logo text

Narasi 10

Suara derap langkah kaki memenuhi lobi, suasana kantor tak ramai karena ia berada di lantai khusus ruang rapat. Dengan rasa percaya diri maksimal Dzaki memasuki ruang rapat di lantai tiga gedung kantornya.
"Jekiii, kamu ganteng banget!!" seru Okta kalau melihat Dzaki di pintu masuk.
Dzaki menepuk dadanya dengan salah satu tangannya, "gue kapan sih gak ganteng, Ta."
Okta memutar bola matanya.
"Hehe, si bos belum dateng?" tanya Dzaki sambil menaruh berkas di atas meja.
"Belum, rapat juga masih setengah jam lagi. Lo aja yang awal banget datenganya."
Dzaki cengengesan saja menanggapi ucapan Okta. Dzaki menarik salah satu kursi untuk ia duduki, menggerakkan kursi dan bersiul. Sedangkan Okta sibuk menyiapkan berkas untuk rapat.
"Ahelah, excited banget sih lo. Kayak dapet cewek baru aja lo."
Dzaki tertawa ringan –by the way, dia murah tawa banget,"Lo tau sendiri gimana gue sangat kagum karya Mas Duta. Semua lagunya nyaris hapal."
Okta menganggukkan kepalanya hiperbolis, "percaya banget gue, dari jaman kuliah lo selalu nyanyi lagu-lagu dari Sheila On 7 sampe hafal gue tanpa dengerin lagunya."
"Intinya nanti kalo bos dateng dan dengerin presentasi gue lo harus muji gue terus pepet bos biar desain gue di approve ya, Ta."
Okta mendekati Dzaki dan memijat kedua bahunya, "siap, Pangeran. Kalo si bos, Mas Duta, sama anak sulungnya setuju sama desain lo. Harus traktir gue di PhD tiga hari berturut-turut ya!!"
"Hah!? Mas Duta sama anaknya bakal dateng!?"
Okta mengangguk singkat, "emang gue belum kasih tau lo ya?"
Dzaki berdiri dan memeluk Okta erat, "Oh Tuhan, Okta. Gue seneng banget! Gue harus ambil kertas kosong buat minta tanda tangan, pasti Diandra bakal seneng dapet tanda tangan dia."
"Hahaha, gue ambilin kertas HVS deh satu lusin kalo perlu buat lo." Okta melepas pelukan Dzaki.
Seseorang mengetuk pintu menginterupsi kegiatan Dzaki dan Okta. Keduanya menoleh pada asal suara.
"Hai."
Kepala Okta penuh dengan tanda tanya melihat eksistensinya, "lo ngapain dah disini? Bukannya lo ada janji temu klien?"
Ia mengangguk, "iya disini gue bakal ketemu klien," katanya sembari memasuki ruang rapat, mendekati Dzaki dan bersalaman ala-ala cowo.
"Lah, ngapain dah lo disini, Den?"
Henrico, Direktur Farmasi Arsitek AcorP memasuki ruangan yang disusul Duta dan anak sulungnya.
"Eh, saya belum bilang kamu ya, Jek. Raden juga ikut buat ambil proyek ini. Jadi, presentasikan sebaik mungkin hasil kamu." Henrico menepuk bahu Dzaki dua kali. "Semalem Raden telfon saya buat berpartisipasi di proyek ini."
Okta menatap Raden dengan raut wajah tidak percaya.
Sedangkan Dzaki menatap Raden dengan raut wajah yang sukar dijabarkan. Ada rasa marah, merasa dikhianati, dan kecewa.
Raden dan ambisinya.
Dzaki menarik nafas panjang karena ia sudah tau bagaimana hasil rapat ini, Dzaki menggeleng tidak percaya.
Dzaki melihat Raden yang sudah duduk di depannya, ada rasa untuk menghajarnya sekarang. Namun, ia memilih duduk dan mengambil ponselnya.
Dzaki Putra
Den, gue tau lo ambis dalam segala hal, but i told you, your ambition never make you happy.
.baekharuu.
Dzaki membanting garpu dan sendoknya di atas meja. Okta yang berada di sebelahnya menarik kemeja Dzaki. "Jak, jangan ribut, please."
"Lo liat kelakuan si anjing, kan!? Emang sahabat bangsat gitu lakunya. Mau dibenerin kaya apa, bangsat tetep bangsat."
"Jaki, udah... udah... lo ngebacot di rumah makan pake suara keras banget! Malu gue!"
Dzaki tak menanggapi ucapan Okta, ia menggelengkan kepalanya. "gue samperin aja kali ke ruangan dia ya, Ta, biar gue tonjok sampe mampus."
Okta sontak menggeleng dengan keras, "ngaco lo! Gak inget apa lo!? Pas kita kuliah lo bilang mau kasih pelajaran ke Raden karena nyakitin Diandra, tapi lo bikin dia babak belur."
"Emang pantes dia digebukin sampe mampus, Ta!"
"Udah, udah... Lo tuh lagi emosi mending abisin makanan lo terus kita ke kantor ngomong langsung sama orangnya."
"...."
"Jangan diem aja, Jek, gue serem... Gimana pun si Raden temen kita, Raden masih manusia buat diajak ngobrol."
Dzaki tertawa mengejek. "Sejak kapan si Raden jadi manusia?"
"Makin ngawur lo! Gak waras!"
"Dih, udah mulai nerima cinta si Bangsat apa gimana?"
Okta mendesah kehilangan kesabaran karena tingkah Dzaki yang makin absurd karena emosi. "Gak asik lo!" Okta memukul tangan Dzaki dengan sendoknya yang kotor. "Gue cintanya cuma sama Adimas, Bego! Buat gue Raden kedudukannya sama kaya lo, temen sekaligus tekan kerja gak lebih."
Dzaki mencibir.
Okta mendekat dan membisikkan kalimat di telinga Dzaki, "for your information, gue sama Adimas bakal tunangan!!" ujarnya dengan wajah berseri hingga kedua pipinya yang gembul menggembung ke atas.
"Lo hamil duluan!?"
Okta memukul spontan, tak memperdulikan sendoknya yang masih ada saus siomay, "bacot lo kudu di ruqyah!!"
Dzaki tertawa terbahak-bahak, namun sedetik setelahnya wajahnya kembali bengis. "Lo berusaha ngalihin topik ya!!"
Oke, percobaan Okta gagal. Tidak masalah.
Dzaki meraih salah satu tangan Okta, "Ta, dengerin... Mungkin kesalahan-kesalahan dia di masa lalu masih gue tolerir, tapi sekarang gue bakal gak maafin dia kecuali dia ngomong maaf secara langsung ke gue." Kedua mata Dzaki terlihat penuh dengan emosi dan rasa marah yang menyeruak dalam dadanya, "kalo gak... sampe kapanpun gue gak akan maafin dia, udah cukup gue mentolerir semua kesalahan dia. Gue muak."
Seketika rasa merinding menyelimuti leher Okta. Okta meraih tangan Dzaki yang tengah memegang lengannya. "Sekarang habisin semua makanan lo dan kita ketemu Raden. Jangan putuskan apapun dalam keadaan emosi, apalagi emosi negatif, Oke?"
"Ta, tapi di-,"
"Gak ada, Jek, abisin makanan lo. Dikira elo doang apa yang bisa marah!?"
Dzaki menghembuskan nafas keras dan melanjutkan makan siangnya.
Hingga kelebatan di masa lalu saat ia duduk di bangku kuliah datang menerpa.
"Jek, gue ke kosan lo. Lo harus dikos!"
"Dih, apaan sih lo!?" jawab Dzaki sewot saat menerima panggilan dari Raden.
"Jek, bokap gue mukulin gue lagi."
"Heh, seriusan? Gara-gara IP lo turun enol koma lima!?Atau kebanyakan jalan sama cewek!?"
Raden mendengus, "emang apalagi yang bikin dia marah. Bangsat, ini bibir gue robek."
"Beruntung lo pasangan homo gue, padahal gue baru ketemu cewe kenalan Okta," suara deritan kursi terdengar dari ponsel Raden, "gue jemput lo sekarang, di seberang rumah tapi."
Dan tak ada jawaban dari Raden, yang Dzaki dengar suara tendangan yang cukup keras seperti suara kaki yang tengah menendang pintu, meja, kursi atau semacamnya Dzaki tak paham lalu sambungan terputus.
Dzaki meraup udara sebanyak-banyaknya melalui hidung dan mulutnya ketika mengingat dimana Raden akan mendapatkan pukulan dari ayahnya karena hal sepele –menurut Dzaki, karena nilai yang menurun, Raden yang tak sesuai standar masyarakat atau Raden yang terlalu banyak waktu bermain dan berkencan ketimbang belajar.
"Kenapa, Jek?"
Suara nafas menderu dari bibir Dzaki, "Den, gue butuh lo. Tugas Pak Ridwan belum kelar, belum lagi tugas maket dari Pak Yoga masih kurang tigapuluh persen."
"Terus?"
Suara decakan menyapa telinga Raden, "bantu gue lah, goblok! Ini adik babi gue buat ulah, dia abis berantem sama mantan cewenya."
"Itu masalah lo."
"GUE TAU, DAN INI GUE MINTA TOLONG ELO!!"
"KALO MINTA TOLONG YANG SOPAN! LO MAU GUE NGERJAIN TUGAS LO HAH!?"
"..."
"Mending gue kerjain tugas gue sendiri, gue belum kelar tugas maketnya."
Sambungan terputus.
Dzaki melihat layar hapenya tak percaya, Raden mengabaikannya lagi. Ini bukan pertama kalinya ia diabaikan olehnya, rasa sakit hati selalu hadir. Dimana rasa balas budinya saat ia selalu menolong Raden?
Dzaki tertawa tanpa suara. Harga diri Raden mudah terluka, oke, tapi Dzaki malah membentaknya karena ia tengah emosi.
Dzaki menghela nafas panjang mencoba tak mengambil hati sikap Raden, ini bukan pertama kali seharusnya sudah terbiasa.
Dzaki melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lebih baik ia tidur daripada memikirkan sikap Raden atau memikirkan tugasnya atau memikirkan adiknya.
.baekharuu.
Raden berdiri dari duduknya kala melihat Dzaki memasuki ruangannya, "Jek, gue pesenin Chatime kesukaan lo."
Dzaki melirik dengan malas lalu mengambil minumannya dari tangan Raden.
Okta menyusul di belakang Dzaki dengan membawa beberapa berkas.
Raden mengamati Dzaki dengan tatapan sebal, "iya, sama-sama." sedangkan Dzaki tak menatap Raden barang sedikit, ia memilih memandang luar jendela.
Okta berdeham, "oke, Den, kedatangan gue sama Jaki kesini buat klarifikasi keadaan." Okta menaruh berkas di atas meja Raden.
Raden menatap Okta lama dan Okta hanya tersenyum canggung karena diamati sebegitu intensnya. Okta menggaruk kepalanya, "Den, ngomong," ucap Okta lirih pada Raden yang masih tak kunjung mengeluarkan suara.
Raden mengamati pergerakan bibir Okta, mendekatinya dan mengusap kepalanya. "Ya, I will do for you."
Dzaki? Muak gila dengerin omongan Raden.
"Jek." panggil Raden sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Dzaki menggumam.
"Lo kaya pasangan gue yang lagi berantem."
Sungguh, Dzaki tidak ada niat barang sedikit untuk bercanda. Jika bukan saran dari Okta ia sudah benar-benar menghajarnya karena melihat wajahnya.
"Coba deh lo sebutin dimana salah gue? Karena gue gak bilang sama lo kalo gue ambil proyek ini?"
"..."
"Gue udah coba profesional loh, gue buat desain dan proposal sama kaya lo. Gue juga sportif banget, gak ambil jalan tikus," ujar Raden dengan kepala mendongak.
"Den, perlu banget gue jabarin semua salah lo!?"
Raden menggedik bahu, "gak usah kaya bocah deh, Jek, kita udah sama-sama dewasa jangan childish."
Tangan kiri Dzaki mengepal erat. Ya Tuhan, mulut Raden minta banget baku hantam.
"Jangan diem aja. Diemnya lo itu memperkeruh suasana," lanjut Raden sembari terkekeh lirih lalu menggelengkan kepala.
"Raden, say it." Okta mencoba menengahi, emosi Dzaki masih belum stabil. Dalam hatinya ia merutuki mempertemukan Raden dan Dzaki pasca rapat tadi pagi.
Sebelum Okta mempertemukan keduanya, ia sudah mengatakan pada Raden untuk meminta maaf pada Dzaki.
Keras kepala dan harga diri Raden sangat melambung jauh tinggi. Bahkan, Okta yang notabenenya orang yang disukainya tetap tidak bisa membuat Raden luluh.
"Say what, baby?" tanya Raden.
Okta menahan nafas. Hal yang paling Okta tidak suka ialah ketika Raden menggunakan suara lembut dan manis padanya. Ya Tuhan, semesta bahkan mengetahui jika Raden menyukainya.
"Den, susah ya buat orang kepala batu kaya lo," Dzaki bersuara melihat Okta sangat tidak nyaman dengan sikap Raden.
Raden berbalik dan memandang Dzaki yang tak jauh dirinya.
"Susah banget ya bacot lo buat minta maaf?" suara Dzaki mulai menantang, ia menaruh gelas Chatimenya dan mendekati Raden.
"Harga diri lo." tangan telunjuk Dzaki menyentuh dada Raden, "sifat keras kepala lo." jari telunjuk Dzaki mulai menekan, "dan sifat ambisius lo."
"...."
"Bikin gue pengen tonjok lo sampe sadar dimana posisi lo."
Raden menyingkirkan tangan Dzaki yang masih ada pada dadanya. "Dzaki, lo yang harusnya sadar sama posisi lo." Raden memutar kepalanya seolah ia sudah siap untuk meninju wajah Dzaki. "Posisi lo selalu berada dibawah gue," sambungnya dengan congak, ibu jarinya ia arahkan kebawah tepat di depan mata Dzaki.
Dada Dzaki mulai naik terus meski dalam tempo lambat.
"Lo itu.... Pecun-," ucapan Raden bahkan tak rampung karena kepalan tangan Dzaki telah mendarat pada wajahnya.
"Harusnya gue dulu biarin lo mati di tangan bokap lo, bukannya gue bantuin lo lari!" kepalan tangan Dzaki sudah pada wajah Raden lagi tanpa sempat Raden balas.
Dzaki berdiri tegak mengamati ujung bibir Raden yang mengeluarkan darah.
Okta sudah meninggalkan tempat dimana ia sebelumnya, ia tahu tak bisa meleraikan keduanya. Jadi, ia memilih mencari bantuan orang yang masih ada di dalam kantor atau security kantor.
Raden berdiri mengusap ujung bibirnya dan tertawa. "Bangsat, pukulan lo masih lumayan kaya dulu."
"Den, lo pikir Kalya beneran mau sama lo!? Atau lo pikir Okta bakal bales perasaan lo?" Dzaki tertawa keras lalu menunjuk kepalanya, "only in your dream!! because you're a psycho! you just get them because you just need recognition, you're a bastard!"
"Udah bacotnya?"
Dzaki menggeleng dan tertawa sumbang, "lo tau apa yang menggelikan dalam diri lo? Lo payah di depan bokap lo."
Kemarahan Raden memuncak pesat, samaki Dzaki tak siap untuk mendapatkan rangsangan. "Bangsaaat!!" Kepalan tangan Raden mengenai rahang Dzaki.
Okta memasuki ruangan sambil berteriak nyaring, "Ya Tuhan!! Pak, buruan itu anak dipisah!" perintah Okta pada security.
Dzaki sempat oleng karena pukulan Raden tetapi ia masih bisa berdiri. Raden meraih kerah kemeja Dzaki dan memukulnya tepat di rahang bawah. Dzaki tersungkur di atas lantai lalu tertawa melihat bagaimana harga diri kawannya tergores, kedua matanya diliputi amarah.
Melihat ia diremehkan oleh Dzaki, Raden mendekatinya dan meraih kerah kemeja Dzaki lagi.
Meski dua security melerai dengan susah payah, keduanya akhirnya dapat dipisahkan. Okta menarik nafas lega.
"Kalian berdua dari jaman jahiliyah kalo nyelesein masalah ga pernah beres tapi udah berantem dulu!!"
Raden menatap nyalang Dzaki, jika saja security dan rekan kerjanya tak memegangnya ia sudah babak belur di tangannya.
Raden memberontak meminta dilepas, "Jek, lo bukan tandingan gue. Wajah lo bahkan lebih babak belur dari gue."
"Raden udah gak usah mulai lagi!!" perintah Okta namun tak dihiraukan oleh Raden.
"Remember, your ambition never make you happy. Never ever."
Raden mendengus dan ke luar ruangan, tepat di daun pintu Raden menghentikan langkahnya, "Ta, ayo ikut gue."
Okta menggeleng tanpa sadar, "kayak yang lo ngomong muka Dzaki lebih babak belur dari lo, gue disini aja bareng Jek."
Dzaki menatap Raden di daun pintu, "you're a loser," ujarnya tanpa suara pada Raden dan smirk sialan Dzaki membuat Raden menggeram.
Raden keluar ruangan.
Dzaki berdiri dari tegak, ia mengelap bibirnya yang terdapat bercak darah bahkan pelipisnya juga sobek.
Okta mendekat, "lo kenapa diem aja dipukul gini sih! Ini pertama kali lo kalah sama Raden."
"Gue sengaja, Ta."
"Maksud lo apa si."
"Gue sengaja buat harga dirinya terluka."

Komentar Buku (4)

  • avatar
    Rayyan Qiqi

    ini sangat bagus

    19/04/2025

      0
  • avatar
    KeysaAmalia

    sangat baguss

    16/02/2022

      0
  • avatar
    Ferry Septiardy

    mantul

    25/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru