Beranda/The Fake Princess of Norway/
Bab 15 Sisi Lain
Advent masih memandangi Eiliyah yang nampak ketakutan dan melihat dari posisi berdirinya. Dia tidak cukup yakin apa yang sedang terjadi kepada wanita itu sekarang. Kemudian ucapan Sam waktu itu terngiang kembali dalam pikirannya. Advent menghela nafas dan meletakkan senapannya. Dia berjongkok di hadapan Eiliyah dan memandangi wajah wanita itu lebih dekat.
"You okay? Should we take a rest for today (kau baik-baik saja? Haruskah kita beristirahat sebentar) ?" tanya Advent pelan kepada Eiliyah. Nada dinginnya kembali menghilang, sorot matanya yang kejam dan tajam berangsur berubah. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan perempuan itu sekarang. Sebenarnya dia ingin memegang lengan Eiliyah tapi hanya menahan tangannya di udara karena paham bahwa wanita itu tidak akan mengijinkannya.
"No I am fine, I would be okay soon (tidak, aku baik-baik saja. Aku akan segera membaik) " ucap Eiliyah memejamkan mata dan mencoba mengontrol emosinya.
Dia harus segera mengendalikan diri agar tidak menjadi beban dari latihan mereka. Dia sudah menyanggupi akan melakukan semua persyaratan untuk menjalankan peran sebagai putri Alicia dengan sebaik mungkin. Eiliyah tidak ingin mengingkari janjinya dan mengecewakan Advent.
"Sam pernah mengatakan bahwa kau mungkin saja mengalami aftershock setelah penyerangan yang menimpamu waktu itu. Mungkin inilah maksudnya... Kau trauma mendengar suara tembakan" ucap Advent pelan menjelaskan tentang perkataan dokter yang merawat Eiliyah ketika wanita itu terluka sebelumnya. Eiliyah mengangguk paham, dia juga sudah mendengar hal itu sebelumnya.
" You don't need to push your self too hard (kau tidak perlu terlalu memaksakan diri) . Kita masih bisa menjalani latihan yang lain untuk mempersiapkan dirimu tanpa memaksamu belajar menembak." tambah pria itu yang tidak ingin membuat Eiliyah terlalu kerepotan dan menderita. Wanita itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, menolak saran dari Advent.
" You are so kind Advent, you can't hide that (kau sangat baik Advent, kau tidak bisa menyembunyikannya) " ucapnya tersenyum sambil memandang wajah Advent. Tidak peduli betapa kejam dan dingin sosok lelaki itu, Advent masih memiliki sisi hangat dalam dirinya. Meskipun dia telah mencoba menyembunyikan hal tersebut dan menyangkalnya. Kenyataan itu membuat Eiliyah merasa senang karena dugaannya tentang pria itu ternyata memang benar.
"Aku hanya merasa bertanggung jawab karena tidak ingin terus kau salahkan atas trauma yang menimpamu. Itu saja." ucap Advent mencoba membuat alasan lain dari maksud sikap baiknya.
"Terserah saja kau mau bilang apa" Eiliyah merasa lucu mendengar elakannya itu. Dia kemudian berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya. Selama itu terjadi Advent juga ikut berdiri perlahan sambil terus mengawasi Eiliyah, bersiaga untuk membantu jika dibutuhkan. Namun untungnya wanita itu mampu berdiri sendiri tanpa bantuan lain apapun.
"Beri aku sedikit waktu untuk menenangkan diri, aku pasti akan bisa belajar menembak hari ini." ucap Eiliyah sambil berjalan ke arah kursi yang tersedia. Advent mengikuti gerakan wanita itu dengan ekor matanya kemudian merogoh ponselnya untuk membuat sebuah panggilan.
Advent meminta para pelayan untuk menyiapkan dan membawa sarapan mereka ke tempat latihan menembak. Sarapan khas Norwegia dengan olahan ikan segar dan buah-buahan. Masyarakat Norwegia sangat terbiasa mengkonsumsi ikan laut segar saat sarapan sebagai sumber protein dan vitamin yang sehat, mereka begitu menggemari ikan Salmon. Advent juga memesan minuman matcha yang direkomendasikan Sam untuk Eiliyah. Matcha mengandung flavonoid dan L-theanine, dua senyawa yang populer karena efek relaksasinya. L-theanine meningkatkan brain alpha frequency band, sehingga bisa dimanfaatkan untuk menenangkan pikiran tanpa menyebabkan kantuk. Sementara untuk dirinya sendiri dia meminta dibuatkan kopi hitam yang hangat.
"Seharusnya minuman ini bisa membantumu untuk rileks. Sam merekomendasikannya untukmu" ucap Advent menyondorkan minuman yang disiapkan khusus untuk Eiliyah dan meminta wanita itu segera meminumnya.
"Kau menghubungi Sam?" tanya Eiliyah mengambil gelas dan belum mencicipi minumannya.
"Dia doktermu" jawab Advent singkat. Eiliyah mengangguk paham dan mulai menyeruput minuman hangatnya. Dia merasakan sensasi khusus yang merasuki tubuhnya. Memang benar, minuman itu cukup ampuh untuk menghilangkan stres dan kecemasan yang berlebihan.
"Thanks" ucap Eiliyah tulus mengungkapkan rasa berterimakasihnya kepada Advent.
Pria itu tidak menjawab dan memutuskan untuk menikmati sarapan mereka. Eiliyah terdiam dan mengamati Advent untuk sementara waktu kemudian ikut menikmati sarapan yang dibuatkan untuknya. Baru satu menit Eiliyah menguyah sarapannya namun Advent kembali bersuara.
"tanganmu salah" dia memberikan peringatan keras ketika Eiliyah memegang garpu makan dengan tangan kanannya dan pisau dengan tangan kirinya. Orang-orang di Norwegia selalu menggunakan alat makan dengan baik. Makan dengan sopan dan teratur adalah hal penting di Norwegia, mereka bahkan menggunakan pisau dan garpu untuk makan sandwich. Tidak hanya itu memegang garpu pun juga ada aturannya, Gigi-gigi garpu menghadap ke bawah. Jari telunjuk lurus dan menempel pada sisi belakang dekat kepala garpu, tetapi tidak terlalu dekat . Keempat jari yang lain menggenggam pegangan garpu.
Eiliyah sebagai orang Indonesia yang tidak pernah makan dengan cara seperti ini sering lupa dan terkena omelan Advent karena hal yang sama. Apalagi dia selalu makan dan minum menggunakan tangan kanan dan terbiasa dengan hal itu. Jujur saja, etika makan ala negara Eropa itu cukup membuatnya merasa kaku dan kesulitan.
Wanita asal negara kepulauan tersebut menoleh ke arah Advent dan mendapati lelaki itu sedang menatap tajam ke arahnya. Dia memutar matanya dan mengganti posisi garpu dan pisau di tangannya. Kemudian mulai menikmati makanannya dengan posisi yang tidak terasa nikmat sama sekali. Punggung yang lurus, posisi siku yang di tata sedemikian rupa dan menggunakan pisau dan garpu yang jauh dari kebiasaannya. Namun bagaimana lagi, sementara ini dia harus membiasakan diri dengan itu semua. Setidaknya sampai ia bisa melaksanakan tugasnya sebagai putri palsu dengan baik. Mereka mulai menikmati hidangan yang tertata di hadapannya dan makan dalam diam sebelum Eiliyah memecah keheningan itu.
"Apa kau pernah mengalami trauma.... karena membunuh seseorang?" tanya Eiliyah ragu.
Dia hanya penasaran saja, Eiliyah yang baru pertama kali menyaksikan pembunuhan di depan matanya langsung mengalami trauma karena hal itu. Bagaimana dengan Advent sang pembunuh? Berapa banyak orang yang pernah dia bunuh? Bagaimana perasaannya dan apa yang dia pikirkan setelah melakukan semua itu? Eiliyah tidak bisa berhenti bertanya-tanya tentang hal itu.
Di sisi lain, Advent yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong daging ikan menggunakan pisau dan garpu. Dia terdiam dan menimbang pertanyaan Eiliyah. Trauma? tentu saja dia mengalami semua itu. Dia tidak bisa berhenti merasa bersalah saat membunuh orang lain meskipun itu adalah musuh yang notabene pantas dia bunuh. Ada perasaan berat yang selalu menghantui pikirannya saat dia harus memutuskan untuk membunuh orang lain. Namun dia dengan terpaksa tetap harus melakukan semua itu sebagai tugasnya ketika mendapatkan perintah dari atasannya, meskipun seringnya dia tidak menyukai hal itu.
"Aku tidak seperti dirimu Eiliyah. Aku tidak memiliki belas asih ataupun rasa bersalah saat membunuh orang lain yang bisa menyebabkan suatu trauma" ucapnya tanpa melihat ke arah Eiliyah kemudian melanjutkan sarapannya. Eiliyah terdiam, menimbang apakah Advent sedang berbicara jujur atau itu hanya sebuah kebohongan lain yang dia buat. Dia kemudian memutuskan untuk tidak lagi bertanya dan menikmati makanan mereka dalam keheningan.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Eiliyah memberanikan diri untuk mengambil senapan lagi. Dia mengambil nafas dalam dan memantapkan hatinya. Melalui instruksi yang diberikan oleh Advent, Eiliyah kemudian meluncurkan sebuah tembakan pertama yang menggelegar dan memenuhi seluruh ruangan. Badannya yang belum terbiasa memegang senapan sempat tersentak ke belakang karena menahan luncuran peluru itu. Ada peluh keringat dingin yang menetes dari sisi pelipisnya. Dia sedang bertarung dengan dirinya sendiri dalam mengatasi trauma yang dialaminya. Advent memandang wanita itu dengan perasaan berkecamuk di hatinya. Dia tidak paham apa yang sedang dia rasakan sekarang dan mengapa wanita itu membuat hatinya terus mengalami perasaan tersebut .
Waktu telah berlalu, sekarang Eiliyah dan Advent sedang berada di kampus dan mereka sedang duduk berjauhan di taman. Selama mendampingi Eiliyah berkuliah, Advent memang jarang sekali membersamai wanita itu dalam jarak yang dekat. Dia hanya tidak ingin menganggu aktivitas Eiliyah dan menurutnya mengamatinya dalam jarak jauh sudah cukup selama dia memiliki akses yang cepat untuk bertindak jikalau Eiliyah berada dalam bahaya.
"Keberadaan teroris ini sungguh menganggu hariku" terdengar suara seorang laki-laki yang berbicara dengan lantang dan kesal.
Eiliyah yang sedari tadi membaca buku mengangkat wajahnya dan melihat ada seorang mahasiswa yang sedang mengikuti seorang perempuan muslimah berkerudung sambil terus menganggunya. Wanita itu memiliki postur tubuh yang pendek dan cukup berisi. Dia terlihat terintimidasi dengan sikap pria itu. Nampaknya itu bukanlah kali pertama lelaki itu menganggunya.
"Matilah kau teroris! Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi disini!" lelaki itu menarik kerudung wanita tersebut hingga terlepas. Dia mencoba mempertahankan kerudungnya dengan sekuat tenaga namun tidak mampu mengalahkan kekuatan lelaki itu. Tindakan intimidasi masyarakat yang memiliki islampobia masih nampak sering terjadi di negara itu. Dan itu adalah kali pertama Eiliyah melihatnya secara langsung. Selama ini dia masih sebatas mendengar dan melihatnya melalui internet.
Eiliyah sebagai sesama muslimah merasa geram atas perlakuan yang didapatkan oleh saudari seimannya itu. Dia menutup bukunya dengan keras dan berjalan ke arah mahasiswa intoleran tersebut. Eiliyah segera menarik kerudung yang dipegang pria itu dengan paksa dan mengembalikannya kepada sang pemilik.
Advent yang mengetahui tindakan Eiliyah hanya memutar matanya kesal. Wanita itu mencari masalahnya sendiri dan dia sungguh malas jika harus ikut campur dengan masalah tersebut. Mengapa Eiliyah tidak bisa berpura-pura tidak melihat kejadian itu dan membiarkannya berlalu begitu saja. Bukankah itu semua tidak akan menyulitkannya?
Mahasiswa yang menyerang muslimah tadi merasa marah karena ada orang yang ikut campur dengan urusannya. Terutama ketika dia tahu bahwa orang yang ikut campur itu adalah seorang muslimah lain yang sangat dibencinya. Dia mengutuk Eiliyah dan memakinya dengan banyak kekerasan verbal namun Eiliyah tidak menggubrisnya.
Wanita berperawakan tinggi itu membantu memasangkan jilbab sang mahasiswi tersebut kembali menutupi rambut dan tersenyum ramah. Kemudian memalingkan wajahnya kepada pemuda rasis itu dengan tatapan tajam.
"Perilaku kasarmu itulah yang lebih mengganggu daripada jilbab kami." ucap Eiliyah melingkarkan tangannya di bahu saudari seakidahnya itu dan ingin berlalu pergi.
"You bit**!! Just die and go to hell (wanita jalang, matilah dan pergi ke neraka) !!" mahasiswa itu kembali melakukan perilaku rasisnya dan segera menarik jilbab besar Eiliyah dengan keras. Kepala wanita itu terhentak ke belakang sementara tangannya memegang kuat jilbabnya, menahan agar tidak sampai terlepas dari kepalanya.
Advent yang sedari tadi diam di tempat duduknya masih mengawasi keadaan. Pada akhirnya dia menghela nafas kesal dan berdiri, berjalan menuju ke tempat Eiliyah yang sedang berjuang mempertahankan jilbabnya.
Seketika itu ada sepasang tangan kuat yang menahan sang mahasiswa dan memelintirnya dengan keras. Pria itu kesakitan dan melepaskan pegangannya dari jilbab Eiliyah. Wanita tersebut menoleh dan menemukan seorang lelaki asing yang mendorong mahasiswa itu menjauh dengan sekuat tenaga. Dia bukanlah Advent.
Saat itu Advent masih berada beberapa langkah jauh darinya, pria baru ini memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, rambut ikal, kulit putih dan memakai kacamata. Eiliyah tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
"You are the one who suppose to go from here (kaulah yang seharusnya pergi darisini) !" gertak lelaki itu tegas kepada mahasiswa rasis tersebut. Dia mencoba melawan namun kembali di dorong dengan kuat oleh pria itu. Pada akhirnya dengan wajah kesal, mahasiswa itu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Assalamualaikum, I am Usman" ucap pria itu memperkenalkan diri kepada Eiliyah dan wanita muslimah lain yang dibantunya tadi. Mendengar ucapan salam dan nama pria itu, Eiliyah tahu bahwa lelaki itu adalah seorang muslim. Senang sekali rasanya ketika bisa bertemu dengan saudara seaqidah di negara yang memiliki penduduk mayoritas non muslim tersebut. Kenyataan itu mengundang senyum dari bibir Eiliyah.
"Wa'alaikumsalam... I am Eiliyah" ucap Eiliyah tersenyum memperkenalkan dirinya. Usman pun ikut tersenyum, sementara itu Advent yang mengawasi mereka dari kejauhan hanya bisa menunjukkan sorot mata tajam saat melihat interaksi diantara keduanya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (142)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
keren nya
16/03
0cerita yg sangat menarik
21/11
0bagus sekali saya suka cerita nya
19/09/2025
0Lihat Semua