Kualitas kerja dan penampilan yang menawan membuat Subiyanto disukai banyak orang di sekitarnya. Banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya. Dari rekan kerja, anak perempuan pemilik warung di jalan kecil yang menjadikan Subiyanto sebagai tenaga keamanan hingga para janda muda yang dikenalnya mendambakan cintanya. Namun Subiyanto tak pernah mengingkari janji setianya pada Ratna. Ia tetap berkonsentrasi mengumpulkan uang untuk meminang dan menikahi Ratna. Kala rindu pada Ratna, ilmu penerawangan dipergunakan untuk melihat Ratna. Ia akan memulai dengan dzikir bila penerawangan dipergunakan. Ia sering melihat Ratna yang bersholat, belajar atau berbaring. Kekuatan cinta dan pengharapan untuk hidup bersama Ratna, membuat Subiyanto terus menyisihkan sebagian besar penghasilannya hingga suatu saat godaan berat mengujinya. Pemilik Bus Sinar Mas adalah seorang janda dengan kekayaannya melimpah. Segala sesuatunya dapat tergapai dengan mudah karena uangnya melimpah. Usianya setengah baya. Suaminya telah tiada beberapa tahun silam. Sedangkan anak-anaknya sudah mandiri dengan usahanya masing-masing. Ia sering melihat Subiyanto kala mengawal uang setoran ke kantor pusat. Penampilan dan dada bidang membuatnya terpikat. “Tut….. Siapa dia?” tanya Mayasari pada Tuti kala melihat Subiyanto. “Itu petugas pengawal uang bu. Ia bertugas di kantor perwakilan yang di Daan Mogot.” Jawab Tuti. “Ya. Aku tahu kalau dia itu pengawal uang. Maksud ku namanya.” Balas Mayasari. “Kata orang-orang kantor, namanya Subiyanto.” respon Tuti. “Sudah berapa lama berkerja dengan kita?” lanjut Mayasari lagi. “Kurang lebih 6 bulan bu.” Jawab Tuti. “6 bulan? Kenapa bisa cepat jadi pengawal uang?” selidiki Mayasari sambil tangannya melepas kaca mata. “Dia itu jago bu. Katanya pernah dikeroyok 25 preman bisa menang.” ucap perempuan muda yang bertugas sebagai sekretaris di kantor pusat Bus Sinar Mas. “Wow hebat juga!” respon Mayasari. “Memang hebat bu.” Sahut Tuti. “Tolong telpon Ridwan. Bilang, anak buahnya ku panggil. Sore nanti dikembalikan ke Daan Mogot.” perintah Mayasari. Tuti segera melaksanakan perintah atasannya. Ia tahu keinginan juragannya sehingga menelpon Ridwan pimpinan kantor Bus Sinar Mas yang berada di Daan Mogot. Ia menyampaikan bahwa Mayasari menghendaki Subiyanto untuk tinggal setelah proses setor uang. Subiyanto pun menghadap ke pemilik tempat kerjanya. Melihat Subiyanto berdiri di dekatnya, Tuti terpesona. Ia tak menyangka bila Subiyanto memang gagah dengan dada bidangnya. “Ibu menunggu di dalam. Silahkan masuk saja!” kata Tuti dengan sedikit grogi. Subiyanto segera melangkah dan memasuki ruang kerja Mayasari. “Silahkan duduk Subiyanto! Mau minum apa? Teh, susu atau kopi?” kata Mayasari yang terpesona melihat Subiyanto dari dekat. “Air putih saja bu!” jawab Subiyanto. “Lho kok manggil aku dengan sebutan ibu.” Balas Mayasari. “Maaf kalau salah bos.” Jawab Subiyanto. “Wah malah pakai sebutan bos segala. Panggil saja aku Mayasari.” respon Mayasari. “Nih air putih dingin, biar seger!” kata Mayasari pada Subiyanto usai meraih sebotol air dari dalam lemari es yang berada di ruang kantornya. “Terima kasih.” jawab Subiyanto. “Dari mana asal mu?” tanya Mayasari. “Saya berasal dari Demak Jawa Tengah.” balas Subiyanto. “Wah jauh ya? Sudah lama di Jakarta?” lanjut Mayasari. “Baru 6 bulan, saya baru di Jakarta.” sahut Subiyanto. “Aku sudah mendengar kisah mu di Daan Mogot. Sekarang, aku menawarkan tugas baru. Apakah kamu siap?” tanya Mayasari yang mulai menjalankan aksinya. “Saya siap kalau itu tugas dari kantor” jawab Subiyanto. “Mulai besok, kamu tidak lagi menjadi pengawal uang. Tetapi menjadi pengawal saya. Tugasnya mengikuti ke mana pun aku pergi.” Terang Mayangsari. “Apakah ini tugas kantor?” tanya Subiyanto. “Oo, iya! Kamu tetap karyawan Sinar Mas yang tugasnya mengawal aku. Gaji mu ditambah 500 ribu! Bagaimana?” ucap Mayasari. “Baik kalau itu tugas kantor. Tapi saya hanya bersedia bekerja sampai jam 5 sore dan pada jam sholat saya diperkenankan bersholat.” jawab Subiyanto tanpa curiga. Ia tak memahami intrik Kota Jakarta yang penuh dengan drama. “Bagus! Orang Demak memang sholeh-sholeh. Ingat jam 7 pagi sudah siap di kantor ini dan jam 6 boleh pulang.” tegas Mayasari. Sejak itu Subiyanto tidak lagi mengawal uang tetapi menjadi pengawal pribadi Mayasari, pemilik Bus Sinar Mas. Setiap pagi jam 7 pagi ia sudah berada di kantor pusat di jalan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Ia kembali ke Daan Mogot tepat menjelang maghrib.Ia mengikuti ke mana pun Mayasari pergi. Mayasari segera beraksi untuk mengekploitasi Subiyanto sama seperti lelaki muda lain yang menarik hatinya. Kala ia bosan maka lelaki muda itu akan dipinggirkan. Mayasari mulai mencari perhatian untuk menarik hati Subiyanto. Mula-mula ia gemar memberikan tip kepada Subiyanto. Pada setiap kesempatan, Mayasari mengeluarkan rupiah untuk Subiyanto. Hal itu diikuti dengan ajakan makan siang ataupun makan malam. Awalnya Subiyanto rikuh menerima tawaran ajakan tersebut. Namun lamban-laun jadi terbiasa walau dalam benaknya, ia tetap menganggap itu sebagai bagian dari tugasnya. Apalagi ia sering mendapat uang. “Saya nasi goreng saja mbak.” Kata Subiyanto. Kala makan malam bersama Mayasari. “Lho kok nasi goreng? Nggak mau steak atau yang lain?” balas Mayasari dengan lesung pipi kala tersenyum. “Wah saya orang desa mbak. Tak bisa makan makanan itu.” sahut Subiyanto. “Ya sudah kalau itu pilihan mu.” ujar Mayasari dengan nada manja. Usai sholat imsak, Mayasari mengajak Subiyanto ke Kuningan untuk makan malam. Dalam benak Subiyanto lumayan dapat rupiah lagi karena Mayasari memberi 200 ribu untuk menemaninya makan malam. “Berapa usia mu sekarang?” tanya Mayasari usai memesan makanan. “Saya hampir 20 tahun mbak.” Jawab Subiyanto polos tanpa prasangka. “Wah sudah dewasa nih. Apakah sudah punya pacar atau pernah pacaran?” selidik Mayasari yang mulai berani menanyakan hal pribadi pada Subiyanto. “Wah ya belum mbak, aku belum berani begituan.” jawab Subiyanto membohongi Mayasari. “Yang bener? Tapi menilai bisakan? Kalau menurut mu aku cantik nggak? ” balas Mayasari. “Ya cantik sekali mbak. Apalagi bajunya bagus-bagus.” sahut Subiyanto. “Kira-kira kamu tertarik nggak sama aku?” ucap Mayasari memancing Subiyanto. “Wah, aku nggak berani. Sumpah! Nggak berani mbak. Orang desa begini kok.” jawab Subiyanto dengan kepolosan namun sesungguhnya ia tegas menolak. “Kamu ganteng Subiyanto! Jadi jangan bilang orang desa. Apalagi badan mu tegap. Pasti banyak cewek yang suka. Aku saja suka.” balas Mayasari untuk mengatakan isi hatinya. “Mbak salah. Aku justru banyak ditolak cewek!” bohong Subiyanto. “Tapi aku nggak menolak lho. Aku mau kalau kamu suka aku.” Mayasari kembali memancing agar meningkatkan hubungan di antara mereka. “Wah jangan mbak aku takut sama yang di atas.” Subiyanto menjawab lalu permisi ke toilet untuk menghentikan percakapan yang ingin membelokkan kesetiaannya pada Ratna. Sekembali dari Toilet, Subiyanto mendapat rayuan Mayasari lagi. “Kalau tiap bulan kamu ku beri 1 jt, mau nggak jadi pacar ku?” kata Mayasari. Subiyanto dengan tegas menolak rayuan itu walau dengan imbalan uang. Ia tidak mau mengorbankan cinta sejatinya dengan Ratna. Mayasari tersenyum dan membatin, “Harimau muda ini tangguh tapi nanti pasti takluk.” Seminggu kemudian, Mayasari mengajak Subiyanto ke Bandung. Ia sengaja tak memberitahu kalau akan menginap di Bandung. Subiyanto sempat terkejut kala Mayasari memberitahukan hal tersebut ketika sudah berada di Bandung. Ia menawarkan uang lembur agar Subiyanto tidak memprotesnya. Lima lembar 100 ribu dikeluarkan dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada putra Subiarsih. Subiyanto pun menerima dan bersedia tetap menemaninya. “Lho… Subiyanto mau ke mana?” tanya Mayasari pada Subiyanto seusai membawakan tas ke dalam kamar hotel. “Ke luar mbak, tak sopan kalau aku berada dalam kamar bersama mbak.” jawab Subiyanto. “Tunggu sebentar. Nanti setelah makan baru ke luar.” cegah Mayasari sebagai usaha untuk mendapatkan kehangatan tubuh Subiyanto. Mayasari sudah tidak sabar untuk melihat lekuk kebugaran dan kejantanan Subiyanto. Kekasih Ratna tak berkutik mendengar ucapan itu. ”Ya Tuhan kuatkan iman ku untuk setia pada Ratna.” doa Subiyanto dalam hati. Subiyanto segera duduk di sofa kamar hotel itu. Ia segera menyantap hidangan yang sudah dipesan Mayasari untuknya. Mayasari mulai beraksi. “Aku mandi sebentar ya?” kata Mayasari sambil melepas bajunya tanpa sungkan pada Subiyanto. Subiyanto sempat menahan nafas tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia tetap memakan makanannya. Mayasari segera menuju kamar mandi. Dengan sengaja ia tak menutup tirai kamar mandi itu hingga Subiyanto dapat melihat dengan jelas tubuh bosnya. Subiyanto melawan godaan itu dengan membaca dzikir penerawangan hingga tak sedikit pun memandang ke tirai itu. Ia justru melihat Ratna yang sedang belajar karena ia akan menghadapi ujian akhir sekolah. Kerinduan diwujudkan dengan tekad setia walau godaan menerpa. Subiyanto segera berdiri kala Mayasari ke luar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. “Mau ke mana Subiyanto?” tanya Mayasari. “Ke luar bu. Kan mau bulan puasa, aku mau mencari Al-qur’an.” Subiyanto berdalih agar bisa ke luar. “Lalu tidur di mana nanti?” lanjut Mayasari. “Ibu istirahat saja.” jawab Subiyanto singkat lalu dengan cepat membuka pintu lalu dengan cepat berjalan menuju lobi hotel. “Yah…. lepas! Tangguh juga harimau muda ini.” Mayasari kecewa. Subiyanto berjalan menuju ke jalan lalu mencari masjid. Ia mandi dan melakukan sholat tahajud. Ia bersyukur karena selamat dari godaan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
novel ini sangat bagus
11/07
0lumayan
13/02
0bagus banget
01/11
0Lihat Semua