logo text

80 Hari Lagi II

Ternyata hari ini Hana dan Caca tidak bisa ikut karena mereka ada jadwal ke salon. Hanya Gina saja yang tetap semangat untuk mengikuti 'acara'- ku bersama Rio. Aku khawatir Kalau Gina betul-betul suka dengan Rio. Mudah-mudahan sih, dia nanti cepat bosan, sama seperti waktu dulu dia mengejar Mas Edwin yang sudah punya anak dan istri. Mengejar Romi, manajernya sendiri yang akhirnya mengundurkan diri. Mengejar Cinta Doni, si tukang roti langganan kompleks, dan lain sebagainya. Pokoknya jatuh cintanya Gina selalu nggak lazim. Pantas deh kalau dia masih jadi jomblowati abadi.
Ya, Tidak ada salahnya mungkin berdoa agar Rio cepat khilaf, sehingga suka juga sama Gina. Dan mau segera menikahi Gina adik angkat ku itu. Aku sedang sibuk memilih milih gelas kembar di departemen store ketika membayangkan Gina pada akhirnya akan memakai jilbab dan mulai ikut kebiasaan Rio dan Tiara yang sedikit-sedikit ceramah.
"Mbak memang hobi ketawa sendiri, ya?" suara rio membuyarkan Imajinasiku. Aku tergeragap dan bergegas meletakkan gelas di tanganku kembali ke raknya. Nyari saja Gelas itu pecah karena aku kaget ditegur Rio. Pecah berarti membeli. Enak saja, aku belum menemukan gelas cinta yang cocok untuk aku dan Oliver.
Pasti mesra kalau setiap bangun tidur aku dan Oliver selalu minum air putih dari gelas yang kembar. Kemudian menyesap kopi pelan-pelan dari gelas yang kembar pula sambil menikmati matahari pagi di rumah kami nanti. Aku sengaja mengabaikan Rio dan memilih untuk mencari gelas lain yang aku sukai. Hmm... sepasang gelas berbentuk separuh hati. Lucu juga.
"Waktu di lift juga Mbak Risol tertawa sendirian. Jadi kupikir itu hobi," lanjut Rio.
Aku berhenti memilih, dan menatap Rio heran. Sebenarnya dia sedang melucu nggak, sih? Harus ketawa nggak, sih?
"Jangan dipikirin, Kak Rio... Mbak Risol emang aneh. Hobinya aneh. Mulai dari ngupil sebelum tidur sampai selalu pakai piyama terbalik sebelum tidur." Gina meletakkan dua gelas lucu berbentuk hati yang tadi mau aku pilih ke kereta belanjaan yang didorong oleh Rio.
Aku menyipitkan mata menatap Gina. Kemudian menunjukkan dua jari ku ke matanya lalu ke mataku. Gina tertawa karena dia berhasil mempermalukan aku. Malu? nggak, tuh... Di depan Rio? Buat apa di rahasiakan. Toh, dia bukan siapa-siapa. Aku melirik Rio lalu menghitung mundur... Tiga, dua, satu....
"Gina, Allah saja menutup aib kita loh. Masa kamu tega membuka aib kakak kamu di depan saya, sih?"
Tuh kan, pasti ceramah. Aku hanya terkikik dalam hati saat melihat ekspresi Gina yang tampak keki. Mendadak aku jadi memikirkan Oliver. Yang pasti aku bakal malu kalau Gina mengatakan hal itu di depan Oliver. Karena.... karena... duh, kok ada yang mengganjal di hatiku, ya?" Bagaimana kalau Oliver tahu kebiasaanku mengupil sebelum tidur dan memakai piyama terbalik?
Kenapa aku sedikit kuatir membayangkan wajah menjijikannya, ya? Aku nggak pernah mengupil di depan dia. Sungguh. Tapi... tapi bagaimana jika nanti kamu sudah menikah? Oh.... ayolah, Risol... itu hal sepele yang masih bisa dibicarakan. Atau mungkin diubah. Baiklah, soal mengupil akan aku ubah.
"Kak, udah belum milih gelasnya?" tanya Gina.
"Eh, tunggu dulu, Gina. Itu gelas yang kamu pilih buat aku, kan?"
"Enak aja, itu buat Gina. Nanti buat seserahan nikah sama kak Rio. Iya kan, Kak?" Gina mengerling ke arah Rio. Muka Rio langsung seperti orang mau muntah. Pucat banget dan bengong.Dia pasti sedang menyusun kalimat penolakan yang tepat tanpa harus melukai perasaan Gina. Lucu banget lihat wajahnya, tapi akhirnya Rio melengos dan pergi ke lorong berisi
sabun-sabun.
Ah, iya... Aku membutuhkan lulur. Tiara bilang, selain perawatan salon, aku juga harus perawatan lulur sendiri. Hm... Kalau soal luluransih, sudah menjadi kebiasaanku Tapi Tiara bilang Harus dua kali lipat lulurannya supaya body super kinclong dan aura penggantinya keluar cerah. Aku buru-buru mengambil satu pasang mug yang sama seperti yang dibeli Gina kemudian mengejar Gina dan Rio ke lorong sabun dan kecantikan.
Saat mengambil satu kotak lulur tiba-tiba aku teringat dengan kebiasaan luluranku. Aku selalu luluran selama setengah jam dan harus membela diri selama setengah jam selanjutnya. Sedangkan Oliver? Yang aku tahu dia bukan orang yang suka mandi. Meski begitu, dia tetap selalu ganteng.
Apa Oliver akan menerima kebiasaan mandiku yang lama itu? Terus... Oh ya ampun. Tompel! Tompel! Aku punya tompel kecil di pinggangku. Aduh... Apa aku harus operasi tompel dulu, ya? Aku takut Oliver tidak mau menerima kehadiran tompel itu. Ya Allah, kenapa aku jadi gelisah.
"Mbak Risol? Sudah selesai belum? Kita masih harus ke counter sepatu, kan?" Rio melambaikan tangan di depan mataku. Aku mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum akhirnya sadar bahwa Gina juga ada di sebelah Rio.
Lulur... Body lotion, sabun muka, lalu... aku blank mau beli apa lagi, ya? Akhirnya aku mengambil banyak barang yang tidak masuk dalam list seserahan. Kamper, deterjen, pewangi pakaian, sampo, pasta gigi, dan aku membelinya dalam jumlah banyak.
"Banyak banget, Mbak."
"Persiapan untuk berumah tangga," kataku cepat sebelum aku berubah pikiran. Rio membantuku mendorong troli dengan santai.
Aku memperhatikan dia seperti tidak ada beban diperlakukan seperti 'pelayan' begitu. Tapi aku juga tidak mau keterlaluan, jadi aku menawarkan diri untuk mendorong troli dan Rio menolak dengan halus. Dia tak ingin merepotkan perempuan katanya. Wah, ada juga sisi diri Rio yang aku sukai. Dia mau membantu dengan tanpa pamrih. Hm... meskipun dia mendapatkan gaji tambahan dari Oliver, sih.
Gina membeli keperluan sehari-hari. Kemudian kami memilih milih makeup sementara Rio membayar belanjaanku ke kasir dengan sisa uang cash yang aku punya. Antrean di kasir panjang sekali, dan dengan lembut Rio menyuruh kami untuk pergi ke tempat lain. Selain dia takut kami kelelahan, dia juga ingin segala sesuatunya efesien. Ya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan masih banyak tempat yang harus kukunjungi.
Di counter makeup saja kami butuh waktu setengah jam lebih mencoba-coba produk yang baru launching. Rio mulai gelisah karena pukul satu siang dia sudah harus ada di kantor untuk meeting dengan manajer Muslim Is You.
Sementara Gina masih asyik mencoba blush on terbaru, aku menghampiri Rio yang berdiri kaku di depan counter. Empat kantong plastik berukuran jumbo diletakkan di samping badannya. Rio tersenyum lega mungkin dia pikir aku sudah selesai membeli makeup. Senyumnya langsung pudar waktu aku katakan bahwa kami masih membutuhkan waktu untuk memilih beberapa produk baru.
"Ya, namanya juga perempuan. Rio. Kalau kamu buru-buru, kamu bisa duluan ke kantor. Nanti belajaan bisa aku bawa pakai troli."
Rio seperti hendak mengatakan sesuatu tapi bingung untuk memulai pembicaraan. Akhirnya Rio mengambil ponsel dari saku kemejanya dan menunjukkan sebuah SMS panjang. Dari Oliver?
Rio, Aku percaya sama kamu. Ini amanah dari aku, aku minta kamu menjaga Risol untuk urusan pernikahan ini. Apapun yang Risol butuhkan kamu harus ikuti. Antar Risol sampai aman di kantor atau rumahnya. Aku tidak mau melihat Risol sedih lagi karena ditipu orang. Aku tidak mau melihat dia kena musibah lagi karena persiapan pernikahan kami, apapun bentuk musibah itu. Aku harap kamu paham, Rio. I love her so much. Aku sangat mengkhawatirkan dia.
Layar ponsel redup. Rio memasukkan ponsel kembali ke saku kemeja lalu menatapku seolah sedang menunggu respon dariku. Aku menggaruk telinga sambil mengangguk kecil. Apakah aku harus menjerit di depan Rio dan melompat kegirangan setelah mengetahui bahwa Oliver benar-benar mencintaiku. Tapi sebagai perempuan dewasa aku tak akan melakukan hal itu. Aku hanya berbalik badan, bersenandung kecil sambil berjalan dengan membuat Irama dengan sepatu high heels-ku. Oliver sangat mencintaiku. Ya Allah, aku nggak salah pilih suami kan?
Kalau kami menikah dia pasti akan more-more menyayangiku. Sepanjang sisa hari itu aku habiskan dengan senyum terus menerus. Rasanya berbeda kalau kita mengetahui dari orang lain bahwa sang kekasih mencintai kita. Beda banget sensasinya saat Oliver mengatakannya sendiri. Itu berarti Oliver mengumumkan kepada semua orang bahwa dia sungguh-sungguh mencintaiku.
Selesai berbelanja seabrek alat makeup, aku dan Gina ke bingung karena tak mendapati Rio di tempatnya. Meski ini cukup menyusahkan, tapi aku tetap tersenyum karena ingat SMS Oliver kepada Rio. Gina mendesak aku agar mencarinya tapi perasaanku mengatakan supaya kami tetap diam ditempat. Benar saja, beberapa menit kemudian Rio datang dengan ke empat kantong belanjaan yang sama gemuknya.
"Sorry, tadi saya shalat jumat dulu di masjid yanga da diseberang mal. Saya kira kalian masih lama. Mau saya bantu bawakan belanjaannya?" Rio mengulurkan tangannya untuk mengambil dua kantong plastik dari tanganku.
"Enggak usah, kita kan mau langsung pulang," tukasku. Dia pasti lelah membawa empat kantong belanjaan itu keluar Mal. Kemudian menyeberangi jembatan penyeberangan yang sangat jauh agar bisa ikut shalat Jumat. Aku tahu ini adalah bagian dari pekerjaannya sebagai karyawan Oliver, tapi aku tidak boleh semena-mena, kan?
"Loh? Kalian nggak shalat dzuhur dulu? Shalat tepat waktu lebih enak, loh."
Sebenarnya aku agak malas salat dzuhur di mal, lagi pula aku tidak bawa mukena. Tapi Gina sudah menarik tanganku dengan kasar.
"Sepertinya enak shalat tepat waktu. Nanti mukanya bercahaya dan ganteng kayak kak Rio, eh, jadi cantik ding." Suara Gina terdengar manja dan dibuat-buat.
Aku melirik Rio, dia memalingkan pandangannya ke lantai bawah. Menatap orang-orang yang hilir mudik di lobi mal. Kulihat pipinya memerah. Baru kusadari kalau Rio punya kulit yang
putih, sama seperti kulit Oliver. Sama-sama bersih dari jerawat dan hidung yang mancung. Aah.... Jadi kangen Oliver. Tiba-tiba saja Rio menatapku, mata kami bertautan untuk beberapa detik. loh? Jadi malu, semoga dia tidak berpikir macam-macam. Gina terus menarikku untuk shalat. Akhirnya aku menitipkan belanjaan kepada Rio dan pergi ke mushala mal.
Karena pernah beberapa kali pergi ke mall ini bersama Tiara, sudah pasti aku tahu di mana letak mushalanya. Tapi begitu sudah hilang dari jarak pandang Rio, Gina langsung meluncur ke toko pernak-pernik.
"Gin, ayo shalat. Mushalanya di ujung sana," aku menarik tangan Gina yang sudah meraih sebuah kalung etnik dri ukiran kayu.
"Aduh, Mbak Risol mau shalat beneran?" tanya Gina polos.
Ambilkan aku palu dan akan aku getok kepalanya."Iya dong, Gina. Masa kamu mau bohongin Rio, sih?" aku mengeluarkan taring-taringku. Siap menerkam.
"Enggak apa-apa, Mbak. Rio nggak tahu, kok " adik angkat ku itu terkikik."Yang penting Rio memandang Gina sebagai calon istri shalehah."
"Aku kira kamu hanya bercanda saat bilang naksir sama Rio."
"Enggaklah, Mbak. Rio itu ganteng, cute, lucu, shaleh... Siapa sih yang nggak mau?"
"Aku nggak mau tuh."
"Tapi aku mau...!" seru Gina riang sambil mencoba-coba kalung yang dia pegang.
Bahuku melorot. Dia betulan menyukai Rio? Bahkan sampai pura-pura shalat supaya bisa mendapat simpati Rio. Aku menatap toko pernak-pernik ini. Cukup menggiurkan juga kalau melihat-lihat sekitar sepuluh menit. Siapa tahu ada gelang atau kalung entik yang bisa aku beli untuk seserahan. Saat ku pegang sebuah gelang dari manik-manik, aku baru sadar kalau Allah tidak tidur. Aku bisa bohongi Rio tapi tidak bisa membohongi Allah, kan? Cie... Risol Andini Amelia, tumben lagi lurus!
Sebelum setan menghasutku untuk mengikuti rencana Gina, aku bergegas keluar dari tokoh dan melangkah cepat-cepat ke mushala. Begitu sampai di mushala, terlihat suasana hiruk pikuk para karyawan karyawati yang baru dan akan melaksanakan salat dzuhur. Aku cepat-cepat membuka sepatu dan stockingku, meletakkannya di tempat penitipan sepatu, lalu mengambil wudhu. Wah, segar juga ya. Saat memakai mukena pinjaman dari orang yang baru kukenal di mushala, aku mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali aku shalat tepat waktu. Ah, waktu madam Wulan datang untuk protes soal hasil jahitannya. Tapi selain itu rasanya jarang sekali. Bahkan selalu ku tinggalkan.
Eh, aku sudah rakaat berapa, ya?
Astagfirullah. Ingat-ingat, Risol! Ah... Iya, rakaat kedua. Ayo lebih konsentrasi, Risol. Ini lagi menghadap Allah loh. Lanjutlah.
"Allahu Akbar...."
Next Bab....

Komentar Buku (1273)

  • avatar
    Ita19Rita

    seru

    09/08

      0
  • avatar
    HidayahNur

    sangat bagus ceritanya👍👍👍

    27/04

      0
  • avatar
    Hay Nizamm

    top markotop

    22/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru