logo text

12. langkah yang Ditahan

"Aku terbiasa sendiri, bermonolog dalam sepi dan akhirnya aku gugur ke bumi."
--Raina--
"Jangan pernah merasa kalah oleh tingginya langit atau terhadap luasnya lautan. Sebab akan ada masanya mereka bertemu dalan euforia kemenangan."
--Dhuha-
.
.
.
.
.
Happy Reading!
Kenapa setiap malam aku terus merasakan hal yang seperti ini, aku selalu membenci berbagai pemikiran yang menghantuiku setiap malamnya. Yang membuatku terus saja bertengkar dengan pikiran dan hatiku, sedang logika ku terus berlarian keberbagai pilihan.
Mungkin ini termasuk masa krusial yang menentukan akan kemana arah langkah hidupku kedepannya. Setiap aku memilih sebuah langkah, akan ada persimpangan yang membuat langkahku keluh, buntu. Pernahkah kalian berkaca pada gelapnya malam atau pada tingginya ilalang yang dipaksa tunduk oleh angin kencang? Aku dan masa yang terus berotasi tanpa kenal waktu yang hanya terpaku pada titik yang membuat duniaku seakan menjadi jenuh.
Kenz melempar kunci mobil Raina dengan raut wajah bahagia, ia juga mengibaskan uang yang didapatkannya karena menang balapan barusan.
"Gila, setelah sekian purnama akhirnya gue bisa menangin juga balapan ini. Lo semua mau apa? Makan, minum atau mau belanja. Ayo kita foya-foya!" Ujar Kenz dengan senangnya sambil merangkul tubuh Raina. "Berkat Lo gue bisa jadi raja jalanan malam ini, makasih banget Raina,"
Aku tersenyum simpul, sambil memakan cemilan di meja. Raina memberikan lagi kunci mobilnya kepada Kenz. "Ni, pakai aja lagi mobilnya. Bulan depan baru balikin." Ujarku seakan tak peduli.
"Gila perbuatan baik apa yang buat Lo bisa nerima kebaikan kayak beginian Kenz?" Tanya Vanzo bingung. Kenz, hanya laki-laki yang lebih gila dari dirinya yang hidupnya hanya di habiskan untuk main-main saja.
"Gini-gini gue anak soleh, mangkanya Tuhan kasih rezeki nomplok kayak gini. Mangkanya Van rajin-rajin sholat, hindari maksiat biar rezeki ngak nyesat ke orang lain." Ujar Kenz dengan wajah penuh ejekan kepada Vanzo.
Ada benarnya juga, walaupun Kenz sulit untuk ditebak tapi ibadahnya tetap terjaga, kerjaannya selepas sholat Isya pasti kesini. Bukan untuk bermaksiat tapi ikut balapan untuk memacu adrenalin. Kenz juga pernah bilang, balapan baginya seperti terapi menjadi lebih baik. Memperbaiki satu kesalahan dengan kesalahan lainnya, hingga saat berada dipuncak ia akan berhenti bukan untuk menyombongkan diri tapi untuk mencari kegiatan lain yang bisa mendorongnya lebih baik lagi.
"Eh, Rain Senin gue bakalan pindah sekolah." Ujar Kenz sambil mengambil minuman di atas meja.
"Kenapa mau pindah?" Tanyaku sedikit menunjukan keterkejutanku.
"Bosen, bukannya takut sama Tuhan guru-guru di sana malah takut sama bokap gue jadi ngak seru. Gue nakal bukannya dihukum malah diliatin aja, jadi males banget sekolah."
"Sabar, resiko jadi anak donatur terbesar si emang gitu Kenz." Kini Erick yang ikut memberikan suara.
"Jadi Lo mau pindah kemana, ditambah bokap Lo ngizinin pindah ngak?" Tanya Vanzo lagi.
"Bokap gue ngikut aja, kan disini gue yang mau sekolah bukan bokap gue. Btw makasih banget Lo Raina udah mau pinjemin gue mobil Lo, seumur-umur baru kali ini gue nemu temen baik kayak Lo." Ujar Kenz santai tanpa memikirkan tatapan Erick dan Vanzo yang sudah berubah kepadanya.
"Oh gitu, temen Lo yang baik cuma Raina aja. Terus kita berdua Lo anggap apa? Besok-besok kalau ada masalah atau Lo lagi gabut ngak usah cari kita lagi." Ujar Vanzo sambil memasang wajah masam.
Kenz yang sadar ia salah bicara langsung memasang wajah memelas. "Eh, ngak gitu. Kan gue sama Raina itu temen, lah kalau kalian berdua bukan temen tapi kakak buat gue. Gitu maksudnya kakak," Kenz mengakhiri dengan senyum tulusnya.
Erick dan Vanzo saling bertatapan, "sejak kapan kita mau jadi kakak Lo, pede banget Lo Kenz." Ujar mereka berdua sambil mengoda Kenz. Saat itulah tawa pecah bertepatan pukul 2 dini hari.
"Kalian mau ikut ke apartemen gue ngak? Sekalian kita makan-makan. Kebetulan tadi di kasih banyak makanan." Ajakku sambil beranjak dari tempat duduk, yang langsung diikuti oleh mereka bertiga.
Malam itu kami habiskan dengan bersenang-senang dengan makanan hingga kami baru terlelap jam 6 pagi. Aku yang tidur di kamar sendirian dan mereka tidur bertiga di lantai 1 kamar tamu.
******
Raina terbangun oleh suara berisik yang terdengar dari lantai bawah, ia berjalan pelan sambil menguncir rambutnya asal. Betapa terkejutnya saat dirinya melihat keadaan dapur yang sangat berantakan. Kenz, Vanzo dan Erick tersenyum dengan cengiran nakalnya, saat itulah tawaku pecah melihat kekonyolan mereka. Mereka bertiga mengunakan kain yang dibentuk menyerupai cadar yang hanya kelihatan matanya saja, mereka seperti sedang berperang dengan telor mata sapi yang menimbulkan suara perang. Di sisi kiri Vanzo dan Erick sibuk membersihkan tepung yang tak sengaja di sengol hingga membuat tubuh mereka putih. Akhirnya Ia menghela nafas pelan lalu mengakhiri tawanya.
"Sekarang mendingan Lo semua mandi, bersihin badan kalian yang kotor ini. Masalah makanan nanti gue yang pesen." Ujarku sambil mengambil air dingin di kulkas.
Mereka bertiga tersenyum, lalu pergi secepat kilat. Mungkin mereka takut kalau aku bakalan berubah pikiran dan memarahi mereka semua. Aku hanya tersenyum lalu melirik kearah jam yang menggantung di ruang tamu.
Ternyata hari sudah sore, pantas saja mereka kelaparan. Aku membuka handphone lalu menelpon salah satu karyawan rumah makan terdekat.
Dahiku berlipat saat melihat puluhan panggilan tak terjawab di handphoneku dengan nama Papa dan Dhuha, tak lama dari itu ada panggilan masuk dari Dhuha. Aku langsung menerima panggilan tersebut.
"Kenapa?"
"Lo di mana? Gue udah 2 jam nungguin Lo di rumah." Terang Dhuha di sebarang sana.
Aku langsung mematikan panggilan tersebut, dengan secepat kilat aku menyambar kunci mobil di atas meja dan pergi kerumah.
Bagaimana laki-laki itu tahu di mana rumahnya, padahal dirinya sendiri tidak pernah memberitahukan siapapun letak rumahnya. Raina menarik nafasnya pelan mengisi rongga paru-paru yang terasa sesak.
Setelah sampai, Raina berjalan cepat menyusuri rumah besar yang berdiri kokoh di hadapan sana. Raina berdiri di depan pintu bercat putih, lalu tangannya perlahan memegang gagang pintu lalu membukanya.
Dengan wajah yang sudah merah padam ia masuk kedalam ruangan besar, matanya menangkap sosok Dhuha yang duduk di sofa putih ditengah ruangan dan mereka juga ada di sana sambil berbincang dengan ceria.
Perasaan sakit merengsek maju ke hatinya, Ia mempererat genggaman tangan nya. Ia tak bisa bohong, ada kesal yang memenuhi dirinya.
Kakiku melangkah mendekat kearah mereka, Tak ada senyum untuk menyapa mereka terutama wanita yang duduk di samping papa. Wanita yang sukses menjungkal balikkan hidupnya.
"Ikut gue," Ujarku sambil menarik tangan Dhuha kasar.
Baru beberapa langkah suara panggilan memaksaku untuk memberhentikan langkah.
"Raina," panggil Papa dengan intonasi yang meninggi kepadaku.
Aku membalikkan badan dengan wajah kesal yang berusaha kutahan.
"Apa lagi Pa?" Tanyaku sambil melipat kedua tangan ku di dada.
"Pulang kerumah bukannya menyapa kedua orang tua, kamu malah mau pergi begitu saja. Jangan pikir Papa ngak tahu kalau kamu ngak pulang kerumah, mau belajar ngak patuh sama Papa kamu ya!" Ungkap papa dengan kesal.
