Dari luar, Rendy masuk. Melihat Risol sudah siuman, Rendy pun tersenyum. Wajahnya menggambarkan kegembiraan. Kemudian dengan ramah dan bibir masih tersenyum, Rendy menyapa. "Selamat sore, Risol. Syukurlah akhirnya kamu siuman..." "Kamu...!" "Kamu tak suka atas kehadiranku?" tanya Rendy." Tak apa. Aku tahu kamu masih belum siap menerima kehdiranku. Baiklah, kalau begitu aku pergi...." Rendy pun bermaksud untuk kembali meninggalkan ruang perawatan, ketika tiba-tiba Risol memanggilnya," tunggu...!" Mau tidak mau, akhirnya Rendy pun mengurungkan niatnya. Dia kembali membalik memandang ke arah Risol. "Ada apa?" "Kenapa kamu tetap baik padaku?" Padahal selama ini aku senantiasa bersikap tidak baik padamu?" tanya Risol "Karena aku sangat sayang padamu," jawab Rendy. "Ohhh..." keluh Risol. "Maafkan aku, Risol. Aku sadar, aku terlalu naif berkata seperti itu padamu." "Enggak. Kamu enggak bersalah, Rendy. Akulah yang bersalah padamu. Kamu mau memaafkanku, Rendy?" "Ingin rasanya aku membenci dan melupakanmu, Risol. Namun aku tak bisa. Dan aku selalu memaafkanmu. Karena, bagiku asalkan kamu bahagia, maka seberat apapun penderitaan yang akan kualami, aku akan menerimanya," tutur Rendy meyakinkan. " aku tahu itu, Rendy. Demi aku kamu rela menderita. Aku juga tahu, kalau selama aku disini, kamu selalu menemaniku. Kemarilah, Rendy. Peluklah aku. Jagalah aku, lindungilah aku, sebagaimana dulu kamu senantiasa menjaga dan melindungiku..." "Kalau itu pintamu, Risol, aku akan melakukannya." Rendy pun mendekat, kemudian dengan penuh kasih dan sayang, Rendy memeluk Risol yang membalasnya dengan penuh keharuan. Pada saat itu, dari luar masuk Papa dan Mama Risol. Keduanya saling pandang dan tersenyum melihat kini Risol telah kembali menerima Rendy. Lalu karena tak ingin mengganggu kesyahduan yang tengah terjadi, papa dan mama Risol pun kembali keluar meninggalkan ruang perawatan itu. Beberapa hari kemudian.... Semejak Risol di rumah sakit dia sudah banyak berubah, tidak sombong dan mau mengakui kalau Rendy adalah orang yang dia sayang dari dulu hingga sekarang. "Hari ini kamu sudah boleh pulang, Risol?" "Benarkah." "Ya." "Aku sangat senang mendengarnya, aku sudah kangen sekali dengan rumah dan kamar tidur ku." "Aku pun juga ikut senang Risol akhirnya kamu sidah sembuh dan bisa pulang kerumah." "Iya Rendy." "Baiklah aq akan membereskan barang-barangmu dulu lalu ku antar kamu pulang." "Ya, mama dan papa ku ada di mana?" "Ohh, Om dan Tante tadi bilang ke aku suruh menjemputmu dari Rumah sakit, soalnya Om dan Tante tidak bisa menjemputmu." "Kenapa?" "Om dan Tante bilang ada urusan," "Hmm." "Kenapa, kamu tidak ingin aku yang menjemput kamu, Risol?" "Ehh, bukan begitu Rendy." "Lalu?" "Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu, Rendy," "Kamu tidak merepotkan ku Risol justru aku bahagia bisa selalu ada bersama kamu dan selalu bisa melindungi kamu." "Terima kasih, Rendy?" kamu sungguh sangat baik padaku." "Sama-sama Risol." Sudah menjadi tugas ku untuk menjaga dan melindungi kamu," "yuk pulang, kamu sudah siap." "sudah kok Rendy, yuk." Akhirnya pun mereka keluar dari rumah sakit dan menuju Rumah Risol. Malam pun tiba Risol dan Rendy sedang duduk-duduk di teras depan rumah Risol sambil bercanda layaknya dulu saat mereka masih kecil. "Risol..." "Ya." "Aku senang kamu sudah kembali seperti Risol yang ku kenal dulu sahabat masa kecil ku yang sangat aku sayang dan ku cinta hingga sekarang." "Ahh, bisa saja kamu Rendy." "Benar Risol." "Aku pun begitu Rendy sangat sayang cinta kepadamu." "Benarkah." "Ya." "Jangan pergi lagi dari ku Risol, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi untuk yang ke dua kali nya?" "Ya, Rendy?" Aku tidak akan meninggalmu lagi. Mereka pun saling adu pandang satu sama lain, lalu mereka pun sama-sama tersenyum. "Sudah malam, Risol lebih baik km tidur sekarang agar kamu bisa istirahat, agar besok kamu bisa kembali sekolah?" "Kamu juga Rendy." "Ya, Risol?" Aku pulang dulu iya... Selamat beristirahat Risol." "Ya... Rendy." Jam jarum jam menunjukkan waktu 15 menit sebelum pukul 7 ketika terdengar bunyi alarm yang berdering kencang. Diikuti dengan langkah kaki yang cepat-cepat menuruni tangga. Tidak lama ternyata Risol pun sudah siap kesekolah. Tetapi hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Rendy menjemput Risol untuk kesekolah bersama. "Sudah siap?" "Sudah, yuk." "tetapi aku hanya menggunakan sepeda Risol, kamu tidak malu kesekolah dengan ku." "Kenapa harus malu, aku bahagia." "benarkah, kamu tidak malu." "benar Rendy," sudah yuk nanti kita telat." "baiklah." Begitu tiba di sekolah, Risol pun menunggu Rendy yang sedang memarkirkan sepedanya. "Sudah kamu parkirkan sepedanya." Sudah Risol." "yaudah yuk." "Kamu benar tidak malu bersama ku Risol," nanti apa kata teman mu kalau kamu berangkat sekolah dengan ku." "Aku tidak peduli Rendy, aku hanya ingin kembali seperti Risol yang dulu aq tidak ingin karna kecantikan ku ini, aku menjadi sombong dan sok tidak mau berteman dengan orang miskin, aku ingin berubah Rendy?" Aku ingin kembali menjadi Risol yang baik hati seperti dulu." "Aku senang mendengarnya Risol, kamu sudah sudah berubah sekarang aku sangat bahagia." "Aku juga bahagia Rendy." "yuk ku antar kamu ke kelas, kita kan beda kelas." "siap, yuk." Sementara itu, kemunculan Risol dan Rendy membuat satu sekolah bahkan teman-temannya Risol terkejut. "Bukannya mereka berdua bermusuhan?" ucap Siska. "Iya, kenapa mereka menjadi akrab begitu sekarang," timpal Pratiwi. "Apa sih Risol jadi amnesia karena masuk rumah sakit waktu itu, mangkanya sampai sekarang dia tidak ingat bahwa Rendy itu cowok yang dia benci?" timpal Nana "Ahh lo lagi Nana ngomong apa kali, mana mungkin Risol Amnesia." "Iya bisa aja kan?" sahut Nana "Ada benarnya juga apa yang di bilang Nana, Sis bisa aja kan." timpal Pratiwi "Ah pusing gue, mending kita tanya langsung aja ke Risol." "Nah ide bagus tuh, yuks kita samperin Risol sama Cowok baru itu Rendy." ucap Siska. "Yuk." sahur Pratiwi dan Nana "Risol..." ucap ketiga teman Risol. "Hai Sis, Tiwi, Nana apa kabar kalian." "kami baik, bagaimana dengan lo sudah baikan." Sahut ketiga temannya. "Sudah membaik kok keadaan gue." ucap Risol. "syukur deh, maaf iya Ris gue Tiwi sam Nana waktu itu gak jenguk lo." ucap Siska "Iya enggak apa apa." "Ohh iya... Kok lo tumben sama anak baru ini?" tanya Pratiwi. "Iya tadi kami berangkat bareng ." ucap Risol "BERANGKAT BARENG?" sahut Siska,Tiwi dan Nana dengan nada seakan kaget mendengar Risol dan Rendy berngkat bareng ke sekolah. "Iya, kenapa kalian terlihat kaget begitu?" "Lo gak lagi ngelindur kan Ris. Bukanny lo benci banget sama anak baru ini, sampai-sampai lo gak mau mengakui kalau sebenarnya lo mengenal anak baru ini, karna lo malu mengakui dia karna dia dari kampung. Rendy yang mendengar obrolan mereka berempat hanya bisa diam. "Risol, lebih baik aku ke kelas iya gak baik jika aq ikut mendengarkan obrolan kamu dan teman-teman mu." ucap Rendy. "Kamu tidak boleh kemana-mana, Rendy." "Tetapi..." belum sempat Rendy meneruskan omongannya sudah di stop oleh Risol." "Gue dengan Rendy sudah baikan, gue sudah mengakui dia sebagai orang yang gue sayang dan cinta, tapi dulu karena gue malu dan gengsi buat mengakuinya jadi gue pura-pura tidak mengenal dia, tetapi sekarang gue sudah sadar dan gue sudah meminta maaf padanya atas kesalahan yang sudah gue bebuat." "Lalu bagaimana dengan Dion?" tanya Nana "Apa lo sayang dan juga cinta sama anak baru ini?" timpal Siska dan Pratiwi "Urusan gue dengan Dion sudah selesai." ucap Risol. "Iya, gue sayang dan cinta sama Rendy sejak kami duduk di bangku SD. "Ahhh...Kenapa lo gak pernah cerita ke kita." sahut Siska dan kedua temannya "Karna gue sudah di butakan oleh gengsi, gue takut kalau gue cerita masalalu gue lo, Nana dan tiwi.gak mau temenan lagi sama gue." "Kalau lo bicara dari awal tentang masalalu lo gue Nana dan tiwi gak akan jauhin lo Ris, kenapa lo bisa punya pikiran seperti itu?" "Karna gue dari kampung dan lo Nana Tiwi dari kota." ucap Risol. "Gue gak mempermasalahkan lo dari kamoung atau dari kota, gue Nana dan Tiwi tulus temenan sama lo Ris." ucap Siska. "Benarkah apa yang lo bilang sis?" "Iya, Risol." "Gue bahagia dengernya dan bersyukur punya teman sekaligus sahabat kaya kalian." maafkan gue teman-teman karena ke gengsian gue, gue jadi berbohong dan enggak pernah jujur sam kalian tentang masalalu gue." "Iya, ris!" gue Nana dan Tiwi udah maafin lo." "Makasih Sis, Nana, Tiwi." "Sama-sama Ris." sahut mereka bertiga. "Rendy..."ucap Tiwi. "Ya." "Jagain sahabat kita jangan sampai dia nangis apalagi lo sakitin dia." ucap Tiwi. "Pasti, Gue akan selalu jagain Risol." "bagus deh." sahut Nana "bahagia selalu iya Ris, Ren."timpal Siska Rendy dan Risol hanya tersenyum. "Tapi apa kita masih sahabatan, kan lo udah ada yang nemenin tiap hari." ucap Nana. "Iya masih lah, lo, Siska dan Tiwi adalah sahabat gue selamanya." "Ahh so sweett." sahut Nana. Mereka bertiga pun berpelukan, sekaligus melepas rindu karna beberapa hari tidak bertemu dan bercanda ria. Next bab....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
09/08
0sangat bagus ceritanya👍👍👍
27/04
0top markotop
22/03
0Lihat Semua