Pria disebelah ku masih enggan membuka matanya padahal barusan menunaikan sholat Subuh. Semalam harusnya jadi romantis dan aku tau hanya saja aku terlalu malu untuk terlihat jatuh cinta pada dirinya. Apalagi udara dingin di apartemen nya sebenarnya juga membuatku malas bangkit. "Mau kemana di pagi buta Almira,"ucap Aufa menahan tangan ku. "Mau mandi Mas. Sudah bau asem Almira,"ucapku segera bangkit. Kalo menunggu pria itu bangun yang ada malah mandi junub. Lagian pria itu apa tidak pernah bosan bermanja terus dengan ku. Drrt "Halo Bu," "Almira kata Allisya kamu sama Aufa mau puasa di rumah Ibu?,"tanya Fadhila. "Iya Bu. Tapi tunggu Mas Aufa bangun. Kebiasaan habis subuh tidur lagi,"ucap ku sontak membuat Fadhila terkekeh ringan dari sebelah. "Masya Allah," "Kok masya Allah Bu. Memang Mas Aufa itu kalo malam di suruh pasti resek terus sampai jam setengah 2. Ujungnya begitu lagi,"ucapku mencurahkan kekesalan ku. "Ya Allah Ibu kira kamu sudah paham dengan kebutuhan suami mu Nak. Almira Nak. Aufa itu laki-laki normal Nak. Wajar kalo dia resek sama kamu. Mungkin Nak Aufa mau kamu mengerti tapi satu sisi hatinya merasa nggak enak,"ucap Fadhila sangat jelas arah nya. "Bu tapi "Almira. Nak kamu itu sudah menikah. Fokus dulu dengan hidup mu. Coba kamu ambil satu sudut pandang. Memang Aufa meminta kamu lulus kuliah. Sekali aja pikir dari sisi Nak Aufa. Dia mungkin sudah mapan secara materi. Tapi apa kamu pernah tau di dalam benaknya liat semua teman nya sudah punya anak lebih dari satu. Bahagia dengan keluarga kecil,"ucap Fadhila membuat bibir ku terkatup sembari berbalik melihat Aufa yang tentram dalam tidur nya. "Kadang mungkin Aufa pasti pengen juga mengantar putranya sukses. Usia itu rahasia Almira tapi dengan rentang usia mu dan Aufa. Kamu pasti bisa menghitung sendiri kan,"ucap Fadhila membuat jeda keheningan lama. "Ya sudah nanti kabari kalo sudah mau sampai ya,"ucap Fadhila menutup telfon membuatku menunduk sendu. Bener juga yang dikatakan Fadhila. Pokoknya di rahim ku harus ada janin dari nya. Aku selalu menggagalkan semua rencana romantis yang dia susun untuk alasan yang tidak jelas. Padahal aku juga suka hanya saja, aku malu. Sembari melepas handuk yang membalut kepala ku, mata ku fokus melihat pria yang tengah bersemayam dengan tentramnya. Padahal tanpa dua berusaha dia sudah menenangkan hati ku. Hanya saja apa yang ku tulis kurang jelas. Iya sih bisa sangat ku akui dirinya memang pria tua. Usia kita yang terlalu jauh. Membuatnya selalu berusaha menenangkan hati ku dengan semua cara anak muda masa kini. "Mas Ibu tadi telfon loh,"ucapku. "Kenapa?,"tanya Aufa membuka satu matanya tampak begitu malas. Dosen yang selalu mengajak ku berseteru tanpa kejelasan. Damage yang tak tertahan setiap kali langkahnya melewati lorong jurusan. Dengan jas lab yang melekat makin menambah kharisma. Baru kali ini ku habiskan hari benar benar dengan Aufa tanpa kegiatan seperti sekarang. "Ibu tanya aja katanya mau pulang. Ku bilang iya Bu. Tapi Mas Aufa masih tidur,"ucapku. "Astagfirullah Dek. Kamu itu ya,"ucap Aufa malah segera beranjak sembari bergegas mandi. "Loh kan katanya nanti siangan aja,"ucapku. "Ya nggak bilang masih tidur juga. Duh bukan membimbing istri jadinya malah mengajarkan kemalasan,"ucap Aufa begitu tengsin dengan orang tua ku. "Kenapa begitu? Bukannya Mas juga seumuran orang tua ku,"ucapku membuat kepala yang masih berbusa keluar dari pintu kamar mandi. "Ckck mentang mentang aku mandi makanya kamu senang sekali ledek tua,"ucap Aufa menggeleng menatap ku gemas. "Mandi yang beres Mas,"ucapku sembari mengambil kucing abu-abu yang terus diam melihat pemilik nya serba kebingungan. "Sudah ya,"ucap Aufa keluar dari kamar mandi dengan air masih menetes dari wajahnya. Whoa. Aku seperti baru saja melihat aktor di drama yang di tonton Ayesha tengah mengibaskan rambutnya. Apalagi dengan rambut pendek sesuai keinginan ku. "Mana yang seumuran mertua ku,"ucap Aufa menaruh kedua tangannya di sisi tubuh ku. Sontak nafas ku tercekat melihat wajah Aufa yang begitu dekat. "Mas kenapa ngga cukur coba? Liat sudah kayak om om kan,"ucapku menemukan sejengkal hal kurang sesuai. "Habis kayak mertua ku sekarang om om?,"ucap Aufa menempelkan hidung ku dengan hidung mancung nya. "Eh seriusan Mas. Coba di cukur aja Mas itu kumis sama jenggotnya yang mulai tumbuh,"ucapku. "Tapi ganteng kan,"ucap Aufa membuat ku mencebik. "Felly dia bilang dirinya ganteng,"ucapku menaikkan sudut bibir ku mencibir. "Oke oke. Mari kita jadi mantu idaman eh tapi siapa lagi Felly?,"tanya Aufa menaikkan sebelah alisnya. "Nggak punya nama sih. Sana Mas pergi cukur, aku mau masak,"ucap ku. "Masak bisa nanti. Kamu temani cukur dulu,"ucap Aufa menggendong ku. Apa aku semungil itu? Sampai bisa di angkat kemana saja. "Tinggal cukur aja loh susah betul,"ucapku menggeleng sebal. "Ckck aku mau jadi mantu yang kompeten Almira,"ucap Aufa mendudukkan ku di atas wastafel sementara dirinya fokus dengan kegiatan nya. "Mas kok bucin banget sih,"tanyaku membuatnya menghentikan gerakannya. "Biar nanti istri kecil ku ngga akan mudah baper dengan rayuan manis buaya diluar sana,"ucap Aufa mencubit hidung ku. "Memangnya ada yang mau rayu orang ketinggalan zaman kayak aku?,"tanyaku. "Itu dari style aja Dek. Tapi kalo orang yang cerdas bukan hanya memandang fisik saja. Ini juga penting,"ucap Aufa menyentuh kening nya dengan dua jari nya. "Karena madrasah Ula nya anak-anak ada pada ibunya,"ucap Aufa nyaris membuat liur tertahan di tenggorokan ku menetes. "Makanya yang dicari putri Indonesia?,"tanyaku. "Nggak juga sih. Di antara semua mahasiswa saya, hanya Citra yang memberi perhatian lebih pada hal kecil. Juga teman ngobrol yang baik,"ucap Aufa. "Masa cari jodoh berdasarkan teman ngobrol doang,"ucapku mencibir. "Lah memang kamu gimana?,"tanya Aufa menaikkan sebelah alisnya tidak terima. "Aku sih nggak mikir Mas. Karena dari kecil Bu Nyai selalu bilang nanti menikah dengan Gus Faza aja ya Nduk. Ya aku juga alhamdulillah dapat karomah,"ucapku. "Ujungnya suka yang berjenggot nah aku disuruh cukur,"ucap Aufa mencibir. "Eh ngga kayak yang Mas pikir kan ya,"ucapku. "Hah apapun terserah mu. Sudah ayo makan,"ucap Aufa menarik pinggang ku posesif. "Mas sak dulu,"ucapku begitu melihat isi tudung saji penuh. "Mas pesen?,"tanyaku. "Nggak lah baby girl. Mas masak sendiri habis sholat Subuh,"ucap Aufa. "Mas biar aku aja yang masak. Kamu kok masak sih,"tanyaku. "Kenapa? Rasulullah aja membantu pekerjaan istri,"ucap Aufa sukses membungkam bibir ku. -^- "Allisya rewel ya Bun,"tanyaku. "Allisya atau Aufa,"tanya Dimas terkekeh. "Apa kak? Aku terus yang ditambah dalam cerita mu. Bilang aja iri ngga bisa pacaran sama Kak Ayana,"ucap Aufa sangat kekanakan begitu bertemu dengan Dimas. "Mas malu ih,"ucapku mencubit pelan pinggang nya. "Auh ngga boleh galak galak sama suami loh Dek. Apalagi sudah mau bulan puasa,"ucap Aufa. "Sudah sudah. Almira mau puasa dimana Nak,"tanya Aisya menatapku cerah. "Setengah di rumah Ibu setengah di rumah Bunda,"ucapku. "Yah kak Almira ngga ada di sini lagi waktu puasa pertama. Padahal aku mau ajak Kak Almira ngabuburit ke taman,"ucap Maira menatapku cemberut. "Eh nanti kan Kakak ke sini kalo pertengahan puasa loh,"ucapku. "Kak Aufa ikut juga kan tapi,"tanya Naina membuatku alis ku mengkerut heran. "Ya iyalah ponakan ku yang lucu lucu. Kenapa kalian mau aku di sini temani kalian ya? Maaf ya. Tahun ini Paman ganteng kalian mau puasa bareng Kak Almira,"ucap Aufa begitu bangganya. "Ih malah seneng ya. Jadi nggak ada yang jadi setan ngajakin makan selama puasa terus,"ucap Naina membuatku menaikkan sebelah alis ku. Ayolah siapa yang akan menyangka dengan tingkah begitu dia sudah mau kepala 4 saja. "Alah aku tau Naina, itu hanya alibi. Gimana ya? Kakak kalian terlalu cantik jadi susah Mas tinggal,"ucap Aufa mulai kelewat percaya diri. "Loh bukannya Mas itu gurunya Kak Almira. Jadi kalo aku mau tinggal sama guru Maira nggak papa,"tanya Maira dengan polos nya. "Ehm bukan gitu. Kak Almira kan keluarganya Mas Aufa juga. Sama kayak Maira. Boleh tinggal bareng karena Kak Almira keluarganya,"ucap Ayana mencari kalimat yang pas. "Eum. Berarti kalo Maira cium Mas Aufa nggak papa juga?,"tanya Maira begitu polos. Jangan salahkan Maira, tapi bagaimana bisa gadis sekecil itu melihat banyak sekali hal yang tak masuk akal. "Eh kan tiap berangkat sama Maira. Mas selalu cium kening mu,"ucap Aufa membuat Maira mengangguk. "Ckck Aufa. Ini anakku masih kecil kecil loh. Kalo mau pacaran agak di kondisikan dong,"ucap Dimas sebal. "Heh ya kali aku cium Almira di depan Maira. Ngaco Kak Dimas nih,"ucap Aufa malah semakin di bahas. "Mas cukup Mas. Malu,"ucapku menggenggam lengannya berharap pria itu bisa paham apa yang ku maksud. "Memang kok kalian itu sama aja. Dimas juga. Memang nggak pernah di depan anak anak. Tapi di depan Allisya, di depan Bunda, di depan Ayah,"ucap Gifari melerai. "Ehh ngga pernah Yah,"ucap Dimas mengelak. "Yang di sudut dapur semalam itu?,"tanya Gifari membuat pipi Ayana memerah. "Kenapa kalian semua bucin sih?,"tanya Allisya berbisik di dekat telinga ku. "Bukan aku. Catat,"ucapku tak mau menjadi sasaran pembullyan Allisya. "Nanti kalo di rumah Mbak Dhila dikurangi ya kalo begitu diluar kamar. Malu atuh,"ucap Aisha. "Tuh denger Mas,"bisikku pelan. "Iya Bun,"ucap Aufa manut mengambil punggung tangan Aisha. "Bun. Almira pamit ya,"ucapku tersenyum lebar membuat Aisha malah merangkul ku hangat. "Kamu kok kecil betul sayang. Nanti kalo Aufa berulah jepret aja jidatnya ya,"ucap Aisha ku angguki mantap. "Kak. Memang bucin begitu kah suami mu?,"tanya Allisya heran melihat tingkah laku Aufa sedari tadi. "Kamu tanya aku menurutmu bener kah? Dulu itu nggak pernah bucin. Yang ada baku hantam aja terus. Sampai sekarang malah,"ucapku. "Itu Kakak yang baku hantam kayaknya. Turunkan gengsi Kak. Lagian buat apa gengsi di masa sekarang? Cobalah ngomong dari hati ke hati,"ucap Allisya. "Geli Sya. Aku sudah pernah coba,"ucapku. "Kak Kak. Makanya kalo belajar percintaan jangan pakai teori Nikola Tesla,"ucap Allisya mencibir. "Kalian bahas apa sih?,"tanya Aufa yang tengah menyetir. "Mas selama menikah dengan Kak Almira. Pernah nggak Kak Almira bertingkah konyol di kampus,"tanya Allisya. "Heh. Ya kali,"ucapku mengelak. "Setelah ya? Nggak pernah malah Dek. Dulu sebelum menikah sih atau waktu sama Ayesha. Dari yang sengaja tidur di mata kuliah saya. Saya chat tentang nilainya malah di ghosting. Bawa ponakan saya pulang ke kost. Eh ngga termasuk sih yang bawa ponakan. Nah tapi entah kenapa jujur aku jengkel tiap kali liat kakak mu Dek. Saya sudah jenuh juga karena anggota keluarga saya kira calon istri yang mau saya kenali itu Citra. Dari saya berlibur ke Kalimantan Utara untuk sebuah rapat. Itu juga sudah di awali dengan kekesalan Dek. Entah ada motivasi apa malah genggam tangan saya sepanjang di pesawat. Dan ya ternyata dia pikir tangan Ayesha. Tapi tetap yang paling konyol mau tau Dek?,"tanya Aufa bersemangat sekali menceritakan aib ku. "Apa Mas apa?,"tanya Allisya mulai kehilangan akal. Bukannya mendukung kakaknya dia malah pindah haluan. "Almira mencebur di dermaga padahal dia tau nggak bisa berenang. Sampai saya yang baru datang masih berkemeja langsung nyebur dari atas speedboat. Itu juga waktu sadar malah kayak orang gila. Saya lagi di salahkan Dek. Sedangkan dia sudah terendam di dalam air lebih dari 20 menit. Apa tidak berbahaya?,"tanya Aufa. "Logis sih Mas. Memang nggak ada yang nolong kah Mas?,"tanya Allisya. "Itu suasana setelah Maghrib yang gelap. Banyak orang ikut mencebur tapi Almira sudah terombang ambing cukup jauh mendekati speedboat yang baru tiba. Nggak tau gimana. Di sana saya juga sebel Dek. Gimana rasanya liburan selalu saja bertemu dengan mahasiswi yang nggak pernah habis tingkah anehnya,"ucap Aufa. "Takdir sih itu Mas. Waktu sudah sadar Kak Almira nggak ada kayak malu gitu habis dikasih nafas buatan. Oiya sama yang foto itu siapa Mas,"tanya Allisya sekaligus membuatku juga ikut penasaran jawabannya. "Kondisi Pulau Derawan yang ramai di waktu itu. Sangat nggak mungkin kalo nggak ada yang berusaha mengabadikan momen. Cuma salahnya itu banyak yang kasih caption aneh-aneh dan itu sampai ke telinga Ayah. Ya begitulah pas hari itu juga aku gagal bawa Citra untuk di kenal kan. Ya udah menikah saja,"ucap Aufa begitu santai. "Kak Almira ngamuk nggak Mas,"tanya Allisya tak ada habisnya penasaran di otaknya. "Ngamuk. Sampai mau bunuh diri malam itu. Saya juga nggak paham kenapa bisa Almira se frustasi itu. Tapi kalo boleh jujur Dek. Menikah dengan gadis yang jauh jauh lebih muda seperti Almira seperti beban tersendiri. Karena itu saya pikir hubungan itu nggak akan berhasil. Saya terlalu dewasa otomatis daya pikir saya akan sulit berada di garis yang sama. Memang saya menggandeng Citra kala itu. Namun stigma masyarakat tentang menikah beda jauh usia. Itu yang membuat saya berpikir keras. Bagaimana caranya saya bisa mengimbangi istri saya yang masih muda,"ucap Aufa membuatku melongo. "Ya nggak gitu juga Mas. Sekarang gimana? Masih tengsin kalo keluar sama Kak Almira?,"tanya Allisya. "Jelas masih ada. Makanya lebih baik romantisnya di rumah aja. Biar nggak kepikiran gitu,"ucap Aufa membuatku menggeleng cepat. Biasanya perempuan yang punya pikiran sepelik itu. Ternyata Aufa jauh lebih pelik lagi. Ckck pria tua ku memang sangat kritis.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus bgt
21/05
0julmakri a bara
18/10
0bagus
15/06/2025
0Lihat Semua