logo text

4. Dosen Iblis & Mahasiswi Ajaib

Di dalam ruang dosen yang hening, udara seolah membeku di sekitar Lucifer Blackione. Ia menghela napas berat, sebuah desahan yang membawa beban ribuan tahun kesepian. Keberanian dan sifat tengil gadis di hadapannya ini benar-benar menguji batas kesabaran sang penguasa neraka. Selama tiga milenium, tak ada satu pun makhluk, baik iblis maupun dewa yang berani bicara asal-asalan di hadapannya, apalagi mengaitkan sejarah kekuasaan abad-16 dengan kasus kopi di sebuah kafe.
"Selain itu, Pak ...." Anhua memajukan tubuhnya sedikit. Jarak mereka kini hanya terpisah meja kayu tua yang beraroma cendana. Gadis itu menatapnya dengan binar keingintahuan yang begitu murni, sebuah kontradiksi dari aura dingin yang sengaja Lucifer bangun. "Bapak tahu banyak sekali tentang sejarah lama seolah-olah Bapak benar-benar hidup di masa itu. Terus, Bapak terlihat muda, tapi punya karisma seperti kakek-kakek yang sudah hidup seribu tahun. Jadi, sebenarnya ... berapa usia Bapak?"
Pertanyaan itu menghantam Lucifer tepat di ulu hati. Umurku? batinnya getir. Ia hampir saja menjawab bahwa ia telah menyaksikan peradaban bangkit dan runtuh, bahwa ia telah ada bahkan sebelum kata sejarah diciptakan oleh manusia. Namun, ia harus bermain dalam sandiwara dunia fana ini.
"Usia saya ...." Lucifer berdehem, mengalihkan pandangannya ke jendela yang menampilkan langit sore Semarang yang mulai kemerahan. "Dua puluh delapan tahun."
Anhua menyipitkan mata cokelatnya, memandang Lucifer dengan kecurigaan yang jenaka. "Dua puluh delapan? Serius? Kenapa saya merasa Bapak jauh lebih ... klasik dari itu? Kayak barang antik yang mahal tapi minta dipajang," godanya dengan senyum nakal yang membuat lesung pipinya terlihat samar.
Lucifer tidak membalas lelucon itu. Dari jarak sedekat ini, indra iblisnya menembus tabir dimensi. Ia melihatnya lagi, sebuah pemandangan yang selalu menyayat jiwanya. Rantai Lethe. Rantai transparan yang memancarkan cahaya biru pucat itu melilit erat di leher dan pergelangan tangan Anhua. Itu adalah segel kutukan dari para dewa, rantai yang memastikan ingatan masa lalu Neihua terkunci rapat dalam kegelapan abadi.
Hati sang raja iblis berdenyut perih. Ia sangat ingin mengulurkan tangan, menyentuh leher jenjang itu, dan membisikkan kebenaran yang menyesakkan. "Neihua, ini aku. Akulah suamimu. Raja yang hancur berkeping-keping saat kau direnggut. Tidakkah kau ingat bagaimana kita berdansa di tengah api Pandemonium tanpa rasa takut?"
Tangannya bergerak perlahan di atas meja, hampir mencapai jemari hangat Anhua. Namun, akal sehatnya berteriak. Jika ia memaksa ingatan itu terbuka sekarang, raga fana Anhua akan hancur lebur. Jiwa manusia tidak akan sanggup menampung beban memori abadi dalam sekejap.
"Kenapa, Pak?" suara Anhua memecah lamunan Lucifer. Gadis itu memiringkan kepala, bingung melihat dosennya tiba-tiba membatu dengan tatapan yang sangat melankolis. "Bapak ... lagi sakit gigi ya? Atau lupa naruh kunci motor?"
Lucifer segera menarik kembali emosinya, mengenakan topeng kaku yang biasa ia pakai. Ia mendorong ponsel Anhua dengan gerakan tegas.
"Bukan apa-apa. Ambil ponselmu. Dan di pertemuan selanjutnya, pastikan kau meninggalkan masalah hukum tahun 2016 di luar kelas saya. Atau kau akan benar-benar belajar apa artinya dihukum oleh sejarah."
Anhua dengan ceria menyambar ponselnya. "Siap, Profesor Lu yang tampan! Besok saya akan belajar tentang para sultan khusus buat Bapak. Permisi, Pak! Terima kasih atas ceramah pribadinya!"
Anhua meninggalkan ruangan dengan langkah ringan, bahkan sempat memberikan salam hormat yang terlihat seperti gerakan hormat pramuka yang asal-asalan di pintu. Lucifer hanya bisa menatap punggung itu menghilang di balik lorong.
Neihua, pikirnya sedih. Aku merindukanmu hingga rasanya keabadian ini adalah kutukan. Aku ingin memelukmu, menghirup aroma melatimu yang memabukkan untuk mengobati luka ini. Meskipun sekarang kau sangat menyebalkan dan tidak mengenalku ... aku akan menjagamu. Kali ini, tak akan kubiarkan surga menyentuhmu lagi.
***
Sore itu, suasana di lantai tiga gedung jurusan Sejarah terasa lebih gerah dari biasanya, namun keriuhan di kelas Historiografi Indonesia jauh melampaui suhu udara. Ruangan masih kacau balau sebelum dosen utama masuk. Anhua, yang tampaknya urat malunya sudah putus sejak kejadian di ruang dosen, tiba-tiba berdiri di depan kelas, tepat di samping podium.
"Attention, warga Sejarah! Harap tenang!" teriak Anhua sambil memukulkan penghapus papan tulis ke meja. Buk! Buk! Buk!
Seluruh kelas menoleh, termasuk Ama Geng lingkaran enam mahasiswi yang selalu tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek, yang hobi utamanya adalah merendahkan mahasiswa lain yang dianggap tak selevel.
"Saya ingin membuat pengumuman resmi supaya tidak ada sengketa wilayah di antara kita," kata Anhua dengan gaya percaya diri yang mutlak. "Mulai hari ini, Pak Lu atau Profesor Lu, atau siapapun sebutan kalian adalah target utama saya. Saya akan memenangkan hatinya. Jadi mohon, yang lain jangan ikut-ikutan. Hati Pak Lu sudah saya booking!"
Seketika kelas meledak. Ada yang bersiul menggoda, ada yang tertawa mengejek, namun yang paling nyaring adalah tawa dari barisan tengah.
"Lagi halusinasi ya, Ra?" sindir Ama, sang pemimpin geng, dengan tawa sinis yang diikuti oleh kelima dayangnya. "Dosen sekelas Pak Lu, yang auranya begitu berkelas dan mahal, mana mungkin mau sama mahasiswi yang penampilannya kayak mau belanja ke pasar sayur. Sadar diri, sainganmu itu minimal harus punya kualitas, bukan cuma otak udang yang nggak bisa bedain abad ke-16 sama 2016."
Anhua hanya melirik malas, sama sekali tidak terluka. "Iri bilang bos! Kita lihat saja nanti siapa yang bakal jadi pemenang di buku sejarahnya Pak Lu."
Tiba-tiba, Sasa dan Dina, dua sahabat dekat Anhua, berlari ke depan dan membekap mulut Anhua. Mereka menyeret gadis itu kembali ke kursi pojok belakang dengan paksa.
"Kamu gila ya?!" bisik Sasa sambil menahan bahu Anhua. "Apa kamu nggak tahu siapa dia? Baru sehari jadi dosen tamu, kamu sudah bikin heboh satu kelas!"
"Justru itu! Menantang! Hidup itu butuh bumbu, Sa," jawab Anhua santai sambil merapikan kemeja yang kusut akibat seretan tadi.
"Masalahnya, Ra," sela Dina dengan wajah sangat serius. "Apa Pak Lu itu single? Aura yang dia punya itu aura pria mapan yang punya rahasia besar. Bisa jadi di rumahnya sudah ada istri atau tunangan ningrat yang nungguin."
Anhua terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada sorot mata Lucifer di ruang dosen tadi siang tatapan yang begitu dalam, penuh kerinduan yang seolah-olah ditujukan pada seseorang yang telah lama hilang.
"Benar juga ... aku nggak tahu dia sudah punya orang atau belum," gumam Anhua. Namun, sedetik kemudian senyum nakalnya kembali merekah. "Tapi ya sudahlah, kalau ada yang menghalangi, kita coba pendekatan diplomasi. Dan kalau perlu, kita pakai cara yang lebih megah! Sesuatu yang sudah jadi milik orang lain itu tetap bisa diambil lewat jalur ekspansi wilayah, kayak teori kerajaan kuno yang tadi dia jelasin, kan?"
Sasa dan Dina hanya bisa menepuk jidat mereka secara bersamaan. Mereka merasa masa depan sahabat mereka ini antara menjadi romantis atau menjadi bencana akademik.
Namun, yang tidak mereka ketahui adalah di balik pintu aula yang sedikit terbuka, seorang pria dengan setelan jas hitam yang sempurna berdiri mematung. Lucifer Blackione mendengar setiap kata, setiap tawa, dan setiap strategi penaklukan yang direncanakan oleh gadis tengil itu.
Lucifer menyentuh dadanya yang terbalut kain sutra mahal. Ada getaran aneh yang menjalar di sana, hangat, liar, dan hampir terlupakan.
Neihua-ku yang dulu bahkan tidak berani bicara keras di depan satu orang, pikir Lucifer dengan senyum tipis yang mematikan. Tapi Anhua yang sekarang ... tampaknya benar-benar berniat menguji kesabaranku sebagai targetnya. Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa mengekspansi hatiku, Mahasiswi Kecil.
Lucifer berbalik dan melangkah pergi, membiarkan jubah tak kasat matanya berkibar ditiup angin lorong kampus, sementara di dalam kelas, Anhua masih sibuk menyusun Eencana Operasi Penaklukan Profesor Lu yang membuat sahabatnya tak habis pikir.

Komentar Buku (9)

  • avatar
    FidausyahMmh

    keren banget

    20/05

      0
  • avatar
    AliRasti

    sangat bgus

    11/05

      0
  • avatar
    ADAMM.

    seru ceritanya

    11/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru