logo text

Bab 28 Dua delapan

Dua delapan
"Aku akan mengantarmu kembali," ucap Vian setelah beberapa saat. Ia kemudian kembali mengemudikan mobil ke arah apartemen Matthew. Dalam perjalanan, ia tidak lagi banyak bicara. Karin juga hanya diam. Sepanjang jalan tersebut hanya ada keheningan mengiringi mereka.
Tidak lama mereka tiba di depan kediaman Matthew. Vian menghentikan mobilnya.
"Keluar," ucapnya kemudian pada gadis di sampingnya itu. Karin segera membuka pintu mobil dan keluar tanpa berkata apa-apa. Setelahnya, Vian memacu mobil dengan cepat dan berlalu pergi dari sana.
Karin tidak segera kembali ke kediamannya. Ia malah menuju ke sebuah tempat terbengkalai di dekat tempat itu yang telah kosong dan segera menangis tersedu di sana.
'Vian, maafkan aku, maafkan aku, aku terpaksa seperti ini. Aku tidak punya pilihan selain menjadi jahat padamu,' ucap Karin dalam hati.
***
Edwin, Silvi, dan Anna kemudian pulang dari rumah Matthew. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Saat tiba, Silvi segera pamit dan masuk ke rumahnya.
"Silvi benar, Matthew hanya mengada-ada. Karin tidak akan melakukan hal semacam itu," ucap Anna mengawali pembicaraan.
"Yang kusesalkan adalah aku tidak berbuat apa-apa. Aku membiarkan mereka membawa pergi gadis yang kusukai."
"Kau tidak salah," sahut Anna.
"Kau pasti tahu Karin tidak akan mau ikut denganmu."
"Tapi, aku seharusnya melakukan seperti Vian tadi. Langsung membawa dia pergi."
"Lalu apa yang akan kaulakukan padanya setelah membawa dia pergi? Kau akan mengurung dia? Memaksa dia menjadi kekasihmu?" tanya Anna. Edwin hanya diam.
"Semuanya percuma, bukan?" Anna kembali bertanya.
"Sama seperti aku dulu, aku terus memaksamu, aku menggunakan segala cara, aku bahkan ingin membuat dirimu membenci Karin, tapi semua percuma, bahkan sampai sekarang kau juga tidak bisa menerimaku."
"Apa kau berpikir Karin akan menerimamu setelah dia menolakmu waktu itu?" tanya Anna lagi setelah beberapa saat. Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menatap keluar jendela mobil tersebut.
"Kita semua adalah orang-orang bodoh, Edwin, kita terjebak dengan perasaan kita sendiri. Meski tahu tidak berbalas, perasaan kita tetap tidak berubah, kita tetap mencintai orang yang kita cintai," ucapnya pelan.
***
Matthew berjalan menuju tempat Karin sedang menangis. Ia membawa payung karena rintik hujan telah turun di sore tersebut.
"Kamu di sini rupanya, aku mencari-carimu dari tadi. Aku menelepon Vian dan dia berkata kamu tidak mau bersama dia. Jadi dia mengantarmu kembali ke sini," ucap Matthew.
"Kamu tidak mau ikut dengannya, tapi kamu menangis di sini setelah berpisah dengannya. Tahukah kamu itu sangat menyakitkan buatku?" ucap Matthew lagi sambil duduk di samping gadis itu.
"Ma-af," sahut Karin di sela isak sedunya.
"Tidak apa, aku tahu sekarang orang yang kamu sukai hanya Vian."
"Apa maksudmu? Kami hanya teman," sangkal Karin.
"Teman? Kata-kata teman itu hanya tameng bagi kalian. Semua karena kalian saling menyukai. Kau dan dia sama-sama saling melindungi satu sama lain, tapi juga saling menyakiti."
Karin menyusut air matanya.
"Jangan sok tahu!"
"Aku tidak sok tahu. Aku tahu yang sebenarnya. Jika kau tidak menyukai dia dengan begitu dalam, kau tidak akan menangis di sini. Kau tidak akan mengatakan hal yang sama-sama menyakiti kalian untuk melindungi dia."
Karin bangkit berdiri dan segera berjalan keluar.
"Aku tidak mau bicara lagi. Aku lelah. Aku mau kembali saja."
"Baiklah, biar aku mengantarmu," tukas Matthew sambil membuka payungnya dan memayungi gadis itu.
"Hujan-hujan seperti ini harusnya kau tidak perlu menjemput aku. Biarkan aku kembali sendiri. Bagaimana kalau kau kembali sakit?" tukas Karin.
"Nona Karin, terima kasih karena ternyata kau masih khawatir padaku," sahut Matthew sambil tertawa lebar.
***
Suara dentam-dentum musik keras terdengar memenuhi ruangan bar malam itu. Anna yang baru datang bergegas masuk. Ia segera melihat Matthew yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan kepala berada di atas meja. Anna segera menghampiri pria itu. Setelah memanggil berulangkali dan tidak juga sadar, ia meminta bantuan pada pelayan di bar tersebut untuk membantu membawa Edwin menuju mobil.
"Terima kasih telah meneleponku," ucap Anna pada bartender bar tersebut.
"Tidak apa, untung kalian pelanggan tempat ini, jadi aku bisa menelepon, tapi apa dia ada masalah yang berat? Dia minum begitu banyak," ucap pria tersebut. Anna mengangguk.
"Masalah yang begitu berat."
"Kau harus terus membantunya."
Anna hanya mengangguk saja. Ia kemudian segera pamit dan pergi menuju mobil. Tatapannya sejenak tertuju pada Edwin.
'Aku telah melakukan kebodohan lagi, tetap peduli padamu, meski kau tidak memiliki perasaan padamu,' ucap Anna dalam hati. Ia kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana.
***
Karin menekan bel pintu kediaman Matthew hingga berulangkali. Pria itu tidak kunjung membuka. Kesal, Karin menggedor pintu tersebut.
"Nona Karin, Anda tidak bisa bersabar. Apa Anda tidak tahu aku harus berdandan dulu?" tukas Matthew.
Karin mengerutkan kening dan menggeleng. Matthew kemudian meminta kunci mobil pada gadis itu.
"Kenapa?" tanya Karin.
"Aku sedang ingin mengemudi. Lagipula, kau sedang kesal. Aku merasa aman mobil dikemudikan olehmu."
"Baiklah," ucap Karin sambil memberikan kunci mobil tersebut pada Matthew.
Tidak berapa lama, mereka telah berada dalam perjalanan. Akan tetapi, jalan itu bukanlah jalan menuju tempat pengambilan gambar untuk drama Matthew.
"Ke mana kita sekarang? Bukankah harusnya kita pergi ke tempat syuting?" tanya Karin.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang pasti kau akan menyukainya."
"Tempat apa? Dengar, kita kembali saja. Sutradara mungkin akan marah jika kau mangkir seperti ini," tukas Karin.
"Tenanglah, Nona, dia tidak akan marah, aku sudah meminta ijin darinya dan dia memperbolehkan."
"Apa? Tapi mana mungkin dia mengijjnkan? Kemarin dia begitu terburu ingin kau segera kembali syuting."
"Aku berkata padanya kalau aku masih sakit, jadi dia mengijinkan," sahut Matthew sambil tersenyum.
"Apa? Apa yang kaulakukan?"
"Tenang saja, Asisten Cantikku, aku melakukannya demi bisa membawamu ke tempat yang kita tuju."
***
Mereka tiba di sebuah tanah lapang. Matthew melihat sekeliling dan mengangguk.
"Tempatnya benar-benar bagus," ucapnya.
"Ada apa dengan tempat ini?"
"Tidak ada apa-apa sekarang, tapi nanti akan menjadi tempat yang bagus," sahut Matthew dengan mata berbinar. Karin hanya mengangguk saja.
"Karin, aku ingin kau berhenti menjadi asistenku. Dengan begitu, kau tidak perlu lagi bertemu Vian. Aku ingin kau membangun tempat makan di tanah lapang ini," ucap pria itu lagi.
"Maksudmu?"
"Karin, aku tahu kau selalu ingin kembali merancang bangunan. Karena itu, aku membeli tanah ini dan aku ingin kau yang membangun di tempat ini."
Karin diam sesaat.
"Kau ingin membuat cafetaria juga seperti Vian? Hei, apa kalian tidak bisa berhenti untuk bermusuhan seperti ini?" tanya Karin sambil bersidekap.
"Siapa bilang aku akan membuat cafetaria seperti Vian? Aku menginginkan tempat makan yang gaul dan keren."
"Jangan khawatir, Nona, aku tidak akan bersaing dengan Vian selain bersaing memperebutkanmu," lanjut Matthew sambil menjawil dagu Karin dan tersenyum.
"Jadi bagaimana? Kau mau, bukan?" tanyanya kemudian.






Komentar Buku (87)

  • avatar
    Jung Jaehyun

    ceritanya bagus banget jadi ngebayangin apa idol juga begitu yaa di belakang layar punya kekasih dan bahkan punya anak ahhh lanjut dah thor kapan up nih ga sabar pengen tau kelanjutan nya

    25/01/2022

      5
  • avatar
    khumairabilqis

    bagus

    10/01

      0
  • avatar
    fatimahgita

    bagussss

    05/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru