CN : Kalimat yang bertanda bintang (*) merupakan kalimat yang di gumamkan si tokoh dalam hati. ------------ "Jhonathan kan nggak suka putih telur, nah lihatlah ke piring dia. Masa kamu pacarnya baru tahu juga tentang selera makan Jhon." Kata Ibu Lestari. Reflek membuat Meccayra melirik piring milik Jhon yang ternyata benar di sana ada putih telur tersisihkan di sisi piring. *Dia nggak suka putih telur?* "Ekhem," dehem Jhon membuyarkan tatapan Meccayra yang beralih kembali menatap piring milik nya. "Karena kami jarang makan bersama jadi dia tidak tahu tentang selera makan ku, iya kan Aira?" Ucap Jhon melimpahkan pertanyaan, menatap gadis di sampingnya. "Ah, i-iya." Jawab Meccayra seucapnya saja. "Hmm, begitu... tak heran juga sih, kalau itu kamu Jhon. Duh, pasti selama ini Nak Aira sangat tertekan telah bersama dengan pria kaku seperti dia." Ucap Ibu Lestari merasa kasihan pada Meccayra karena dia tahu betul anak nya Jhon sangat dingin terhadap wanita lain. "Tidak kok, Bu. Jojo sangat baik dan hangat terhadap saya." Meccayra kembali menimpali dengan senyuman. "Jojo?" Celetuk Ibu Lestari aneh. "Itu nama panggilan Jhon dari saya." "Aaah~ manisnya, jadi kamu memanggilnya Jojo yah, nama yang sangat manis dan imut, tapi kurang pantas untuk anak Ibu yang mempunyai sifat jauh dari kata manis." Sindir Ibu Lestari melirik pria yang tengah menyantap makanan. Meccayra tersenyum menimpali. "Menurut saya, Jojo sangat manis kok bu." Mulut Ibu Lestari sedikit ternganga tertutupi telapak tangan, dia tak percaya akan ada orang yang berkata seperti itu tentang Jhon. "Ya tuhaan, kamu sampai berkata begitu, aah~ gimana ini Yah... Ibu benar-benar menyukai calon putri kita." "Iya Ayah juga menyukainya." Timpal Pak Roy di sela mengunyah makanan. "Kalau gitu, kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan Ibu Lestari sontak membuat kedua insan itu tersedak makanan dan terbatuk. "Uhuk, uhuk, uhuk." Saking kagetnya Meccayra dan Jhon langsung menelan bulat makanan dalam mulut. Mereka berdua menyambar segelas air putih dan meminumnya hingga habis setengah. *Kenapa sampai ke tahap pembicaraan serius begini sih? Aku kan bukan pasangan asli si Jhon.* Batin Meccayra netra cokelat nya melirik ke arah Jhon yang tampak berpikir mengendalikan diri untuk tetap tenang. *Apa yang akan dia katakan?* Meccayra dengan penasaran menunggu pria di sampingnya itu bicara. "Kenapa langsung berbicara tentang pernikahan? Kita pacaran juga baru sebulan yang lalu. Jadi masih terlalu dini untuk menikah." Ucap Jhon mencari alasan. "Memang apa salahnya menikah karena baru kenal, Ibu dan Ayah mu juga 3 bulan pacaran dan langsung menikah, iya kan Ayah?" Kembali Ibu Lestari memojokkan membuat Jhon memutar otak untuk mencari alasan. "Hemm. Benar kata ibu mu, asal kita cocok kenapa harus menunda nya lagi." Pak Roy mengiyakan jelas sekali kedua orang tua itu tengah mengeroyok anak nya dengan pertanyaan berat dan sulit untuk di jawab. *Situasi nya jadi kayak gini, aku harus apa nih?* *Dia juga kayaknya sudah kehabisan ide untuk berkilah.* Gumam Meccayra dalam hati saat melihat Jhon terdiam. "Anu," Celetuk Meccayra seketika semua mata memandang ke arahnya membuat dia semakin gugup gemetar. "Sa-saya setuju dengan pendapat Jojo... soalnya kalau untuk menikah sepertinya terlalu cepat bagi saya, saya masih mau lebih mengenal Jojo, juga ingin lebih dekat dengan Ibu dan Om terlebih dahulu, agar setelah menikah nanti saya sudah terbiasa bersama." *Apa sih yang aku ucapkan ini! Kok rasanya aku lagi bahas tentang lamaran sungguhan, apa Jojo akan marah?* Batin Meccayra merutuki diri merasa menyesal dengan ucapan yang dia tutur kan. Penuturan Meccayra seketika membuat suasana hening, mereka semua menatap diam tak bersuara sampai Ibu Lestari akhirnya membuka suara. "Baiklah, jika kemauan kalian berdua begitu, tapi kalau memang menikah itu terlalu cepat bagi kalian... bagaimana untuk sementara waktu, kalian bertunangan dulu?" Lagi-lagi Ibu Lestari masih tak mau mundur. "Benar kata ibu mu, kalau ingin saling mengenal lebih dekat bukannya bertunangan adalah cara terbaik." Pak Roy menambahkan masih di pihak sang istri. *Ya tuhaan, mereka masih saja mendesak Jhon.* *Lihatlah anak mu Pak, dia sangat tertekan.* Prihatin Meccayra melihat raut wajah Jhon yang tampak terdiam berpikir. "Haah," helaan napas panjang keluar dari mulut Jhon sebelum akhirnya mengeluarkan kata yang membuat Meccayra kaget. "Baiklah, kita akan bertunangan." Kata Jhon pasrah. "Hah?" Celetuk Meccayra mata nya membulat kaget, tak percaya dengan apa yang di dengar. *Dia menyetujuinya? Apa dia benar-benar si Jhon?* "Baguslah, kita tentukan tanggal pertunangan langsung." Girang Ibu Lestari begitu pun Pak Roy tersenyum senang dengan keputusan Jhon. "Tak perlu terburu-buru Bu, kita harus bertemu besan terlebih dahulu sebelum menentukan acara pertunangan." Kata Pak Roy. "Iya, benar juga, Ibu terlalu senang." Tuk, tuk. Meccayra menyenggol lengan Jhon membuat pria itu menoleh, dia menggeser duduk agar merapat ke tubuh Jhon. "Kamu, apa yang kamu bicarakan? Kenapa harus bertunangan segala?" Bisik Meccayra. "Mau gimana lagi, jika aku tidak mengalah. Mereka akan terus mendesak ku." Balas Jhon berbisik. "Kamu jangan main-main dengan hal seperti ini dong, kalau mereka sampai datang ke rumah ku gimana aku untuk menjelaskan ke orang tua ku." Masih berbisik ke dekat telinga Jhon. Sejenak Jhon terdiam menatap Meccayra, dia membuka bibir hendak bersuara namun... "Ekhem," sebuah deheman memutus pembicaraan mereka. Meccayra dan Jhon segera membenarkan posisi duduk mereka ke semula. "Sepertinya kalian melupakan kami yah anak muda." Sindir Ibu Lestari tersenyum mesem-mesem. "Ma-maaf bu." Ucap Meccayra membuang muka ke arah lain menyembunyikan rona merah di kedua pipi karena malu. Senyuman jahil terulas di bibir Ibu Lestari, kembali menggoda Meccayra. "Kenapa harus minta maaf? Wajar kok, Ibu sama Ayah juga pernah muda... dan memang begitu kalau lagi kasmaran, suka lupa sekitar, serasa dunia milik berdua saja." *Aargh aku malu.* Wajah Meccayra semakin merah padam menahan perasaan malu. "Sudah bu, jangan menggoda Aira lagi." Pak Roy menengahi. "Hahaha." Seketika tawa geli penuh kesenangan memenuhi ruang makan itu. Mereka kembali melanjutkan makan malam di selingi obrolan ringan dan sesekali gelak tawa menghiasi, menciptakan susana yang hangat dan bersahabat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baik
30/06
0Bagus bgt cerita nya
30/04/2025
0mantap bgtttt
08/04/2025
0Lihat Semua