logo text

28. Kepanikan Siska

“Iya sih, tetapi mungkin bapaknya terlewat bahagia makanya diberi nama belakangnya Bakti Husada supaya mengingatkan kalau putrinya itu dilahirkan di rumah sakit ini.”
“Itu bapak yang minta istrinya melahirkan secara caesar bukan, padahal istrinya bisa melahirkan normal?” tanya temannya.
“Ya namanya juga orang kaya, atau karena dia takut melahirkan normal, padahal lebih sakit caesar loh, apalagi kalau obat biusnya habis, huh ... nyeri-nyeri sedap,” jawab Luluk bingung.
“Sudah ikutin saja kemauaan pasien, nanti kalau nggak dituruti malah gawat, bapak nya itu kemauannya banyak dan dia paling doyan update status, kalah-kalah kita loh,” lanjutnya lagi.
“Masa sih, berarti bapaknya memang gaul, ya udah deh aku siapkan berkasnya dulu,” sahut Luluk petugas wanita itu.
“Iya Say, folowernya aja sudah mencapai ribuan gila nggak tuh,” ucap temannya sembari memperlihatkan media sosial kepada Luluk.
“Dasar Bapak gaul!”
“Wajahnya sih memang tampan, tetapi tubuhnya nggak oke, menang tinggi doang dan putih dan lihat perutnya buncit persis sudah seperti bapak-bapak umur enam puluhan, berbeda dengan saudara kembarnya itu,” ucap temannya lagi.
“Kok kamu tahu kalau orang itu punya kembaran? Naksir ya?” tanya Luluk menggodanya.
“Bukan gitu kali, tadi malam kan aku tugas jaga dan dia pamitan mau pulang saat menjaga Bu Siska, orangnya sih memang tampan cuma hitam manis tetapi tubuhnya kekar banget, aku juga mau mempuanyai suami seperti itu, sayangnya dia sudah punya istri!”
“Tinggi juga, pasti perutnya juga kotak-kotak seperti roti sobek, idola banget pokoknya, cuma yaitu namanya nggak modis sih Suratmin,” timpa teman lainnya berkomentar.
“Beruntung banget yang punya istrinya itu,”timpa Luluk tersenyum.
“Sudah ah, malah ngomongin orang, aku pergi dulu!” pamit Luluk kepada temannya.
“Iya aku juga sampai ketemu nantu malam,” ucap temannya lagi.
***
Suratman kembali ke kamar istrinya setelah menurutnya sudah selesai memberikan berkas itu yang tanpa sadar nama anaknya sudah dia tulis sendiri dengan nama yang lain.
“Bagaimana Mas, sudah selesai urusannya?” tanya Siska saat melihat suaminya masuk menemui dirinya.
“Sudah selesai dan oh ya aku lupa lagi tanya kapan jadinya akte kelaharan itu?”
“Mas, ini bagaimana sih, kok malah nggak tanya kapan selesainya?” tanya Siska kembali cemberut.
“Ah ... gampang itu nanti saat kita pulang aku tanya lagi, biasanya juga nanti dihubungi oleh pihak rumah sakit kalau aktenya sudah selesai,” kilah Suratman membela diri.
“Ya Sudah terserah Mas saja, tetapi jangan sampai lupa ya?”
“Iya, Sayang!”
“Sekarang tinggal dokter yang memutuskan kita kapan pulang ke rumah,” ucapnya bersemangat.
“Iya Mas, aku sudah gerah kalau lama-lama di rumah sakit ingin cepat pulang,”sahutnya tersenyum lagi.
“Oh ya Sayang tetapi ada sedikit masalah dan aku sudah berusaha tetapi tetap gagal total, maafkan aku, Sayang,” ucapnya memelas.
“Ada apa lagi, Mas?” tanya Siska penasaran.
“Sebenarnya ... itu sebenarnya ...
“Sebenarnya apa? Kalau ngomong jangan gugup begitu kenapa?” tanya Siska mulai meradang.
“Begini Sayang, sebenarnya aku sudah beberapa kali membujuk Susi untuk menjadi baby siter untuk anak kita, tetapi dia menolak mentah-mentah, dan aku juga sudah menawarkan gaji besar juga tetapi tetap saja dia nggak mau, katanya mau fokus merawat anaknya yang hitam itu,” jelas Suratman pelan.
“Apa!”
“Susi nggak mau urus anakku, kebangetan amat tuh orang, maunya apa sih, tinggal urus sebentar apa susahnya sih, mana ponselku, Mas!”
“Mau ngapsin , Sayang?”
“Ya marahin dia lah, pokoknya mau nggak mau dia harus menjadi pengasuh anakku, anaknya biar bu Retno saja yang urus, kan bisa?” ucapnya yang masih terlihat emosi.
Suratman lalu memberikan ponsel istrinya dan segera menghubungi Susi.
Sekali dua kali panggilan telepon itu masuk tetap tidak diangkat, membuat Siska bertambah geram.
“Ke mana sih ini orang ponselnya aktif tetapi orangnya ke mana lagi?” gerutunya.
Siska lalu bergantian menghubungi Suratmin tetapi tetap sama saja, ponsel mereka bisa dihubungi tetapi tidak diangkat oleh mereka berdua.
“Kurang ajar mereka, bisa-bisanya mereka tidak mau mengangkat telepon dariku!”
“Ini nggak bisa dibiarkan, nggak mungkin juga kita mengemis ke rumahnya minta-minta begitu!”
“Jadi apa yang harus kita lakukan Sayang?”
“Duh ribet banget sih, makanya aku nggak mau punya anak ya begini repot, ya sudah lah kita cari tetangga saja yang mau di gaji murah dan bersih, kalau ngambil dari yayasan jatuhnya mahal banget,” sahut Siska cemberut.
“Sayang, kamu kan cuti selama dua bulan, nanti setelah cuti mu selesai baru kita pikirkan bagaimana caranya agar Susi mau mengasuh anak kita, tetapi kalau nggak bisa ya terpaksa cari orang lain saja!”
“Ngggak apa-apa juga kita bayar mahal untuk anak kita sendiri, kita akan lihat bagaimana pola asuh orang miskin dengan orang kaya.”
“Ku akui Susi memang cekatan dalam semua urusan rumah tangga, karena dia tidak berpendidikan, kami mau anak kita diasuh sama Susi yang bodoh, sekolah hanya sampai SMP saja, itu gin nggak nyampe kelas tiga sudah berhenti sekolah.”
“Memang kamu mau putri kita yang cantik ini menjadi bodoh seperti Susi, aku sih nggak mau!”
Untung saja dia menolak untuk mengasuh anak kita, kalau ada yang terjadi sama putri kita bagaimana?” Suratman berusaha meyakinkan istrinya untuk tidak lagi meminta bantuan Susi maupun Suratmin.
Sejenak Siska merenungkan perkataan suaminya itu, dia pun membayangkan jika anaknya diasuh oleh Susi secara tidak manusiawi.
Siska membayangkan kalau Susi memperlakukan bayinya dengan kasar, digendong asal-asalan, atau membiarkan anaknya menangis begitu saja, banyak luka lebam di tubuh kecilnya.
“Ih ngeri juga ... kamu ada benarnya juga Mas, buat apa juga kita banyak harta tetapi tidak bisa untuk merawat anak kita, toh kalau anaknya baik dan pintar kita juga yang bahagia!”
“Semua kita bisa dapatkan, apa yang menjadi keinginan anak kita bisa terwujud tanpa harus memikirkan harganya, sedangkan Suratmin harus menimbang-nimbang dulu mau beli atau nggak, karena bagi dia uang itu sangat berharga, harus bisa menempatkan yang mana lebih diperlukan dengan yang tidak.”
“Sedangkan kita, malah bingung mau diapakan itu uang yang banyak dan kita kumpulkan selama ini, toh jatuhnya ya ke anak lah, malu dong nanti kalau dia tumbuh dewasa apalagi namanya perempuan atributnya banyak sekali,” sanggah Suratman yang membanggakan dirinya sendiri.
“Iya, Mas, okelah kalau begitu!”
“Kita tunjukkan kalau anak kita yang lebih unggul dari anaknya yang dekil itu, mana bisa dia menyekolahkan anaknya di sekolah favorit paling-paling sekolah negeri saja,” cela Siska meremehkan Susi dan Suratmin.
Kesombongan dan keserakahan mereka berdua sudah mendarah daging dan mereka pun selalu menghina kemiskinan yang dipunya oleh saudaranya sendirinya.
Mulai sudah membanding-bandingkan bayi mereka dan cara mereka nanti mengasuh buah hati mereka masing-masing.
Perbedaan itu akan sangat menyolok di hadapan mereka sendiri. Suratman dan Siska yang sudah terlanjur sakit hati kepada saudaranya itu memutuskan untuk tidak lagi bermain ke rumahnya meskipun dalam keadaan mendesak.
Apalagi hanya sekedar bertegur sapa atau sekedar makan gratis di rumah Suratmin, hal ini dihindari agar anak mereka tidak bergaul atau berteman dengan sepupunya sendiri.
Tak lama kemudian ponsel Siska berdering seketika.
“Pasti ini Susi, dia mau meminta maaf karena terlalu cuek sama aku, sebentar ya Mas, aku angkat dulu,” ucap Siska tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
[ Hallo Sus, kamu pasti telepon balik sama aku, mau minta maaf ya?]
[Dengar ya Sus, kalau kamu nggak mau menjadi baby sister untuk anakku juga nggak apa-apa, aku juga sudah pikir-pikir mau mempekerjakan kamu atua tidak, nggak masalah buatku]
[Aku masih bisa mencari orang lain yang lebih berkompeten dari kamu]
[Jadi nggak usah kegeer an deh]
[Apa yang kamu bicarakan, saya ini bukan Susi tetapi Pakdekmu Karso]
[Pak- pakde Karso?]
[Iya, cepat suruh suamimu jemput saya di pos satpam, nggak pakai lama]
“Tut! Tut!”
Pakde Karso langsung mematikan ponselnya seketika dan membuat Siska tidak enak hati kepada Pakde Karso.
“Siapa, Sayang?” tanya Suratman penasaran.
“Itu Pakde Karso kita lupa kalau dia masih ada di pos satpam, aku pikir tadi yang menelepon itu Susi, aku tidak lihat siapa yang menghubungiku,” sahutnya.
“Aku sih sengaja,” ucap Suratman kesal.
“Apa kamu bilang, Mas?” tanya Siska.
“Oh nggak ada apa-apa, Sayang,” kilahnya berbohong.
“Cepat Mas, jemput pakde di pos satpam suda lama dia fi sana, setelah itu suruh pulang saja dia, beli tiket pesawat saja supaya dia bannga menjadi orang kaya “ jelas Siska ya.gbtidak ingin pakde Karso menginap di rumahnya.
“Baik, komandan!”
“Aku pergi dulu sebentar!”
Pada saat ingin ke luar tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
“Tok!” Tok!”
“Asalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
“Mas seperti suara Bude Sri itu!”
“Apa aku bilang pakdemu ke sini pasti bawa prajuritnya lagi!” gerutu Suratman kesal.

Komentar Buku (79)

  • avatar
    FADILAH

    akun free fire

    25/12/2024

      0
  • avatar
    Iraa Wiyaa

    this is story so good and best

    27/08/2024

      0
  • avatar
    ZakariaMuhammad

    bagus

    16/01/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru