logo text

Bab 59 Keputusan

Pagi menjelang, kini pagi yang tia rasakan tidak sama dengan pagi biasanya, pagi yang hangat menjadi sangat dingin
Setelah kejadian kemarin anggara lebih banyak diam, mungkin diamnya karna dia membutuhkan waktu untuk berfikir
Pagi ini tia lebih dulu bangun dibanding anggara
"Kak, kita sarapan dulu" ucap tia membangunkan anggara
"Hmmmm" (menguap)
"Kak" panggil tia mengulang
"Iya, kamu tunggu di meja makan ya, ntar aku nyusul" balas anggara yang masih mengumpulkan kesadaran
"Mmm" tia berlalu
.........
Suasana hening, tidak seperti biasa mereka akan makan sesekali bercerita, pagi ini seakan semuanya berubah
Apa hari-hariku kedepannya akan seperti ini, begitu dingin, dan aku akan menjadi penonton kebahagiaan suamiku dengan istri baru nya, ahh, tidak mungkin, tia jangan mendoakan dan jangan berprasangka buruk dulu batin tia berfikir begitu keras tak mampu menerima kenyataan
"Tia, sepertinya hari ini kita tidak masuk lagi, apa kamu keberatan" titah anggara terdengar menyimpan kekhawatiran
"Memangnya kenapa kak.?"
"Aku mau mengajak kamu kerumah papa, kita harus membuat keputusan, supaya masalahnya tidak berlarut, aku rasa aku sudah menentukan keputusanku" ucap anggara tegas
Jantung tia berdetak kencang, mendengar anggara sudah membuat keputusan
Apa benar kak anggara akan menikahi ara, apa keputusan kak anggara sebenarnya batin tia berfikir
"Hmmm" lidah terasa keluh dan mulut sudah tidak bisa lagi berucap, hanya anggukan yang bisa dilakukan tia
"Kak, tia ke kamar dulu, mau siap-siap" ucap tia beralasan
"Makannya ngak dihabiskan" tanya anggara, tidak biasanya tia meninggalkan makanan
"Udah kenyang kak" balas tia lirih
Tidak biasanya tia tidak nafsu makan, jika ada masalah tia akan makan melebihi porsi makan biasa
Kenapa harus seperti ini, aku rasa tidak sanggup, aku tidak akan mampu bertahan, ibu, ayah tia mau pulang, tia tidak akan sanggup lirih tia menangis meratapi takdir yang akan dijalani
"Tutttt tuutttt" (dering hp)
"Halo tia sayang" sapa riang 3 sahabat tia, sahabat yang sangat dirindukan
"Iya sayangku"
"Ti, kamu sakit"
"Ngak"
"Kok kedengerannya lemas gitu, ada masalah ya"
"Ngak pa-pa, cuma ngak enak badan"
"Kita rindu, kapan sih masuk kampus"
"Hmm, kayaknya minggu depan"
"Beneran ya, kita udah rindu berat, kita pengen curhat"
"Iya-"
"Tia" panggil aggara dari luar
"Udah dulu ya, kak anggara manggil aku, ntar kita lanjut lagi"
"Iya deh, bahagia ya sayang"
"Makasih ya"
.............
"Kayaknya tia lagi ada masalah deh"
"Iya, kayak lemas gitu"
"Kita doakan yang terbaik aja buat tia, semoga saja ada solusi untuk masalah yang tengah dihadapi"
"Aamiin"
.............
"Udah siap-siapnya"
"Udah kak"
"Yuk, kita berangkat, tadi kak udah nelpon papa"
"Hmmm"
Setelah sejam perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman wijaya, rumah megah bak istana, ya tia sudah tidak kaget lagi dengan kekayaan mereka, tia sudah tau karna pernah berkunjung sekali, tapi untuk saat ini anggara masih menyembunyikan identitas keluarganya, yang tia tau keluarga wijaya adalah pengusaha sukses, tidak lebih.
...............
"Ma, pa"
"Sayang sini duduk"
"Iya ma"
"Kamu kok pucat, kamu sakit.?"
"Ngak kok ma, cuma kecapean aja kayaknya"
"Jangan tetalalu capek, kamu harus banyak istirahat, apa anggara menyuruh menantu mama bekerja.?"
"Ngak kok ma, kak anggara baik sama tia"
"Syukurlah, kalo anggara macam-macam lapor mama ya sayang"
"Iya ma"
"Pa, anggara sudah dapat solusinya dan anggara sudah pikirkan matang-matang"
"Kamu sudah yakin"
"Yakin pa, anggara tidak mau masalah ini berlarut, lebih baik kita selesaikan secepatnya"
"Bagaimana dengan tia"
"Semua keputusan sama anggara pa"
"Baiklah, sekarang kamu bisa kasih tau kita semua tentang rencanamu"
"Semua ini aku lakukan demi kesembuhan tante siska, aku mengorbankan perasaanku dan juga tia, umur pernikahan kami belum sampai sebulan tapi sudah dihadapkan dengan ujian yang seperti ini, aku harap papa dan juga mama bisa menerima keputusanku"
"Baiklah"
"Aku tidak akan menikahi tiara, pa, semuanya bisa diselesaikan tanpa harus ada yang tersakiti, bukannya sekarang tante siska stroke, dia tidak akan banyak membantah, bukannya dia hanya ingin aku menikahi tiara, semua bisa di atur pa, aku dan tiara cukup mengenakan pakaian pengantin, berfoto layaknya suami/istri, dan kalo memang ditanya papa tinggal bilang aku dan tiara menikah saat tante siska belum sadarkan diri"
"Apa kamu yakin rencana ini akan berhasil"
"Trus papa mau aku beneran menikahi tiara"
"Bukan begitu ngga, papa takut tante siska tau dan malah membuat keadaannya semakin buruk"
"Pa, jangan membuatku berubah pikiran"
" baiklah, papa akan bicarakan ini pada adhitama"
"Satu lagi pa, tetap sembunyikan status aku dan tia, aku tidak mau tiara berulah dan malah menyakiti tia"
"Kamu tenang saja"
"Bagaimana kalo malam ini kita pergi menemui om adhitama, biar mama dengan tia dirumah" ucap anggara memberi saran
"Iya pa, sebaiknya sekarang saja, biar besok bisa dilakukan pemotretannya, jangan menunda lagi" dina menimpali
"Baiklah, mama sama tia tunggu dirumah, jangan keluar dulu sebelum kita pulang"
"Iya pa"
#Dirumah sakit
"Wijaya" sapa adhitama pada wijaya yang baru saja datang
"Maaf menganggu"
"Tidak masalah, silahkan duduk, siska masih tertidur, kita bicarakan disini saja, apa kalian sudah membuat keputusan"
"Sudah om"
"Bagaimana, apa kamu bersedia menikah dengan tiara"
"Maaf om kalo menikah sepertinya aku tidak bisa"
"Anggara om minta tolong"
"Tenang dulu om, aku sudah punya solusi lain, aku akan tetap membantu, aku dan tiara hanya perlu melakukan pemotretan dengan baju pengantin, kalo tante siska bertanya om bisa kasih tau kita menikah saat tante belum sadarkan diri, mungkin cuma itu yang bisa aku lakukan om, maaf aku tidak bisa terikat hubungan pernikahan yang sesungguhnya dengan tiara, pernikahan bukan hanya sekedar hutang budi, iba, apalagi keterpaksaan dan tanpa adanya rasa cinta, jika itu terjadi hanya akan membuat salah satunya tersakiti" jelas anggara panjang lebar
"Apa kamu sudah memiliki perempuan lain ngga, apa kamu-" ucap tiara terhenti
"Sudahlah ara, aku tidak mau berdebat tentang hal yang tidak penting, intinya aku dan papa datang karna ingin membantu, jadi tolong pikirkan saran yang aku berikan, kalo untuk berpura di depan tante siska aku akan coba, bagaimanpun aku sudah berjanji akan membantu"
"Bagaimana kalo siska tau kita cuma membohonginya"
"Kalo itu aku tidak tau om, yang penting kita sudah berusaha untuk menyembuhkan tante siska"
"Baiklah, om setuju dengan saranmu, sebaiknya kita coba dulu"
"Pa, tidak bisa seperti itu" sela tiara tidak terima
"Tiara, apa sebenarnya niatmu, apa kamu punya rencana lain dibalik sakitnya tante siska" sahut anggara langsung pada intinya
"Apa maksudmu anggara"
"Aku cuma bertanya"
"Sudah cukup, kalian tenang dulu, ini rumah sakit" tegur wijaya tegas
"Intinya besok kalian datang kerumah, masalah persiapan kalian tidak perlu pikirkan, aku akan menyiapkan semuanya, pemotretan akan dilakukan disebuah butik milik sahabatnya dina" tegas wijaya
"Semoga semuanya berjalan dengan sesuai rencana"
"Semoga saja, kita doakan yang terbaik"
"Kalo begitu kami pamit pulang dulu"
"Baiklah, terima kasih sudah ingin membantu"
"Sama-sama"
...........
"Pa, kenapa papa langsung setuju, gimana kalo mama tau" rengek tiara
"Kalo rencana ini tidak berhasil kita pindah ke luar negri"
"Pa"
"Ara, jangan membantah"
"Hufff"

Komentar Buku (941)

  • avatar

    bagusss bangetttt

    28/02

      0
  • avatar
    YolandaNunung

    bagus banget kak novel nya

    25/06/2025

      0
  • avatar
    febriyantishafa

    bgausss bangety

    07/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru