POV Lutfan “Fan!” Ibu memanggilku dari depan pintu rumah. Aku baru saja selesai video call dengan Salwa dan menyimpan gawai ke dalam saku celana jeans-ku. “Iya, Bu ….” Aku menjawabnya seraya menghampiri beliau. “Ayo pamitan dulu sama bu Susi. Katanya tadi mau ke sini lagi. Kok malah nggak datang-datang. Kamu ini ya? Keburu pulang ini ‘kan?” Lagi, aku kena semprot sang paduka ratu ibunda tercinta. Aku lupa karena tadi asyik video call dengan Salwa. Biarlah, sudah sering ini kena omelan beliau. “Iya Bu, maaf … aku lupa. Tadi video call-an sama Salwa.” “Haduh … kamu ini. Nggak bisa jauh banget ya sama istrimu.” “Biarinlah Bu, Salwa ‘kan istriku.” “Aduh Bu … anakmu satu-satunya ini, kata anak-anak jaman sekarang dibilangnya bucin ya, Bu …,” ucap bu Susi seraya tersenyum. Lho? Suka-suka aku dong, mau bucin atau enggak. Kenapa mulutnya berbicara seperti itu? Senyumnya itu lho yang nyebelin. Bucin sama istri sendiri, apa salahnya? “Lutfan memang begitu, Bu. Manja … maklumlah anak satu-satunya.” “Iya sih benar juga. Ngomong-ngomong, di luaran sana, mas Lutfan punya pacar lagi nggak nih? Tampan gini lho? Pasti banyak yang suka.” Seketika dahiku mengerut. Pertanyaan yang sama sekali tidak bermutu. Aku ini laki-laki punya harga diri. Mana mungkin selingkuh dengan wanita lain. Minta didepak tuh mulut. “Hus! Nggak boleh dong, Bu. Kami dari keluarga terpandang, kalau Lutfan ketahuan selingkuh. Bahaya ‘kan? Tau sendiri ibu tadi ‘kan? Dia bucin sama istrinya.” Ke duanya kembali terkekeh. Suaranya itu membuat telingaku blegidig mendengarnya. Apanya yang membuat mereka tertawa sih? Percakapan mereka sama sekali tidak menarik. “Ayo … keburu tambah sore, Bu.” Segera kupotong percakapan mereka yang mumpung sedang jeda itu. Jika dibiarkan saja, pasti tak akan ada habisnya. Mana percakapan mereka membuat kupingku risih lagi. Keputusan yang tepat saat aku memilih pergi lagi ke dalam mobil. Jika tidak, bisa-bisa aku mual sendiri di dalam rumah mendengar percakapan yang sedang terjadi di sana. “Oh iya, Bu … malah jadi ngobrol lagi seperti ini. Lain waktu kami akan main lagi ke sini. Sekarang pamit pulang dulu. Makasih suguhannya lho, Bu.” “Iya Bu, sama-sama. Kalian hati-hati ya di jalan. Mas Lutfan, jangan ngantuk lho?” “Iya Bu, permisi … assalamu’alaikum …,” ucapku seraya bersalaman kepada beliau. Aku membalikkan badan, bertujuan kembali berjalan ke arah mobil. Tapi anehnya, aku tak mendengar jawaban salam yang kulontarkan tadi. Apa mungkin bu Susi menjawabnya di dalam hati? Terserah dia sajalah, yang penting sekarang akan pulang dan kembali bertemu dengan Salwa. Iya benar, dipikir-pikir aku memang bucin. Sudah akut sepertinya. Aku berjalan paling belakang. Di depanku ada ibu dan Eliza. Kembali kuingat jika tujuan kemari adalah untuk mengambil barang milik Eliza, tapi aku melihatnya tak membawa apa-apa. Jadi, barang apa yang tertinggal? “Bu tunggu, ada barang yang ketinggalan lagi atau nggak nih? Sengaja kupertanyakan. Takutnya ada yang tertinggal dan harus putar bali. Aku tak suka hal semacam itu. “Barang apa Fan yang tertinggal?” Ibu justru bertanya balik. “Ke sini mau ambil barang milik Eliza yang tertinggal ‘kan? Tapi Eliza nggak bawa apa-apa tuh?” Tanpa basi-basi aku mengatakan apa yang kumaksud. Awas saja kalau mereka hanya beralasan saja. Kalau hanya mau main saja ke rumah bu Susi, pasti tetap akan kuantar. Tapi kalau berbohong segala, itu yang membuatku merasa sebal. “Oh … itu?” Mereka saling memandang. Terlihat jelas ada yang aneh di sana. Ibu pun tak melanjutkan perkataannya. Tentu saja belum menjawab apa yang telah kutanyakan. “Ada apa? Mana barang yang mau kamu ambil, Za?” Kini kutanyakan saja pada orang yang bersangkutan. Coba apa alasan yang akan dilontarkan olehnya. “Emm … itu Mas ….” Dia pun terlihat sangat gugup. Benar-benar ada yang tak beres di antara mereka berdua. “Iya Fan, itu … KTP milik Eliza tertinggal di lemari kamar rumahnya bu Susi.” Alasan yang terdengar sangat aneh. Masa iya KTP, benda sekecil itu bisa ketinggalan? Seharusnya ‘kan selalu tersimpan di dalam dompet. “Ayo Fan, keburu sore ‘kan?” ucap ibu, beliau terlihat salah tingkah dan ingin cepat-cepat kembali ke rumah. Sebenarnya aku ingin menanyakan kebenaran itu kepada bu Susi. Namun, ibu yang sudah ada di dalam mobil tak hentinya mengajakku untuk segera pulang. Ya … aku harus mengalah. Keanehan ibu semakin menumpuk di pikiranku. “Ayo … kok nggak dinyala-nyalain sih, mobilnya? Nanti keburu sore lho, Fan.” “Iya Bu … ini sudah mau jalan kok.” Dengan sedikit rasa kecewa yang bersemayam di dalam hati, akhirnya kami kembali pulang ke rumah. Di dalam perjalanan tidak banyak percakapan yang terjadi. Sebenarnya aku ingin kembali menanyakan tentang tujuan kenapa datang ke rumah bu Susi. Namun, ibu pasti akan bersikeras beralasan akan mengambil KTP milik Eliza yang tertinggal. Ya, akhirnya kuurungkan saja pertanyaan yang mengganjal pikiranku itu. “Fan, kalau mau tidur kamu biasa minum susu ‘kan?” tanya ibu memecah keheningan. Tak lama lagi kami akan sampai di rumah. “Ya … kadang-kadang sih, Bu. Udah nggak kayak dulu. Sekarang kalau lagi pengin aja. Kadang juga minum kopi kok. Aku udah gede lho, Bu. Ibu jangan minta aneh-aneh lagi.” “Aneh-aneh gimana sih, Fan? Maksud Ibu baik lho. Sekarang ‘kan ada Eliza, kalau mau bikin apa-apa suruh saja Eliza, Fan. Biar Salwa bisa istirahat. Dia mau punya anak kamu ‘kan? Cucu pertama Ibu lho, Fan. Dia nggak boleh capek-capek.” Sebenarnya perkataan ibu ada benarnya juga. Tapi seharusnya tidak berlebihan seperti itu, kalau hanya membuat minuman tidak mungkin membuat capek dong. Lebih enak dibuatkan sama Salwa ketimbang harus meminta tolong Eliza. “Ah … itu masalah sepele, Bu. Gampanglah. Nggak usah jadi bahan perdebatan.” Jelas saja, aku tak mau membuat masalah semakin rumit. Aku tahu ibu sangat keras kepala. Semua keinginannya harus terpenuhi. Jika masih saja beragumen dengannya tentu saja tak ada habisnya. Sekitar lima menit lagi, kita akan sampai di rumah. Tanpa sengaja aku melihat Eliza lewat kaca spion sedang tersenyum sendiri. Pandangannya pun melihat keluar jendela. Senyumannya memang manis, wajahnya pun lumayan cantik tapi apa yang membuatnya tersenyum sendiri seperti itu? Kembali kufokuskan pandangan ke depan melihat jalan raya. Kenapa harus kupikirkan, dia mau tertawa ngakak pun terserah saja. Tak boleh ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku kepadanya. Salwa adalah segalanya bagiku. Mobil sudah terparkir rapi di garasi. Aku turun dan bergegas pergi menemui pujaan hatiku. Hanya tiga jam tak bertemu rasanya sudah sangat amat kangen berat kepadanya. “Dek ….” Aku melangkah ke dalam kamar. Dia sedang santai rebahan di atas kasur. Meski berpakaian sederhana, tapi dia tetap terlihat cantik. Rambutnya yang tak terlalu panjang dia biarkan terurai. Hidungnya pun mancung. Bibirnya yang seksi membuatku terbayang selalu. Tubuhnya putih mulus. Meski tingginya hanya sekitar 160 cm saja, tapi sudah lumayan tinggi untuk ukuran wanita pada umumnya. Apalagi wajahnya, bak putri disuatu kerajaan. Bukan hanya cantik rupanya saja, dia pun istri yang sholehah. Pokoknya, tidak ada yang bisa melebihi kecantikannya di mataku. Hatiku pun terpenjara oleh kasih sayangnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus benar ceritsnya
23/03
0paling benci
26/11/2024
0❤️❤️❤️❤️
21/09/2024
0Lihat Semua