Tubuh Ruyn membeku, mendapati ada seseorang yang lancang, berani menyela apa yang sedang ia lakukan. "Pergi dari sini!" bentak Ruyn dengan suara rendah. Sare menggeleng, butiran bening membasahi dada Ruyn yang telanjang. "Tidak mau!" "Pergi!" geram Ruyn. Sare merenggangkan pelukannya, ia mendongak menatap Ruyn dengan mata basah. "Aku minta maaf karena sudah jahat padamu, mengucapkan kalimat yang menyakitimu, menyalahkanmu atas kematian Abdi padahal itu bukan salahmu ...," suara Sare kian menghilang. "Maafkan aku ..." Ruyn balas menatap Sare. Matanya berkilat menahan emosi yang tak terluapkan. "Sare ...," desis Ruyn. "Pergi-dari-sini!" Susah payah Sare tersenyum di antara air matanya. "Kau selalu menjaga dan menyelamatkanku. Untuk sekali ini, biarkan aku menyelamatkanmu ..." Ruyn bergeming, tak terpengaruh kalimat Sare. "Pergi dari sini, sekarang!!" Sare mengangguk. "Baiklah ...," terbalik dengan kalimatnya, Sare kembali merengkuh Ruyn. "Kalau kau masih tetap ingin mengorbankan diri, kau harus melewati diriku!" Tubuh Ruyn yang dingin terasa semakin turun suhunya saat mendengar kalimat Sare. "Kau tidak perlu di sini. Pergi!" "Tidakkah kau mengerti? Aku sudah kehilangan Abdi, dan sekarang aku tidak mau kehilanganmu, Ruyn ...," bisik Sare, suaranya teredam dada Ruyn. Sare bisa mendengar detak jantung lelaki di depannya yang berdegup makin keras dan tak beraturan. Sare tetap bertahan, ia tidak mau Ruyn mengorbankan diri hanya karena merasa bersalah menjadi penyebab kematian Abdi. Semenit kemudian, kedua lengan Ruyn terkulai ke bawah, tangan kanannya meletakkan belati tajam itu di atas tanah. Diam-diam Sare menarik nafas pelan penuh kelegaan, tapi itu tak berlangsung lama, karena ia merasa jantungnya mendadak berdebar manakala kedua lengan Ruyn balas merengkuhnya, meletakkan dagu di atas puncak kepala Sare, sementara Ruyn berusaha menenangkan debaran jantungnya dan bernafas lebih tenang. Di bawah cahaya surya pagi itu, Sare merasa menemukan lagi kenyamanan yang sempat hilang karena kepergian Abdi. * Kabut berarak menuruni perbukitan hijau, menyentuh pucuk- pucuk pohon pinus. Wangi dedaunan menguar terkena hembus angin semilir yang menyejukkan, mengalir menuruni lembah hingga menelusuri telaga kecil yang berair tenang. Di atas dermaga kayu pendek, Ruyn sedang duduk bersila menghadap telaga, sedang melakukan meditasi. Mengenakan Yukata berwarna abu-abu pucat, lelaki itu nampak tenang dan penuh konsentrasi. Setelah beberapa saat, ia membuka mata. Sial, kenapa ia menjadi sulit untuk fokus? Apakah gara-gara cewek yang sekarang ketiduran di kursi dekat jendela dengan pemandangan lembah hijau perbukitan yang menakjubkan? Ruyn menghela nafas panjang dan membiarkan pikirannya berkelana ke masa lalu ... Kali pertama ia bertemu Sakura, beberapa tahun silam, saat ayah angkatnya sedang berkunjung ke rumah ayah Sakura. Dengan postur mungil, cantik dan feminim, Ruyn langsung tergila-gila. Saat itu usianya masih sembilan belas tahun, sementara Sakura masih delapan belas. Cinta remaja akhir yang menyenangkan, dialami Ruyn seperti remaja puber. Ia dan Sakura sering menghabiskan waktu di pantai, karena gadis itu senang mengumpulkan berbagai bentuk kerang yang unik. Cinta remaja yang polos dan tak mengenal luka, namun saat itu Ruyn sudah mulai berpikir jauh tentang masa depan mereka. Sakura hanya tertawa ketika Ruyn memimpikan merajut harapan yang ingin ia wujudkan, bersama gadis itu di sisinya. Kebahagiaan itu hanya berlangsung setahun, mulai pudar saat Rakai memasuki hidup Sakura. Profilnya yang sangat mengintimidasi membuat ayah Sakura tak berdaya dan tak mampu membela putrinya dari jeratan jebakan Rakai untuk memiliki Sakura. Hingga di malam yang naas itu, Sakura memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Ruyn terpukul, hancur dan terluka. Urusan kuliahnya pun sempat terbengkalai. Hobi kebut-kebutan menjadi hal baru baginya. Ia bahkan sempat menantang Rakai untuk berduel dan membuat Ruyn mendapat beberapa sabetan tombak Rakai sebagai kenang-kenangan. Ketika ia mengendarai motor hendak pulang dan menyerempet gerobak bakso dan hampir di keroyok preman, saat itulah ia bertemu lagi dengan Abdi. Lelaki yang ada untuknya saat Sakura sudah tiada, menemani dan menggembleng Ruyn dengan keras melalui seni bela diri. Ruyn bahkan sempat kabur ke negara ayah angkatnya, tinggal beberapa tahun di Jepang dan mempelajari ilmu bela diri, karena setiap kali ia melihat goresan tombak Rakai, hatinya selalu membara ingin membalas perbuatan bajingan itu. Ia masih berkomunikasi dengan Abdi dan sesekali mampir ke panti, tempat ia dulu di besarkan. Ruyn masih ingat betul saat pertama ia bertemu Sare, ketika ia sedang berada di atap untuk membetulkan talang air yang bocor. Meski hanya mengenakan celana jins dan kaos oblong, Sare sudah menarik perhatian Ruyn dengan parasnya yang manis dan bersih. Maka ia mencari alasan mengambilkan paku, untuk bisa berbicara dengan cewek itu. Padahal sebetulnya sih, ia tidak butuh paku. Sialnya lagi, cewek itu datang bersama Abdi. Berbulan-bulan Ruyn berusaha memendam perasaannya, kadang mengintai keseharian Sare. Ia tidak mau dan tidak mungkin merebut Sare dari Abdi meski perasaannya terus meronta. Semakin ia tahu bahwa Sare sering bersama Abdi, semakin sering ia ke pondok keluarganya di tepi telaga ini, hanya untuk menenangkan diri dengan bermeditasi, namun yang ia rasakan, perasaan cintanya pada Sare justru semakin dalam. Perasaan ini berbeda dengan yang pernah ia rasakan pada Sakura. Perasaan ini ... lebih kuat dan dalam, sekaligus rapuh di saat yang bersamaan. Manakala Ruyn berhasil menumbangkan Tuan Mardi di kapal pesiar itu, ia nyaris tak bisa menahan diri untuk memeluk Sare, karena melihat gadis itu masih hidup. Itu sebelum Abdi datang dan suaranya menyeruak di antara mereka. Ruyn terpaksa mengalihkan pikiran dan keinginannya. Begitu Abdi meminta ijin padanya untuk mengajak Sare ke salah satu rumah peristirahatan milik keluarganya, Ruyn tak bisa menolak. Begitu mendengar kabar bahwa rumah Sare terbakar, ia langsung meluncur dan bertemu Violeta di perjalanan. Luapan emosi karena memikirkan Sare yang sedang bersama Abdi, membuatnya gelap mata. Balapan dengan Violeta menjadi pelampiasannya. Pun saat ia berjumpa lagi dengan Sare di rumah itu, Ruyn berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kerinduannya. Menatap Sare yang cantik dengan rona pipi kemerahan ... sanggup membuat Ruyn berenang melintasi danau Tasman saking emosinya. Ia tak tahan lagi, meledek Sare tentang Abdi adalah bentuk kecemburuan tak beralasan yang konyol, tapi itu benar. Maka setelah sat set sebentar di dapur, ia langsung kabur lagi. Untuk apa ia berlama-lama di sana? Memandangi Sare seperti orang bodoh, mengharap gadis itu menjadi miliknya padahal mustahil? Hingga malam naas itu terjadi. Ruyn mendapat kabar dari Abdi jika Panti Asuhan Kasih di serang oleh Rakai dan dan Gurka. Mereka merasa, menyerang panti sekecil itu tidak memerlukan banyak orang. Tak butuh waktu lama, Ruyn bergegas menuju panti. Ia dan Abdi sengaja tidak menghubungi Violeta agar identitas gadis itu tetap menjadi rahasia. Ruyn betul-betul tak mengerti, siapa sosok berambut panjang yang membuatnya hilang konsentrasi sehingga Rakai melihat celah untuk menyerangnya, dan Abdi yang menyelamatkannya ... Malam itu seluruh penghuni panti berduka atas kepergian Abdi. Menjelang subuh, setelah pemakaman Abdi, Ruyn mencoba untuk berbicara dengan Sare tapi bahkan gadis itu tak sudi melihat seakan ia tak berada di sana. Mengalihkan rasa kecewa, Ruyn pergi ke makam Sakura. Di sana ia termenung lama, berbicara sendiri dan sekaligus berpamitan, karena bisa jadi ia tak akan mengunjungi lagi makam perempuan itu. Meski Sare menolak kehadirannya, Ruyn tetap berusaha menjaga Sare di waktu dan tempat yang tak terlihat. Penolakan dan kalimat Sare melukai Ruyn begitu dalam, menyadarkannya bahwa ia memang bersalah atas kematian Abdi. Bahkan dulu saat kehilangan Sakura, Ruyn tak merasa putus asa dan frustrasi yang begitu pekat. Ruyn mencapai titik terendah dalam hidupnya, penyesalan dan penolakan Sare membuatnya merasa menjadi orang yang tak berguna. Malam setelah ia menyelamatkan gadis itu karena pingsan di halaman bengkel Abdi dan membawanya ke rumah Violeta, ia pulang ke apartemennya di pusat kota. Ruyn menelpon ayah dan ibu angkatnya, berterima kasih karena mereka sudah merawat dan membesarkannya, serta memohon maaf karena ia harus pergi. Ritual Harakiri akan ia jalani di depan makam Abdi, untuk memberi penghormatan dan sebagai tindakan atas penyesalan sekaligus rasa bersalah. Seperti yang pernah di ucapkan Sare padanya, kenapa ia tidak melakukan Harakiri saja? Maka di pagi buta itu, Ruyn sudah sangat siap untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Apa yang lebih menyakitkan daripada melukai perempuan yang ia cintai? Betapapun Ruyn ingin membahagiakan Sare, nyatanya gadis itu tak sudi melihat dan bicara dengannya. Ruyn tak ingin hidup dengan rasa cinta terpendam dan perasaan bersalah. Jadi ia mantap untuk mengangkat belati dan merobek perutnya ... Ruyn mencoba memejamkan matanya lagi, berusaha fokus untuk bermeditasi. Namun matanya segera terbuka lagi ketika ia merasakan ada tangan yang melingkari lengan kirinya. Sial! Kenapa ia tak bisa mendengar langkah kaki Sare? Tidak mungkin gadis itu melayang di udara, bukan? Kalau iya, berarti Sare sudah ... Panik menjalari tulang belakang Ruyn, jantungnya berdetak lebih cepat saat seseorang itu menyandarkan kepala di bahunya. Tanpa kata, tanpa suara, tapi sudah lebih dari cukup bagi Ruyn jika seseorang itu adalah nyata. Jemari halus itu menggapai jemari Ruyn dan menggenggamnya. Dada Ruyn terasa hendak meledak saking bahagianya. Ia merasa terbang ke awang-awang, padahal Sare hanya menggenggam tangannya. Mereka duduk berdampingan dalam keheningan di tepi telaga, menikmati awan yang berarak kian turun, burung-burung yang beriringan hendak kembali ke sarangnya, dan pantulan sinar matahari sore yang menakjubkan di atas permukaan air telaga. Lama berselang, ketika sinar matahari nyaris redup dan senja menjelang, terasa bahu Ruyn kian berat, genggaman tangan Sare kian melemah. Ruyn terserang panik, kemudian ia berusaha menoleh ke samping dan menarik nafas lega. Sare ketiduran, gadis itu nampak cantik dengan gaun bermotif floral, salah satu koleksi lama milik ibunya. Tadi pagi saat di makam, menyadari bahwa Sare tidak mengenakan alas kaki, tanpa berpikir lagi ia membopong Sare, dan mampu membuat Ruyn kelimpungan ketika gadis itu mengalungkan tangan di lehernya dan bersandar padanya. Hembus udara yang kian dingin, membuat Ruyn tak berpikir lama, ia merubah posisi duduknya kemudian bangkit dan membopong Sare kembali ke pondok. Setelah menyelimuti gadis itu di kamar, Ruyn ke dapur. Ia tidak tahu apa makanan favorit Sare tapi ia ingin membuat sesuatu yang istimewa. Setelah selesai, ia membersihkan diri dan minum teh hijau di teras samping pondok. "Ruyn ..." Lagi-lagi Ruyn kaget. Ada apa sih dengannya hari ini? Indera pendengarannya yang biasanya sensitif, kini nyaris tak berfungsi. Ia menoleh dan menemukan Sare sedang berdiri menatapnya. "Ya?" "Aku lapar ..." Ruyn tersenyum. "Sudah berapa hari kau tidak makan? Seabad?" "Mungkin baru dua windu ...," jawab Sare. Ruyn bangkit, sengaja mengulurkan tangan, apakah Sare mau menerimanya atau tidak. Gadis itu menyambut uluran tangannya tanpa ragu, mengikuti langkah Ruyn ke meja makan pendek. "Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu, tapi kuharap kau benar-benar lapar ..." "Kuharap kau tidak kecewa kalau aku menghabiskan semua makanan ini," balas Sare. Malam itu mereka makan dalam keheningan, sesekali Sare mencuri pandang ke arah Ruyn, yang di balas dengan senyuman. "Rasanya aneh ... ," ujar Sare ketika mereka duduk di taman samping pondok, malam itu seusai makan. "Tempat ini?" Sare menggeleng. "Bukan, tapi kamu. Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang jutek dan menjengkelkan." Ruyn mengangkat bahu. "Aku memang jutek dan sangat menjengkelkan." "Ya, sudah sangat jelas olehku ...," Sare memeluk kedua lututnya. Ia memandang ikan-ikan yang berenang hilir mudik di kolam, suara gemericik air dari pancuran yang terbuat dari bambu sangat menenangkan. "Tempat ini indah sekali, kalau tidak ingat butik, bisa-bisa aku tidak mau pulang ..." "Kau mau pulang?" "Ya, karena aku harus bekerja ...," Sare menelengkan wajah, menatap Ruyn. "Apakah ... aku boleh ke sini lagi?" Ruyn memandang permukaan kolam ikan. "Tidak." Sare merengut. Ternyata lelaki ini tetap jutek dan menyebalkan. "Maksudku, kau tidak boleh kemari jika sendirian. Harus bersamaku ...," masih memasang wajah yang menjengkelkan, Ruyn tetap tidak memandang Sare. Sare tak menjawab, ia justru menggeser duduknya lebih dekat ke arah Ruyn, dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. "Apakah wajahku sejelek itu, hingga kau tidak mau melihatku?" tanya Sare pelan. "Tidak ...," jawab Ruyn dengan suara parau. "Lalu kenapa kau nyaris tidak pernah mau melihatku? Hanya sesekali saja kau melakukannya. Kenapa?" Ruyn menoleh dan menemukan Sare yang masih bersandar di bahunya, setengah menengadah memandangnya. Tatap matanya yang besar dan jernih penuh tanya. "Karena aku ragu, apakah aku bisa menjauh darimu ..." "Kalau begitu, jangan pergi, Ruyn ..." Ia selalu suka saat Sare memanggil namanya. Terbawa oleh suasana dan atmosfer magis yang sedari tadi berpendar melingkupi, membuat Ruyn seperti terhipnotis, dan ia menyingkirkan jarak di antara mereka ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
buagus banget , gak rugi baca..
7d
0keren
13/06/2023
0maju jaya
05/06/2023
0Lihat Semua