Bab 27 Dua tujuh

Dua tujuh
Karin berjags pada malam itu karena Matthew tidak juga sadar. Ia mengganti kompres di kening pria itu berulangkali. Saat dini hari, tanpa sadar, ia jatuh tertidur sejenak. Namun ia segera kembali terbangun.
'Tidak, aku tidak bisa tidur sekarang. Aku harus menjaga Matthew,' gumam Karin saat ia terbangun. Ia kemudian melihat pada jam yang menunjukkan angka tiga. Karin sadar Matthew belum makan apa pun dan juga belum minum obat sejak semalam. Ia kemudian membuat bubur ayam dan mencoba membangunkan pria itu.
'Bagaimana ini? Kenapa ia tidak juga bangun? Ia harus segera meminum obat ini," keluh Karin dalam hati. Ia kemudian menatap obat cair yang telah hangat tersebut dan menatap kembali Matthew yang masih terbaring dengan mata terpejam. Sejenak ia ragu, tetapi kemudian ia menggeleng.
'Tidak, aku harus memberikan obat ini. Sudahlah, ia juga tidak sadar. Ia tidak akan tahu,' ucap Karin dalam hati. Ia kemudian menyeruput obat tersebut dan memberikan obat itu pada Matthew melalui mulutnya dengan mata terpejam.
Matthew terbatuk dan mata pria itu terbuka lebar. Karin yang terkejut segera beringsut mundur. Akan tetapi, Matthew segera meraih tangan Karin dan menahan gadis itu pergi.
"Setelah mencuri untuk melakukan mencium bibirku, kau mau pergi ke mana?" tanya pria itu.
"Aku tidak mencuri. Aku juga terpaksa melakukannya. Aku telah berusaha membangunkanmu, tapi kau tidak juga bangun, sedang obat ini kau harus meminumnya,jadi aku tidak punya pilihan," jelas Karin cepat.
Matthew mendorong Karin ke tempat tidur. Mangkok obat yang tadi dibawa Karin terjatuh di lantai beralas karpet tebal dan gadis itu memekik terkejut. Karin merasa cemas saat melihat Matthew berada di atasnya dengan kedua tangan bertumpu pada tempat tidur.
'Apa yang akan dia lakukan?' gumam Karin dalam hati.
'Jika dia berani macam-macam, aku memukul dengan keras, meski dia sedang sakit.'
"Aku sungguh sudah bangun sekarang. Kita bisa mengulang lagi. Kau bisa memberikan obat lagi sekarang," ujarnya.
"Tidak perlu!" tukas Karin sambil mendorong Matthew dan bergegas bangun dari tempat tidur tersebut. Ia kemudian mengambil mangkok di lantai.
"Kau sudah baik-baik saja, bisa meminum obatmu sendiri," ucap Karin yang kemudian mengambil mangkok obat yang tadi jatuh di karpet kemudian berjalan menuju luar kamar. Matthew hanya tertawa saja sambil melihat pada gadis itu hingga keluar dari kamar.
'Tidak kusangka ternyata ia berani juga melakukan itu,' ucap Matthew dalam hati sambil tersenyum dan menyentuh bibirnya.
***
"Kau tidak kembali ke tempatmu? Kapan kau akan kembali?" tanya Karin untuk kesekian kali pada Matthew yang masih berbaring di tempat tidur.
"Nona, kau sungguh tidak sopan. Aku baru saja baikan. Bagaimana kalau aku pulang dan aku sakit lagi? Lalu siapa yang akan mengurusku?" sahut Matthew sambil melihat pada Karin yang tengah menyapu tempat tersebut.
"Jadi kau mau tetap di sini?" tanya Karin sambil menoleh sekilas pada pria itu.
"Benar, aku akan tetap di sini dan menikmati semua perhatian darimu."
Karin hanya menggeleng saja sementara Matthew tertawa. Tidak lama ponsel Matthew berdering. Pria itu kemudian memberikan pada Karin.
"Jawab, jawab ini, katakan pada mereka kalau aku sakit!" suruhnya. Karin menghela napas dan mengangguk. Gadis itu kemudian segera mengambil ponsel Matthew itu.
"Jadi dia sungguh sakit?" tanya suara di seberang. Dia adalah sutradara dari drama kemarin. Karin segera membenarkan.
"Baiklah, rawat dia dengan baik. Suruh dia untuk segera pulih. Syuting tidak boleh ditunda lama dan harus segera dilanjutkan," ucap pria tersebut kemudian. Tidak lama ia mengakhiri percakapan. Sutradara itu kemudian memberitahu semua orang di sana bahwa syuting telah dibatalkan karena Matthew sedang sakit.
"Itu mungkin hanya alasan saja, mereka mungkin sedang berkencan," tukas seorang kru.
"Benar, akan sangat tidak masuk akal jika Matthew melepaskan gadis secantik asistennya itu," sahut kru yang lain sambil tertawa. Vian yang berdiri tidak jauh di sana mendengar semua itu. Tangan dia tergenggam erat dengan wajah sarat amarah, ia kemudian segera pamit dan bergegas pergi dari sana. Cindy segera mengikuti pria itu, tetapi Vian kembali meninggalkan dia.
***
Matthew masih saja berbaring di tempat tidur hingga Karin menegur. Namun pria itu beralasan tubuhnya masih lemas. Karin merasa percuma berdebat dengan pria itu. Terdengar suara bel di pintu dan Karin bergegas menuju ke sana serta membuka. Karin tertegun saat melihat Silvi, Edwin, dan Anna berada di hadapannya.
"Kalian di sini?" ucapnya pelan seolah tidak percaya.
"Siapa di sana?" tanya Matthew yang tengah berbaring sambil beranjak bangun. Ia kemudian tersenyum dan menyapa ramah tiga orang yang baru datang ke tempat tersebut.
"Kalian tinggal bersama?" tanya Silvi sambil menatap Karin tidak percaya. Karin menggeleng. Tatapan matanya kemudian berhenti pada sosok Vian yang juga datang dan berdiri di belakang ketiga orang yang baru berkunjung tersebut.
Tanpa mengatakan apa-apa, Vian menyeruak maju dan meraih tangan Karin. Ia kemudian membawa gadis itu pergi dari sana.
Edwin hanya diam melihat itu. Bertanya dalam hati mengapa ia selalu tidak berdaya, ia bahkan hanya diam saat melihat Karin berdiri di hadapannya. Harusnya ia bertindak seperti Vian, langsung membawa pergi, tetapi nyatanya ia malah hanya diam karena terpukul atas rasa sedih dan kecewa melihat gadis itu bersama seorang pria.
Sementara, Silvi menatap tajam pada Matthew.
"Karin tidak akan hal yang di luar batas, terutama dengan pria sepertimu, tapi kau, apa yang sudah kaulakukan padanya?"
"Apa yang kulakukan? Tidak ada," jawab Matthew sambil tersenyum santai.
"Kami hanya sedang menikmati kebersamaan kami di tempat ini."
Silvi menggeleng.
"Aku tahu Karin tidak akan melakukannya dengan pria sepertimu. Satu hal lagi, aku juga tahu Karin tidak mungkin akan menyukaimu."
***
"Vian, kita mau ke mana?" tanya Karin saat Vian mendorong dia masuk ke dalam mobil.
"Kita pergi dari sini. Kau tidak perlu lagi tinggal dengan Matthew. Kau bisa tinggal denganku," ucap Vian sambil memacu mobilnya.
"Vian, aku tidak mau. Aku mau kembali saja."
Vian menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.
"Kenapa? Apa kau begitu menyukai Matthew?" tanya Vian sambil menatap tajam. Tangannya mencengkeram kedua lengan gadis itu. Karin mengernyit kesakitan karena cengkeraman kuat pria tersebut.
"Tidak ada yang baik saat kita bersama. Kau juga tahu yang terjadi. Orang-orang akan berbicara buruk tentang kita."
"Aku tidak peduli."
"Tapi aku peduli, Vian. Aku tidak mau hidupku jatuh bersamamu. Aku hanya ingin hidup dengan bahagia. Aku tidak mau ada masalah," ucap Karin dengan air mata berderai. Vian melepaskan tangannya dari lengan Karin. Ia kemudian kembali duduk di kursi dengan mata terpejam. Tangan dia memukul kemudi dengan keras. Air mata tampak menitik dari sudut matanya.
"Jadi kau hanya menganggap aku pembawa sial dalam hidupmu?" tanya pria itu dengan suara serak.




Komentar Buku (87)

  • avatar
    Jung Jaehyun

    ceritanya bagus banget jadi ngebayangin apa idol juga begitu yaa di belakang layar punya kekasih dan bahkan punya anak ahhh lanjut dah thor kapan up nih ga sabar pengen tau kelanjutan nya

    25/01/2022

      5
  • avatar
    khumairabilqis

    bagus

    10/01

      0
  • avatar
    fatimahgita

    bagussss

    05/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru