logo text

Bab 5 NATHAN DAN SESUATU YANG MENGGANGGU

“Iya.”
Kala menjawab sambil berdiri dari bangku kayu dekat pintu toko fotokopi. Rok abu-abunya sedikit kusut karena duduk terlalu lama, sementara ujung rambut pendeknya masih lembap kena hujan. Arven yang berdiri beberapa langkah dari sana mendadak merasa suasana sore itu berubah aneh.
Cowok bernama Nathan itu berdiri di depan Kala sambil melepas helm hitamnya. Wajahnya terlalu bersih untuk ukuran manusia normal. Bahkan setelah kehujanan pun dia masih kelihatan rapi.
Dan yang paling menyebalkan, cara dia melihat Kala terasa hangat sekali.
“Temen sekelas aku,” kata Kala santai sambil menunjuk Arven. “Namanya Arven.”
Nathan mengangguk kecil.
“Hai.”
“Arven,” jawab cowok itu singkat.
Hujan masih turun tipis di luar toko. Suara kendaraan lewat bercampur dengan aroma aspal basah dan kopi sachet dari warung sebelah. Beberapa anak sekolah masih berteduh sambil sibuk sendiri, tapi entah kenapa Arven merasa tempat itu mendadak sempit.
“Aku tadi udah bilang nggak usah dijemput,” kata Kala sambil menatap Nathan.
Nathan tertawa kecil.
“Iya, tapi tante nelepon panik karena hujan deras.”
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Aku tau,” jawab Nathan lembut. “Tapi aku tetap nggak tenang kalau kamu pulang sendirian hujan begini.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi sukses bikin Arven mendadak diam.
Kala mendengus kecil sambil membuang muka, meski sudut bibirnya naik sedikit seperti sedang menahan senyum.
“Lebay.”
Nathan malah tertawa lagi.
“Kamu tuh keras kepala banget ya.”
“Biar seru.”
“Nanti kalau sakit siapa yang repot?”
Kala langsung menunjuk dirinya sendiri. “Aku.”
“Aku juga.”
Dan entah kenapa dada Arven terasa makin nggak nyaman.
Sialnya lagi, Nathan bukan tipe cowok yang sok romantis sampai bikin enek. Cara bicaranya biasa aja. Tenang. Tapi justru itu yang bikin semuanya terdengar tulus.
Nathan akhirnya menoleh ke Arven.
“Rumah lo jauh?”
“Lumayan.”
“Naik apa?”
“Angkot.”
Nathan mengangguk kecil sambil melihat hujan di luar.
“Hujan begini biasanya susah dapet.”
“Aman kok.”
Kala tiba-tiba ikut nimbrung sambil nyengir kecil.
“Iya, dia kuat. Dompet ilang dua kali aja masih bertahan hidup.”
Arven langsung mendelik.
“Lo tuh nggak bisa banget ya jaga image orang.”
Kala malah tertawa puas.
Nathan terlihat menahan senyum.
“Dompet ilang dua kali?” tanyanya sambil menatap Kala.
“Ceroboh banget dia,” jawab Kala tanpa dosa. “Kemarin jatuh di angkot, terus ketinggalan lagi di kantin.”
“Parah sih,” komentar Nathan sambil ketawa kecil.
Arven menghela napas panjang.
“Harga diri gue habis di tangan lo.”
“Belum habis,” jawab Kala santai. “Masih sisa dikit.”
Nathan sampai geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Dan Arven mulai sadar satu hal yang bikin dirinya sendiri kesal.
Dia cemburu.
Bahkan mungkin lebih cepat dari yang seharusnya.
Nathan mengambil helm satu lagi dari motornya lalu berdiri di depan Kala.
“Nih pake dulu.”
“Aku bisa sendiri.”
“Iya, tapi talinya suka kebalik terus.”
Kala mendecak pelan, tapi tetap diam waktu Nathan memasangkan helm itu ke kepalanya. Cowok itu merapikan poni Kala yang sedikit nyangkut di tali helm dengan gerakan terbiasa.
“Udah.”
Kala menatap Nathan beberapa detik.
“Kamu tuh cerewet.”
“Kalau soal kamu, iya.”
Setelah itu, Nathan memberikan jaket anti hujan ke Kala sambil membantu memakainya. Dan selesai sudah.
Arven resmi ingin menghilang ke got depan toko fotokopi.
“Eh.”
Kala tiba-tiba menoleh ke Arven lagi.
“Hm?”
“Dompet lo aman kan sekarang?”
Arven refleks memegang saku belakang celananya.
“Aman.”
“Coba cek dulu.”
“Ya nggak mungkin ilang lagi.”
“Siapa tau.”
Dengan malas Arven membuka dompetnya sebentar.
Kala langsung ketawa menang.
“Nah kan masih ada.”
“Puas banget ngetawain gue ya.”
“Lumayan.”
Nathan ikut tersenyum kecil sambil melihat tingkah mereka.
Dan entah kenapa, senyum itu malah terasa seperti kemenangan kecil yang nggak kelihatan.
“Udah yuk pulang,” katanya lembut ke Kala. “Makin malam nanti.”
Kala mengangguk kecil lalu kembali menatap Arven.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
“Jangan ngelamun.”
“Lo cerewet juga ternyata.”
Kala nyengir kecil sebelum akhirnya naik ke motor Nathan.
Arven berdiri diam sambil melihat motor itu perlahan menjauh di tengah jalan basah yang memantulkan cahaya lampu sore.
Sampai suara abang fotokopi terdengar dari belakang.
“Dek.”
Arven menoleh.
“Itu pacarnya ya?”
“Hah?” Arven langsung reflek.
Abang itu menunjuk arah motor Nathan dan Kala yang makin jauh.
“Cocok sih.”
Arven mendadak diam.
Dan anehnya, kalimat sederhana itu sukses bikin mood-nya berantakan sampai malam.
---
Hujan turun lagi setelah magrib.
Arven rebahan di kasur sambil menatap kipas angin tua di langit-langit kamarnya. Buku fisika terbuka di samping bantal sejak satu jam lalu, tapi nggak ada satu pun yang masuk ke kepala.
Isi pikirannya malah penuh Kala.
Cara cewek itu ketawa.
Cara dia ngomel.
Dan cara Nathan memandang Kala tadi sore.
Arven menutup muka pakai bantal.
“Kenapa jadi kepikiran terus sih…”
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Satu pesan masuk dari nomor baru.
Unknown: Ini Kala.
Arven langsung duduk tegak.
Jantungnya berdetak lebih cepat cuma gara-gara satu nama.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
Unknown: Dompet lo masih aman?
Arven spontan senyum sendiri.
Tapi sebelum dia sempat membalas, satu pesan lagi muncul.
Unknown: Btw… Nathan bilang kamu lucu kalau lagi cemburu 😄

Komentar Buku (5)

  • avatar
    Ripuh4ram

    bagus

    26/06

      0
  • avatar
    FidausyahMmh

    ajaib keeren

    22/05

      0
  • avatar
    TajaiRaslindiang

    Good and Nicee story

    19/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru