Ujian telah usai, makin dekat dengan saat itu tiba bukan? Redita menghela nafas panjang. Ia sekarang duduk di salah satu kursi yang ada di taman Balaikambang. Hanya sendiri, menikmati semilir angin yang membelainya begitu lembut itu. Tinggal OSCE, menunggu pengumuman kemudian disumpah dokter jika lulus, bukan? Dan esok paginya setelah itu, ia harus segera pergi, sesuai janjinya pada Aldo. Dan itu artinya ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya, bukan? Waktu yang mungkin sudah tidak akan bisa ia rengkuh dan nikmati lagi. Redita menyeka air matanya, kenapa dia harus menangis? Kenapa? Redita tersentak ketika smartphone miliknya berdering. Ia membuka tasnya dan menemukan Adnan meneleponnya. Ia bergegas menyeka air matanya lalu mengangkat panggilan itu. “Hallo ... iya gimana, Mas?” Redita berusaha menekan kuat-kuat suaranya, ia tidak ingin Adnan tahu bahwa ia sedang menangis. “Kamu dimana Sayang? Sudah di apartemen belum?” tanya suara itu begitu khawatir. Redita tersenyum getir, ia suka mendengar nada kekhawatiran itu dalam suara sang suami, “Ini baru mau pulang, tadi mampir ke kost Yanven dulu,” gumannya berbohong. “Yasudah kalau begitu, cepat pulang terus istirahat. Oh ya nanti saya agak telat pulangnya, ada beberapa operasi minor susulan.” lapor suara itu kemudian. “Iya, Mas. Semangat, aku tunggu.” Sambungan terputus, bersamaan dengan itu air mata Redita kembali banjir. Jadi orang yang tidak diinginkan itu tidak enak ya? Ditolak sana-sini. Bukan hanya anak-anak suami sirinya, bahkan keluarganya sendiri pun menolak Redita bukan? Entah apa salah dan dosa Redita, terkadang ia sendiri juga bingung. Kenapa kemudian hidupnya harus segetir ini. Harus sepahit ini. Ah ... ia benar-benar sudah lelah rasanya. Redita menyeka air matanya, ia kemudian bangkit lalu melangkah ke parkiran, rasanya lebih baik ia cepat pulang bukan? Daripada duduk sendirian di sini, lebih aman di apartemen suaminya, ia bisa menangis sejadi-jadinya bahkan berteriak-teriak kalau perlu, setelah itu mandi bersih dan menghapus semua air mata itu dari wajahnya. Adnan tidak boleh tahu, Redita tidak ingin menjadi penyebab buruknya hubungan sang suami dengan anak-anaknya. Dia bukan siapa-siapa Adnan, hanya isteri siri dan yang lebih berhak atas Adnan terntu anak-anaknya bukan? Untuk itulah ia lebih memilih mengalah, ia memilih pergi, karena Aldo dan Edo lebh berhak atas Adnan, itu sudah mutlak! *** Adnan tersenyum, ia baru saja menelepon sang isteri. Tadi ia menelepon Edo, dan sekarang ada satu orang lagi yang harus Adnan telepon. Siapa lagi kalau bukan calon menantunya. "Hallo ... gimana, Pa?" “Ra, kamu sudah benar-benar siap, kan?” tanya Adnan ketika sambungan teleponnya sudah diangkat oleh Arra, secepatnya Adnan mau Edo dan Arra menikah. “Ta-tapi bagaimana dengan ....” “Arra, itu biar papa yang urus. Arra fokus pada hubungan Arra dengan Edo saja. Fokus pada rencana pernikahan kalian,” tukas Adnan cepat, “Arra sudah siap?” Tampak Arra terdiam, Adnan yakin ini berat bagi Arra mengingat usianya masih delapan belas tahun! Tapi mau bagaimana lagi, konsulen rese Edo itu tidak gencar rupanya. Jadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan hubungan mereka hanyalah dengan menikahkan mereka bukan? “Arra tidak harus segera hamil besok, papa tahu seusia mu masih cukup rentan, apalagi internship sekarang tidak boleh hamil kan? Nanti Edo pasti tahu lah harus bagaimana.” bujuk Adnan dengan lembut. Ah ... kalau sampai KPAI tahu, pasti Adnan kena semprot karena memaksa anak delapan belas tahun agar mau segera menikah, dinikahi oleh anak laki-lakinya. “Jadi papa nggak akan minta Arra buru-buru buat hamil kan?” tanya suara itu dari seberang. “Tentu tidak, biar kamu benar-benar siap dulu saja, bagaimana?” Adnan terkekeh, benar kan itu yang jadi ketakutan Arra? “Pa ... jujur ini rasanya begitu cepat! Tapi Arra jujur, Arra capek kalau harus berantem terus sama Kak Edo, Pa.” curhat Arra lirih, tentu Adnan paham sejak dulu hanya itu kan yang menjadi permasalahan di antara mereka? “Iya sayang, papa tahu. Makanya mau papa nikahkan saja sekalian. Edo sudah setuju, sekarang tinggal Arra. Tidak mungkin kan kalau pernikahan hanya disetujui salah satu pihak saja?” Adnan tidak gencar, ia tahu di luar sana banyak sekali yang mengincar Arra untuk dijadikan menantu, jadi tidak akan dia biarkan Arra lepas begitu saja dari Edo, sampai kapan pun Adnan tidak akan rela Arra dimiliki laki-laki lain selain anaknya! “Yakin dengan ini masalah selesai, Pa? Kalau malah menambah masalah bagiamana?” tampak sangat terlihat Arra masih begitu ragu. “Sudahlah, itu nanti biar papa-papamu yang urus soal itu, Arra. Kalian jangan khawatir!” guman Adnan tegas, berani macam-macam, Adnan maju pokoknya, apalagi sangat tidak adil menggunakan kuasa untuk memaksakan kehendak macam itu. “Terima kasih banyak,Pa. Terima kasih sudah selalu support Arra dan Kak Edo.” desis suara itu begitu lirih. Adnan tersenyum, “Sama-sama sayang, jadi bagaimana? Mau, kan, jadi menantu papa?” Sedetik, dua detik Arra membisu. Adnan jadi risau, apakah ia sudah benar-benar berhasil merayu dan membujuk Arra agar mau menikah dengan Edo? Atau Arra masih ragu dengan sesuatu sampai ia hanya terdiam seperti itu. Tampak terdengar suara helaan nafas dari seberang membuat Adnan makin membeku di tempatnya duduk. "Ya, Arra mau jadi menantu papa." Kembali senyum Adnan merekah. Akhirnya ... selangkah lagi menuju tercapainya cita-cita Adnan akan hubungan Arra dan Edo. Selain Adnan tidak mau kalau sampai mereka bubar dan Arra jatuh ke tangan laki-laki lain, Adnan juga berharap bahwa dengan menikahnya Arra dengan Edo bisa membuat hati Edo sedikit terbuka dan mau menerima pilihan Adnan. Tentu itu yang masih akan Adnan usahakan sampai kapanpun, sampai titik darah penghabisan sekali pun. Ia akan tetap berjuang guna mendapatkan restu dan persetujuan dari anak-anaknya guna menikahi wanita pilihannya. Adnan menutup panggilan itu. Ia sudah selesai menghubungi semua orang penting yang perlu ia hubungi hari ini. Entah mengapa hari ini rasanya ia begitu gembira. Sang isteri ujian UKMPPD, Yudha setuju Arra dia lamar dan Arra sendiri juga sudah bersedia untuk dilamar dan dinikahkan dengan Edo. Setelah ini harapan Adnan adalah ia mendengar kabar bahagia lain yang begitu ia harapkan. Yaitu restu dan persetujuan dari anak-anaknya, sehingga kemudian ia bisa menepati janjinya untuk membawa dan menikahi Redita secara resmi di Kantor Urusan Agama. Sama seperti ia tidak mau kehilangan Arra sebagai calon menantu potensialnya, Adnan juga tidak ingin kehilangan Redita dari hidupnya. Adnan sudah sangat bergantung dan membutuhkan sosok itu. Bagi Adnan, Redita adalah segala-galanya dan tanpa Redita ia hampa, bukan apa-apa.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (558)
putri arum
bagusss bangett sii gilakk,suka bangett karna banyak ilmu yang didapet buat aku sebagai anak yng buka lulusan kedokteran
bagusss bangett sii gilakk,suka bangett karna banyak ilmu yang didapet buat aku sebagai anak yng buka lulusan kedokteran
27/10
0Kek nya seru
10/05/2025
0bagus bgt ka ceritanyaa
17/04/2025
0Lihat Semua