Dion akhirnya berhasil juga mengejar Risol. "Risol, tunggu...!" serunya memanggil. Risol yang sedang kesal bagai kita mendengar seruan Dion. Dia terus saja melangkah bahkan. Bahkan langkahnya sengaja dipercepat, sehingga membuat Dion jadi makin bertambah jengkel. Dion pun mempercepat langkahnya, sehingga dia akhirnya berhasil Menghadang di depan Risol. "Berhenti, Risol!" sentaknya. Risol menurut berhenti. "Gue benar-benar enggak ngerti dengan lo, Risol!" dengus Dion dengan sorot mata tajam memandang lekat ke wajah cantik Risol yang masih diam membisu, seakan malas untuk bicara apalagi menyahuti pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Dion. "Lo marah ama gue?" tanya Dion kemudian. "Ya!" tegas Risol. "Kenapa?" "Sikap dan ucapan lo telah menyinggung perasaan gue, Dion." "Sikap dan ucapan gue yang mana?" "Sikap dan ucapan lo yang seakan-akan enggak percaya lagi ama gue, benar-benar membuat hati gue sakit dan kecewa, Dion!" "Gue hanya ingin tahu, kenapa semenjak di sekolah lo ada anak baru dari kampung itu, lo tiba-tiba berubah? Wajar kan kalau gue curiga? Jangankan gue sebagai pacar lo, teman-teman lo sendiri merasakan hal itu..." "Itu artinya lo enggak percaya ama gue, Dion!" "Gue bukannya enggak percaya, Risol. Gue hanya ingin meminta penjelasan..." "Penjelasan apa lagi yang lo inginkan dari gue? Bukankah Sudah gue katakan kalau gue enggak mengenal anak baru itu. Apa itu belum cukup?!" "Gue enggak percaya!" tegas Dion. "Kalau lo enggak percaya ya sudah!" teriak Risol. Pertengkaran mulut pun akhirnya tak bisa dicegah lagi. Baik Risol maupun Dion sama-sama tak ada yang mau mengalah. Risol tetap pada pendiriannya, dengan mengatakan kalau dia tidak mengenal Rendy. Sebaliknya, Dion juga tetap tak mau percaya begitu saja dengan penjelasan dari Risol. Semakin lama, pertengkaran mulut antara Risol dan Dion semkin bertambah meninggi. Sepertinya, emosi keduanya mulai meningkat. Itu terlihat dari wajah keduanya yang sama-sama membara, dan sorot mata keduanya yang sama-sama tajam memandang ke wajah satu sama lain. Pada saat itu, Rendy dan Beno yang kebetulan sedang jalan-jalan melihat adegn cekcok mulut dintara keduanya. "Beno, bukankah itu Risol?" tanya Rendy. "Ya, Itu memang dia." "Lalu, siapa cowok yang bersamanya?" Beno tak langsung menjawab. Sesaat dia berusaha memastikan dengan pandangan matanya, kemudian setelah yakin, dia pun berkata," sepertinya cowok yang bersama Risol itu adalah Dion, anak SMA Bhakti Nusantara." "Pacar Risol?" "Mungkin..." "Sepertinya mereka sedang bertengkar," duga Rendy. "Ya." "Kenapa mereka bertengkar?" "Mana gue tahu?" gumam Beno. "Apa perlu kita hampiri?" tanya Rendy. "Sebaiknya jangan." "Kenapa?" "Itu urusan mereka. Bukan urusan kita. Dan lagi pula, seperti yang lo tahu, Risol enggak suka terhadap lo. Kehadiran lo, akan membuatnya makin emosi dan akan membuat pertengkaran mereka semakin bertambah panas." Rendy semula bermaksud menuruti saran sahabatnya untuk tidak ikut campur dalam urusan Risol dan Dion. Namun ketika dia melihat Dion menampar pipi Risol, seketika Rendy tak mampu lagi menahan emosinya. Ingatan akan janjinya sewaktu masih kecil bahwa dia akan senantiasa menjaga dan melindungi Gadis itu, kembali terngiang di telinganya hatinya tak terima, kalau gadis yang sangat disayang dan Dicintai nya itu, diperlakukan begitu rupa oleh orang lain, meski Dion menurut keterangan Beno adalah pacar Risol. Tanpa dapat ditahan dan dicegah lagi, Rendy bergegas menghampiri Risol dan Dion. "Hai!" serunya, membuat Dion dan Risol seketika sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah Rendy."Kamu itu lelaki atau banci?!" "Siapa lo?!" balik Dion bertanya," Sebaiknya lo jangan ikut campur urusan gue!" "Siapa aku, itu tidak penting!" jawab Rendy. " Yang pasti, aku tidak suka dengan caramu memperlakukan seorang gadis!" "Itu bukan urusan lo!" "Aku tak terima kamu perlakukan dia begitu!" tegas Rendy. "Memangnya siapa lo, dan dia apanya lo?!" "Aku memang bukan siapa-siapanya dia. Tetapi aku tetap tidak bisa menerima kelakuanmu yang menurutku hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki pengecut atau banci!" ancam Rendy, yang membuat Dion seketika terbakar emosinya karena disebut banci oleh Rendy. "Kurang ajar! Lo cari masalah rupanya!" usai berkata begitu, Dion pun berusaha menyerang Rendy. Namun dengan cepat, Rendy bergerak mengelak. Lalu dengan cepat pula, Rendy menangkap tangan Dion yang hendak memukul ke arahnya. Beno yang sudah tahu siapa sahabat barunya itu, hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan Kepala. Dia menilai, tindakkan Dion menyerang Rendy adalah sebuah tindakan nekat. Tapi Wajar saja karena dia belum tahu siapa Rendy sebenarnya. Kalau saja dia tahu sebagaimana dirinya, tentulah Dion akan berpikir seribu kali untuk menyerang Rendy. Setelah berhasil menangkap tangan Dion, dengan gerakan yang sulit diikuti dengan mata, Rendy menarik tangan dingin sehingga tubuh cowok itu pun condong kemuka. Setelah itu, dengan gerakan cepat pula yang sulit diikuti oleh mata, tangan kanan Rendy yang menangkap tangan Dion bergerak mencengkeram pundak kiri Dion, lalu kaki kanannya diletakkan ke belakang kaki Dion. Kemudian dengan sekali gebrak, Rendy pun membanting tubuh Dion. Brugk!" "Akhhh...!" Dion menjerit. Kemudian meringis kesakitan. Rendy bermaksud memberikan sebuah tendangan ke arah kepala Dion, ketika dengan cepat Risol telah menghadangnya. "Hentikan!" serunya. Kemudian dengan wajah menunjukkan kekhawatiran, Risol memburu ke tubuh Dion dan melindungi cowok itu dari ancaman tendangan maut kaki Rendy. Sehingga mau tidak mau Rendy pun mengurungkan niatnya. Sambil melindungi tubuh Dion, Risol memandang tajam ke arah Rendy." Kenapa lo ikut campur urusan kami?!" "Aku tidak terima kamu diperlakukan seperti itu, Risol!" sahut Rendy. "Dan gue enggak terimavlo ikut camour urusan gue!" balas Risol sengit. "Jadi lo yang bernama Rendy?" tanya Dion setelah menyeka darah yang meleleh di sudut bibirnya. "Ya," jawab Rendy. "Kalau gue jadi lo, Dion. Maka gue akan berpikir seribu kali untuk melkukan tindakkan bodoh seperti yang baru saja lo lakukan terhadap Rendy," kata Beno yang sudah berada di dekat mereka. "Beno!" sentak Risol."Sebaiknya lo bawa pergi sahabat lo ini dari sini!" "Kenapa memangnya?" tanya Beno. "ini tempat umum. Siapa pun berhak lewat di tempat ini, kan?" "Gue muak melihat sikapnya!" dengus Risol. "Gue enggak ngerti ama lo, Risol," kata Beno. "Lo bukannya berterima kasih karena telah ditolong dan dibela. Eh, malah balik memusuhi dan enggak terima tindakan yang telah Rendy lakukan buat lo!" ancam Beno. "Pokoknya Gue enggak suka melihatnya! Cepat pergi dari sini, sebelum gue berteriak mengundang masa!" ancam Risol dengan wajah menunjukkan kesungguhan, yang membuat Beno akhirnya menurut, walau hatinya merasa sedih dan kecewa pada Sikap yang ditunjukkan oleh Risol. "Ayo, Rendy... sebaiknya kita tinggalkan cewek sombong yang enggak tahu berterima kasih ini!" ajak Beno sembari menggandeng tangan Rendy meninggalkan tempat dimana Risol dan Dion berada. Setelah Randy dan Reno pergi, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, Risol membantu Dion bangun. Bahkan kemudian, Risol dengan penuh kasih sayang memapah Dion meninggalkan tempat itu. Next Bab....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru
09/08
0sangat bagus ceritanya👍👍👍
27/04
0top markotop
22/03
0Lihat Semua