42

Seorang gadis mengedipkan matanya berulang. Netranya tak dapat menatap dengan fokus. Ntah telah berapa hari dia di sini.
Bahkan dia lupa apakah sempat berpindah tempat atau tidak. Semu-semu dia mendengar langkah kaki menuju tempatnya.
Aroma ini dia merasa pernah mengenalnya tapi siapakah? Orang tersebut berjongkok dan mencengkeram kencang dagu Felicia.
"Hai cantik, sayang sekali kamu tak bisa melanjutkan liburanmu."
Felicia mendengus mendengar penuturan tersebut, "Lepaskan!"
"Jangan terlalu dingin, Nona."
Felicia membuang wajahnya agar tak menatap pelaku penyekapan dirinya. Orang tersebut tak menyerah walau Felicia tak menganggapnya.
Dia berputar dan mendongakkan paksa Felicia. Bukan dengan tatapan sendu tetapi Felicia melotot merasa risih akan tangan tersebut.
"Telinga anda masih utuh bukan? Apakah pendengaran anda berfungsi dengan normal dan baik?"
Orang yang menyekap Felicia tersebut tampak terkejut dengan penuturan Felicia. Dia tak mengira apabila gadis ini memiliki nyali yang sangat bagus.
"Hai Nona, tenanglah. Di sini seharusnya saya yang menghardik anda bukan sebaliknya! Karena anda kakak saya kecewa besar!"
Felicia berpura-pura tertawa, dia merasa hal ini sangat terlalu lelucon, "Anda sudah dewasa bukan? Bahkan saya pikir umur anda lebih cocok saya panggil mak lampir." Felicia menutup mulutnya untuk membuat orang tersebut semakin kesal.
Gadis penyekap Felicia yang tak lain adik dari Arikh tersebut berdecak kesal. Ingin rasanya dia melampaui batas untuk bermain-main dengan Felicia.
Felicia menyandarkan kepalanya menanti lelucon apalagi yang akan terucap. Lama tak mendengar penuturan lagi, Felicia menertawakan gadis lebih tua di hadapannya.
Clarissa atau akrab dipanggil Arissa tersebut melirik kesal Felicia. Bolehkah dirinya membasmi Felicia layaknya nyamuk?
Karena terlalu kesal dirinya keluar dari ruangan yang ditempati Felicia. Felicia menekuk kedua lututnya berusaha menghangatkan diri.
Setelah keluar dari ruangan Felicia, Arissa menutup wajahnya menahan tawa. Bodohnya gadis tersebut tak merasakan rahasia.
Arissa menyebrangi kamar yang menjadi tempat dirinya beristirahat. Dirinya telah meminta tolong kepada teman-temannya untuk menjaga kamar Felicia.
Kamar Felicia diatur dengan suhu paling dingin, jendela kamar tertutup rapat, dan listrik yang dipadamkan total.
Arissa memejamkan matanya merasa lelah. Dirinya beralasan bahwa diajak temannya untuk liburan.
Saat hendak terlelap suara notifikasi membuatnya seketika terganggu. Dia meraba dan mencari ponselnya.
Whatsapp
Bang Tawarikh
[Loe nggak keceplosan'kan?]
[Loe jangan apa-apain tuh bocah.]
[Jangan sampai keceplosan.]
[Jangan apa-apain tuh bocah.]
[Jaga diri terutama mulut loe.]
Arissa memutar bola mata malas melihat pesan yang dikirim sang kakak. Dia hanya membalasnya secara singkat.
Clarissa
[Over mouth, Bang.]
[Dah sana nikmatin waktu berduaan loe.]
Setelah merasa bahwa sang kakak tidak akan membalas lagi, dirinya pun menuju alam mimpi. Ntah mengapa dirinya merasa ingin mengecek keadaan Felicia.
Syukurlah gadis tersebut tampak tak berani kabur. Ntah pingsan atau tidur dia tak peduli akan hal itu.
Dia menepuk-tepuk teman-temannya untuk ikut beristirahat di kamar sebelahnya. Setelah mengunci pintu mereka segera beristirahat.

Setelah selesai sarapan Arissa dan teman-temannya menuju kamar Felicia. Mereka hanya berbekalkan senter dari HP masing-masing.
Mereka merasa aneh karena Felicia tidak terganggu saat kedatangan mereka. Biasanya gadis tersebut akan langsung berdiri tegap atau bersandar pada dinding.
Karena merasa takut menjadi hal tak mengenakan, Arissa dan teman-temannya menarik Felicia. Banyak pasang mata yang menatap curiga mereka.
Teman-temannya dengan tas mereka dan Arissa yang kebingungan mencari kunci mobil serta gudang rumahnya. Dia berencana menempatkan Felicia di gudang rumahnya.
"Ris, terus nih anak gimana nasibnya?"
"Nggak langsung loe balikin ke rumahnya'kan?"
"Dia akan gue pindahin ke gudang rumah gue," balas Arissa sembari mengemudi.
Teman-teman Arissa meliriknya. Arissa tak memedulikan lirikan tersebut dan kembali fokus.
"Loe nggak ada niat bawa dia ke klinik atau rumah sakit dulu gitu?"
"Bener tuh Ris, masa nih anak nggak sadar dari tadi."
Arissa menurunkan sedikit spion mobilnya untuk mengecek keadaan. Dia mendecak karena menduga gadis itu hanya berpura-pura.
"Dah nggak usah khawatir dia cuma pura-pura paling," ujar Arissa.
Seorang wanita merasa gelisah menanti anak gadisnya pulang. Anak gadisnya tak mengatakan apapun, dia mengetahui bahwa perjalanan pulang dari teman anaknya.
Wanita tersebut segera menuju gerbang saat mendengar suara mobil. Pikirannya semakin kalut kala ternyata mobil tersebut milik suaminya.
Tak lama setelah suaminya pulang, sang anak gadis pun tiba. Arissa membulatkan matanya , dia merasa bingung mencari cara untuk membawa Felicia masuk tanpa ketahuan.
Karena sang mama yang tampak masih menunggu sembari memberikan tatapan menyelidik, dirinya pun memutuskan turun.
"Kenapa kamu nggak bilang Mama kalau sudah pulang?" tanya Mama Arikh dan Arissa setibanya di rumah.
Seorang lelaki lanjut usia kembali ke gerbang kala mendengar suara istrinya. Dia terkejut melihat putrinya yang telah pulang.
Seingatnya sang putri meminta izin untuk lebih lama. Mengapa sekarang telah di rumah? Apakah ada masalah?
Belum saja Arissa menjawab dirinya semakin bingung menjelaskan. Dia melirik sedikit mobilnya berharap Felicia tidak terbangun atau kabur. Mama dari Arikh dan Arissa mengikuti arah pandang putrinya.
"Sudah-sudah ayo masuk. Tidak baik apabila bicara di luar nanti di lihat orang lewat!" perintah Papa Arikh dan Arissa.
Setibanya di ruang tamu Arissa berpamitan lebih dahulu. Orang tuanya menganggukkan kepalanya dan mengatakan agar selesai langsung ke ruang tamu kembali.
Mama Arissa dan Arikh tersebut langsung bertanya saat sang putri hendak duduk, "Kenapa kamu melirik mobil tersebut?"
Arissa merasa takut bahwa rencana jahatnya akan ketahuan. Dia bergeming dan mengedarkan pandangan berusaha mencari alasan.
"Nggak pa-pa kok, Mah. Arissa hanya mengecek kebersihan mobil saja," elak Arissa.
Berbeda dengan sang mama yang menginterogasi, papa Arissa dan Arikh tersebut mengecek mobil putrinya. Ntah mengapa dia merasa ada yang mengganjal.
Arissa yang baru menyadari papanya tak ada pun segera menuju ke mobilnya. Sesuai perkiraan sang papa tengah mengintip mobilnya.
Arissa segera menahan sang papa saat hendak mengambil kunci mobilnya, "Papa mau keluar pakai mobil Arissa?"
"Terus terang saja apa yang kamu sembunyikan?" tanya Papa Arikh dan Arissa.
"Tidak ada, Pa," balas Arissa menggelengkan kepalanya.
Arissa segera mengambil kunci mobilnya dan meminta izin ingin berkeliling perumahan. Arissa membatalkan jalan-jalannya dia segera meletakkan Felicia di gudang tak terpakai.
Dia meletakkan secara kasar Felicia. Orang tua Arissa dan Arikh pun terkejut kala mendengar suara dari arah gudang tak terpakai.
Mereka mengintip Arissa secara diam-diam. Arissa yang merasa ada mengawasi pun segera menyelesaikan aksinya.
Arissa menendang keras Felicia agar tersadar. Sesuai harapannya gadis tersebut tersadar dalam keadaan lemas.
"Hai mantan calon keponakan," sapa Arissa.
Orang tua Arissa dan Arikh terkejut kala mendengar sapaan putrinya. Calon keponakan? Apakah berarti anaknya Tesa tengah di rumah mereka?
"LE--LEPASIN," pekik Felicia walau agak lemas.
Orang tua Arikh dan Arissa seketika masuk ke gudang setelah mendengar pekikan tersebut. Mereka kompak membulatkan mata melihat keadaan Felicia.
"Kamu apakan saja anak Tesa, Rissa!" geram Papa Arikh dan Arissa.
Arissa gemetar mendengar bentakan sang papa. Dia berlindung di balik mamanya.
Sang mama tak terima apabila anaknya dibentak pun membalas, "Biarkan saja apa yang putriku inginkan! Dia telah dewasa dan tahu mana baik dan buruk!"
"Putri kita bukan putrimu saja!"
Mama dan anak tersebut seketika gemetar karena dibentak. Tanpa mereka sadari Felicia kembali tak sadarkan diri.
Papa dari Arikh dan Arissa segera menggendong Felicia. Arissa dan Mamanya segera menyusul sang Papa.
Setibanya di rumah sakit Papa dari Arikh dan Arissa meminta agar mereka menjaga Felicia dahulu.
Tak lama setelah dokter memeriksa Felicia sadarkan diri. Felicia membuang muka kala lagi-lagi bertemu perempuan dan wanita ini.
"Gara-gara kamu kakak saya menjauh dari keluarganya! Dasar beban!"
"Betul itu gara-gara kamu anak dan menantu saya menjauh!"
Felicia merasa tercengang mendengar penuturan tersebut. Menantu? Luar biasa sekali lelaki itu belum lama sang mama meninggal, lelaki tersebut telah menikah.
Berbeda dengan Felicia yang menebak bahwa Arikh cepat melupakan sang mama. Papa dari Arikh dan Arissa merasa bahwa menantu yang disebut adalah mama Felicia.
Papa dari Arikh dan Arissa memasuki ruang inap Felicia secara kasar. Arissa dan sang Mama langsung ditarik paksa untuk keluar.
"SIAPA YANG KALIAN MAKSUD MENANTU? DI MANA ARIKH?"
"Pa, to--tolong te--tenang du--dulu," ujar Mama Arikh dan Arissa secara terbata-bata.
"SAYA BILANG SIAPA DAN DI MANA?"
"PERUMAHAN SEKITAR HOTEL ARISSA MENGINAP BERSAMA KAK TESA," teriak Arissa di luar kendali.
Papa dari Arikh dan Arissa tersebut seketika terduduk. Dia tak mengira bahwa anak dan istrinya membohonginya.
Felicia yang penasaran akan topik pembicaraan mereka pun hanya menunggu sembari duduk dan mengayunkan kakinya.
"Felicia kenapa?"
"Dehidrasi dan asam lambung," jelas Mama Arikh dan Arissa.
Papa dari Arikh dan Arissa tersebut meninggalkan anak dan istrinya. Dia masuk ke ruangan Felicia dan duduk di samping Felicia.
Anak dan istrinya kompak tak berani menemuinya lagi. Bahkan hanya dia yang menjaga Felicia.
Felicia perlahan ramah terhadap pria di sampingnya. Dia merasa setidaknya pria ini lebih baik dari wanita dan perempuan tersebut.
Felicia sangat berterimakasih karena telah ditolong Papa dari om perebut Mamanya. Dia akan menceritakan hal ini kepada Harnefer setibanya di rumah.

Komentar Buku (90)

  • avatar
    WahyuniSri

    wah luar biasa

    22d

      0
  • avatar
    wulannurul

    bagus

    11/11

      0
  • avatar
    M.amirfauziAmir

    pph juga merupakan bagian dari genus Onthophagus dan familia Bombyliidae juga merupakan bagian dari genus Onthophagus dan familia Bombyliidae hari ini adalah daftar dan keteranganya nomor minta maaf kepada pemasang hari☀ ini adalah salah satu dari genus Onthophagus dan keteranganya nomor dan keteranganya nomor minta tolong jangan sampai masuk📥📥 mata👓 uang yang berlaku dan sim keliling dunia ini adalah daftar dan keteranganya nomor minta maaf kepada pemasang hari ini adalah daftar dan keterang

    28/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru