Semilir angin berhembus pelan mengenai leher Sabda yang baru saja keluar dari sebuah gedung. Ia tersenyum setelah menghirup aroma yang paling ia suka, aroma tanah yang basah setelah hujan semalam yang mungkin baru saja mereda saat mereka masuk ke dalam. “Ngapain senyum-senyum kayak gitu?” Marvel yang berada di belakang merasa aneh melihat Sabda yang menyunggingkan senyuman yang jarang ia tampakkan. “Nggak apa-apa, baunya enak.” Sabda meneruskan langkahnya menuju perpustakaan kampus yang tidak jauh dari sekretariat BEM. Bersama Marvel, mereka berjalan beriringan. “Kita harus bahas terkait ini dengan Raya.” Marvel memulai pembicaraan di tengah perjalanan mereka. “Ya, aku tahu. Tapi, sebelum itu, kita tidak usah menghubungi Raya,” kata Sabda. “Kenapa? Bukannya yang paham seluruh rencana adalah Raya?” “Ya, tapi mungkin nggak sekarang. Kemungkinan dia sedang tidak enak perasaan.” “Bergaul denganmu memang akan selalu tidak enak perasaan, Sab,” ujar Marvel sambil menggelengkan kepalanya. “Terserah kamu,” balas Sabda tanpa memandang Marvel yang juga enggan menatap temannya ini. Marvel dan Sabda bertemu secara tidak sengaja dua tahun yang lalu. Mereka ingat, bagaimana mereka pertama kali jumpa. Mungkin jika tidak karena itu, Marvel tidak akan menahan dirinya untuk bersikap tidak baik kepada Sabda. Marvel menyadari, Sabda bukanlah orang yang jahat. Setiap kali ia marah dan kesal kepada Sabda, Marvel akan mengingat tatapan Sabda dua tahun lalu, ketika mereka pertama kali harus saling berurusan. Sabda berhenti di sebuah mesin penjual minuman yang berada tepat di depan perpustakaan. Tangan kanannya memasukkan dua lembar uang kemudian ia menekan dua kali pada minuman yang ia pilih. “Nih, buat kamu. Gara-gara kamu, aku jadi suka minuman seperti ini.” Sabda memberikan sekaleng minuman teh soda kegemaran Marvel. Marvel menerima dengan senang hati. “Memang benar, Sabda adalah orang baik. Sikapnya saja yang menyebalkan. Dia ingat hal-hal yang orang di sekitarnya suka. Ia mengingatnya dengan baik. Itulah mengapa setiap Sabda mampir ke apartemen Liam, Sabda akan memesan pizza yang merupakan kesukaan Liam. “Kita harus menggaet para mahasiswa tingkat pertama,” kata Sabda yang belum sepenuhnya duduk di atas bangku yang tersedia di sana. “Ya, aku tahu. Kita bisa membuat promosi itu sekarang. Tapi kita harus membahas konsepnya dengan baik dan tepat. Mengingat kita adalah generasi transisi, pasti akan sangat berbeda cara berpikir kita dengan angkatan yang ada di bawah maupun di atas kita.” Marvel memang sangat pandai dalam membuat penjelasan. Sabda merenung sejenak. ia memastikan ide yang ada di dalam otaknya agar terstruktur dengan baik dan dapat diaplikasikan secara teknis. Mungkin akan ada banyak konflik, mengingat angkatan mereka lebih tua dua tahun dari pada para mahasiswa tingkat pertama dan tidak melalui ‘ospek malam’. Namun konflik yang dipastikan oleh Sabda bukanlah dengan para mahasiswa muda, melainkan para tetua bahkan alumni yang menyukai budaya kegiatan-kegiatan malam sebagai acara perploncoan yang terselubung. “Tanpa ospek malam, jelas sekali perbedaannya, Sab. Kita dulu juga tercuci otaknya, bukan?” imbuh Marvel. Penjelasan Marvel cukup masuk akal. Ketika Marvel dan Sabda menjadi mahasiswa baru, mereka harus melalui kegiatan malam yang kini mereka perjuangkan untuk tidak ada. Kegiatan malam tersebut cukup keras dan diyakini oleh mereka akan berimbas pada pola pikir hierarki. Walaupun senioritas itu ada sisi baik, namun dalam perjalanan menjadi tidak baik karena adanya indikasi pembunuhan karakter yang disematkan di dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada malam hari tersebut. Contohnya, mahasiswa tingkat pertama yang tidak mengikuti kegiatan-kegiatan malam dapat dipastikan tidak akan bisa mendaftarkan diri sebagai asisten lab. Padahal untuk menjadi asisten lab, yang diperlukan adalah kemampuan berpikir kognitif. Sedangkan dalam kegiatan-kegiatan malam, dapat dipastikan tidak ada pelatihan untuk melatih hal tersebut. “Aku ada ide. Gimana kalau kita awalnya menawarkan dari mulut ke mulut tentang visi misi tim ke para mahasiswa tingkat pertama. Mereka ‘kan suka hal-hal yang berbau rahasia dan berpihak kepada mereka. Aku yakin, rumor ini akan mudah tersebar ke para mahasiswa tingkat pertama,” kata Sabda dengan tatapan yang sangat meyakinkan. Marvel masih mengolah apa yang dikatakan oleh Sabda. Risiko dan bagaimana melaksanakannya di lapangan juga menjadi bahan pertimbangan yang ada di kepala Marvel. “Risikonya, para ormaju bakalan marah-marah.” “Aku tahu,” jawab Sabda sambil tersenyum dan terlihat semakin yakin. “Kamu menginginkan kontroversi?” tebak Marvel. Sabda, lagi-lagi, hanya tersenyum. *** Cahaya matahari yang terjadi saat ini dapat dikatakan sedang redup. Mungkin bekas semalam hujan yang cukup deras, dan awan mendung belum juga pergi. Daniar melihat awan yang belum memudarkan kegelapannya dari kelas yang dipenuhi oleh orang-orang yang seumuran dengannya, mungkin sebagian lebih tua atau lebih muda. Setelah dosen keluar dari kelas, Daniar baru berniat membereskan barang-barangnya. Tidak berlangsung lama, Erik menghampiri Daniar dari belakang. “Dan, ini aku kasih rangkuman dari tutorial kemarin,” kata Erik sambil memberikan beberapa lembar kertas. Daniar terkejut. “Emang boleh aku dapet?” “Boleh, aku udah izin sama tutornya. Doi ‘kan termasuk orang yang kasihan sama kamu.” Daniar tersenyum sinis. Kasihan? Hidupnya memang semenyedihkan itu sampai harus dikasihani? Ia menarik nafas dan menerima lembaran itu. “Makasih, Rik. Aku pergi dulu,” sambil tersenyum Daniar meninggalkan Erik yang juga berniat meninggalkan kelas. Daniar semakin merasa kesal dengan perlakuan para seniornya yang menganggap dia menyedihkan. Mereka yang berbuat seenak udelnya namun Daniar yang harus ketiban rasa ‘kasihan’ dari mereka. Jika mereka mengasihani Daniar, apakah mereka ingin terlihat baik atau minimal terlihat manusiawi? Sedangkan mereka, para senior itu, melihat sendiri apa yang teman-teman mereka lakukan kepada Daniar secara adil. Terus, mereka hanya diam saja dan mengasihani Daniar seperti ini? “Kalau mereka manusia, harusnya, ya, minta maaf!” ungkap Daniar sambil berjalan keluar gedung jurusan untuk menemui Maya. sebelum ia berjalan lebih jauh, ia memastikan apakah Maya jadi mampir ke kampusnya atau tidak. [Daniar: May, kamu jadi ke kampusku nggak?] Tidak menunggu terlalu lama, Maya membalas. [Kanamaya: aku baru selesai kelas, tungguin aku di KK yak.] Daniar mengangguk. ia senang bahwa rencana kegiatannya hari ini berjalan sesuai dengan daftar. “Untungnya aku punya temen kayak Maya.” Daniar berjalan memasuki gedung jurusan teknik elektro. Sambil melihat di sekitar, ia juga membayangkan apa yang sebenarnya harus ia lakukan dengan situasinya sekarang. Bagaimana ia akan lulus jika tidak dapat mengikuti organisasi di kampus mengingat dia adalah salah satu blacklist yang dapat dipastikan tidak akan mendapatkan rekomendasi dari ormaju? Daniar menarik nafas, hidupnya memang berat. Ia memilih memikirkan yang lain. Ah, bagaimana kabar @heroisme34? Ia mengambil ponsel yang sudah ia masukkan ke dalam saku kemudian memeriksanya. “Sialan, dia bener-bener nggak jawab. Padahal lima menit yang lalu dia online?” Kekesalan Daniar semakin menjadi-jadi. Ia pun mempertimbangkan untuk tidak memikirkan apa-apa. Memikirkan jurusannya saja membuat Daniar memproduksi kebencian yang nyata, melihat ruang obrolan dengan @heroisme34 semakin membuatnya bertambah kesal. “Apakah pulang akan lebih baik dan membatalkan janjiku dengan Maya?” Daniar mengelus dada. “Daniar?” Suara yang memanggilnya terdengar lagi. Namun ketika ia mencari di mana sumber suara tersebut, ia tidak pernah menemukannya. “Kenapa aku sering denger ada yang manggil aku sih? Apa di sini berhantu?” Namun, sekarang adalah waktu yang terlalu bercahaya untuk membuat hantu berkeliaran di sekitar kampus meskipun mendung belum benar-benar hilang. Apakah jika langit mendung, hantu juga mulai berkeliara? Entah, apa yang dirasakan Daniar saat itu. Ia tidak bisa mendefinisikan takut atau panik secara akurat. Yang jelas, yang harus ia lakukan sekarang, keluar dari gedung area jurusan ini dengan cepat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
saya suka dengan ini
03/08/2025
0bagus bgtt sii ini bukunya... ga nyesel klo baca
05/06/2025
0bagus banget
28/01/2025
0Lihat Semua