Meccayra semakin gugup merapatkan diri pada Jhon, meskipun ini kali kedua dia mengunjungi rumah kediaman Andinata tetap saja Meccayra masih canggung dan malu, apalagi sekarang akan bertemu dengan anggota keluarga lain membuat dia semakin gelisah dan malu.
Jhon yang merasakan kegugupan Meccayra, dia melepaskan genggaman tangannya beralih merangkul bahu Meccayra yang sontak membuat gadis itu terhenyak kaku. "Jhooon." Bisik Meccayra melirik tangan Jhon yang merangkul di bahu. *Apa maksudnya ini?* Isyarat mata Meccayra meminta penjelasan. Namun Jhon pura-pura tak sadar dengan peringatan Meccayra. "Ibu, sama Ayah dimana?" Jhon bertanya sembari melangkah masuk ke kedalaman rumah masih merangkul Meccayra ikut mensejajari. Bi Iyom dan beberapa pelayan ikut mengikuti mereka berdua. "Nyonya, tuan dan keluarga dari saudara telah berada di ruang makan, beliau meminta tuan muda dan Nona untuk segera ke ruang makan saja." "Hemm." Saat melewati pertigaan koridor, Jhon mengambil jalan belok kanan yang langsung menuju ruang makan. "Di mobil ada bingkisan kecil dari Aira, bawalah kemari dan sajikan." "Baik tuan muda." Segera Bi Iyom memberi perintah lewat gerakan tangan pada salah satu pelayan di sana. Dua pilar yang terhubung pintu ruang makan telah terlihat, semakin membuat jantung Meccayra berdegup tak karuan sampai keringat mengucur di telapak tangannya saking gugupnya. *Bismillah, semoga lancar deh.* Batin Meccayra menatap pintu kaca geser di hadapannya. Jhon yang merasakan ketegangan di bahu Meccayra, dia melirik gadis yang tengah dirangkulnya itu. "Kenapa kau gugup sekali? Kau kan sudah pernah bertemu Ibu ku." Ucap Jhon ujung bibir nya tersenyum geli. Bibir Meccayra mengerucut menatap sebal. "Jelas lah aku akan gugup, di ruangan sana kan bukan hanya ada ibu mu saja, tapi ada sodara mu juga." "Sudah ku bilang, santai saja, mereka tak akan menggigit mu." "Bicara sih mudah, tapi susah nerapin nya." Keluh Meccayra dengan pandangan tertunduk merasa tak percaya diri. Tangan Jhon yang semula merangkul beralih mengelus puncuk rambut Meccayra. "Ada aku di sini, apa itu masih kurang untuk membuat mu tenang." Ucapan Jhon seketika membuat Meccayra tertegun, merasakan kehangatan sehingga memunculkan senyuman manis di bibir Meccayra. "Iya yah, kan ada Jojo." Ceria Meccayra disertai senyuman ceria nan manis. Degh! Seketika membuat Jhon yang melihatnya terpana ng-blush. Dia membuang muka menyembunyikan pipi nya yang mulai memerah. "Ekhem." Dehem Jhon setelah menguasai dirinya kembali memasang ekspresi tenang. Dia kembali meraih tangan Meccayra untuk digenggam. "Ayo, masuk." Kata Jhon melangkah diikuti Meccayra yang sudah percaya diri. Sreet. Keduanya melewati pintu kaca geser otomatis itu, yang kini kedua insan tersebut telah memasuki ruang makan. Di ruang makan itu, tampak cukup ramai oleh suara obrolan yang sesekali gelak tawa terdengar dari Ibu-Ibu di sana. Pak Roy pertama kali menyadari kedatangan Meccayra dan Jhon, segera menyapa dengan ramah. "Kalian telah datang, kemarilah Jhon bawa wanita mu juga." "Hemm." Jhon melangkah sambil menggandeng Meccayra, mendekati pada perkumpulan keluarga yang sudah terduduk di kursi meja makan. "Aaah, Nak Aira, kita bertemu lagi sayang." Sapa Ibu Lestari menyapa riang. "Iya tan-, ah, Ibu." Balas Meccayra gugup. "Silahkan duduk sayang." Titah Ibu Lestari mempersilahkan. Drrk. Jhon menarik kursi untuk di duduki Meccayra lalu menarik kursi untuk dirinya. "Makasih Jhon." Meccayra duduk di kursi samping Jhon, berhadapan langsung dengan Ibu Lestari dan dua anggota saudara yang sepertinya sepasang suami istri. "Ekhem." Deheman seseorang wanita yang terduduk di sebelah Ibu Lestari yang sepertinya saudara Jhon. "Jadi ini calon mantu kamu Kak Roy, aduuh, cantik dan anggun yah." Mendengar pujian tersebut, Meccayra melirikkan mata pada wanita yang berucap itu. Dia tersenyum sopan. "Terimakasih tante atas pujiannya, maaf saya belum memperkenalkan diri sebelumnya, saya