Daniar dan Maya memasuki sebuah kedai yang menyediakan eskrim dan kopi. Mengingat mereka membatalkan acara untuk menonton film yang telah Maya rencanakan, mereka berharap kedatangannya pada kedai ini akan membuat mereka merasa lebih baik. Maya mungkin sudah merasa lebih baik setelah keluar dari kampus yang menjadi tempat belajar bagi Daniar. Ia memang tidak memikirkan sesuatu dalam waktu yang lama. Maya akan segera bertindak atau dengan cepat melupakannya. “May, kamu beneran sudah nggak apa-apa ‘kan?” tanya Daniar memastikan. Maya mengangguk, kemudian berkata,”Ya. Aku baik-baik saja. Untung Liam orangnya baik. Beda banget sama yang satunya,” imbuhnya. Daniar mengangguk setuju. memang, entah mengapa aura yang dirasakan oleh Daniar ketika melihat Sabda adalah aneh. Lebih tepatnya, ia tidak dapat mendefisinikan hal itu. Antara kagum dan gemas dengan sikapnya menjadi satu. Ia sendiri juga malas jika harus mengartikan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Toh, ia tidak akan berhubungan lebih dekat dengan Sabda. “Kamu pesen apa?” tanya Maya. Daniar melihat papan menu sambil menaik-turunkan telunjuknya. “Hmmm. Kayaknya aku choco mint aja deh.” “Okay. Mbak, pesan red velvet satu dan choco mint satu,” kata Maya yang disambut baik oleh pelayan. Mereka mengambil tempat duduk yang tidka terlalu jauh dari pintu masuk. Mereka memang senang duduk di dekat jendela kaca agar dapat menikmati pemandangan di mana banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Lebih tepatnya, ini adalah titik favorit bagi Daniar. Kemudian, Maya mengikuti kesukaan tersebut. “Wih, di sini nggak terlalu ramai, ya.” Daniar memandang jalan yang ada di luar dari tempat duduknya. “Iya, lah. Ini ‘kan bukan jalan utama, Daniar,” tukas Maya. “Ngomong-ngomong, Liam bakalan nggak apa-apa ‘kan?” Maya memajukan kursinya untuk lebih dekat dengan Daniar. Daniar mengarahkan pandangannya kepada Maya. Ada raut cemas yang mungkin terbaca oleh Daniar. Ia mengamati sedikit demi sedikit ekspresi yang muncul. “Kenapa emang? Katanya kamu udah nggak apa-apa?” Maya menyipitkan matanya sambil berkata,”Iya, aku emang udah nggak apa-apa. Ini pertama kalinya aku nabrak orang. Ya kali aku nggak kepikiran.” Daniar mengangguk paham. “Kemungkinan sih nggak apa-apa.Liam bukan orang yang suka ungkit masa lalu dan kesalahan orang lain, kok. Tenang.” “Masa?” “Ya. Yaiyalah.” “Kok kamu tahu? Sedeket itu kamu sama Liam?” “Aku nggak punya teman di kampus, you know. Cuma dia ‘kan yang mau aku ajak ngomong.” Penjelasan Daniar cukup masuk akal bagi Maya. Mengingat Daniar meamang dalam situasi yang tidak menyenangkan, entah sampai kapan. Daniar menyandarkan bahunya pada kursi yang nyaman di kedai itu. Ada perasaan yang nyaman ketika ia melihat kendaraan yang berlalu-lalang di depan kedai itu. Ia melihat Maya yang sekarang sibuk dengan ponselnya. Namun, kali ini ia tidak ingin terganggu dengan ponsel. Ia sudah mematikan ponselnya saat akan pergi menuju kedai eskrim ini. Toh, daya ponselnya juga mau habis sedangkan dirinya harus mencukupkan daya tersebut sampai ia pulang nanti. Karena ia sendiri lupa membawa pengisi daya. Daniar mencoba menutup mata bukan untuk tidur, melainkan untuk menenangkan dirinya yang sering bergemuruh tanpa sebab yang ia pahami. Ada perasaan mengganjal yang dari tadi belum sirna. Ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya. Kemudian bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia harus merasa takut dan cemas yang tidak berujung seperti ini? Takut dan cemas? Ya, mungkin memang masih ada di hatinya. Siapa yang tidak merasa seperti itu ketika beberapa senior melempar semacam sumpah bahwa ia akan kesulitan mencari kerja hanya karena dugaan mereka yang bahkan tidak berdasar. Para senior itu bahkan berperan seolah-olah Daniar melakukan kejahatan ekstrem, sehingga dunia tak akan sanggup menghukumnya. Daniar menghela napas kemudian ia membuka mata ketika seorang pelayang mengantarkan pesanan mereka dengan senyuman. “Makasih ya, Mbak.” Maya mengatakan hal itu kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. “Kamu ngapain sih, May?” tanya Daniar yang kemudian mengincip eskrim pesanannya. “Bentar, ya, Dan. Ini masih ada riweh di grup,” jawab Maya tanpa menoleh kepada Daniar. “Riweh?” “Yap. Ada tugas yang anak-anak nggak paham maksudnya gimana.” “Kok bisa?” “Bentar ya, Dan.” Daniar menghentikan pertanyaannya. Ia berusaha menikmati pemandangan yang sedang ada di sekitarnya. Ia mengambil headset untuk mendengarkan musik dari ponselnya. Pandangannya kembali pada jalan yang ada di depan kedai. Melihat bagaimana kendaraan berjalan dan berhenti adalah ketenangan bagi Daniar. Suara-suara yang dikeluarkan oleh kendaraan memang terdengar bising, namun bukankah itu menunjukkan manusia yang sedang bergerak maju? Kemudian di dalma benaknya terbesit, mau sampai kapan hidupnya akan seperti ini? mau sampai kapan Daniar tidak segera maju dalam melangkah? pikirannya melayang ke beberapa waktu yang lalu. Daniar meyakini bahwa ia tidak melapor ke siapapun terkait ospek malam tersebut. Mengapa ia yang harus tertuduh? Padahal ia sendiri tidak tahu sekertasir jurusan seperti apa. Ia baru tahu pak sekertaris itu setelah tuduhan sampai padanya. Karena tuduhan yang bertubi-tubi itu, Daniar sempat ragu dengan dirinya sendiri. apakah benar ia tidak melapor? Atau jangan-jangan ada orang yang tidak sengaja mendengar keluhannya dan ternyata itu pak sekertaris jurusan? Daniar merasa kesal. Ia tahu bahwa ia tidak melakukan itu. Betapa ia merasa bodoh karena meragukan dirinya sendiri. Ketika ia ingin mengganti lagu yang ia dengarkan, ia menyadari bahwa ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya. [@heroisme34: hai, terima kasih <3] Mata Daniar terbelalak membaca pesan tersebut. Tidak hanya karena pesannya, juga karena siapa yang mengirim pesan tersebut. Ia tersenyum dan merasa senang. Apakah ini sebuah pertanda baik? Sebentar, Daniar harus segera membalas pesan tersebut. Ataukah lebih baik dia menunda untuk membalas? Mengingat si @heroisme34 sendiri juga lama membalasnya? “May, si hero balas nih. Enaknya aku balas nggak ya?” kata Daniar. “Hmm? Nggak usah aja,” kata Maya tanpa memandang Daniar dan masih belum lepas dari ponselnya. Sepertinya ada masalah serius sampai-sampai Maya benar-benar tidak terlihat menanggapi omongan Daniar dengan baik. Sudahlah, Maya memang mungkin sedang sibuk. Daniar melihat ponselnya kembali dan memikirkan apa yang harus ia ketik untuk membalas @heroisme34. “Apa aku langsung nanya, boleh kenalan nggak?” kata Daniar. “Ah, itu terlalu umum dan genit. Aku ‘kan nggak genit.” “Memangnya, apa yang salah dengan kenalan? Kan bisa menambah teman?” tukas Daniar lagi. “Bentar, emang aku sekesepian itu ya?” Daniar merasa kesal dengan dirinya sendiri. lalu, apa yang harus ia tulis untuk membalas pesannya? Pikiran Daniar menjadi kacau. Antara ingin berteman hingga ingin terlihat menarik bercampur baur. Terkadang, perasaan ingin berteman tidak bisa satu jalan dengan keinginan terlihat menarik. Ketika keinginan berteman menjadi acuan, maka menyamankan diri dan teman baru tersebut adalah kunci utama. Sedangkan jika menginginkan citra yang menarik, mungkin memerlukan sedikit ‘polesan’ untuk dapat mencapai penilaian tersebut. Daniar hanya terdiam. Bagaimana ia seharusnya bersikap? dia juga ingin berteman dengan orang selain Maya. Namun, ia juga ingin dirinya terlihat menarik. [@purpleplum34: sama-sama ] Sebentar, apakah ini sudah terlihat menarik? Apakah ini sudah terlihat Daniar ingin berteman dengannya?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya suka dengan ini
03/08/2025
0bagus bgtt sii ini bukunya... ga nyesel klo baca
05/06/2025
0bagus banget
28/01/2025
0Lihat Semua