Beberapa saat kemudian. Mereka semua telah selesai makan malam, saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga dengan saling membentuk kelompok duduk. Pak Roy dan Pak Zaklin memilih bermain catur, begitu pun Samuel dan Jhonathan tampak berdiri di sisi ruangan mengamati dan sesekali mengobrol, sedangkan Meccayra memilih bersama dua Ibu-Ibu duduk menikmati teh dan camilan ringan yang sempat Meccayra bawa dari rumah. Sudah keberapa kali Ibu Anita mengambil cookies yang tersedia di atas meja. "Hem, jadi beneran ini kamu yang membuatnya?" Dia bertanya disela mengunyah pada gadis yang terduduk di tengah-tengah mereka. Meccayra tersenyum canggung sembari mengangguk. "I-iya tante." "Enak sekali, dan nggak bikin seret di tenggorokan. Ini pertama kali nya loh, Ibu makan cookies yang enak dan tidak bikin seret gini." Kali ini Ibu Lestari memuji disela menikmati kue. "Gimana kamu membuatnya? Bisa ajarkan saya?" tanya Ibu Anita bertujuan meminta resep. Meccayra tersenyum membalas dengan anggukan senang. "Boleh, itu pun kalau tante berkenan." "Aaah~ tentu saja, kalo gitu sekarang saja kita buat cookies, kau tak keberatan kan?" Antusias Ibu Anita to the point. "Benar itu, sekarang saja, kalau nanti, kan kamu jarang kesininya, sayang." Ibu Lestari menyetujui usulan tersebut. "Ah, bo-boleh." Anggukkan kaku dan senyuman lebar terulas di bibir Meccayra menyetujui permintaan Ibu-Ibu. "Nah, gitu...," Ibu Lestari langsung tiba-tiba mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat memanggil kepala pelayan yang berdiri di sisi ruangan. "Bi Iyom." Segera Bi Iyom menghampiri. "Iya Nyonya." "Siapkan alat-alat dan bahan membuat kue ke teras halaman samping, kami akan membuat kue di sana." "Baik Nyonya." Bi Iyom dengan sigap menunduk hormat lalu berbalik pergi memerintahkan para pelayan untuk memenuhi keinginan majikan. Meccayra yang mendengar akan membuat kue di halaman, dia melirik ke kaca jendela besar balkon yang sepertinya tembus ke taman. "Nggak di dapur saja tante, buatnya?" Ibu Lestari tersenyum. "Kenapa jadi panggil tante sih, sayang? Panggil Ibu seperti biasanya." "Ah, iya, maaf Ibu." "Biar suasananya lebih enak saja gitu, membuat kue di halaman saat malam cerah gini, iya kan, Dik Anita." Yang dibalas anggukkan kepala dari Ibu Anita yang tengah meneguk teh buatan Meccayra. "Hemm, pas banget teh sama cookies ini, kombinasi yang serasi. Kenapa kamu kepikiran mencocokkan cookies dengan teh bukan dengan kopi?" "Itu, karena saya lebih suka teh dibanding kopi, jadi saya hanya tahu kecocokan camilan apa yang pas untuk disandingkan dengan teh yang akan saya minum." "Hemm. Gitu yah." Balas Ibu Anita kembali meminum cairan cerah di dalam cangkir. "Gimana menurut mu? Teh yang dibuatkan Nak Aira sangat berbeda dengan teh yang dibuatkan oleh pelayan mu kan?" Ibu Lestari bertanya bermaksud memuji. "Hemm." Anggukkan kecil dari Ibu Anita, menatap cairan cerah di cangkir. "Ini jenis teh apa yang kau buat? Warna dan rasanya berbeda dengan teh yang biasa aku minum." "Kebetulan Ibu menyediakan segala macam jenis teh tersedia, jadi saya membuatkan white tea (teh putih)." "White tea yah. Kalau gak salah, white tea itu sejenis teh yang berasal dari tanaman camellia sinesis yang sama dengan teh hijau." "Iya tante, hanya metode proses pembuatannya saja yang berbeda, sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang berbeda juga." Manggut-manggut menanggapi, lalu sedetik kemudian alis Ibu Anita berkerut menatap heran. "Kak Les, sedia teh berbagai jenis? Sejak kapan Kakak menyukai teh?" Senyuman terulas di bibir Ibu Lestari menimpali. "Sejak Nak Aira memberitahukan kalau teh lebih sehat dibanding kopi." Gelengan kepala ketidakpercayaan dari Ibu Anita, sambil mencomot cookies di piring. "Dulu saja saat aku tawari minum teh, alasannya tak doyan lah, tak cocok untuk lidah lah, sekarang malah menyediakan teh." "Teh buatan mu dengan teh yang dibuatkan Nak Aira kan berbeda rasanya." Jawab Ibu Lestari ikut mencomot cookies yang tinggal dua biji di piring. "Jadi maksud Kak Les, teh buatan saya tidak enak gitu?" Sewot Ibu Anita merasa tersindir. "Memang kenyataannya begitu kan?" "Humph! Masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan buatan saya." Angkuh Ibu Anita percaya diri. Dan bersamaan itu, Bi Iyom datang menghampiri ke kumpulan ibu-ibu tersebut. "Nyonya, semuanya sudah disiapkan." Senyuman antusias penuh semangat terukir di bibir dua wanita cantik paruh baya itu, berbeda dengan Meccayra hanya tersenyum simpul. "Aah, baguslah, kalau gitu, langsung saja kita kesana. Yuk sayang, ke teras." Ajak Ibu Lestari menggaet lengan Meccayra dan beranjak berdiri. Meccayra yang ketarik ikut beranjak berdiri. "I-iya Ibu." "Kau harus ajarkan kami sampai bisa membuat cookies dengan rasa yang sama dengan yang ini." Ibu Anita ikut menggaet sebelah lengan Meccayra. Membuat gadis itu semakin kaku dan gugup hanya membalas dengan anggukkan kaku. Lalu mereka bertiga akhirnya berjalan menuju teras halaman samping rumah. Dari sudut dua orang pria tampan yang terduduk di kursi balkon, sedari tadi keduanya mengamati pergerakan Meccayra. Tatapan Jhon terlihat awas menatap setiap ekspresi wajah yang tergambar di muka gadis cantik yang saat ini tengah dikerubungi dua ibu-ibu bergulat dengan peralatan dapur. "Heh, dia memang mudah beradaptasi, padahal Ibu ku orang yang sangat pemilih untuk bergaul, tapi melihat sekarang dia menarik perhatian Ibu ku dengan mudah, benar-benar gadis yang unik, tak salah aku menyukainya." Celoteh Samuel sambil mengangkat ponsel sengaja dia memotret gadis di ujung sana. Grep. Dengan tiba-tiba Jhon mencengkram ponsel di tangan Samuel. "Jangan memotret dia sembarangan." Sudut bibir Samuel berkedut membentuk seringaian. "Kenapa? Aku memotret calon tunangan ku." Tatapan Jhon menajam berubah dingin mendengar kata sebagai kepemilikan itu. "Kau-, dia bukan tunangan mu, dan dia juga sudah menolak lamaran mu." Sret. Dengan kasar, Samuel mengibaskan tangan sehingga pegangan tangan Jhon di ponselnya terlepas. "Dan dia juga bukan wanita mu?" Seketika Jhon terdiam hanya menatap tajam tersirat pertanyaan 'kenapa Samuel bisa tahu kalau Meccayra bukan kekasih asli nya.' Lagi-lagi senyuman sinis terukir di bibir Samuel, membalas tatapan Jhon tak kalah sengit. "Kakak pasti sedang berpikir, bagaimana bisa aku tahu kalau hubungan kalian bukanlah hubungan kekasih kan?" Yang membuat Jhon semakin terpaku diam semakin menatap dingin tak terbaca. "Huh! Lucu sekali...," Samuel beralih menatap gadis cantik yang tampak tersenyum ceria bercengkrama di halaman. "Aku sangat mengenal Kakak, kita besar dari kecil sampai sekarang selalu bersama, jadi sudah sewajarnya dengan hal kecil seperti ini aku akan mudah menebaknya." "Kau, apa yang kau bicarakan." Sangkal Jhon. "Kakak tidak akan menyangkal seperti ini kalau sedang menutupi kebenaran." Ucap Samuel membuat Jhon semakin terpojok. "Kau-" "Jangan mengelak lagi Kak, hubungan kalian bukan sepasang kekasih kan?" Sejenak Jhon terdiam tanpa menjawab, dia hanya memalingkan pandangan ke arah Meccayra. Melihat respon seperti itu, senyuman miring kembali terulas di bibir Samuel. "Ternyata benar ... Bagaimana mungkin Kakak yang setia pada Kak Anna sampai mati, bisa secara cepat berpindah hati pada gadis lain, ... yaa meskipun kalau pada Meccayra itu mungkin saja hal yang bisa terjadi, karena aku pun begitu, ketika baru bertemu dengannya sekali saja aku langsung terpesona dengan keunikan dia." "Kau benar." Gumam Jhon masih dengan tatapan lekat pada gadis di sebrang sana. Samuel kembali melanjutkan berbicara dengan pandangan sama-sama masih memperhatikan Meccayra. "Jika begitu, lepaskan Meccayra, biarkan aku mengejarnya, aku menginginkan dia." Mendengar hal itu, sontak Jhon mendelik tajam ke arah pria yang tengah tersenyum itu. "Jangan harap." "Hah!?" Senyuman di bibir Samuel seketika memudar membalas tatapan Jhon tak kalah tajam nan dingin. "Kenapa? Kalian kan nggak ada hubungan apa pun, dan Kakak tidak menyukainya kan?" Rahang Jhon mengeras menahan emosi agar bisa terkendali, dia beranjak berdiri menatap sengit. "Aku tidak akan melepaskannya." "Heh?" Senyuman sinis, dan dengusan kesal dari Samuel. "Kau jangan serakah, kalau kau berbuat seperti itu, sama saja kau mempermainkan perasaan Meccayra. Lepaskan dia, dan biarkan dia dengan pria yang akan mencintainya." Jhon membuang napas kasar menahan agar tetap bersikap tenang, dia tersenyum smirk . "Kau bilang sangat mengenal ku, tapi ternyata kau masih tidak mengenal ku, adik sepupu." Ucapnya sambil menepuk sebelah bahu Samuel lalu berbalik pergi, melangkah menuju ke halaman dimana Meccayra berada. Meninggalkan Samuel yang terpaku diam menatap Jhon yang sudah bergabung bersama Meccayra di halaman. "Hah," Samuel tersenyum hampa mendengus pelan dan membuang muka, tak percaya dengan fakta yang akan dia dengar dan lihat, menyimpulkan maksud dari perkataan Jhon tadi. "Jadi dia juga menyukainya." Gumam kesal dan ketidakpercayaan Samuel. Dugh! Dia memukul lengan kursi berbahan kayu jati itu dengan kasar melampiaskan kekesalan. "Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, Kak, karena sedari awal gadis itu seharusnya menjadi wanita ku."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baik
30/06
0Bagus bgt cerita nya
30/04/2025
0mantap bgtttt
08/04/2025
0Lihat Semua