Meccayra Nadira." "Aaah~ sopan sekali, tidak salah keponakan saya sampai kepincut sama kamu." Senyuman di bibir wanita itu seketika hilang saat sadar dengan nama yang disebutkan oleh Meccayra. "Sebentar, kamu tadi bilang siapa nama mu?" "Mecca-" "Meccayra!" Suara Meccayra terdahului oleh suara seseorang pria yang baru datang memasuki ruang makan. Sontak semua orang di sana menoleh ke arah suara yang memanggil nama Meccayra dengan suara keras itu. Kedua mata Meccayra membelalak terkejut saat melihat sosok yang dia kenal di hadapannya. "Kamu-" tercekat tak mampu berucap lagi saking terkejutnya. Pria tampan dengan mantel hitam panjang itu, berjalan mendekati pada perkumpulan orang dengan pandangan mata tak lepas menatap Meccayra. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Samuel setelah berada di samping kursi yang di duduki Meccayra. "Ah." Meccayra hanya terdiam kaku, lidahnya terasa kelu untuk berkata. *Harusnya aku yang bertanya, kenapa orang aneh ini ada di sini?* Batin Meccayra masih diliputi keterkejutan. "Jadi benar kamu Meccayra Nadira yang itu?" Kali ini suara wanita bernama Ibu Anita menambahkan keterkejutan mereka. "Saya kira saya salah orang karena nama mu sama, tapi ternyata benar kamu Meccayra anaknya Pak Rendy kan?" Kali ini Pak Zaklin ikut bersuara. "Eh, tunggu, maksudnya apa yah ini?" Ibu Lestari bertanya karena merasa bingung dengan situasi saat ini. Hanya Pak Roy dan Jhon terdiam mengamati. *Gimana nih, aku harus gimana? Ya tuhaan, aku harus apa sekarang? Kabur pun tak mungkin.* Batin Meccayra merasa bingung, gelisah, serba salah harus berkata dan berbuat apa. Tangan Samuel menyentuh pundak gadis yang kebingungan itu, dia bertanya masih tak percaya dengan kejutan yang dia lihat. "Meccayra, jawab aku! Kenapa kau ada di sini?" "Itu... saya, saya-" gelagap Meccayra tercekat. Plak! Jhon menepis kasar tangan Samuel di pundak Meccayra. "Dia wanita ku, tentu saja dia harus di sini." "Hah!?" Kaget Samuel dengan mata melebar tak percaya. "Jangan bercanda deh Kak, dia itu calon tunangan ku, dan calon istri ku!" "Kau salah orang, dia wanita ku!" Ucap Jhon tak mau kalah, dia merangkul pundak kaku Meccayra agar lebih dekat dengannya. Samuel yang mulai geram, ikut merangkul dan menarik pundak Meccayra agar merapat ke arahnya. "Mana mungkin aku salah orang! Dia Meccayra Nadira calon istri ku!" "Bukan! Dia bukan calon mu!" Kembali Jhon menarik tubuh Meccayra. *Ya tuhaan, apa yang terjadi dengan mereka? Kalau mau bertengkar jangan maen tarik ulur tubuh ku doong, aku kan manusia bukan bantal guling.* Batin Meccayra menangis merasa dirugikan dan terpojokkan. "Samuel! Jhonathan! Sudah cukup!" Sentakan dari Pak Roy seketika ocehan mereka berdua terhenti dengan Meccayra berakhir dalam rangkulan Jhon. "Lepaskan tangan Kakak dari tubuh calon istri ku." Kata Samuel menunjuk tangan Jhon dengan tatapan mengancam tajam. Namun Jhon tak menggubris ancaman itu, dia dengan sengaja semakin merapatkan rangkulan di pundak Meccayra. "Kak Jhon!" Geram Samuel akan mengamuk lagi namun terhalang oleh instruksi dari Pak Roy. "Samuel, duduklah dulu." Tegas Pak Roy membuat pria itu dengan pasrah diam menurut mengambil duduk di kursi samping Meccayra. Sehingga tampak Meccayra berada di tengah-tengah kedua pria itu. Suasana seketika berubah hening mencekam, semuanya terdiam tak ada yang berani membuka obrolan, hanya pandangan mereka yang saling lirik melirik satu sama lain terkandung pertanyaan. Sedangkan Meccayra sudah tak sanggup lagi mengangkat wajahnya karena saking malu, gelisah, dan gugupnya dia sudah tak mampu bersitatap dengan siapa pun, tangan Meccayra terkepal meremet di atas pangkuannya. *Situasi macam apa inii! Aku harus bagaimana? Kenapa bisa jadi begini siih? Aku ingiin pulaaang.* Batin Meccayra menjerit malu sudah tak berdaya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baik
30/06
0Bagus bgt cerita nya
30/04/2025
0mantap bgtttt
08/04/2025
0Lihat Semua