"Raina pernah patuh Pa, tapi ngak ada hasilnya. Papa masih melakukan kemauan Papa dengan seenaknya, tanpa bertanya lagi gimana perasaan aku kedepannya." Jawab ku dengan rasa marah yang sudah meninggi.
"Papa bisa keras aku juga bisa dan wanita jalang itu ngak pantes ada rumah ini." Tambahku lagi.
"Sudah berapa kali Papa bilang, wanita ini ibu kamu. Tak sepantasnya kamu memperlakukan dia seperti ini." Ujar Papa yang kini sudah berdiri di hadapanku.
"Sudah beberapa kali aku bilang Pa, dia jalang dan selamanya akan menjadi jalang!" Ujarku sarkastik di hadapan Papa yang langsung mendapatkan hadiah tamparan dari orang seberang sana.
"Plak,"
Aku tersenyum miring, lalu mengusap sedikit darah yang mengalir disudut bibirku. Aku menarik nafas dalam, lalu menghujani Papa dengan tatapan tajam. Jika saja membunuh wanita itu tidak menimbulkan dosa besar mungkin tanganku sudah menghabisinya sekaligus.
"Pergi kamu dari rumah ini, Papa tidak ingin melihat wajah kamu lagi. Dan ya, serahkan semua fasilitas yang Papa berikan ke kamu sekarang juga." Ujar Papa sambil menaruh kedua tangan di pinggang. "Papa akan memberikan kembali semua fasilitas jika kamu meminta maaf dan menerima wanita itu sebagai ibu sambung kamu."
"Terimakasih, atas pengusirannya Pa. Mulai sekarang Papa juga harus berhenti ikut campur urusan aku, masalah fasilitas semuanya sudah aku letakkan di kamar. Dan perlu Papa ketahui tak ada sepersenpun uang Papa yang aku ambil sejak hari itu." Ujarku sambil menekankan kata-kata terakhir agar Papa sadar aku bisa hidup tanpa uang darinya.
"Kamu ..."
Untuk terakhir kalinya, aku mencium telapak tangan Papa.
"Terimakasih untuk tamparan dan semua lukanya Pa, hingga membentuk diriku yang seperti ini. Semoga Papa bahagia dengan wanita jalang di belakang papa itu, aku cuma titip pesan untuk Papa. Jangan terlalu percaya dengan tampang lugu seseorang, karena di dalamnya tersimpan belatung yang bisa membuat orang di sekitarnya menjadi buruk."
Aku mengeluarkan pisau kecil dari saku jaket hitam yang ku kenakan, "Ingat pisau ini pa? Sekarang sudah menjadi milikku. Papa ngak berhak lagi untuk itu!"
Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi meninggalkan rumah di ikuti oleh Dhuha di belakangnya. Raina langsung masuk kedalam mobil dan mendudukkan tubuhnya di dalam sana. Pipinya terasa sangat nyeri akibat tamparan barusan, ia meringis pelan.
"Raina," panggil Dhuha yang sudah duduk di dalam mobilnya.
"Gue capek, mendingan Lo diem!" Ujarku sambil menenggelamkan wajahku di setir mobil.
Laki-laki itu menghela nafas pelan, lalu membiarkan suasana menjadi hening. Ia tak habis pikir dengan gadis disampingnya ini, bagaimana ia bisa bersikap sangat kasar seperti itu kepada keluarga.
"Oke gue bakalan diem, tapi perlu Lo tahu perbuatan Lo tadi salah ngak sepantasnya seorang anak bersikap kasar kepada orang tuanya." Ungkap Dhuha.
"Kalau gue salahpun, Lo ngak pantas nasehatin gue. Karena Lo ngak tahu apa masalah yang sedang gue hadapi saat ini." Ujarku dengan mata yang memerah. Sedangkan Dhuha hanya terdiam, mencoba mencerna kembali perkataanku barusan.
Sudah beberapa kali aku merasakan kehilangan dan sekarang aku tidak ingin itu terjadi lagi. Aku akan tetap membalaskan dendam pada orang-orang yang merusak kebahagiaan ku sejak hari itu.
*******

Komentar Buku (476)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus storynya endingmya Raina n Dhuha bersatu dikehidupan lain , lihat bab terakhir sampai ikut sedih...

    22/08

      0
  • avatar
    Limau teaAis

    pengolahan kata dalam tiap kalimatnya sangat bagus.

    27/11

      0
  • avatar
    bumimanusia

    bagus sekali

    02/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru