logo text

Bab 17 Lintang yang Aneh

"ATM dan uangnya sudah ku ambil. Seharusnya dia sudah tak punya apa-apa lagi untuk hidup di luar. Kenapa dia masih belum pulang?" gumamnya yang mondar-mandir di teras menunggu sang putri.
"Ah! Sial! Mobilnya ...," ucapnya tiba-tiba. Ia tersentak ketika menyadari ada sesuatu yang masih kurang. Yakni mobil Lintang yang ia lupakan.
Sementara itu di lokasi yang berbeda, Lintang tengah bergelut dengan pekerjaan rumahnya.
Saat sedang bersih-bersih tiba-tiba ponselnya berdering. 'Ishan' nama itulah yang muncul di layar ponselnya yang berdering.
"Iya halo, ada apa?"
"Ada apa gundulmu! Kamu ini niat kerja nggak sih? Udah tiga hari nggak masuk tanpa keterangan!"
Suara bernada tinggi dari seberang sana membuat Lintang spontan memberi jarak antara ponsel dengan telinganya.
"Iya, saya niatnya pengen dipecat biar dapet pesangon," jawabnya santai.
"Heh! Jangan mimpi. Dalam waktu dua puluh menit kamu nggak ke kantor, kamu ku pecat tanpa pesangon!" tegasnya.
Gretakan Ishan berhasil membuat Lintang kalang kabut. Dengan kondisinya saat ini, jelas Lintang sangat membutuhkan uang.
Yang tadinya ingin mengundurkan diri setelah fashion show selesai, kini niat itu harus ia urungkan demi keberlangsungan hidupnya. Tanpa menuntaskan kegiatan rumahnya, Lintang bergegas ke kantor.
Mengejar waktu singkat yang diberikan oleh Ishan, Lintang hanya mengganti pakaiannya dan menyemprotkan parfum melebihi batas normal.
Ia memasukkan sikat gigi, pasta gigi, sabun wajah dan alat-alat make-upnya ke dalam tasnya. Ia berlari dengan bertelanjang kaki. Ia tenteng heelsnya agar memudahkannya mengejar bus.
Lintang menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang. Bahkan di dalam bus pun sebagian orang menutup hidung ketika berdampingan dengan Lintang.
Namun bukan Lintang namanya jika ia memperdulikan pendapat ataupun pandangan orang lain terhadapnya.
Tiga puluh menit kemudian Lintang sampai di kantor.
Ia masih bertelanjang kaki berlarian menuju ruangan Ishan.
Semerbak parfum bercampur keringat turut merebak menodai indra penciuman para karyawan yang berpapasan dengannya.
Bahkan sebagian ada yang menunjukkan ekspresi mual karenanya.
Brak!
Lintang ngos-ngosan saat memasuki ruangan Ishan. Penampilan kacaunya membuat Ishan melongo tak berarti.
"Dasar brengsek! Bos sialan!" cerca Lintang dengan sisa tenaganya.
"Ada apa denganmu? Kenapa mengumpat padaku?"
"Ah ... sudahlah! Kamu minta aku buat ngerjain apa? Kampret!"
"Sebelum itu, bersihkan dulu dirimu! Bau badanmu itu nggak karuan, penampilanmu apa lagi ... makin parah!"
"Ini semua gara-gara kamu!" balas Lintang yang berjalan menuju kamar mandi di ruangan Ishan.
"Cih! Salah sendiri, kenapa pake acara bolos segala," elak Ishan yang entah di dengar Lintang atau tidak.
Sudah dua puluh menit lamanya Lintang di kamar mandi. Hal itu membuat Ishan terlalu lama menunggu.
"Tang! Kamu ngapain sih? Lama banget di kamar mandi. Kamu baik-baik saja, 'kan? seru Ishan yang mulai khawatir.
Tak ada jawaban dari Lintang hingga membuat Ishan bergerak ke arah pintu kamar mandi. Ia membungkuk untuk melihat dari ceruk kunci pintu.
Ceklek!
"Oops ...."
Ishan terkejut kala tiba-tiba Lintang membuka pintunya.
"Ngapain di situ? Dasar cabul! Matamu belum pernah dicolok malaikat maut, ya?!" tutur Lintang memergoki Ishan yang dalam posisi mencalang.
"Aku hanya khawatir, karena dari tadi kamu nggak keluar-keluar!" dalihnya membela diri.
"Cih! Alasan klasik!"
"Lagian kenapa juga kamu berlama-lama di kamar mandi?"
"Ya, mandilah! Kamu tahu! Gara-gara kamu, aku berlari seperti orang gila! Kalau bukan karena aku sedang butuh uang, aku akan pergi dari perusahaan ini! Dasar brengsek!" balas Lintang yang berjalan menuju meja kerjanya.
"Cieee ... curcol ni yee ...," goda Ishan menikmati kekesalan Lintang.
Bruk!
Ishan menyuguhkan setumpuk berkas di hadapan Lintang.
"Nih! Nikmati pekerjaanmu. Sekarang aku mau keluar dulu, ya? Aku ada pertemuan penting," ujarnya yang kemudian berlalu pergi.
"Tiga hari nggak masuk kerja, pekerjaan udah segunung aja," keluhnya.
Tik ... tok ... tik ... tok ....
Tak terasa hari sudah gelap. Namun Ishan belum juga kembali. Satu persatu para karyawan meninggalkan kantor.
Namun di meja Lintang masih tersisa seperempat berkas yang bertumpuk.
Awalnya ia berniat untuk melanjutkannya besok, namun karena besok pagi adalah hari libur, ia lantas memutuskan untuk lembur.
"Ah ... bos sialan! Menyiksa bawahan dengan setumpuk berkas! Haduh ... apa kabar dengan rumah baruku ...," keluhnya sejenak menyandarkan tubuhnya pada senderan kursinya. Ia memandang lelah tumpukan berkas di mejanya.
"Nih kopi."
Ishan tiba-tiba datang dengan secangkir kopi untuknya.
"Aku dengar semua gerundelanmu lho. Lagian, sudah untung kamu nggak ku pecat."
"Justru itu yang ku harapkan. 'Kan lumayan ... uang pesangonnya bisa buat modal usaha. Lagi pula aku bosen liat muka cabulmu!" kilah Lintang diakhiri dengan cemoohan.
"Emang mau usaha apa?"
"Apa aja, yang penting menghasilkan uang."
"Oh iya, kudengar tadi kamu menyebut 'rumah baru', kamu beli rumah?"
"Iya, rumah tua di pinggiran kota."
"Kenapa? Emangnya kamu bosan dengan rumah lamamu?"
"Kamu pikir aku anak sultan? Yang beli rumah baru karena bosan! Dasar konyol!"
"Lalu kenapa?"
"Ingin hidup mandiri aja!"
"Oh ... ku kira karena bertengkar sama ibumu, terus kamu kabur dari rumah," tutur Ishan mengutarakan prasangkanya.
"Daripada sibuk ngurusin hidup orang, mending kamu bantuin aku beresin berkas-berkas ini, gih!" pinta Lintang mangkir dari menanggapi sangkaan Ishan yang seratus persen benar.
"Dasar! Kamu sengaja mangkir karena dugaanku benar, 'kan?"
"Berisik! Ini udah jam tujuh, kamu mau aku lembur sampai kapan? Hah!"
"Nginep sekalian juga boleh. Kubayar tiga ratus persen. 'Kan aku bosnya," balas Ishan sesumbar membanggakan kuasanya.
Ishan benar-benar merealisasikan ucapannya. Sampai akhir ia hanya menonton Lintang bekerja secepat yang ia bisa.
Tepat pukul 21.00 mereka bertolak dari kantor.
"Mau kemana Lin?" tanya Ishan ketika Lintang mengambil jalan yang berbeda dengannya.
"Halte bus!" sahutnya tanpa menghentikan langkahnya.
"Hey ... kamu nggak bawa mobil?" tanya Ishan lagi sedikit berteriak karena Lintang yang semakin menjauh.
Namun kali ini, Lintang hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ishan bergegas mengejar Lintang dengan mobilnya.
Ia mengurangi kecepatannya mengiringi langkah kaki Lintang.
"Butuh tumpangan Nona?" tanyanya dari balik jendela mobil yang melaju lambat.
Sejenak Lintang berdiam menghentikan langkahnya, ia nampak berpikir sebelum menjawab.
Tanpa mengiyakan, Lintang berjalan menuju sisi kanan mobil Ishan.
Tepatnya ia langsung naik ke kursi penumpang di samping Ishan.
"Tumben kamu nggak nolak? Apa karena sangking kritisnya kondisi dompetmu?"
"Bukan, tapi aku berniat mengajakmu mampir ke rumah baruku."
"Apa? Yang benar? Kamu beneran minta aku mampir? Malam-malam begini?" rentetan pertanyaan Ishan yang tak percaya dengan ucapan Lintang, tiada memberi jeda untuk Lintang menjawabnya.
"Kenapa? Nggak mau? Ya ... L nggak apa-apa sih."
"Apa aku mengatakan 'tidak'? Aku hanya memastikan jika ucapanmu tadi bukan halusinasi telingaku," jawabnya.
Setelah dua puluh menit perjalanan keduanya sampai di rumah dengan gerbang yang lumayan tinggi.
"Stop! Stop! Berhenti di sini. Itu rumahku," ucap Lintang seraya menunjukkan rumah barunya.
Nampak dari dalam mobil sebuah pintu gerbang yang unik dan bergaya klasik dengan simbol burung hantu di antara ke-dua sisinya.

Komentar Buku (334)

  • avatar
    Nana

    baru pertama mbaca smoga di balik cerita ada keberkahan

    14/04/2025

      0
  • avatar
    FfAkun

    ceritanyaa sangatt baguss

    17/03/2025

      0
  • avatar
    RonaldRonald

    congrats

    16/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru