia merasa ada jalan ke luar untuk putranya.
"Bagaimana kabar Tomeng? Apakah sudah ada kabar baik?" tanya Juragan Prawiryo kepada Devan.
"Ada Pa. Mereka sudah bisa membuktikan bahwa semua adalah rekayasa Tina. Semua yang terjadi kepada Devan adalah akal-akalan Tina, termasuk pernikahan dadakan itu adalah palsu belaka. Namun, kita tidak bisa berbuat leluasa meskipun semua sudah terbukti karena alat bukti vital ada di tangan Tina. Apalagi, dia itu gadis yang cukup ekstrem!" ucap Devan putus asa. Dia terus mengusap rambutnya kasar dan membuatnya terlihat semakin acak-acakan.
"Sebaiknya kita memberikan penawaran kepada Tina," ucap Juragan Prawiryo mencoba memberikan solusi terbaik supaya putranya kembali bersemangat.
"Maksud Papa?" tanya Devan bingung.
"Kita barteran. Kita suruh Tina menandatangani surat perjanjian dan menyerahkan semua bukti-bukti dan kita tukar dengan kebebasan ibunya," usul Juragan Prawiryo.
”Maksud Papa?" tanya Devan masih bingung.
"Mereka pasti butuh uang untuk mengganti uang yang sudah digelapkan. Nah, pilih mana uang atau penjara," ucap Juragan Prawiryo menjelaskan kepada Devan.
"Ya, betul Pa. Mama setuju, kita bisa menekan Nyonya Teti untuk semua itu," ucap Nyonya Irene menyetujui usulan suaminya.
"Sekarang, Nyonya Teti berada di mana?" tanya Juragan Prawiryo kepada Nyonya Irene.
"Dia sudah di penjara, ibu-ibu takut kalau dia kabur. Namun, jalan damai masih terbuka asalkan uang mereka kembali semua," Nyonya Irene memberikan penjelasan.
"Dari Tomeng kamu mendapatkan bukti apa?" tanya Juragan Prawiryo kepada Devan.
"Ini sebuah rekaman pengakuan para komplotan itu," ucap Devan sambil menunjukkan alat bukti rekaman kepada Juragan Prawiryo dan Nyonya Irene.
"Baguslah, kita tinggal bergerak untuk menggertak Tina!" ajak Juragan Prawiryo.
"Siang ini, kita harus bergerak membebaskan Devan dari Tina. Setelah itu, baru kita bisa fokus mencari mantu kita," ajak Nyonya Irene untuk segera menyelesaikan semua masalah satu per satu.
***
Bu Diana sedang menerima pesan dari salah satu sahabat terbaiknya.
[Eh, kamu ikutan acara Fashion Show D'activities tidak?] pesan dari sahabat Bu Diana.
[Anak saya yang bakalan ikut] balas Diana.
[Anak darimana, Bo. Nikah sekali doang. Setahu eike suami dan anakmu sudah meninggal. Masa' iya bisa ikutan acara ini']
[Ada deh. Dia sudah seperti anak saya. Hasil desainnya bagus dan luar biasa sekali. Dia juga asli Anjuk Ladang!]
[Ah masa, sih, Bo. Oke sampai ketemu di Yogyakarta, ya, Cin]
[Ok, Jois. See u next time. Cus]
***
Siang ini, Devan pulang ke rumah. Semenjak Gayatri pergi dari rumah, dia lebih memilih tidur di apartemen Andre.
"Sayang, aku rindu sekali sama kamu," kata Tina kepada Devan. Dengan sikap manja dan genit, dia melingkarkan tangannya di pinggang Devan.
Devan menghentakkan tangan itu dari pinggangnya. Kemudian, pergi dari hadapan Tina.
"Dev aku begitu mencintaimu. Aku sayang kamu," teriak Tina dengan geram karena merasa diabaikan.
"Tapi aku tidak mencintaimu sama sekali. Tolong pergi dari hidupku!" bentak Devan sambil terus melangkah meninggalkan Tina.
"Tidak! Kamu hanya milikku seorang. Tidak boleh ada wanita lain selain aku!" teriak Tina sambil mengejar Devan.
Devan berhenti melangkah, lalu membalikkan badan menghadap ke Tina.
"Kamu pergi dari hidupku atau—" Devan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa kamu ingin hancur, hah?! Semua foto-foto ada di tanganku. Jadi, aku bisa sebarkan semua ke media!" ancam Tina.
"Silahkan saja. Silahkan aku sudah tidak peduli," suruh Devan kepada Tina. Dia sudah bosan mendengar ancaman Tina.
"A-apa maksudmu," ucap Tina terbata, seolah-olah tidak percaya dengan ucapan Devan yang sudah berani menantangnya. Dia pun berpikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan Devan.
"Silahkan jika kamu ingin melihat ibumu meringkuk di penjara," ucap Devan dengan jari telunjuknya menunjuk ke muka Tina.
"Ibu!" Dia teringat, tadi pagi menerima kabar ibunya di penjara karena menggelapkan uang ibu-ibu sosialita.
"Sudah siap sekarang!" Devan menepukkan tangan. Seolah-olah rencana sudah benar-benar matang. Beberapa orang bertubuh kekar masuk ke dalam rumah diikuti Andre, Juragan Prawiryo, Nyonya Irene dan pengacaranya.
"Ka-kamu!" ucap Tina terbata. Dia melihat beberapa pria yang pernah disuruh untuk memeperdayai Devan dan memfoto bersamanya di ranjang. Seolah-olah terjadi penggrebekan, lalu menikahkan mereka berdua.
"Jelaskan!" ucap Devan kepada empat pria itu.
Mereka pun satu persatu mengakui jika disuruh oleh Tina untuk memperdayai Devan. Empat pria itu dipegangi oleh anak buah Tomeng. Mereka memohon ampun supaya tidak dipenjarakan dengan membuat pengakuan. Tina semakin terkejut oleh semua pengakuan mereka. Merasa terdesak Tina mengancam akan menyebarkan semua foto-foto itu.
Tidak berapa lama terdengar handphone Tina berbunyi. Dia pun segera mengangkat panggilan masuk di handphone-nya. Di seberang sana, ibunya sedang berbicara memohon untuk bisa dibebaskan dari penjara.
"Kalian benar-benar telah merencanakan semua ini untuk menjebakku," ucap Tina. Dia seolah kebingungan dengan fakta-fakta yang bermunculan satu persatu di depannya.
"Sekarang, pilih serahkan semua alat bukti termasuk foto-foto itu, lalu tandatangani surat ini dan ibumu bebas dari penjara atau kamu mau pilih yang lainnya. Pilihan ada di tanganmu!" ucap Devan memberikan pilihan kepada Tina.
"Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu," ucap Tina masih ngotot dan percaya akan semua bukti yang dimiliki bisa memenangkan semuanya.
"Oh, ya? Kalau begitu bersiap-siaplah kamu juga akan masuk ke penjara!" gertak Devan kepada Tina dengan geram.
Sesaat, Tina berjalan mundur. Dia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi di hadapannya.
"Tanda tangani dan serahkan buktinya atau kamu dan ibumu berdua meringkuk di penjara!" gertak Devan sekali lagi.
Pilihan yang benar-benar sulit. Air matanya berderaian, memikirkan dia akan jauh dari orang yang dicintainya.
"Dev, aku begitu mencintaimu. Tidak bisakah kamu mencintaiku sedikit saja," pinta Tina.
"Sekarang, silahkan tanda tangan dan serahkan semua buktinya, lalu pergi dan rumahku," usir Devan.
Tina segera bergegas ke kamar mengambil semua alat bukti, lalu menandatangani surat perjanjian yang sudah disiapkan oleh pengacara Devan. Dia merasa tidak ada pilihan lain selain menyetujui semuanya.
Mbok Tarmi membawa tas berisi pakaian, lalu memberikannya kepada Tina. Tina pun diusir dari rumah Devan bersama dengan empat orang pria suruhannya.
Devan bisa bernapas dengan lega. Dia melangkah menuju ke kamarnya. Sudah lama tidak tinggal di kamar ini, dia merasa sangat merindukan kenyamanannya.
Dia ingin mandi dan melepaskan semua beban yang menghimpitnya selama ini. Saat membuka lemari pakaian, dia melihat pakaian Gayatri yang masih ada di situ. Dia pun mengambil pakaian itu, lalu mendekapnya. Duduk di bibir ranjang, dia pun masih memandang lekat pakaian yang ada di tangannya.
Di dalam matanya terlihat bayangan Gayatri menari-nari indah.
Merindumu
Dalam sepi kulukis wajahmu
Senyum manis menghias indah bibirmu
Aku akan selalu menunggu
Sampai kapan pun itu
Pikiranku tak menentu
Merindumu tanpa kenal waktu
Tak lelah mendamba
Bersabar akan takdir cinta
Bersambung ...

Komentar Buku (93)

  • avatar
    Shazarina

    Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง

    27/01/2022

      0
  • avatar
    KurniawanFurqon

    enk untuk di baca terimakasih:))

    26/02/2025

      0
  • avatar
    Wulan SariRatna

    saya sangat antusias membaca novel terbaik

    26/01/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru