37

Harnefer masih merasa linglung walaupun berulangkali Kish menyadarkannya. Dia tak membayangkan bagaimana reaksi Oma dan tantenya ketika mengetahui Felicia hilang.
Dia sangat khawatir akan keadaan Felicia. Apakah penculik akan menghubungi orang rumah? Apakah Felicia bisa kembali? Apakah Felicia makan dengan benar?
Siapakah penculiknya? Bagaimana cara penculik itu menculik adiknya? Mengapa harus adiknya? Jam berapa Felicia diculik? Mengapa adiknya tak bergegas masuk? Apakah penculiknya tak nampak atau pintar bersembunyi?
Bel villa tampak dibunyikan terus menerus setiap detik. Harnefer segera berlari menuju ruang tamu. Dia berharap bahwa itu adalah sang adik.
"Le..." Lamunan Harnefer kembali berlanjut. Harapan bahwa itu adalah Feli seketika pudar. Tangan yang semula hendak memeluk seketika mengendur.
" Siapa loe? Mau ngapain loe ke sini? Cari siapa?" tanya Kish yang tak asing dengan ketiga gadis ular di hadapannya.
"Eh 2 Abang tampan, tolong dong Bang kasihkan surat ini. Kalau bisa bacanya waktu kumpul ya." Sonya mengulurkan amplop surat yang telah dia persiapkan.
Melany, Chelsea, dan Sonya kompak menampilkan senyum licik mereka. Ketiga gadis ular tersebut meninggalkan vila kala teman-teman Felicia telah kembali.
"Hah gila capek banget parah," gerutu Lutfi dan teman-temannya.
"Bang, penculik Feli nggak kasih petunjuk gitu?" Satya, Nada, Rafael, Andini, dan Reza memilih duduk di ruang tamu berharap bel dibunyikan Felicia.
Kish hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. Dia baru teringat bahwa tadi ada 3 tamu gadis ular.
"Rez, loe aja yang buka." Satya menyerahkan amplop tersebut kepada Reza.
Isi surat :
Hai anak-anak tampan dan cantik. Gue yakin tanpa kasih tulisan dari siapa pasti kalian bisa tebak. Ya, gue adalah Sonya. Gue punya suatu berita penting. Hahaha tidak-tidak tapi sangat penting. Apabila kalian minat dengan info yang akan gue berikan temui sepulang vila. Terserah mau rombongan arisan atau perwakilan gue tunggu kedatangan kalian. Atur waktu dan tempat sesuka kalian.
"Sial!" seru Reza setelah membaca surat.
Teman-teman yang lain tak mengira bahwa Sonya akan sangat ular seperti ini. Harnefer seketika menarik surat tersebut dan membacanya secara cepat namun rinci.
Harnefer hendak mengambil jaketnya dan mencari Sonya. Kish yang melihat sahabatnya tersulut emosi pun mendudukkan paksa Harnefer.
"Gue harus cari adik gue, Kish! Lepasin gue!"
"Emosi loe nggak guna, Harn! Di surat itu tertulis setelah kita pulang bukan sekarang! Mustahil dia mau kasih secara cuma-cuma!" tegur Kish yang ikut tersulut emosi.
Teman-teman Felicia melerai kedua lelaki yang lebih tua dari mereka. Reza lebih memilih berpisah dari teman-temannya dan memikirkan jalan keluar.
"Cie yang galau gara-gara objek bertepuk sebelah kakinya," ejek Revan.
"Your mouth mau dikukus?"
"Kenapa kalian justru ke sini?" Rafael yang mengira taman akan sepi pun bertanya karena mengira kedua temannya ikut bergabung di dalam.
"Ada ya..." Belum saja ucapan Revan terucap sudah mendapatkan lirikan dari Reza.
Satya dan Nada yang melihat pun sudah menebak alasan Reza, "Jadi kita semua akan temui tuh ular kapan?" tanya Satya.
"Kita? Sat, kalau kita datang semua kayak keroyokan tau nggak?" sembur Andini.
"Woles mbak kalau cemburu. Mereka cuma sahabatan kok," celetuk Leo dari balik pohon.
Ucapan Leo seketika membuat semuanya terperanjat kaget. Dia pikir hanyalah mereka saja yang di taman.
"Kagak usah kalian semua yang datang. Biarin gue aja yang datang sendirian," ujar seorang lelaki yang lebih tua dari mereka semua.
"Kagak bisa Bang Ki... Loh kok Bang Harn?" tutur mereka dengan kompak kecuali Revan dan Leo.
"Gue akan pulang duluan buat temuin tuh cewek ular!" tandas Harnefer tanpa ingin ganggu gugat.
"Loe nggak bisa seenak jidat loe. Mereka tulis surat itu pasti juga punya rencana licik, Harn. Jangan gegabah dan bikin Feli makin celaka," tegur Kish.
Rafael, Nada, Andini, Leo, Reza, dan Revan hanya bisa mengurut dada sabar. Mereka heran apakah kedua lelaki tersebut memiliki kekuatan super?
"Dan loe juga kita semua nggak tau kalau Felicia sudah diapain aja! Kita nggak tau, Kish! Bahkan Feli sadar atau nggak kita nggak tau!" raung Harnefer.
Dia merasa pusing mencari dan berharap petunjuk penculik Felicia. Dia rasanya ingin menghilang tak terbayang reaksi orang rumah dan keluarga lainnya..
"Bang, lebih baik kita semua temuin Sonya," ujar Arkan memberikan saran.
Semuanya seketika berkumpul di taman kala mendengar teriakkan Harnefer. Mereka tak tega dengan keadaan kakak-adik tersebut.
"Tuh dengerin co..." Hampir saja Kish hendak keceplosan perihal Arkan sebelum kakinya diinjak sang adik.
Satya tersenyum sangat lebar berharap sang abang peka apa yang dia maksud. Arkan mengedipkan matanya berulang bertanya-tanya alasan Satya melakukan hal tersebut.
"Co apa?" tanya Harnefer penasaran.
"Sepupu cowok gue satu-satunya,Bang," sahut Dina secepat mungkin.
Harnefer menganggukkan kepalanya berulang. Kish yang telah selesai mengusap kakinya pun kembali melanjutkan, "Dah kita datang ramai-ramai setelah pulang dari vila. Gue juga akan minta bantuan teman biar cepat," ungkap Kish yang disetujui semuanya.
Tak semua sebenarnya karena Harnefer kembali bergeming dengan tatapan kosongnya, "Kalau kita nyari semua terus kalau adik gue pulangnya ke vila gimana?"
"Vila akan dijaga orang suruhan Ayah gue, Bang," jelas Reza.
Keesokan paginya mereka semua segera bergegas untuk kembali ke rumah. Sebuah seketika mempercepat kala melihat gadis yang tak asing baginya.
Mobil lain yang mengikutinya pun seketika berhenti kala melihat pengemudi tersebut hendak menyeberang. Sayangnya kendaraan tampak ramai tanpa memberikan jarak sedikit pun.
"Harn, loe gilak! Ngapain loe mendadak berhenti! Kalau mau setor nyawa nggak gini caranya!" pekik Kish ditengah jalan.
Sebuah pengemudi lain memisahkan kedua pemuda yang asyik berdebat. Penumpang-penumpang mobil tersebut hanya menetap sendu merasa tak tega dengan Harnefer.
"Anak-anak ayo berhenti berdebat. Lanjutkan perdebatan kalian di telepon saat di rumah. Jangan menyetorkan nyawa kalian di tengah jalan ramai begini," tegur Abi Dalwyn.
"Ayolah perdebatan kalian hanya memperlambat waktu pencarian, Bro," celetuk Reyhan Abang Reza.
Reza telah memberitahukan kepada keluarganya perihal hilangnya Felicia. Tugas dia setibanya di rumah adalah menceritakan kronologinya secara lengkap.
Selama perjalanan menuju rumah masing-masing mereka tak dapat tidur. Mereka tetap terjaga sembari melihat jalan sembari berharap menemukan Felicia.
Sayang seribu sayang harapan memang tak selamanya dapat terkabul. Tak semuanya harapan dan usaha yang kita lakukan dapat segera terkabulkan.
Mereka semua sama-sama tak menemukan petunjuk satu pun. Harnefer memutuskan diri untuk menginap di rumah Kish dan Satya.
Dia takut akan reaksi Oma Rizya dan Opa Adriel berikan. Keluarga Satya dan Kish akan membantu juga.
Harnefer memohon agar mama ataupun papa kakak-adik tersebut dan bercerita kepada keluarganya. Mereka semua pun berjanji bahwa besok akan kembali melanjutkan pencarian Felicia.

Komentar Buku (90)

  • avatar
    WahyuniSri

    wah luar biasa

    15d

      0
  • avatar
    wulannurul

    bagus

    11/11

      0
  • avatar
    M.amirfauziAmir

    pph juga merupakan bagian dari genus Onthophagus dan familia Bombyliidae juga merupakan bagian dari genus Onthophagus dan familia Bombyliidae hari ini adalah daftar dan keteranganya nomor minta maaf kepada pemasang hari☀ ini adalah salah satu dari genus Onthophagus dan keteranganya nomor dan keteranganya nomor minta tolong jangan sampai masuk📥📥 mata👓 uang yang berlaku dan sim keliling dunia ini adalah daftar dan keteranganya nomor minta maaf kepada pemasang hari ini adalah daftar dan keterang

    28/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru