Pesawat Oliver sudah terbang menuju Bandara Kualanamu Medan. Perjalanan malam yang akan dia tempuh selama dua setengah jam. Aku harus sabar menunggu selama itu untuk kembali menelepon dia. Berdiri di tempat parkir Bandara soekarno-hatta sambil memandang langit tanpa bintang serta pesawat yang lalu-lalang membuat aku tak percaya bahwa Oliver sudah pergi. Untuk 60 hari ke depan aku tak akan bertemu dengannya. Wahai rembulan, katakan kepadaku bagaimana caranya aku mengukir rindu? Aku tahu Oliver bekerja keras juga untuk memenuhi kebutuhan resepsi pernikahan serta membeli rumah idaman kami. Tapi tetap saja, rasa rindu itu sakitnya di sini... di dada ini. Lebih sakit daripada mengira lengkuas adalah daging dalam timbunan rendang. Mendadak malam ini aku jadi melankolis dan mau menulis ribuan puisi. Ingin kukirim ribuan merpati kepada Oliver. Ah, lebay deh aku. Hanya 60 hari, Risol. Ya... dan kenapa pula Oliver harus meminta tolong kepada Rio untuk menemaniku malam ini? "Risol sayang, tadi kan aku udah bilang... Rio itu orang yang bisa dipercaya. Oh iya, aku lupa bilang kalau dia itu juara dua taekwondo tingkat nasional ketika dia masih SMA." itu kalimat Oliver setelah aku histeris menolak ide gilanya. "Oh jadi sekarang dia jadi bodyguard-ku gitu?" "Iya. Dengar, Sayang. Kamu sudah ditipu sekali dan cukup sekali itu saja. Rio ini orangnya juga hati-hati dan dia bisa bantu kamu agar tidak ketipu lagi." "Tapi Gina kan bisa bantu aku." Aku tahu jawabanku salah total karena Oliver mendengus sebal. "Dia emang lebih cantik dari kamu, tapi kamuvlebih smart dari dia." "Salah fokus,"ketusku. Kenapa harus bawa-bawa soal cantik sih?" Pokoknya aku nggak mau. Aku masih punya Tiara yang bisa bantuin aku." "Bedrest Tiara ditambah jadi satu minggu," sebelum aku membuka mulut dan menjerit 'apa?!' Oliver sudah menambahkan," Sebelum ke sini aku telepon Tiara lagi. Kemarin dia bandel berdiri dan nganterin Arkan sekolah jadi perutnya mules. Bedrest-nya ditambah." Oh, Tiara... Oh... Bagaimana aku harus merangkai kata dalam kemarahan ini? "Aku percaya sama Rio. Oke?" Oliver menunjuk Rio yang berdiri menyimak pertengkaran kami berdua. Dia diam di sana seolah dia adalah manekin yang tak mendengar apa-apa. Padahal dia mendengar, tapi tak berekspresi apapun. "Emang kamu udah bilang sama Rio dia mau apa enggak?" Oliver mengangkat alis, memberi isyarat agar Rio bicara. "Mas Oliver belum bilang sih sama saya, saya disuruh kemari untuk apa. Ternyata untuk ini, ya?"sekarang wajah Rio terlihat kaget. Lah, telat ekspresinya. "Tuh... Dia pasti nolak. Dia emang bawahan kamu Oliver, tapi kan kamu enggak bisa seenaknya nyuruh dia buat jagain aku, nemenin aku." "Tapi kalau saya disuruh Mas Oliver, saya enggak keberatan. Demi kebaikan Mbak Risol juga kan," jawab Rio, sekarang ekspresinya senang-senang saja. Lah, dia labil, ya? "Tuh, kan... Rio pasti mau. Biar nyebelin... Dia ini sebenarnya asyik."Oliver tertawa penuh kemenangan. "Ada syaratnya, Mas,"Rio menimpali. "Apa? Uang gaji ditambah? Beres... Nanti aku tambahin dari uang pribadiku. Atau mau kredit rumah? DP mobil? Mau di ta'arufin?" Oliver tertawa. "Bukan. Syaratnya hanya satu. Mbak Risol juga harus ditemani oleh muhrimnya. Jadi kami tidak berduaan saja. Kalau berdua saja nanti yang ketiganya setan." "Oke... Kalau gitu kita cari siapa yang mau jadi setannya,"jawab Oliver asal. "Aku mauuu!!!" jerit Gina. Aku menepuk dahi. Ingin rasanya menggali tanah dan mengubur Gina di sana. Kalau para Chic Cheers tahu betapa tulalitnya dia, mereka pasti memilih memakan kemenyan ramai-ramai. Dan disinilah Kami sekarang. Mengantar keberangkatan Oliver dalam The Tour 60 days-nya. Aku memegangi dompetku yang terlihat gemuk. Saat mau boarding tadi, Oliver memberikan enam buah kartu kreditnya kepadaku. Dengan masing-masing limit sejumlah lima puluh juta rupiah."Untuk biaya resepsi dan printilan-nya ,"bisiknya di telingaku. "Kak Risol... Buruan, dong. Kita ada jadwal manggung dua jam lagi nanti mas Edwin bisa marah-marah nih kalau kita telat ke studio," seru Hana dari dalam mobil Alphard milik Oliver yang dipinjamkan ke Rio untuk mengantarku ke mana-mana. 'Setan-setan' kecilnya Ternyata banyak. Bukan hanya Gina, Hana dan Caca juga ikut. Bahkan Gina ngotot mau duduk di depan bareng Rio. Tapi Rio menolak, dia punya prinsip kalau menyetir mobil, bangku depan hanya boleh diduduki oleh istrinya. Setelah Rio berkata seperti itu, Hana, Caca, dan Gina tambah histeris berebutan bangku depan. Rio meletakkan ranselnya dan tas tas make up personel sih Chic Chic yang superbesar ditumpuk di bangku sebelah sopir. Setelah itu semua diam dan kami pun pulang ke tempat masing-masing. Tepatnya mengantarkan ketiga personel Chic Chic ke studio TV. Aku minta Rio mengantarku pulang tapi Rio menolak sebelum Gina selesai syuting. Agar tetap ada muhrim, katanya. Aahh... Oliver cepetan pulang, dong! Keesokan harinya aku menerima telepon dari Oliver pada pukul tujuh pagi. Dia bercerita soal pengalaman terbangnya yang kurang menyenangkan karena landing yang kurang mulus. Kasihan calon suamiku, dia memang tidak menyukai terbang, maka dua hari sekali harus terbang ke berbagai kota yang berbeda pasti membuatnya merasa tak nyaman. Aku menyadari bahwa ini adalah perjuangan untuk masa depan yang lebih baik. Jadi bukan soal dengan siapa kamu mempersiapkan resepsi pernikahan, tapi dengan siapa kamu akan menikah. Setelah oleh berbagai cerita soal sarapan paginya yang menyenangkan dengan makan soto Medan dan mencicipi pancake durian, dia menyudahi pembicaraan. Aku meletakkan ponsel setelah mewanti-wanti agar tidak terlalu banyak makan penkek durian di pagi hari. Dia bisa sakit perut. Kan nggak lucu kalau nanti aku mau nonton di tv, muka Oliver pucat karena mencret-mencret sepagian. Bisa batal, dong, membanggakan dia ke orang sekampung. Tapi Oliver menanggapinya dengan tertawa. Dia memberikan jadwal kapan acaranya akan mulai tayang, kemudian say bye bye, dan telepon terputus. Kubuka jendela, menerima cahaya matahari pagi menimpa tubuhku yang masih berbalut piyama. Semalam aku susah tidur, membayangkan hari ini akan pergi bersama Rio dan ketika personil Chic Chic untuk mengurus persiapan resepsiku, rasanya berat sekali. Aku tidak bisa menemukan hal asik Apa yang bisa aku lakukan dengan ketiga remaja baru mulai dewasa yang tergila-gila dengan Rio dan Rio... cowok menyebalkan yang suka ceramah. Ponselku berdiring lagi dan kali ini dari Tiara, aku tak menunggu sedetik pun untuk menunda menjawabnya. "Tiaraaa...!" "Assalamualaikum, Ris. Suara kamu nyaris membuat bayi di perutku lompat," kelakar Tiara di ujung sana. Dia pasti sedang memberi makan Arkan karena aku mendengar suara Arkan memukul-mukul piring, minta disuapi lagi. "Kalau gitu pas waktunya lahiran nanti aku aja ya yang teriak di depan kamu. Nggak usah pakai dokter juga bakal lompat keluar," tawaku meledak membayangkan hal itu. "Sembarangan," suara Tiara merajuk."Sebentar, ya." Terdengar suara ponsel diletakkan sembarangan disusul suara Arkan yang minta dicium. Pasti Arkan sudah mau berangkat ke day care. Kemudian suara masra Rafi yang berpamitan. Oh, ke day care-nya diantar Papa tersayang. Setelah itu suara ponsel bergerak menyusul kemudian suara Tiara."Pagi yang sibuk, hehehe..." "Ya... Beruntung aku masih menikmati pagi yang santai." "Jangan harap itu terjadi kalau kamu sudah punya anak nanti." "Oh... Tenang, aku akan tetap santai karena akan menyewa tiga baby sitter sekaligus." "Yeaah..."Tiara meledek."Dengar-dengar dari Gina, hari ini kamu, Rio, sama tiga anak Chic Chic mau belanja seserahan, ya?" Aku melirik note to do list pernikahan yang aku letakkan di meja. Ya, rencana belanja itu sebenarnya acak sih. Sebenarnya aku mau mengurus surat undangan terlebih dulu. Tapi rencana itu spontan saja terucap saat Rio mengantar aku dan Gina pulang ke rumah. Karena Rio menolak Mengantar ke rumahku, akhirnya aku menginap lagi di rumah mamah. Ke kamar masa kecilku dulu. "Gina Rajin banget ya laporan ke kamu." "Aku yang minta dia laporin, hehehe.... aku nggak mau ketinggalan perkembanganmu, Ris. Walau aku masih berbaring di sini, kamu kan tahu kalau aku selalu mikirin kamu." "Ooh so sweet. Cintaa... Aku akan menganugerahimu Kepo Award." Tiara tergelak. Kemudian kami mengobrol soal barang-barang apa saja yang tidak boleh ketinggalan aku beli. Ya, meski dari pihak lelaki pasti menyiapkan seserahan, tapi aku ragu keluarga Oliver akan peduli hal-hal printilan speerti bros dan jepit rambut. Lagi pula kedua adik Oliver belum menikah, mereka mana mungkin mengerti soal kebutuhan cewek. "Gaun, atasan-bawahan, handuk-handuk, sepatu, pakaian dalam, jepit rambut, bros, makeup, mukena, sarung, sajadah, buku-buku panduan pernikahan," Tiara mengulang item yang harus kubeli. "Oh, penting gitu buku pernikahan?" Aku mulai memutar bola mata dan mencibir. Dia tak akan lihat, tapi dia tahu bahwa nada suaraku meremehkan." Nggak penting, Ar. Aku dan Oliver sudah saling mengerti, we love each other." "Penting dong, Ris. Memangnya kamu pikir menikah itu sama seperti pacaran? Beda, Ris. Dalam Islam nggak ada yang namanya pacaran Islam hanya melegalkan pernikahan. Jadi, menikah itu berbeda sama pacaran."Suara Tiara mulai serius. Mau tidak mau aku mendengarkannya meskipun berkali-kali karena tahu ini akan jadi pidato membosankan."Menikah tak cukup hanya dengan cinta. Istri harus tahu apa hak dan kewajibannya terhadap suami, begitu juga suami. Dalam buku panduan pernikahan Islami, kamu akan tahu banyak hal. Bahkan hubungan intim suami istri pun diatur dalam Islam. Dengan mengikuti petunjuk dari Allah, Insya Allah bisa jadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah." "Iya, Bu Ustadzah... Ups udah dulu ya, aku mau mandi. Aku janjian sama Rio jam sembilan, karena dia hanya bisa menemaniku sampai jam satu siang ini." "Ris..." Tiara menghela napas panjang. "Oke, aku akan laporan apa saja yang aku.beli dan buku apa tadi itu? Hm... Ya pokoknya itu tidak akan ketinggalan. Oke... Bye." Aku menutup ponsel kemudian meregangkan badan. Ponselku kembali berdering, Oh... Tiara lagi."Iya, Ar?" "Lupa pamitan. Assalamualaikum." Ujung bibirku berkedut."Eh... Waalaikumsalam." Dan ponsel pun ditutup. Next Bab....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
09/08
0sangat bagus ceritanya👍👍👍
27/04
0top markotop
22/03
0Lihat Semua