Bab 14 Bom Maut Aditia

Usai menemui Clara siang itu, Hera pulang ke kos sebentar karena harus mengambil buku pelajaran, setelah itu barulah ia pulang ke rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Hera sambil membuka kenop pintu yang masih tertutup. Hera langsung masuk ke dalam, sayup-sayup iya mendengar Aditia membalas salamnya. Suara itu berasal dari dari dapur, ia lantas bergegas ke arah sumber suara.
Saat Aditia melihat sosok Hera di depannya ia langsung tersenyum, "Eh tumben kamu ke rumah?" tanya Aditia, sedang tangannya fokus membuat minuman sirup kesukaannya.
"Emang gak boleh?" tanya Hera sambil berkacak pinggang, dengan gaya marah yang dibuat-buat.
"Becanda adek," ucap Aditia tersenyum.
"Sama abang," balas Hera lagi.
"Kamu mau gak?" tanya Aditia, menawarkan minuman yang tadi dibuatnya.
"Enggak deh, Hera udah minum tadi," balas Hera.
Hera melangkahkan kakinya menuju ke kursi di ruang tamu, yang posisinya berhadapan langsung dengan televisi. Aditia pun menyusulnya, dengan niatan ingin nonton.
"Abang gak kerja," tanya Hera, saat posisi mereka sudah berdekatan.
"Hari ini agak cepet, Ra pulangnya," balas Adit.
"Bang, abang masih inget gak sama Clara, yang kemaren Hera ceritain pas waktu di mobil?" tanyanya, sedang matanya fokus melihat wajah Aditia.
"Hmm ...." Aditia nampak berpikir.
"Owh, itu yang kemaren suka ngebully kamu?" Aditia balik bertanya.
"Iya bang," balas Hera dengan nada sedih. Raut wajahnya nampak datar, tapi terlihat jelas bahwa ia tengah berpikir, atau lebih tepatnya memikirkan sesuatu yang sepertinya sangat serius.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Aditia, di sela-sela menikmati sirup buatannya sendiri.Ia seperti tahu kala sekarang sepertinya ada yang tengah mengganggu pikiran Hera.
"Huh!" Hera menarik napasnya berat. Rasanya ada banyak penyesalan di hatinya, karena sudah menilai Clara sebagai gadis yang buruk, ada rasa iba yang bercampur kesedihan di hati Hera, mengingat bagaimana frustasinya ia dengan hidup.
Hera menceritakan semua kejadian tadi kepada Adita, Aditia menyimak dari awal Hera berbica sampai Hera mengakhirinya dengan helaan napas beratnya lagi.
"Jadi gitu bang," ucap Hera sedih. Raut wajahnya berubah sedih dan bingung.
"Mm ... yaudah sekarang kamu maunya gimana?" tanya Aditia, mencoba menuntaskan beban pikiran Hera, supaya ia tidak terus menerus merasa bersalah.
"Gak tau juga," balas Hera lagi.
"Jadi gini, Ra," Aditia memulai pidatonya untuk ke sekian kalinya lagi. Ia yakin, Hera tak akan sampai memikirkan seperti apa yang ada di kepalanya, bagaimana agar tidak terus terlarut-larut dalam masalah pribadi orang lain.
"Ra, dulu pas kamu menilai Clara ini dan itu, dulu itu juga dia memang persis seperti penilayan kamu," ucap Aditia.
"Sekarang dia sudah berubah, maka yang harus kamu lakukan cukup merubah penalian kamu saja! Jangan mencampuri urusan orang lain terlalu jauh, Ra! Jangan juga terlalu ngerasa bersalah, kamu gak salah, tapi ya emang keadaanya seperti itu, dan gak bisa di gimana-giamain!"
"Tugas kamu sebagai teman, kasih dia motivasi, supaya dia bisa bangkit dari keterpurukan dia selama ini."
"Kasih suport, dan intinya jadi temen yang baik pokoknya buat dia, supaya dia gak ngerasa sedih terus."
"Inget! Jangan ngerasa bersalah terus-menerus, sampe kamu sedih berlarut-larut kaya gini yah!" pintanya.
"Paham?" tanya Aditia mengakhiri pidatonya.
"Paham, Pak Guru." Hera tersenyum menatap abangnya.
"Nah gitu dong!" ucap Aditia mencubit gemas pipi tembem Hera.
"Abaaaaang ..! Sakit!" pekik Hera sambil menekuk dagunya.
"Kalo abang usil gini mana ada yang mau sama abang," ucap Hera berbohong.
"Hilih ada!" balas Aditia yakin.
"Emang abang ada punya pacar?" tanya Hera penasaran.
"Ya adalah," balas Aditia yakin.
"Siapa?" Hera ragu, jika benar abangnya punya pacar, "Siapa?" tanya Hera lagi.
"Adadeh," ucap Aditia berbohong.
***
Setelah mendapat pencerahan dari Aditia, Hera memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Kaki besarnya melangkah pelan, diiringi rasa lelah yang menggerogoti anggota tubuhnya, rasanya jika Hera kekurangan istrahat sedikit saja, bisa-bisa tubuh besarnya akan dengan mudah tumbang dan menempel ke lantai. Begitulah Hera, dia tidak suka kalo badannya terasa capek dan Letih. Hera sudah sampai di kamarnya. Kini, terpapar jelas di hadapannya ruangan bercat putihdengan nuansa warna biru muda. Hera menyunggingkan senyuman di sudut pipi tembemnya, sehingga pipinya nampak semakin menggemaskan.
"Gue kangen banget sama kamar gue ini," ucap Hera sambil naik ke atas ranjang.
"Cuma ranjang ini yang gak keberatan sama badan gue, kalo ranjang yang lain semuanya ngeselin," ucapnya berbicara sendirian.
Hera terus melompat-lompat di atas kasur empuknya. Senang sekali rasanya memiliki ranjang yang tidak patah kalo ia meniduri dan meloncat-loncat di atasnya. Mengingat, sewaktu di kosannya Aditia sampai harus berkali-kali membeli ranjang baru untuknya. Namun, baru beberapa bulan di pakai, sudah patah saja. Mungkin, tidak tahan karena tertimpa tubuh besar Hera sedang ranjang di kamarnya adalah ranjang legendaris, bekas almarhum ibunya, ranjang keluaran lama yang kualitasnya tidak bisa diragukan lagi dan patut diacungi jempol.
Napas Hera tersengal-sengal ia lantas menghentikan aksinya, yang sedari tadi lompat-lompat di atas kasur.
"Gerah!" ucapnya sambil mengetik tombol kipas angin, di samping ranjangnya, agar suasana terasa lebih adem.
Tok tok tok! Baru saja Hera merasa adem anyem, seketika sesuatu datang dengan tiba-tiba, mengusik keadamaiannya.
"RA, BUKAIN PINTU DONG! ABANG LAGI MANDI," pekik Aditia dari dalam kamar mandi, karena jaraknya tidak jauh dari kamar Hera, jadi Hera bisa mendengarnya dengan jelas.
Hera melangkahkan kaki besarnya dengan malas. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia pun sampai ke pintu utama, di mana sumber suara yang tadi mengganggu kedamainnya berasal.
"Siapa sih, gangguin orang lagi asyik aja!" gumam Hera kesal, sambil membuka pintu yang tertutup rapat.
Deg! Hera terkaget beberapa detik. Kemudian, ia mengontrol hati dan pikirannya agar bisa terlihat tenang, di hadapan sosok yang tengah berdiri tegap menatapnya.
"Hera! Lho kok lo di sini?" tanya lelaki yang berdiri tegap di hadapannya, yang tak lain adalah Kenzo.
"Lah kok nanya gue, lo tuh yang ngapain di sini?" Hera balik bertanya.
"Ya' ampun, Ra! Sampe segitunya lo kangen ama gue, jadi lo sampe nungguin gue di rumah temen gue?" ucap Kenzo, sambil mengecek suhu tubuh Hera.
"Temen? Ya kali bang Adit temenan ama bocil kaya, Ken" batin Hera.
" Ya ampun, Ra," ucap Kenzo khawatir, "Yaudah gue anterin lo pulang, ayuk!" titah Kenzo.
"Apaan sih! Ini rumah gue!"
"Ken bego apa gimana, sih?" batin Hera lagi.
Kenzo menatap Hera khawatir, sedang Hera menatapnya kesal. Apa Kenzo sedang drama atau bagaimana? Hera tidak mengerti. Keduanya masih berdiri tegap di ambang pintu dan saling berhadapan.
"Ra, ayuk gue anter pulang!" titah Ken lagi, sambil menarik lengan Hera keluar.
"Ken, ini rumah gue!" ucap Hera lagi, sambil menepis lengan Kenzo yang mau menariknya paksa.
Keduanya terus berdebat, Ken tidak percaya kalo Hera adalah pemilik rumah yang di datanginya. Sedang Hera, lebih tidak percaya lagi, jika Ken adalah teman Aditia kakak laki-lakinya.
Tak lama kemudian, Aditia keluar dari kamarnya, ia sudah selesai mandi dan sekarang sudah terlihat bersih dan rapi, dengan kaos hitamnya dibalut celana jens selutut warna abu-abu yang kian menambah pesonanya. Aditia yang sedari tadi dari dalam lamar mendengar diruangan depan ada keributan, kini ia langsung bergegas ke sana.
"Oy! Pada ngapain?" tanya Aditia, mentap keduanya. Kedua orang itu sontak menoleh, kala mendengar suara Aditia
"Eh, ada Putra, mau ngajakin main ps kah?" tanya Aditia tersenyum mentapa Kenzo.
"Putra!" Hera kaget, ternyata abangnya mengenal ken, tapi kenapa memanggilnya dengan sebutan Putra.
"Eheh ... hehe iya Bang Adit, tapi nanti yah bang, abis Putra nganterin pacar Putra pulang dulu," ucap Ken malu-malu di hadapan Aditia. Wajah Hera memanas tiba-tiba, bisa mati kutu dia, kalau Ken berkata bahwa Hera adalah pacarnya di depan Bang Adit padahal sebenarnya bukan.
"Pacar? Mana?" tanya Aditia sambil celingukan ke kiri dan ke kanan, mencari orang yang di maksud Ken.
"Ini, bang. He he. Ayuk pulang sayang," ucap Ken sambil menarik lengan Hera.
Deg! Benar saja, wajah Hera seketika merah merona di hadapan Aditia. Bisa-bisanya Kenzo mengakuinya sebagai pacar di hadapan kakaknya sendiri.
"Nembak juga belum udah ngaku-ngaku aja," batin Hera kesal.
"Apaan sih, Ken! Gak jelas," ucap Hera marah.
"Lho? ... lo ini gimana sih?" tanya Aditia kebingungan, "Ini adek gue, mau lo bawa pulang kemana?" tanya Aditia sambil menjitak kepala Kenzo pelan.
"HAH ..!" Kenzo kaget bukan kepalang. Ia baru tahu, kalau Hera adalah adiknya Bang Adit.
"Kapan kamu nembak adek gue?" tanya Aditia berkacak pinggang, dengan gaya marah yang dibuat-buat.
"Hehe .. he tadi tuh becanda bang!" ucap Kenzo malu, sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Suasana nampak serius, Aditia sepertinya mulai emosi, di saat mengetahui kebenaran antara Kenzo dan Hera.
Ken benar-benar gugup sekarang, terlebih melihat wajah seram Aditia saat ia marah. Di saat situasi yang benar-benar mengkhawatirkan bagi Hera dan juga Kenzo, sesuatu yang tak terjuga justru tiba-tiba terjadi.
PUUT! Tiba-tiba suara ledakan bom yang nyaring terdengar jelas, suara plus aroma mautnya, persis senyaring bom Heroshima dan Nagasaki, yang kini sukses menewaskan dua orang yang tengah berada di sampingnya.
"BANG ADIIT! ABANG KENTUT YAH!" pekik Hera marah, sambil kocar-kacir berlari ke arah kipas angin dekat ruang tamu sedang Kenzo, ia menutup hidungnya rapat. Sembil bergidig ngeri, mencium aroma mematikan dari Aditia.
"BANG! Gue mau pingsan rasanya," ucap Kenzo lemah, kesal bercampur emosi.
"hehe... sorry guys, kelepasan!" ucap Aditia nyengir malu, plus ngakak.
"Abang makan apaan uy, tadi siang?" tanya Kenzo penasaran.
Bukannya menjauh ia malah kepo dangan Aditia. "Dasar Ken," gumam Hera geleng-geleng kepala.
"JENGKOL DONG SAYANG!" balas Bang Adit sambil nyengir.
"HAH!" pekik Kenzo kaget. Dua detik kemudian Kenzo tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"WOY!" pekik Aditia panik sambil memandangi Kenzo yang terbaring tak sadarkan diri di lantai.
"Hhhhh ... hhh ... hh!" Hera tertawa terbahak-bahak melihat keduanya. Sedang Aditia, ia hanya garuk kepala, sambil nyegir melihat Kenzo.
****
Aditia mengangkat tubuh Kenzo, ke kursi panjang agar bisa di rebahkan, "Huh ...!" Aditia menghela napasnya berat, "Kecil-kecil gini kok berat banget sih," keluh Aditia.
"Lagian salah abang, gara-gara abang makanya, Ken pingsan," celetuk Hera.
"Tapi ya dia juga salah," ucap Aditia membela diri.
"Lho, salahnya di mana?" tanya Hera penasaran sekaligus bingung.
"Ya, salah!"
"Udah ngerusak kehormatan abang, dan secara tidak langsung melecehkan aroma khas yang abang punya (Kentut)," balas Aditia membela diri.
Hera menekuk dagunya di hadapan Aditia. Malas sekali rasanya berdebat dengan orang yang tidak mau mengakui kesalahannya, "Abang gak waras," ledek Hera dengan wajah kesal becampur emosi.
"Oh jadi gitu, mentang-mentang si Putra yang kamu panggil Ken ini pacar kamu, kamu sekarang udah gak sayang abang lagi?" selidik Aditia, "Trus-trus kamu bela-belain dia teros?" tanyanya.
Mendengar itu, wajah Hera kembali memanas tiba-tiba, yang benar saja. Ia malu sekali di tuding seperti ini, apalagi oleh kakanya sendiri, "Enggak abaaang ...!" ucap Hera membela diri.
"Masa sih?" tanya Aditia.
"IYA!" ucap Hera menaikan nada bicaranya.
Kan, kalo gini jadi susah urusannya. Ia harus benar-benar secepatnya menjelaskan kebenaran sebenarnya kepada Aditia.
"Yaudah gak papa, kamu ngaku aja! Kalian udah pacarankah?" tanya Aditia lagi, dengan tatapan menyelidik.
"Enggak abang," bantah Hera lagi.
"Ngaku aja abang setuju kok, walaupun dia ini anaknya rada nyebelin, sih," ungkap Aditia sambil memandangi Kenzo yang tak sadarkan diri.
Baru beberapa detik setelah Aditia mengalihkan pandanganya. Kenzo langsung terbangun dan membuat kedua orang yang sedang berdebat tadi kaget, "Wah! Beneran bang kita direstuin?" tanyanya kegirangan.
Aditia dan Hera mengelus dadanya pelan, keduanya kaget entah sejak kapan Kenzo sadar dari pingsannya.
"Batal!" Adit menekuk wajahnya di hadapan kenzo. Rasa kesal kembali menyelimutinya.
"Yah, nyesel deh gue bangun dari pingsan cepat," keluh Kenzo.
Hera tidak berkata apa-apa dia hanya geleng-gelang kepala melihat abangnya dan ken, "Lama-lama bisa stres gue di sini," batin Hera.
Kini, suasana hening tercipta tanpa sengaja di antara mereka bertiga. Hera sibuk sendiri memainkan gawainya, sedang Kenzo ia tengah asyik-asyiknya menatap wajah imut hera tanpa Hera sadari. Melihat situasi begini, Aditia menaikan alisnya sebelah, ia nampak berpikir keras, gemas sekali rasanya melihat Kenzo yang terlihat bucin dengan adiknya di hadapanya sendiri, ia mulai mengatur stretegi bagaimana agar keadaan bisa sesuai keinginannya.
Tiba-tiba sesuatu yang perlahan tapi pasti mulai merasuki batin Aditia, ia merasa tak lama lagi ia akan kembali membuat Kenzo tak sadarkan diri.
"Bhaha rasain nih, kejutan dari Aditia Mahendra yang guanteng," batin Aditia sambil cengar-cengir sendiri. Benar saja! Dua detik kemudian kembali terjadi ledakan di ruang tamu, yang kembali bikin riuh.
"Puuutttt ... puuuttt ... put ...!" Kedua orang yang sedari tadi asyik sibuk sendiri, kini sudah kocar-kacir berlari menjauh dari Aditia.
"Bhaha bhahah," Aditia tertawa lepas sembari melihat Hera dan Kenzo.
"Abaaang ..! Abang keterlaluan!" Hera lekas masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya rapat-rapat. Sedang kenzo kini ia tidak lagi jatuh pingsan, ia hanya terduduk lemas di lantai.
Aditia benar-benar tertawa lepas, melihat tingkah kedua orang itu, "Napa lu?" tanya Aditia melihat Kenzo yang diam tak bersuara. Kenzo menoleh menatap Aditia yang tak lain adalah kakak laki-laki dari gadis pujaaan hatinya saat ini.
"Kaget bang." ucap Kenzo lemah.
"Kaget apaaan Put?" tanya Aditia penasaran.
"Barusan ini gue denger orang kentut, pake nada ngebas, trus alon lagi pas di bunyi pertamanya!"
Deg! Mendengar itu, Aditia tertawa lepas kembali. Seketika mereka berdua tertawa berbarengan, rasanya benar-benar lucu sekali, melihat keduanya yang masih bisa bercanda ria di tengah pandemi terlepasnya gas lambung milik Aditia.

Komentar Buku (159)

  • avatar
    Dumpchive

    keren + bagus banget cerita nyaa , alurnya juga ga mudah di tebak , salut dehh

    04/01/2022

      1
  • avatar
    Lo Kwe Wid

    bagus banget ceritanya

    25/07

      0
  • avatar
    baeadil

    bagus

    30/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru