Pak Harjo masih saling pandang dengan Bu Marni. Kemudian, mengalihkan tatapannya kepada Gayatri. "Yatri, ayah belum selesai berbicara, tetapi sudah main potong," ucap ayahnya mencoba menenangkan putrinya. "Maaf, Ayah. Gayatri ngeri membayangkan itu semua," ucap Gayatri masih terus diliputi rasa takut. "Ayah tidak pernah memaksakan kamu menikah dengan siapa pun. Semua keputusan ada di tanganmu. Tidak ada yang menjualmu. Demi bisa melunasi semua hutang kepada juragan Prawiryo, lalu Ayah menukarnya dengan kamu. Mereka meminta tolong kepada Ayah untuk menjodohkan kamu dengan putra mereka." Pak Harjo mencoba menjelaskan kepada Gayatri. "Ya Allah, kamu salah sangka, Yatri," ucap Bu Marni. "Lalu, alasannya apa, Yah. Mereka sampai memilih Yatri, padahal mereka tahu Yatri hanya gadis miskin, jelek, dekil dan kumal?" tanya Gayatri. "Hus! Jangan berbicara seperti itu. Kamu, putri Ibu yang sangat cantik dan wajahmu memang cantik. Miskin bukan berarti harus merendahkan diri dan membuatmu tidak percaya diri. Kamu harus merubah pandanganmu, Yatri!" nasihat ibunya. "Maaf, Bu. Yatri hanya bingung, apakah putranya mau dengan Gayatri?" tanya Gayatri, sekali lagi. "Semua keputusan ada kepadamu, Yatri. Karena itulah, ayah menanyakannya sama kamu. Ayah juga tahu maksudmu, tetapi mereka benar-benar tidak ada maksud apa-apa hanya meminta tolong tentang perjodohan ini. Kamu berhak menolak atau menerima. Ayah menyerahkan semua keputusan kepadamu. Namun, mereka berharap jawaban segera darimu dan tolong kamu bisa memikirkan semua. Kita telah banyak berhutang budi kepada mereka," ucap Pak Harjo. Dia hanya ingin Gayatri memikirkan tentang utang budi keluarganya kepada keluarga itu selain memikirkan dirinya sendiri. "Jawaban segera, Ayah?" tanya Gayatri. Dia terlihat sangat kaget dengan semua ini. "Iya, Yat. Mereka menunggu jawaban segera darimu. Sekali lagi, Ayah menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadamu. Ayah yakin, kamu pasti bisa mengambil keputusan yang baik untuk semuanya," ucap ayahnya. *** Gayatri terbangun di sepertiga malam. Dia pun bergegas mengambil wudu untuk bersuci, lalu melaksanakan salat malam. Kemudian, melanjutkan shalat istikharah untuk dimantapkan hatinya dalam memilih jawaban yang terbaik. Jika memang anak juragan Prawiryo adalah jodohnya, maka Gayatri memohon petunjuk kepada Allah supaya bisa memberikan jawaban segera dan dimudahkan jalannya sampai menuju ke pernikahan. Pikirannya sangat kalut. Bagaimanapun juga Juragan Prawiryo telah banyak membantu keluarganya, bahkan bisa dibilang utang budi. Karena secara tidak langsung, aibunya bisa tertolong berkat pertolongan keluarga Juragan Prawiryo. Gayatri mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, berharap semua masalah ikut terbang bersama embusan napasnya. Setelah selesai bermunajat, dia pun kembali ke pembaringan. Masih ada waktu sebentar untuk memejam hingga subuh tiba. *** Tiga hari berlalu, Pak Harjo bertanya kepada Gayatri tentang kesiapannya menerima permintaan Juragan Prawiryo dan Nyonya Irene. "Yatri, bagaimana, Nak. Ayah harus memberikan jawaban, segera kepada mereka. Ayah berharap, semoga kamu bisa memberikan jawaban terbaik untuk semuanya." "Ya, Ayah. Yatri tahu," jawab Gayatri pelan. "Yatri, ibu tahu ini sangat sulit untukmu, tetapi Ibu mohon, kamu bisa berpikir sejenak tentang mereka yang sudah berjasa terhadap hidup ibu. Jika itu memberatkan dirimu. Ibu minta maaf, tetapi tidak ada pilihan lain lagi, Nak. Semua harus dijalani," ucap ibunya memohon. "Maafkan ayah, Yatri. Hidup kamu selalu susah. Sebagai orang tua, kami tidak pernah bisa memberikanmu kebahagiaan. Sekarang, malah memberikan beban berat di hidupmu," ucap Pak Harjo. Terlihat wajahnya sangat bersedih. "Tidak, Ayah. Gayatri sudah memikirkan semuanya. Aku mau dan ikhlas menerima permintaan mereka," ucap Gayatri. Dia berusaha memantapkan hatinya. "Yatri, apakah semua itu sudah dari hatimu, Nak?" tanya ibunya meragukan kesiapan Gayatri. "Iya, Bu. Yatri sudah bermunajat, semoga kemantapan hati ini adalah jawaban atas doa-doaku. Gayatri berharap, semoga ini adalah jawaban terbaik untuk semua, Bu," jawab Gayatri mencoba meyakinkan. "Siang ini, Nak Bejo akan datang menjemput kita sekeluarga," ucap Pak Harjo memberitahukan bahwa mereka akan dijemput dan dibawa ke kediaman Juragan Prawiryo. "Kita bertiga, Yah?" tanya Gayatri heran. "Iya, kita bertiga," jawab Pak Harjo meyakinkan Gayatri. "Lho, kenapa, Ibu juga musti ikut, Yah?" tanya Bu Marni. "Namanya keluarga sudah pasti akan diajak semua, Bu. Sebaiknya, kalian bersiap-siap. Nanti, saat Nak Bejo datang sudah siap untuk berangkat!" perintah Pak Harjo kepada Gayatri dan Bu Marni. Tidak berapa lama, mobil Fortuner berwarna putih milik Juragan Prawiryo memasuki pelataran rumah Pak Harjo. Terlihat Bejo turun dari mobil, lalu berjalan menuju rumah. "Assalamualaikum," ucap salam Bejo, masih berdiri di depan pintu. "Walaikumsalam," jawab salam Pak Harjo. Kemudian, menyambut kedatangan Bejo di depan pintu. "Mari masuk dulu, Nak Bejo. Tunggu sebentar, Gayatri dan ibunya sedang bersiap-siap. Silahkan duduk dulu, Nak!" perintah Pak Harjo. Pak Harjo pun masuk, memberitahu Gayatri dan ibunya bahwa Bejo sudah datang. Lima belas menit, mereka pun meninggalkan rumah Pak Harjo menuju ke kediaman Juragan Prawiryo. *** Di kediaman Juragan Prawiryo, Nyonya Irene sedang sibuk bersiap-siap. Terlihat, Nyonya Irene sibuk mempersiapkan hidangan di meja makan. "Mbok Nah, sudah selesai semua masakannya," tanya Nyonya Irene, kepada Mbok Nah. "Sudah, Ndoro," jawab Mbok Nah. "Buruan ditata Mbok. Sebentar lagi, tamunya datang!" perintah Nyonya Irene. "Baik Ndoro," jawab Mbok Nah. Mbok Nah, Sri dan Poniyem pun membawa makanan dari dapur ke meja makan. Nyonya Irene membantu menata makanannya. Setelah selesai semua, Nyonya Irene pun menyusul Juragan Prawiryo yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi. "Acara apa, Pa?" tanya Nyonya Irene kepada suaminya. "Aca aca aca, Ma," jawab Juragan Prawiryo, sambil meliuk-liukkan lehernya. "Papa, apaan, sih! Tanyanya apa, jawabnya apa," ucap Nyonya Irene sewot. "E ... gimana, sih, katanya Bollywood lovers. Masa iya, dikode pakai aca aca aca, nggak tahu. Gimana sih, Ma?" tanya Juragan Prawiryo. "Mama tahu, Pa. Mama 'kan tanya acaranya apa," jawab Nyonya Irene. "Papa lagi lihat film Kuch Kuch Hota Hai. Ternyata asyik juga, meskipun film lama lagunya bikin Papa ikut geal-geol." Terlihat, Nyonya Irene begitu senang dan bahagia. "Kenapa bahagia sekali, Ma?" tanya Juragan Prawiryo. Dia sangat penasaran melihat wajah istrinya. "Habis Papa gemesin. Mama ikut bahagia, akhirnya Papa ikutan demam film bollywood, aca aca aca," jawab Nyonya Irene, dengan tawa bahagianya. "Semua karena Mama. Penebar virus bollywood, padahal banyak ibu-ibu dan muda-mudi jaman sekarang gemar melihat drakor. Apalagi, kalau lihat oppa korea suka jerit-jerit sendiri. Lha ini, Mama malah demam bollywood." "Drakor, oppa, gak, ah! Mama sukanya Bollywood, Pa!" jawab Nyonya Irene meyakinkan suaminya. "Memang kenapa mama suka bollywood? Apa yang membuat Mama begitu nge-fans dengan yang namanya film bollywood?" tanya Juragan Prawiryo. "Mama tuh suka artisnya, cantik dan ganteng, wajahnya bak dewa-dewi. Pada saat nonton filmnya, mau sedih, mau happy pasti nyanyi bombay. Apalagi, kalau sedih sudah pasti pakai irisan bombay. Ih, Papa, aca aca aca," canda Nyonya Irene membuat suaminya ikut tertawa. "Sepertinya, itu suara mobil yang membawa Pak Harjo sekeluarga, Ma," ucap Juragan Prawiryo. "Kita harus kembali berperan jadi aktor dan aktris sekelas Sharukh Khan dan Kajol. Ini sudah jadi langkah kedua, semoga selanjutnya Gayatri bisa jadi mantu kita. Ingat, Pa!" ucap Nyonya Irene, mengingatkan suaminya. "Siap, Ma!" jawab Juragan Harjo. Bersambung ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
27/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
26/01/2025
0Lihat Semua