Bab 66 BERCERAI SAJA

"Sebaiknya kalian bercerai saja jika aku mendengar semua yang kamu ceritakan, maka aku tidak mempunyai rasa simpatik lagi kepada Pak Yudha."
"Laki-laki itu tidak seperti laki-laki sejati yang akan menyelesaikan semua permasalahannya dengan baik bukannya malah lantas pergi begitu saja.
Aku dulu tidak pernah tahu bahwa Pak Yudha itu bersekongkol dengan Pak Leo. Seandainya aku tahu, aku pasti tidak akan mengizinkan kamu menikah dengannya."
"Aku juga tidak akan pernah memberikan hadiah pesta pernikahan mewah. Hari itu, aku benar-benar serius, aku benar-benar tidak tahu!"
"Sudahlah tidak apa-apa, Mas. Biar saja. Memang kejadiannya sudah seperti ini."
"Kalau menurut aku, memang sebaiknya kalian berpisah. Sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dalam rumah tangga kalian. Keadaannya sudah benar-benar tidak sehat."
"Itu sebabnya, aku datang ke Pengadilan Agama ini untuk mengurus semuanya karena aku memang sudah tidak berminat untuk melanjutkannya lagi. Percuma juga diteruskan, aku juga tidak akan pernah tahu, apakah Mas Yudha akan benar-benar berhenti menemui Marni. Jika aku tetap menikah dengannya, bayang-bayang masa lalu akan terus terjadi, akan terus ada, berkembang dan membesar."
Pak Wahyu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju kepada apa yang diucapkan oleh Rania.
Saat ini semua yang dikatakan oleh Rani adalah kebenaran.
Bercerai mungkin adalah jalan keluar yang terbaik bagi mereka berdua.
Tidak ada yang bisa melawan apa kata takdir.
Takdir itu datang dan berkembang begitu saja, membesar dan tidak bisa dihilangkan.
Apa yang terjadi dalam rumah tangga Rania dan Pak Yudha hari ini seperti racun yang lama kelamaan bisa mematikan dan Pak Wahyu tidak ingin itu terjadi kepada Rania.
Usai berbincang-bincang Pak Wahyu dan Rania memutuskan untuk berpisah dan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Rania sadar diri, sebesar apapun cinta yang ada di dalam hatinya terhadap Pak Wahyu, dia berusaha untuk menekan perasaan itu karena hingga saat ini Pak Wahyu masih berbahagia bersama keluarganya.
*****
Di dalam rumah Pak Wahyu, dia tampak murung, dia berjalan kesana kemari mencari sebuah penyelesaian dari permasalahan yang dihadapi saat ini.
"Ada apa, Pa? Sepertinya murung sekali!"
Bu Wahyu tiba-tiba saja duduk disampingnya mengakhiri dan mengagetkan Pak Wahyu serta membuyarkan semua lamunan Pak Wahyu.
"Tidak apa-apa hanya sedikit berpikir saja."
"Yang dipikirkan itu apa?"
Pak Wahyu menoleh ke arah istrinya, dia sebenarnya ingin bercerita tetapi itu tidak mungkin karena setegar apapun istrinya, Pak Wahyu tidak ingin membuat istrinya cemburu.
Tidak ada seorang wanita pun yang akan merasa tegar dan baik-baik saja ketika mendengar suaminya sedang memikirkan perempuan lain.
Di penjuru dunia manapun permasalahannya tetap saja sama dan Pak Wahyu berusaha menjaga itu.
"Ditanya kok tambah diam. Papa sedang memikirkan apa?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Pak Wahyu cepat.
"Apakah aku boleh mempercayainya? Apakah aku yang sudah bertahun-tahun hidup bersamamu ini lantas bisa percaya begitu saja setelah melihat kamu berjalan mondar-mandir tidak tentu arah? Kemudian kamu berkata bahwa kamu tidak mempunyai permasalahan."
"Aku jelas tahu bahwa kamu berbohong! Mungkin ada sesuatu yang tidak ingin kamu ceritakan kepadaku entah alasannya. Apa mungkin juga kamu tidak ingin membuat aku terlalu banyak berpikir. Atau bisa jadi juga kamu tidak mau menambah beban yang ada di dalam pikiranku. Tapi yang pasti, jika kamu mengatakan bahwa kamu sedang tidak mempunyai permasalahan artinya kamu berbohong."
Pak Wahyu diam, dia tidak bisa lagi melawan apa yang dikatakan oleh istrinya karena semua yang dikatakan istrinya adalah kebenaran.
Kebenarannya adalah dia sedang menyembunyikan sesuatu, menyembunyikan perasaannya terhadap Rania, menyembunyikan kekhawatirannya terhadap perempuan itu.
Pak Wahyu menemukan Rania saat dia telah berkeluarga dan sudah menjadi itikad di dalam hatinya bahwa dia tidak akan pernah menduakan istrinya apapun alasannya. Meskipun agamanya sendiri membolehkan dan mengijinkan seorang laki-laki menikah lebih dari satu. Meskipun mungkin nantinya sang istri akan memberikan dia izin tapi Pak Wahyu sama sekali tidak pernah ingin menduakan istrinya. Dia tidak punya kesepakatan apapun dengan istrinya. Itu adalah janji pada dirinya sendiri yang akan terus dia tepati. Karena laki-laki sejati itu tidak akan pernah ingkar janji.
Mungkin Pak Wahyu bisa berbuat adil secara ekonomi. Materi yang dimiliki sudah sangat cukup bahkan berlebih tapi dia tidak ingin bermain-main dengan kehidupan dilaluinya. Apapun alasannya, dua pernikahan yang dirajut oleh satu orang yang sama akan tetap menimbulkan luka. Akan tetap menimbulkan dampak buruk yang akan terkenang selamanya.
"Kalau Papa memang tidak mau bercerita, aku tidak apa-apa. Nanti aku juga pasti akan tahu permasalahan apa yang Papa sembunyikan!"
"Aku sedang tidak berpikir tentang apapun. Kebetulan tadi aku bertemu dengan Rania. Apakah kamu masih ingat dengan Rania?"
Bu Wahyu diam, dia berusaha mengingat sesuatu tentang Rania. Nama itu sepertinya pernah dia kenal, tapi dimana ya?
"Rania yang pernah bertemu dengan kita waktu di alun-alun Martapura dulu."
"Oh iya, aku ingat! Ada apa dengan Rania?"
"Dia kan sudah menikah, tadi saat aku mengantar Oskar ke Pengadilan Agama, aku bertemu dengan Rania dan ternyata dia akan bercerai dengan suaminya. Kasihan sekali aku melihatnya!"
"Setiap orang yang bercerai dikasihani, padahal kita tidak pernah tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada diri orang itu. Bisa saja dengan perceraiannya mereka justru berbahagia. Sebagian perceraian itu bisa menyelamatkan tapi kita sendiri tidak tahu karena yang mengetahui permasalahan dalam kehidupan seseorang yang orang itu sendiri."
"Kalau menurut aku yang namanya perceraian itu tetap saja tidak baik. Siapapun yang bersalah maka aku akan tetap mengatakan bahwa keduanya adalah pihak yang salah.
Karena keduanya sama-sama tidak bisa menjaga hakikat perkawinannya."
"Mungkin benar begitu tapi bagi orang-orang yang di dalam pernikahannya tersiksa, terdapat KDRT, terdapat hal-hal yang tidak diinginkan, terdapat hal-hal yang tidak menyenangkan bisa saja perceraian adalah menjadi jalan keluar."
Pak Wahyu diam. Dalam diamnya tersebut dia sedang berfikir apa yang disampaikan oleh istrinya itu benar. Mungkin saja saat ini perceraian adalah jalan keluar terbaik bagi Rania. Setidaknya perceraian hari ini bisa membuat Rania bebas dari permasalahannya.
"Apakah aku boleh bertanya?" Bu Wahyu tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
"Boleh saja," jawab Pak Wahyu pendek.
"Yang mau bercerai Rania, kenapa jadi Papa yang berpikir keras?"
Pak Wahyu merasa ditampar oleh pertanyaan itu. Mungkin caranya berpikir terlalu berlebihan sehingga tampak tidak menyenangkan di mata istrinya.
Dia berusaha mencari jalan untuk menutup itu semua. Dia tidak ingin istrinya mengetahui tentang kegundahan yang ada di dalam hatinya. Itu akan sangat berbahaya.
"Aku tidak berpikir keras, biasa saja, aku hanya kasihan!"
Bu Wahyu tersenyum lagi, dia kemudian berdiri sambil berkata : "Aku sudah hidup denganmu bertahun-tahun, apakah kamu pikir aku tidak mengetahui mana yang menjadi bebanmu dan mana yang tidak?"
Usai berkata demikian Bu Wahyu lantas melintas pergi meninggalkan suaminya.
Kepergian Bu Wahyu itu diikuti dengan teriakan oleh Pak Wahyu "Aku memikirkan perceraian Rania karena dulu aku yang telah memberikan hadiah pernikahan tersebut untuk Rania dan Yudha.
Yudha adalah teman baikku, itulah mengapa aku jadi merasa bersalah kepada Rania."
Kalimat itu sengaja Pak Wahyu ucapkan, dia ingin agar istrinya tidak berpikir yang bukan-bukan tapi sayang istrinya justru tidak mendengar teriakan yang Pak Wahyu lancarkan.

Komentar Buku (313)

  • avatar
    SartikaPutri

    good

    21/12

      0
  • avatar
    BalqisFutry

    i like this story, it make me have experience to feel someone hurt and how to be confident people in this world..

    03/10/2025

      0
  • avatar
    MinaYus

    cerita nya bagus dan menyenangkan bisa di jadikan motifasi pembelajaran untuk kedepannya

    02/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru