Dalam hitungan menit, ia sudah menjejakkan kaki di pintu rumah. “Ada apa bu?” tanya Subiyanto pada ibunya yang sedang duduk bersama Sularso. Subiarsih menceritakan bila istri Sularso sering diganggu Sutrisno dari Kracakan, Demak. Gangguan itu sudah keterlaluan karena Sutrisno pernah berusaha menggagahi istri Sularso. Ketika Sularso mengingatkan, Sutrisno mengeroyok Sularso. “Benar begitu dik Ningsih?” tanya Subiyanto kepada Ningsih, istriSularso. “Dia mengganggu ku terus kalau aku berjualan di pasar. Bahkan terakhir dia mau mengancam membunuh Sularso kalau aku tak mau meladeni nafsunya.” adu Ningsih. “Saya akan menghentikannya.” balas Subiyanto. Dengan petunjuk Sularso, ia pergi menuju rumah Sutrisno di Kracakan, Demak. Subiyanto tak mendapati Sutrisno. Subiyanto segera meninggalkan rumah Sutrisno lalu menunggu kepulangan Sutrisno di jalan masuk gang rumah Sutrisno. Tak lama Sutrisno kembali ke rumahnya. Subiyanto segera melangkah menuju rumah Sutrisno lagi. “Sutrisno?” tanya Subiyanto. “Siapa ya?” Sutrisno balik bertanya. “Saya kakak ipar Ningsih yang jualan di Bintoro.” Jawab Subiyanto. Ekspresi wajah Sutrisno terkejut namun ia mencoba menutupinya. “Ada apa?” tanya Sutrisno. “Tolong jangan mengganggu adik ipar saya dan jangan sekali-sekali mengancam hendak membunuh Sularso!” kata Subiyanto dengan nada tinggi. Melihat Subiyanto berbadan tegap, Sutrisno tak berani membantah. Ia mengiyakan dan berjanji tak akan mengganggu Sularso dan Ningsih yang berjualan di Pasar Bintoro. Namun kemarahan membara dalam hati namun tak berani berbuat apapun. Subiyanto segera meninggalkan rumah Sutrisno. Di tengah jalan, Subiyanto dicegat tiga lelaki berbadan kekar dengan simbol kemiliteran laut melekat di pakaian ketiganya. Rupanya Sutrisno menghubungi kawan-kawannya agar menghabisi Subiyanto. “Kamu sok jagoan disini!” tanya salah seorang pencegat itu. “Maaf! Saya tidak kenal bapak-bapak. Saya juga tidak sok jagoan.” Balas Subiyanto. ”Jangan berpura-pura! Sedang apa tadi di rumah Sutrisno?” tanya lelaki itu lagi. Subiyanto menjelaskan perbuatan Sutrisno terhadap keluarganya. Namun mereka tidak mau percaya. Mereka tetap bersikukuh pada kebohongan Subiyanto sehingga ketegangan terjadi. Tiga orang itu hendak mengeroyok Subiyanto. Subiyanto tak gentar. Rapal Sakaratul maut diucapkannya. Kemudian ia menghantam sebongkah batu besar yang berada di dekatnya. Ketiga lawannya terkejut melihat kekuatan Subiyanto. Walau mereka berbadan besar, nyali menciut. Mereka membatalkan niat untuk mengeroyok Subiyanto. “Mungkin dia benar! Sutrisno kan suka mengganggu istri orang. Daripada kita kena imbasnya.” Kata lelaki yang berdiri di sebelah kiri pada kawan-kawannya. “Maaf! Kalau kami ikut campur urusan mu. Saya tahu bila Sutrisno suka mengganggu istri orang.” kata lelaki yang berdiri di tengah. “Bapak-bapak tidak perli ikut campur urusan ini. Perilaku buruk Sutrisno memang harus diberi pelajaran. Kalau bapak-bapak mau bela dia silahkan. Saya tak gentar menghadapinya.” tandas Subiyanto. Ketiganya mengerti bila Subiyanto berilmu maka mereka sanggup untuk tidak terlibat dalam urusan ini. Mereka pergi meninggalkan Subiyanto. Amarah Subiyanto pada Sutrisno tak tertahankan. Ia segera pergi ke Pasar Bintoro untuk membeli tali pramuka, karung dan sebilah belati. Kemudian ia kembali ke Kracakan. Sutrisno sudah tak berada di rumahnya lagi. Subiyanto segera menggunakan ilmu penerawangannya. Ia melihat Sutrisno sedang mengendarai sepeda motor menuju Soko, Demak. Saipi angin membawa Subiyanto untuk berdiri di jalan dan menghadang Sutrisno. Sebilah kayu dipungutnya sehingga Sutrisno menghentikan laju sepeda motornya. Ia hendak memutar balik sepeda motornya ketika melihat Subiyanto. Namun Subiyanto segera bertindak dan langsung menotok Sutrisno sehingga ia tak dapat berteriak. Belati dilekatkan pada pinggang Sutrisno. “Jalan!” bisik Subiyanto yang duduk di belakang Sutrisno. Subiyanto memaksa Sutrisno melajukan sepeda motornya menuju Sungai Kanal yang sepi dan jauh daru rumah penduduk. “Berhenti!” kata Subiyanto ketika mereka berada di pinggir Sungai Kanal yang sangat sepi dan berada jauh dari perkampungan. Ia melepaskan totokan lalu mengintrogasi Sutrisno. Subiyanto berkali-kali menampar wajah Sutrisno bila jawaban tak menyenangkan. Sutrisno mengakui perbuatannya dan memohon belas kasihan. “Kamu mengancam akan membunuh Sularso kalau Ningsih tak mau meladeni nafsu mu. Benar?” ucap Subiyanto. “Nggggggak mas. Aku tidak ngancam kok.” sahut Sutrisno. Plakkkkkk....... Plakkkkk....... Dua tamparan menerpa wajah Sutrisno. “Jawab yang jujur!” teriak Subiyanto. “Anu mas....” balas Sutrisno. Plakkkk.......... Plakkkkk......... Plakkkkkkk............ Tiga tamparan menerpa wajah Sutrisno lagi. “Iya mas. Saya mengaku salah.” aku Sutrisno setelah merasakan sakitnya tamparan Subiyanto. Subiyanto tak membalas ucapan Sutrisno. Ia menghantam dada Sutrisno dengan pukulan Sakaratul Maut. Sutrisno memuntahkan darah. Ia langsung terkulai. Subiyanto langsung mengambil karung. Tubuh Sutrisno dimasukkan dalam karung lalu diikat dengan tali pramuka dan menceburkannya ke Sungai Kanal. Subiyanto segera meninggalkan tempat itu. Ia mengira Sutrisno pasti mati karena luka dalam. Namun seorang nelayan menemukan Sutrisno yang sedang sekarat. Ia dibawa ke rumah sakit tetapi Rumah sakit tak dapat mengatasi dampak pukulan sakaratul maut. Sutrisno sedang menghadapi sakaratul maut. Namun nyawanya tertolong setelah Subiarsih yang mendengar apa yang dialami Sutrisno. Ia mengulurkan tangan untuk menyembuhkannya. Subiarsih memintanya untuk bertobat dan tak mengulangi perbuatan jahatnya kepada siapapun. Sutrisno berjanji pada Subiarsih untuk tidak mengulangi perbuatannya. Namun kesanggupan Sutrisno ditanggapi negatif oleh salah seorang kerabatnya yang menjadi pamong desa di Brangkal, Demak. Lutfi merasa harga dirinya terhina oleh pengakuan Sutrisno karena pengakuan Sutrisno sama dengan penghinaan pada keluarga besar dan menurunkan minat pilih warga Dusun Brangkal kepadanya. “Sutrisno itu salah! Di mana harga diri keluarga ini? Terus kalau warga tidak memilih aku bagaimana? Lihat! Nanti pasti ku balas!” sesumbar Lutfi di hadapan beberapa orang di Brangkal. Ucapan itu segera menyebar hingga akhirnya Subiyanto mendengarnya. Subiyanto bereaksi dengan mendahului beraksi. “Sutrisno itu salah! Kenapa kamu bela? ” ucap Subiyanto yang berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Lutfi di tengah malam. Lutfi hanya bisa membelalakkan mata karena cekikan di leher membuatnya tak bergerak. “Kalau pak Lurah ingin merasakan sakaratul maut sama seperti Sutrisno, saya akan memberikannya.” ancam Subiyanto. Lutfi tak bereaksi dengan ekspresi ketakutan dan memohon ampun. “Kalau Pak Lurah masih ingin hidup. Jangan teruskan sesumbar itu!” lanjut Subiyanto. Subiyanto meninggalkan Lutfi yang mematung. Ia membiarkan Subiyanto meninggalkan kamarnya melalui jendela kamar. Beberapa hari kemudian Subiyanto kembali ke Jakarta setelah berpamitan dengan Subiarsih. “Toyo!” seru Subiyanto sambil mengetuk pintu kamar pondokan. Sutoyo terbangun lalu membuka pintu. Tengah malam itu, Subiyanto menjejakkan kaki di kantor Bus Sinar Mas yang menjadi tempatnya bekerja. Dalam kantuknya, Sutoyo berkata,“ Kamu dipecat ibu Mayasari!” “Tidak apa! Kamu jaga diri mu. Sampaikan salam ku untuk rekan-rekan di warung, aku pamit.” jawab Subiyanto singkat. Subiyanto segera membereskan barangnya di kamar pondokan itu. Ia kembali ke Kalicilik tetapi tak pernah mau menemui Ratna. Ratna sering mendatangi gubug di sawah untuk mencari Subiyanto. Tetapi Subiyanto menyembunyikan dirinya walau Ratna sering berupaya ingin menemuinya. Punden Nakudo Banyu menjadi tempat favoritnya di malam hari. Punden Nakudo Banyu terletak di wilayah Kalicilik. Warga Kalicilik bahkan Warga Demak mempercayai bila Nakudo Banyu adalah salah satu panglima perang Kerajaan Demak yang dimakamkan di Punden Nakudo Banyu. Subiyanto sering berdzikir di tempat itu. Subiyanto benar-benar kembali ke Kalicilik dan meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Kepahitan dan kegetiran makin dirasakan dalam batinnya. Kematian ayahnya membuat luka di hati kian mendalam. Penghinaan Ngatinah pada diri dan keluarganya hanya karena perbedaan status sosial ekonomi kembali melintas. Penghinaan Sriatmi hanya karena kesetiaan pada Ratna kembali mencuat. Kandasnya hubungan cintanya dengan Ratna juga memberi kekecewakan tersendiri meskipun ia menerima sebagai takdir Allah. Akhirnya pemecatan dirinya dari tempat bekerja hanya karena ia tak bersedia meladeni kemauan Mayasari, memberi luka baru dalam batin. Kegetiran dan kepahitan itu mengubah tujuan hidup, jalan hidup dan perilaku Subiyanto.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
novel ini sangat bagus
11/07
0lumayan
13/02
0bagus banget
01/11
0Lihat Semua