"Kenapa dalam praktikum kalian harus tercantum penggunaan asam oksalat,"tanya audiens ingin rasanya ku angkat tangan sembari langsung menjawab pertanyaan yang terlayang. Ayolah Zeana kau pasti ingat. Ini kesempatan kita selesai dengan PKL. Hari H telah tiba namun naasnya Zeana tadi pagi mengalami kecelakaan saat berangkat. Hal itu membuatnya agak shock dan fokusnya terbagi bagi. "Maaf Pak saya rasa Zeana tidak mampu melakukan presentasi hari ini karena usai kecelakaan. Apa tidak lebih baik ke rumah sakit dulu ditunda minggu depan. Jadi minggu depan tidak perlu praktikum jika lulus,"ucap Mitha. "Begitu? Boleh. Ya sudah hari Selasa depan berarti lusa. Saya tunggu presentasi nya,"ucap pimpinan grup berlalu pergi dengan yang lain. Menyisakan kami yang masih hiruk pikuk dengan pikiran. "Maaf ya aku tadi ngga sengaja,"ucap Zen. "Ngga papa namanya juga kecelakaan ngga ada yang mau kan,"ucapku memberi semangat. "Itu lah. Ngga papa kok. Besok kita ke rumah Bu Aisha lagi berarti,"tanya Ayesha. "Yup nanti ku jemput aja Zen kalo takut kenapa-napa ya. Rumah ku ngga begitu jauh dari rumah mu,"ucap Alfian di anggukinya. "Ayo eh semangat semangat. Selesai PKL bisa agak nafas sedikit lah,"ucapku memberi semangat sembari membereskan semua berkas yang kami pakai. "Oiya nanti biar aku sama Almira aja yang nge print karena kemarin kan sudah kalian,"ucap Ayesha. "Iya loh jangan kalian terus yang ngeprint kan,"ucapku setuju. "Ya sudah. Ngga ngerepotin kan,"tanya Zen. "Aman aja. Masih bisa kok. Oiya kami duluan ya soalnya buru-buru ada urusan lain,"ucapku menarik Ayesha berjalan cepat sembari menyelinap di antara semua pegawai yang berlalu lalang. "Kamu kenapa sih Al,"tanya Ayesha. "Hust ikut aja. Eh ini kan masih pagi liat anak kecil yang di taman yok,"ajakku. "Mantap view nya kayaknya bagus. Suasana danau di jam segini kayaknya bagus sih. Banyak yang joging yang jelas,"ucap Ayesha setuju membuatku tersenyum lega."Kakak ipar mu tumben ngga cari kamu,"tanya Ayesha. "Sudah tadi sebelum presentasi. Nanti kan kita ke sana juga, anggap aja sama. Ayo buruan Sha,"ucapku buru-buru memakai helm. "Kamu nih kayak buronan aja nah Al. Kayak mau kabur aja pake harus cepet, nyelinap. Aku malah kayak di drama Korea mata-mata atau ngga FBI. Coba cerita kenapa gitu nah biar aku ngga halu terlalu jauh. Oh apa kamu ada sengaja menghindari orang kah,"ucap Ayesha sembari mengendarai motor yang dipinjamkan salah satu rekan di kost. "Aku sengaja ngga mau ketemu sama Pak Aufa Ayesha. Pokoknya ngga mau sama sekali,"ucapku. "Pak Aufa? Ya tapi kan ngga juga sampai kayak di kejar maling. Kan aku jadi mikirnya ngga jauh jauh gitu,"ucap Ayesha membuatku tersenyum lebar. "Siapa lagi namanya dia yang anak kecil itu,"tanyaku. "Umar,"ucapku tersenyum lebar. "Nah iya Umar. Dia pinter banget apalagi ngaji nya. Tapi aku ngga bayangin betapa kerasnya hidup sudah menguji hidupnya. Keren keren,"ucap Ayesha. "Makanya. Apalagi rajin puasa senin kamis. Masya Allah banget gitu kan. Dia mencintai Allah begitu dalam padahal dia terus di uji. Ngga lemah kayak aku. Baru di uji sedikit sudah lemah, nangis seminggu, kecewa,"ucapku. "Itu hal asasi manusia mau nangis. Nanti kalo kamu punya anak kasih nama Umar juga Al,"ucap Ayesha. "Dalam mimpi indah aja yang begitu itu. Rumah yang tenang dan damai ada dua anak kecil yang berlarian di dalam rumah. Juga ada suami yang selalu sabar dengan anak-anak tanpa pernah marah. Aku hanya bisa memimpikan itu dalam tidur aja. Makin hari bayangan aku di pulangkan terasa kian nyata Sha. Jadi ngga mau berharap karena move on nya susah,"ucapku tersenyum kecil. "Iya tapi tuh kenapa? Aish kamu ngga mau cerita nah,"ucap Ayesha. "Yang waktu itu ku ceritakan tuh nah. Kamu nonton drama Korea,"ucapku. "Aku loh tidur waktu itu Al,"ucap Ayesha ingin rasanya ku tabok. Mengingat kejadian yang selalu jadi alasan ku untuk tetap bekerja keras lulus dengan predikat cumlaude. Flashback On Beberapa tumpukan baju kotor satu persatu ku pisahkan antara yang bewarna dan tidak. Sembari menunggu air nya memenuhi mesin cuci, ku langkahkan kaki mendekati ranjang melihat Aufa yang tertidur pulas dengan posisi telungkup. Rasanya ngga ada salahnya aku mencoba dulu menjadi istri yang baik dan peduli dengan nya. Mungkin dengan begitu hatinya bisa tergerak kan ngga ada yang tau. Kalo merem aja anteng diem. Coba buka mata pasti sudah perang dunia mulu. Ku langkahkan kaki mematikan air yang terus mengalir sembari menuang detergen ke dalamnya. Di saat itulah mata ku menangkap sebuah noda di baju putih Aufa. Seperti warna merah yang samar membuatku segera membaliknya penasaran apa yang ada di baliknya. Damn Sebuah bekas lipstick membekas dalam kerah baju depan Aufa. Seketika pikiran ku kosong. Bagaimana bisa ada noda di sana berupa lipstick berbentuk cap bibir gadis? Dia mau ngapain? Tanda tanya juga spekulasi kian muncul di dalam otak ku hingga tanpa sadar air mata lolos begitu saja. Ku kira hubungan Aufa dan Citra masih di permukaan. Nyatanya sudah masuk menjadi sebuah yang sudah terlalu jauh bahkan untuk pasangan yang sudah menikah itu terlalu jauh. Mana bisa di selamatkan lagi? Hanya ada satu hasil akhir nyata untuk hubungan ini. Aku akan dipulangkan. Ya aku, Almira Adya Kartika. Gadis yang belum saja genap menjadi istri dengan benar sudah di pukul kenyataan. Lagipun aku tak bisa menggantikan posisi Citra sedangkan aku jelas berbeda dengannya yang selalu kabur saat ada momen skinship. Ingatan buruk tentang bagaimana Fadhila dan Athaila shock karena melihat foto di pulau Derawan berputar bak rol film. Tak hanya sekali aku harus melukai hati mereka. Ya Allah apa adil bagi ku? Aku sudah menjaga diri lalu mengapa jodohku bahkan tidak punya semua itu. Aku mau marah juga sama siapa? Lagian mereka berhubungan sebagai pacar juga sebelum Aufa mengenal ku. Bunyi lantunan ayat suci Al Qur'an dari masjid pertanda waktu sholat Subuh makin dekat. Segera ku masukkan baju putih sembari langsung menyalakan. Sementara aku berlalu masuk ke kamar mandi mengguyur diri dengan air dingin. Haruskah bertahan tapi sakit? Apa yang harus ku bilang begitu di pulang kan? "Akh ngga. Aku harus cumlaude biar bisa dapat beasiswa ke luar negeri. Akan lebih baik setelah Aufa menjatuhkan talak dan mengurus semua perceraian, aku berada di luar negeri sebelum itu. Iya aku harus. Lebih baik aku hilang di luar negeri tapi tau gimana kondisi keluarga daripada begini,"cetusku sembari membiarkan guyuran air dingin meredam semua emosi ku. Flashback Off -^- Aroma bawang putih yang ku tumbuk seperti parfum saja malah membuatku terpikir kemana-mana.Mengingat hal buruk itu hanya membuatku akan jatuh dalam duka saja. "Eh Almira di sini,"ucap Dimas membuatku mendongak. "Kamu nangis kenapa Dek,"tanya Dimas yang tengah mengambil susu untuk ketiga putri kecilnya membuatku memutar otak. "Gagal selesai hari ini Mas selesai nya,"ucapku. "Oalah. Ngga papa kan lusa lagi presentasi nya. Oiya tadi Aufa cari kamu ke kantor cuma ternyata sudah pulang,"ucap Dimas tak membuat kaget. "Kenapa Pak Aufa cari saya Mas,"tanyaku. "Lah kok tanya saya. Ya mana saya tau,"ucap Dimas. "Bukan siapa tau Mas Dimas tanya kenapa gitu cari Almira,"ucapku tak ingin tau sama sekali masalahnya apa. "Ngga ada bilang sih. Cuma kamu lagi slek? Atau gimana,"tanya Dimas. "Slek apalagi Mas. Memang kalo saya yang lagi slek ada artinya baginya. Tadi siang waktu di jalan Almira liat baik-baik aja temani Kak Citra jalan,"ucapku. "Mulai cemburu kah,"tanya Dimas. "Nggak lah Mas. Ini definisi ketika jodohmu di Lauhul Mahfudz ngga tersemat di hatinya bisa apa,"ucapku. "Mantap. Kok kamu di sinu ngapain. Ayo ke depan sama yang lain di depan TV,"ucap Dimas. "Ngga papa duluan aja Mas,"ucapku tersenyum singkat membuatnya mengangguk paham. "Ya sudah Mas keluar dulu ya,"ucap Dimas ku angguki. Perlahan ku bentuk satu persatu cireng yang akan ku goreng di nampan. Keluarga ini ngga pernah memperlakukan ku buruk entah masih mahasiswi sampai istri. Makanya ngga sah kalo langsung hilang ngga kembali lagi. Apalagi Aisha yang setiap hari akan menelfon memastikan. Mbak Ayana yang tak lupa memberi ku motivasi dan semangat sukses jadi mahasiswa meskipun sudah berubah tangga. "Weh masak ngga ngajak,"ucap Ayesha tersenyum lebar sembari melihat satu persatu cireng yang sudah matang naik ke permukaan. "Kamu buat sambel aja,"ucapku. "Oke. Dimana cobek nya,"ucap Ayesha berlalu. "Eh itu ya buat dua. Satu pedes satu manis,"ucapku mengingatkan. "Aman aja Bu Almira,"ucap Ayesha mulai meracik bumbu untuk sambal. "Eh menurutmu Kak Citra ngga terpikir ke orang tuanya kah? Dia kan cewek,"ucapku. "Hust udah eh dibilang. Yang penting tuh kamu paham lah aku mau latihan move on,"ucapku. "Move on berarti kamu pernah suka dengan Pak Aufa ya,"ucap Ayesha mengoles tepung ke pipi ku. "Aish malah dibuat main lagi tepung kanji nya,"ucapku. "Duh teman ku akhirnya jatuh cinta,"ucap Ayesha begitu heboh. "Ck diam-diam weh,"ucapku. "Kayak lagunya Fiersa Besari. Aku suka halu liat video sama foto nikahan mu Al. Ku lihat kamu itu cocok dengan Pak Aufa. Begitupun sebaliknya, tapi apalah daya biar rasanya sudah tepat tapi waktu belum merestui. Ckck ketika jodohmu di Lauhul Mahfudz belum menjadikanmu prioritas bisa apa,"ucap Ayesha. "Parah. Daripada jodohmu masih ngumpet,"ucapku. "Loh mana ada. Daeng Lee Seung Gi ngga liat kah,"ucap Ayesha membuatku tergelak berbeda dengan biasanya yang malah menatapnya datar. Lama sekali rasanya bahasan ini tak pernah keluar dari bibirnya. "Kangen aku kamu bahas itu lagi Sha,"ucapku. "Hah memang begitulah adanya Ayesha Zahratusyita. Selalu membuat siapa saja yang didekatnya tenang dan nyaman. Kala sepi selalu di rindukan,"ucap Ayesha membuatku tak tahan mengusap seluruh wajahnya dengan kanji. "Istighfar weh,"ucapku sebal. "Weh hilang sudah skincare ku,"ucap Ayesha membasuh wajahnya. "Sedikit lagi jadi kapurung,"ucapku. "Eh mumpung kamu bahas. Besok habis selesai presentasi makan kapurung yok sama Zen sama Alfian,"ucap Ayesha. "Gas lah. Ku kira kamu mau buat sendiri,"ucapku meniriskan cireng yang sudah matang. "Aku ngga masalah sih cuma asisten masak ku suka eksperimen. Ngga tambah enak malah tambah hancur rasanya,"ucap Ayesha membuatku terkekeh ringan. "Parah sih. Aku kan cuma berguru,"ucapku. "Tapi adanya orang berguru itu manut Al ngga buat terobosan terbaru. Masak itu bukan teknologi weh,"ucap Ayesha membuatku makin tergelak. "Eh ini terasi nya tolong bakar kan dulu Al,"ucap Ayesha. "Nggak ngga. Bakar terasi malam-malam mau cari mati kah,"tanyaku sebal. "Loh kenapa?,"tanya Ayesha. "Heh kamu tau kah kalo bakar terasi malam-malam itu mengundang genderuwo tau,"ucapku. "Ah masa Al. Kamu jangan ngadi-ngadi. Sudah malam ini,"ucap Ayesha. "Ada kah muka ku penuh dengan dusta. Muka setia yang tak terpandang gini ngga percaya. Coba aja tapi aku keluar dulu,"ucapku. "Aih tapi genderuwo kan hantunya orang Jawa. Nah aku orang Bugis. Hantu nya itu Parakkang dan kawanannya,"ucap Ayesha membuat rahang nyaris jatuh. "Terus nanti kalo genderuwo muncul. Dibilang 'mrene o awakmu sing ngundang'. Baru kamu dengan santai nya tersenyum lebar. 'Manre dulu ka',"ucapku. "Habis itu aku dengan bangga bilang, heh Daeng Gen kita beda adat. Kalo tak bisa kau hapus aku dari hatimu pegang kuat keteguhan cinta ta',"ucap Ayesha. "Genderuwo nya habis itu pergi sambil ada soundtracknya, mencintai dalam sepi. Ckckck dodolnya,"ucapku menggeleng sembari tergelak ringan. "Almira," "Ish kamu denger ada yang manggil kah?,"tanyaku. "Iya. Tapi kan beda budaya,"ucap Ayesha yakin. "Ya salam seriusan,"ucapku. "Ayesha," "Makan tuh beda adat,"ucapku sama merindingnya sembari mematikan kompor membawa cireng yang sudah matang. "Kalian ngga dengar ku panggil kah,"terdengar suara di belakang kami membuatku menghela nafas sembari mulai membaca ayat ayat yang ku hafal. "Enak ini cireng nya," "Daeng Gen makan cireng kah Al,"tanya Ayesha sama membeku nya. "Biasanya singkong bakar. Apa belum gajian ya,"ucapku nyeleneh. "Kurang sejahtera kali kehidupan nya,"ucap Ayesha malah makin melanjutkan joke receh ku. "Minta ya," "MAKKK SETANNYA MAKAN CIRENG,"ucapku hanya bisa berteriak sama halnya dengan Ayesha begitu ku lihat tangan hitam mengambil cireng. "Weh aku Dimas. Aku minta tolong alirkan air habis bersihkan tempat bakaran,"ucap Dimas membuatku tersenyum lega. "Asem,"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgus bgt
21/05
0julmakri a bara
18/10
0bagus
15/06/2025
0Lihat Semua