"Aku dapat bahagia dengan caraku sendiri." -Raina- "Aku mencoba memangkas beberapa rindu yang tak bisa ku jamah keberadaannya, tapi kegagalan terus saja menerpa; bahwa rindu akan selalu ada meski dirinya hanya berbentuk bayang-bayang saja." -Dhuha- "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. -Q.S. Yasin/40- . . . . . Happy reading! Jangan lupa tinggalkan jejak Vote dan Komennya! Terkadang keegoisan muncul karena sebuah keadaan yang membuat Raina tidak memiliki pilihan, bukan untuk melindungi dirinya sendiri tapi untuk melindungi orang-orang di sekitarnya yang ditarik paksa untuk ikut berpartisipasi dalam jalan menuju kematian itu sendiri. Di luar hujan menguyur semakin deras, tak seiring dengan langkah Raina yang semakin melambat. Kini Raina sudah berdiri di dalam gudang yang luas, matanya berkeliaran mencari sosok yang ia kenal. "Keluar!" Teriak Raina dengan emosi, jantungnya kini berdetak dengan cepat. Tak lama dari muncul sesosok wanita yang sudah lama tidak pernah ia lihat berjalan dengan pincang, wanita tua yang sangat ia rindukan pelukan hangatnya yang mendekat dengan kaki pincang dan tangan yang terikat tali. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah segar dan tubuhnya yang biru lebam. "Mama," Suara yang di keluarkan Raina terdengar seperti bisikan, tubuhnya gemetar matanya kini sudah memerah mungkin sebentar lagi air itu akan jatuh membanjiri pipinya. Mata hitam milik Mama menatap wajah Raina dengan tajam. "Kenapa?" Suara Mama terdengar putus asa. "Kenapa kamu harus lahir dan bisa bernafas dengan tenang? Keluarga saya hancur, anak laki-laki saya yang begitu saya sayangi harus tumbuh tanpa sosok Papa di hidupnya. Kami hidup sulit, nyaris mati karena kamu!" Teriaknya degan suara yang gemetar, "Dunia saya hancur karena kamu!" Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut Raina, semuanya terkunci oleh kata-kata Mama yang benar adanya. Raina berjalan mendekat, memeluk tubuh Mamanya yang sudah tersungkur di lantai semen yang ikut mendingin seperti perasaan nya saat ini. Jika saja dirinya tidak pernah hadir semuanya tidak akan menjadi seperti ini, Mama tidak akan kehilangan Dunia nya dan Kakak tidak akan kehilangan sosok ayah. "Maafin Raina, Ma." Ujarnya sambil menangis terisak. Sedangkan Mama terus saja memukul punggungku dengan keras. "Raina janji Ma, setelah hari ini Dunia Mama yang Raina ambil akan di kembalikan. Raina akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali, mungkin agar tidak merusak kebahagiaan orang lain lagi dan sampai saat itu tiba Raina mohon untuk tetap hidup, Ma." Dari semuanya yang terjadi kini Raina mulai memahami; kekerasan kepala tidak akan pernah menang melawan kenyataan dan tak ada kebahagiaan yang benar-benar bersifat mutlak akan ada masanya kepergian menjadi pilihan agar tak ada lagi orang-orang yang dunianya hancur karena dirinya. "Halo gadis kecil, akhirnya kita bertemu lagi." Kata laki-laki yang tidak Raina harapkan muncul di hadapannya. Kenangan tentang hari itu muncul dipermukaan kembali, saat ia harus kehilangan sahabat kecilnya tentang teriakan-teriakan yang membuatnya mencengkeram kepalanya kuat. "Jika dari dulu kamu menurut dan menyerahkan semuanya, maka tidak akan ada lagi orang yang menderita seperti ini!" Ujarnya sambil menarik pistol dari saku jaketnya. "Dorrr!!" Tapi sebelum Mama menyadari, bunyi tembakan peringatan melayang ke langit-langit malam. Dengan sangat cepat Raina memutar tubuh Mama, membiarkan tubuhnya sendiri menjadi tameng. "Kenap-" "Dorrr!!!" Tembakan kedua itu bukan lagi peringatan, tapi peluru itu langsung bersarang di perut Raina tubuhnya hampir limbung. Tangan Raina langsung memegang bahu Mama agar tidak terjatuh, dara segar langsung keluar dari mulut dan perutnya. Saat itulah Mama melihat dua orang berpakaian hitam yang sangat ia kenali. Satu wanita yang kini berstatus sebagai istri sah dari mantan suaminya yang sedang tersenyum puas dan satu laki-laki yang sangat ia percayai sebagai saudara angkat laki-laki yang selalu menemani di saat masa tersulitnya ternyata menjadi dalang dari semuanya. "Tidak, mungkin!" Ujar Mama dengan rasa kecewanya. "Pergi Ma!" Ujar Raina dengan suara yang sangat pelan, bahkan dara segar ikut keluar saat ia mengucapkan kata-kata tersebut. Mama menggelengkan kepalanya kencang. "Dengar perkataan Raina Ma-" Raina mencoba tersenyum dan menegakkan tubuhnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. "Berlarilah sekuat yang Mama bisa tanpa melihat kebelakang. Mama percaya kan sama Raina?" Mama menganggukkan kepalanya. "Apapun yang terjadi, Mama hanya perlu berlari karena di sana kebahagiaan Mama sudah menunggu." "Tapi, kam-" Raina langsung memotong ucapan Mamanya dengan sangat cepat. "Raina bisa bahagia dengan cara Raina sendiri, Ma." Raina membantu tubuh Mama untuk berdiri, lalu memberikan aba-aba untuk Mama segera pergi. "Sekarang, lari Ma!!" Mama terus berlari, sedangkan Raina tersenyum lega melihat Mamanya pergi. Darah segar keluar dari mulut Raina bertepatan dengan suara tembakan yang menghujani tubuhnya kembali. Penglihatan Raina sedikit mengabur, kepalanya pening dan tumbuhnya seperti tidak kuat lagi untuk menopang. Saat matanya menangkap Mama sudah berlari keluar dari gudang Raina tersenyum lega untuk kedua kalinya. "Raina sayang, kalian." Ujar Raina sebelum tenggelam dalam kegelapan. "Bangsat!!!" Teriak Lara dengan frustasi. Keno dan Lara langsung mengecek denyut nadi Raina, setelah semua yang terjadi mereka tidak bisa kehilangan gadis itu atau semua usaha mereka selama bertahun-tahun akan menjadi sia-sia belaka. Selama ini mereka melakukan berbagai hal keji adalah untuk mendapatkan hak penuh atas warisan yang dimiliki Raina dari kedua orang tuanya yang sudah meninggal akibat kecelakaan saat gadis itu masih bayi. Mereka berdua yang merencanakan kecelakaan itu, tapi saat itu juga mereka kehilangan Raina yang masih bayi saat insiden tersebut. Lima tahun lamanya mereka mencari akhirnya mereka menemukan keberadaan gadis yang memiliki kunci atas semua harta karun yang dimiliki saudara laki-lakinya. Kembali mereka merencanakan hal-hal gila untuk membuat gadis itu menyerah, mulai dari menghancurkan keluarga yang menolong gadis itu, teror hingga penculikan saat ia masih kecil hingga pembunuhan terhadap sahabat terdekatnya. Lara dan Keno tahu semua itu tidak akan membuat Raina menyerahkan semua yang ia miliki itu kepada mereka, karena monster di dalam tubuh gadis itu tidak akan pernah tinggal diam. Saat mereka berdua lengah, tubuh Raina sudah diambil alih oleh Frederick. Dengan gerakan yang sangat mulus, Frederick menarik pisau yang ia selipkan di dalam celana nya tanpa sepengetahuan mereka. Saat Fredrick memiliki peluang bagus ia langsung menancapkan pisau tersebut tepat kearah jantung pria tua tersebut. Tubuh Keno langsung ambruk dengan mata yang melotot seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. "Sudah cukup kalian bermain-main dengan gadis bodoh seperti Raina! Sekarang ayo bermain seperti beberapa tahun yang lalu." Ujar Frederick sambil mencabut pisau itu dari tubuh Keno. Dengan kontan darah segar langsung keluar dengan sangat deras dari tubuhnya. Lara tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri rasa panik langsung menyergap dirinya saat ini. Dengan mata tajamnya Frederick berdiri dengan kaki yang sedikit pincang, ya Lara sadar ini monster yang sama yang muncul beberapa tahun silam. "Sudah cukup Lo buat Raina menderita, sekarang waktunya buat gue mengakhiri semuanya." Teriak Frederick dengan suara beratnya. "Tidak ...." "Hahaha, kali ini kita akan mati bersama-sama!" Sekali lagi Frederick tertawa dengan puas. Dengan langkah yang sangat cepat Frederick mengangkat tangannya, ia langsung menarik pelatuk pistol nyo yang ia ambil dari Keno tadi tepat kearah kepala Lara. "Lihat, siapa yang sebenarnya yang sedang bermain?" Fredrick tertawa dengan sangat kencang membuat tubuh Lara semakin gemetaran. "Dorr!!" Tubuh Lara jatuh ke lantai dengan darah segar yang membanjiri lantai. Tak lama dari itu anak buah Lara berdatangan, saat melihat Bossnya sudah terbaring tidak berdaya di lantai mereka langsung melayangkan pistolnya menuju tubuh Raina. Nyawa di balas dengan nyawa, itulah prinsip dasar dari pertarungan mereka. Dan untuk terakhir kalinya Raina menutup matanya dengan sebuah senyuman yang sangat lega. Kali ini tidak akan ada Raina yang menghancurkan dunia orang lain lagi, kali ini Raina benar-benar pergi. Bertepatan dengan tubuh Raina yang jatuh tersungkur suara derap kaki berdatangan dari arah yang berlawanan, dengan sisa kesadaran Raina melihat orang-orang terdekatnya berlari dengan panik. Dengan suara kecilnya Raina berkata dengan lirih. "Semoga bahagia," Kata-kata itu sebagai salam perpisahan dan gelap langsung menelan habis kesadarannya. ***** yeyy, sebentar lagi menuju Ending!!! jangan lupa spam komen biar Author cepat update!
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (476)
Gondo KusumaYuliawati
bagus storynya endingmya Raina n Dhuha bersatu dikehidupan lain , lihat bab terakhir sampai ikut sedih...
22/08
0
Limau teaAis
pengolahan kata dalam tiap kalimatnya sangat bagus.
bagus storynya endingmya Raina n Dhuha bersatu dikehidupan lain , lihat bab terakhir sampai ikut sedih...
22/08
0pengolahan kata dalam tiap kalimatnya sangat bagus.
27/11
0bagus sekali
02/07/2025
0Lihat Semua