Beranda/Jodoh di Tangan Tuhan/
15. Dia Anak Kita (b)
"Bunda, aku makan eskrim boleh?" tanya Rafli dengan menggemaskan saat kami duduk di kursi panjang di dalam alun-alun kota.
Aku tersenyum, membungkukkan badanku untuk mensejajarinya, lalu mengacak rambutnya lembut, "Boleh."
"Asyik. Aku beli sendiri ya Bunda... " katanya girang lalu melompat turun dan berlari senang ke penjual eskrim yang gak jauh dari tempat kami.
Aku mengamati Rafli yang berbaur dengan gerombolan anak-anak mengerumuni gerobak eskrim. Membenahi hijabku yang meleyot karena tiupan angin, mengoreksi wajahku juga dari cermin kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Dimanapun dan kapanpun, aku harus tampak rapi dan cantik, karena aku gak tau kapan dan dimana Allah mempertemukanku dengan jodohku.
Siang ini, aku menjemput Rafli di sekolahnya. Mengajaknya mampir di alun-alun kota untuk bermain. Tapi, anak itu lebih memilih duduk diam sambil melihat anak lain berebut bola di lapangan. Aku menawarinya untuk bermain mewarnai gambar, atau memancing ikan ikanan, atau bermain wahana perosotan, tapi anak itu tetap keukeuh memilih duduk diam disebelahku.
Dia dibesarkan tanpa ibu. Hanya ayahnya, dan juga aku yang seringkali datang ke rumahnya untuk menjaganya saat Adza bekerja. Sejak usia satu tahun, aku dan Ibu seringkali datang kesana. Sering juga kami membawanya pulang, dan Ibu mengasuh Rafli seperti anaknya sendiri.
Perjuangan Adza membesarkan Rafli dengan tanggungjawab penuh ketika Bu Yusi, ibunya Adza pergi untuk selama-lamanya. Semenjak itu, laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu mati-matian mengasuh Rafli, juga merawat ayahnya yang sakit-sakitan sebelum akhirnya meninggal beberapa bulan kemudian.
Sekarang, laki-laki itu hanya memiliki anak semata wayang yang dicintainya sepenuh hati. Dan keluargaku menganggap mereka berdua menjadi bagian dari kami. Kami sering berkumpul bersama meski hanya sekedar makan malam.
Siapa yang mengira kisah kehidupan akan seperti ini? Terlepas dari masalalu, bahwa laki-laki itu pernah memiliki niat untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya, nyatanya kini aku menjadi ibu bagi Rafli meski hanya sebuah panggilan.
"Dengan Ibu Sabrina Mazaya?" suara dari seberang langsung menyambutku setelah aku mengangkat panggilan telepon dari nomor gak dikenal.
"Iya betul."
Hatiku langsung mencelos begitu mendengar penjelasan dari si penelepon. Mengakhiri telepon setelah mengatakan kesanggupan, aku langsung mencari kontak dengan nama 'Adza' dan menekan panggilan.
"Ada apa Sab?" tanyanya setelah panggilan terhubung.
"Aku harus ke sekolahnya Irsa sekarang. Dan Rafli ada sama aku." Kataku sambil memantau Rafli yang masih berdiri mengantri disana.
"Aku baru saja selesai ngajar. Kamu bisa anterin Rafli kesini dulu?"
Aku mengangguk. "Iya." kataku dan langsung menutup panggilan.
Rafli masih setia menunggu satu orang lagi di depannya sebelum tiba gilirannya. Aku mengambil tas sekolah mungil miliknya, lalu menenteng tasku sendiri, dan menghampiri penjual es krim itu.
"Bunda, mau kemana?" tanyanya begitu melihatku tergesa-gesa menuju ke arahnya.
"Kita pulang sekarang ya," kataku berusaha tenang lalu memberikan uang ke penjual setelah Rafli mendapatkan es krimnya.
Di perjalanan, fikiranku melayang kemana-mana. Terfokus pada satu nama yang membuatku belingsatan saat nama itu disebut sebagai pembuat onar. Apa lagi yang dilakukan bocah itu setelah kemarin memalakku untuk dibelikan IPhone baru?
Perempuan berseragam dinas kecoklatan itu masuk setelah salam yang dilontarkannya kujawab. Untuk beberapa detik aku terpana saat bibirnya tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan senyum juga, dan menyilahkannya untuk duduk di kursi depanku.
"Saya bisa bertemu dengan perempuan ini?" tanyaku tadi ke guru BK usai beliau menunjukkan video yang kini viral di seantero sekolah. Video yang memperlihatkan Irsa tengah berjongkok di depan seorang perempuan, di depan seluruh siswa bahkan guru, dan kejadian itu adalah kejadian tadi pagi saat upacara berlangsung. Itu adalah pernyataan cinta dari seorang siswa SMA untuk gurunya sendiri. Aku bahkan jijik melihatnya sampai detik terakhir.
"Sebelumnya, maaf jika mengganggu waktunya," kataku sebagai pembuka pembicaraan.
Perempuan itu tersenyum, dan aku terpana lagi. Oh tidak, bagaimana bisa dia bisa semempesona ini? Aku yang perempuan saja terpesona dengan kecantikannya yang menguar, apalagi bocah seperti Irsa yang sedang dalam masa pubertas?
"Iya Mbak, gak papa. Saya sekalian silaturahmi." jawabnya dengan suara yang lembut. Dengan sopannya dia memanggilku 'Mbak' saat kebanyakan orang memanggilku 'Bu' padahal usiaku masih dua puluh lima. Make upku juga gak tampak seperti ibu-ibu tapi orang-orang itu mengapa lebih senang memanggilku dengan sebutan itu, padahal itu jelas sangat menyinggung kaum muda sepertiku.
"Saya Sabrina, kakaknya Irsa." Tanganku terulur, dan perempuan itu mengambil uluran tanganku, sambil berkata, "Aisyah."
"Sebenarnya, saya mau minta maaf atas semua yang Irsa lakukan terhadap Anda."
Aisyah tersenyum. "Panggil 'kamu' aja Mbak. Kita kan seumuran, jangan baku-baku biar gak tegang,"
Tertawa kecil, aku mengangguk. "Maaf, tapi saya kayak gak sopan kalo manggil begitu."
"Santai aja Mbak, beneran lho, saya umur dua lima. Kamu berapa? Kayaknya juga seumuran sama aku."
Dia adalah perempuan yang periang. Tipe suka melucu, bahkan dengan orang yang baru saja dikenal. Betapa sempurnanya perempuan ini, sudah cantik, periang, dan akrab-able. Aku jadi tau mengapa Irsa begitu ngotot ingin menikahinya.
"Aku minta maaf sama kelakuan Irsa yang memalukan kamu di hadapan banyak orang, aku harap kamu maklum, karena dia masih dalam tahap puber."
"Aku dari awal udah maklum Mbak, namanya juga bocah. Usianya masih seneng-senengnya buat begituan."
Sepanjang pembicaraan, perempuan itu selalu melebarkan senyum, kadang juga tertawa kecil saat obrolan kami terbersit hal yang lucu.
"Suatu hari aku kaget, Irsa datang dan tiba-tiba minta dinikahkan." ceritaku sambil menerawang kejadian malam itu.
"Dia butuh kejelasan Mbak, dan kejelasan itu adalah dengan menikahinya. Aku cinta sama dia, aku gak mau kehilangan dia gara-gara aku terlambat melangkah," kataku mengulang kembali perkataan Irsa malam itu.
Aisyah mendengarku dengan seksama, lalu saat mataku menatapnya meminta respon darinya, dia tertawa.
"Sampai segitunya Mbak?" tanyanya disela tawanya yang berangsur berhenti.
"Aku berfikir kalo Irsa kerasukan setan waktu itu. Aku membawanya sowan ke Mbah Yai keesokan hari, dan Mbah Yai bilang, Irsa gak papa."
Aisyah menarik tanganku yang mengepal di atas meja, menggenggamnya, dan menatapku dengan sorot mata yang mendadak berubah sendu.
"Aku memang mengatakan itu ke Irsa, itu beneran. Bukan aku bercanda atau main-main. Aku kira, dengan mengatakan itu, Irsa akan takut, tapi bocah itu malah makin menjadi. Maaf ya Mbak, kalo perbuatan aku merepotkan kalian." akunya penuh kejujuran.
"Aku memang butuh laki-laki yang bisa menjadi suami, dan bisa merawat anakku. Aku memang butuh seorang tulang punggung untuk membantuku menopang beratnya kehidupanku. Tapi dia bukan Irsa. Aku gak segegabah itu untuk menjadikan Irsa ayah dari anakku."
Aku sama sekali gak menggali tentang kehidupannya, atau kepo dengan anaknya atau siapapun itu. Tapi, dia sendiri membeberkannya kepadaku, kepada orang yang baru saja ditemuinya. Apakah dia begitu percaya kepadaku, bahwa aku gak akan menceritakan tentangnya ke orang lain?
"Ya Allah, lha kok aku malah curhat." ucapnya lalu melepas genggaman tangannya.
"Anak kamu berapa?" tanyaku begitu keheningan tercipta.
"Dua Mbak. Cowok cewek."
"Kembar?"
Aisyah mengangguk.
"Wah, lucu dong. Boleh sesekali aku ke rumah kamu?"
"Mampir aja Mbak, rumah saya gak jauh kok dari sini."
"Jadi, ayah mereka kemana?" tanyaku setelah menarik kesimpulan dari ceritanya tadi.
"Nikah lagi. Saya sudah dua tahun menjanda Mbak." jawabnya dengan diiringi senyum. Perempuan ini sama sekali gak menunjukkan kesedihan atas apa yang menimpa biduk rumah tangganya.
"Kamu sendiri?" tanyanya balik padaku.
Tersenyum kecut sesuai dengan yang kurasakan setiap kali ditanyai tentang pasangan, aku menjawab dengan berusaha sesantai mungkin, "Belum."
"Aku doakan, semoga disegerakan. Gak usah buru-buru juga, kalo gak mau seperti aku. Nikah itu bukan masalah waktu, tapi kesiapan mental."
Aku mengangguk faham.
"Aku ada jadwal mengajar, maaf ya gak bisa ngobrol lama sama kamu."
Aisyah pergi usai berpamitan. Gak ada yang sama di dunia ini, termasuk jalan hidup manusia. Jodoh, rezeki, maut semua sudah diatur Yang Maha Kuasa, dan setiap manusia memiliki waktu berbeda untuk melewati itu.
Aisyah yang di usianya sama sepertiku sudah bercerai, sementara aku, sama sekali belum menemukan hilal jodohku. Membahas jodoh, aku jadi lupa dimana keberadaan Irsa sekarang. Bocah itu perlu satu jeweran telinga dariku sebelum aku pergi dari sini.
"Allahu. Maaf Pak, maaf, saya gak sengaja." kataku usai tubuhku menabrak seseorang dengan tubuh perkasa yang kini mendesiskan namaku setelah aku melihat dengan jelas siapa dia.
Ya Allah. Yang jelas jangan dia hilal jodohku.
###
Laki-laki berseragam loreng itu menatapku sedari tadi meski aku sudah terang-terangan menujukkan ketidaksukaan dengan cara menutup wajahku dengan satu tangan, sementara tangan kananku kugunakan untuk menyendokkan somay ke mulut.
Aku sangat mengeluh mengapa dengan mudah aku bisa bertemu dengannya dimana-mana. Termasuk disini, di sekolah, dan aku gak tau apa yang dia lakukan disini, yang jelas itu bukan urusanku.
"Kamu percaya dengan yang namanya kebetulan?" tanyanya kepadaku, tapi aku acuh dan melanjutkan mengunyah somay.
Salah sendiri memaksaku untuk bicara di kantin, yang untungnya bukan jam istirahat, jadi disini sepi dan hanya ada beberapa guru. Aku sudah memberontak, tapi malu sendiri dilihat para siswa yang sedang olahrga di lapangan, dan akhirnya dengan terpaksa aku berakhir disini berduaan dengannya.
"Kalo kebetulan itu tentang kamu, aku gak percaya Sab. Gak ada namanya kebetulan kita bertemu. Ini takdir." katanya lagi dan aku semakin gak peduli.
"Kamu boleh Sab, membenciku sebenci bencinya, tapi kamu gak bisa membenci takdir bahwa aku dijodohkan denganmu." lanjutnya lagi yang membuatku menghentikan makanku.
Mata layu itu tampak datar, kutatap dalam keterdiaman sebelum akhirnya aku membuka bibir untuk bicara. "Kamu gak faham ya Ki, sama yang kukatakan kemarin?Aku udah bilang jangan datang lagi ke kehidupan aku. Jangan ganggu aku. Tapi kamu?" Aku geleng-geleng dan berkata lagi, "Kamu kekanakan Ki. Aku gak faham sama apa yang kamu lakukan."
"Kamu bisa memberikan aku jawaban atas apa yang aku tanyakan? Nyatanya jawaban kamu gak sesuai Sab, itu alasan aku kenapa sampai sekarang masih setia nemuin kamu."
Kami saling menatap, hingga aku memutuskan kontak mata dan berpaling melihat spanduk menu makanan di dinding.
"Aku akan jawab semua pertanyaan kamu, tapi kamu harus janji setelah itu, kamu pergi dari aku."
Barikli mengangguk. Dia menjulurkan jari kelingkingnya, memintaku untuk menyahut jari itu, tapi aku sama sekali gak sudi.
"Apa yang terjadi waktu itu? Setelah aku pergi dan gak bisa menepati janji untuk menikah dengan kamu. Kamu menikah dengan laki-laki itu? Dan anak kecil itu, anak aku?"
Dengan santainya aku menyeruput jus alpukat yang tadi kupesan, sementara laki-laki di depanku tampak begitu tegang dengan sederet pertanyaan.
"Kesimpulan yang bagus. Tapi, dia bukan anak kamu." Aku bangkit. "Sudah kujawab, tepati janji kamu." lanjutku lalu aku bersiap untuk pergi.
"Bohong."
Refleks tubuhku memutar, menunjukkan keningku berkernyit padanya, lalu aku tersenyum miring. "Gak ada gunanya."
"Mata kami mirip. Dagunya, juga. Dia mewarisi kita Sab, sama-sama belah dua. Dia anak aku kan?"
Barikli bangkit, mendekatiku. "Aku ingin memperbaiki semuanya. Izinkan aku, mengenalkan diri kepadanya, sebagai ayahnya, bukan laki-laki itu."
"Dia bukan anak kamu Ki. Jangan bawa-bawa kemiripan fisik, sedangkan dalam darahnya gak mengalir darah kamu,"
"Pak tentara, kami boleh minta foto?" Segerombolan siswi mendadak datang, menengahi pertikaian kecil yang kami buat. Aku membenahi hijabku, dan menggunakan kesempatan ini untuk kabur.
Barikli sebenarnya ingin mengejarku, aku tau dari langkahnya yang urung, dan akhirnya dia meladeni permintaan foto siswi-siswi itu, pasti dengan keterpaksaan.
"Minggu depan pulang kan Ca?" tanya Ibu dari sambungan telepon.
"Lala jadi nikah minggu depan?" tanyaku balik.
"Jadi. Kamu pulang ya?"
"Iya Bu, pasti."
Menutup panggilan, dan buru-buru masuk ke mobil sebelum Barikli mengejar, aku mengurungkan niatku untuk menjewer telinga Irsa karena bocah itu gak tampak di mataku dalam waktu dekat ini.
Aku sedikit gak nyangka kalo Lala, ponakanku akan segera menikah minggu depan. Setelah gelar perawan tua tersampir untuknya, akhirnya gelar itu akan diwariskan kepadaku. Beberapa waktu lalu, setauku pernikahannya akan dilaksanakan tiga bulan yang akan datang, mendadak mendapat kabar bahwa pernikahannya di majukan, jantungku 'cepak-cepak jeder' karena belum siap mendapat gunjingan perawan tua dari tetangga sekitar. Bukan masalah mentalku, tapi masalah Ibuku. Aku gak mau Ibu kepikiran karena anak perempuannya belum kunjung menikah, sementara Lala sudah on the way ke pelaminan.
Aku harus menyiapkan mental dari sekarang. Tetanggaku mulutnya lebih lemes daripada akun gosip selebritis. Apalagi, Lala setauku calon suaminya seorang polisi, tamatlah aku, bakalan jadi korban bahan perbandingan. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (866)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
so good
19/02
0sangat menarik dan penuh plot twist di setiap babnya
09/05/2025
0aplikasi ini beneran bisa mendapatkan uang, ayo dwonload tunggu apalagi?. kita hanya membaca nya saja, agar mendapatkan uang
14/03/2025
0Lihat Semua