Diapartemen Larissa kini tengah berada di ruang dapur, ia tengah memasak makan siang. Dengan santai Larissa mengaduk makanan nya yang sebentar lagi akan masak, menu masakkan yang sedang dia masak adalah sepageti aglio oilo. Larissa mengangkat piringnya membawanya ke ruang tengah, memakannya sambil menonton. Dia duduk melipat kaki diatas sofa sambil memakan sepageti yang dia buat dengan lahap, saat dia serius melahap makanan nya, tiba-tiba ponselnya berdering. Larissa bangkit dari tempat duduknya pergi kedalam kamar sambil membawa piringnya. Dia duduk dipinggir kasur mengambil ponselnya yang ada diatas meja disamping tas yang dia gunakan Malam itu. "Hallo.." "Akhirnya kau angkat juga telponnya, kemana saja kau? Kenapa kau tidak mengangkatnya telponku." Larissa terdiam "apa aku bercerita saja padanya?" Bantinnya. Larissa menggelengkan kepalanya "Tidak perlu." "Hey Larissa kenapa kau diam, aku bertanya padamu kenapa kau tidak mengangkat telponku sejak kau pulang dari kota couston." Nadanya ngegas. "Sorry, Leisy kemarin aku pulang ke rumah ayahku mendadak, aku melupakan ponselku dan hari ini aku baru saja pulang." "Astaga aku pikir kau diculikk seseorang karena kau tidak datang kerja." "Maaf aku tidak memberitahu kalian semua tidak sempat." "Apa bos mencariku?" "Tentu saja, bos juga bahkan khawatir kenapa kau tidak datang ke kantor kemarin, padahal seharusnya kau pulang sehari sebelum itu." "Sorry banget, aku lupa menghubungi kantor, nanti besok aku akan meminta maaf langsung kepada bos." "iya, Eh aku mau tanya, kemarin kan aku sama mocan tanya tanya Rangga tentangmu, tapi ko jawabannya dingin banget, masa dia bilang tidak tahu sama sekali kau pergi kemana, apa kau tidak memberitahunya?" "Emmm, itu kami sudah putus." "Haa,putus?" Leisy kaget mendengar pernyataan Larissa, ia tidak menyangka hubungan yang sudah lama dijalani mereka bisa putus ditengah jalan, apalagi dia tau kalo Larissa sangat mencintai rangga dan mereka akan menikah tahun depan. "Serius kalian udh putus, kapan putusnya ko aku engga tau?" "Pas aku pulang dari couston." "Tapi alasan apa? Bukankah kalian sudah berencana menikah tahun depan." Dengan nada suara berat Larissa mengatakan alasannya "dia selingkuh dan dia lebih memilih wanita itu daripada aku." Hatinya kembali sakit, air matanya keluar mengingat bagaimana malam itu. Flasback.... Pukul 08:30 Larissa duduk didalam taksi, dia baru saja dari apartemen nya setelah pulang dari kota couston, malam ini dia ingin menemui kekasihnya Rangga. Tidak butuh waktu lama dia sampai disana. Dia segera keluar dari dalam taksi, masuk kedalam gedung apartemen melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Larissa terlihat tidak sabar, dia terus memperhatikan tanda merah yang terus berubah sampai tanda merah itu berubah ke angka 13, pintu lift terbuka. Ia melangkahkan kakinya pergi keluar ke kamar Rangga. Dia berdiri didepan pintu kamar Rangga dengan senyum yang terpancar diwajahnya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Larissa membuka pintu apartemen menggunakan kunci yang dipegang, karena hubungan mereka yang sudah berjalan lama, mereka menukar kunci apartemen. Menurut mereka menukar kunci bukanlah masalah. Srett.. Larissa perlahan melangkah masuk, ia tidak mau sampai Rangga mengetahui kedatangannya. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya, dia terus masuk mencari Rangga sampai diruang tengah tapi tidak ada orang disana. "Mungkin dia ada dikamar." Batinnya. Larissa berbalik pergi ke samping ke kamar Rangga, tapi tiba-tiba langkah nya terhenti saat mendengar suara aneh didalam. Suara yang begitu menjijikan terdengar ditelinganya. "Suara apa itu?" Larissa melanjutkan langkah nya mengendap-endap pergi ke kamar Rangga mencari tau suara siapa yang dia dengar itu. "Aaahh..aaahhhh...uhhhhh." Suara itu kembali berdengung ditelinga Larissa tanpa berpikir lagi langsung membuka pintu kamar Rangga. Larissa berdiri mematung, alangkah kagetnya dia melihat dua orang tengah bercinta di atas kasur tanpa sehelai kain menutupi tubuh mereka. Melihat Larissa yang marah menghampiri mereka, seketika pasangan sejoli itu menghentikan olahraga malam nya. Wanita yang bersama Rangga menarik selimut menutupi tubuh mereka. "Larissa."kaget melihat kedatangan kekasihnya. "Dasar pria tidak tau diri, beraninya kau selingkuh dariku!" Teriaknya meneteskan airmata. "Dan kau wanita jalang, apa kau sangat suka menggoda kekasih orang." Teriaknya marah menarik rambut wanita itu tanpa belas kasian. "Aaah."jeritnya kesakitan menahan tangan Larissa yang menarik rambutnya begitu keras, rasanya rambutnya seperti mau lepas dari kulit kepalanya. "Wanita murahan!" Pekiknya marah menarik wanita itu sampai terguling ke lantai. Larissa mengamuk duduk diatas perut wanita itu menarik rambutnya "wanita jalang, aku akan menghajarmu." Larissa menarik-narik rambut itu tanpa henti Sampai rambut wanita itu seperti sapu injuk. "Wanita gila."teriak wanita itu berusaha menahan amukkan Larissa. Rangga turun dari ranjang buru-buru memakai celana nya, lalu dengan cepat menarik pinggul Larissa kedalam pelukkannya, membiarkan wanita itu bangkit dan menjauh dari Larissa. Larissa memberontak "lepaskan, jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu." Teriaknya marah. Rangga membawa Larisaa keluar dari kamar melepaskannya diruang tengah. Larissa marah menampar wajah Rangga. Plakk!!! "Dasar laki-laki brengsek."pekiknya marah. Rangga tidak terima, menarik tangan Larissa dengan kasar menyeretnya keluar dari kamar apartemen nya "Pergi dari sini!" Ucapnya lantang, mendorong Larissa sampai membuatnya jatuh ke lantai. Rangga tanpa menjelaskan apapun mentup pintu kamarnya begitu saja. Larisaa bangkit memukul dan menendang pintu dengan penuh amarah. Brughkkk.... Brughkkk.... Brughkkk.... "Bajingan aku akan membunuhmu kalian berdua." Teriaknya marah, suaranya begitu keras bergema diseluruh lorong apartemen. "Persetan!" Teriaknya marah sekali lagi menendang pintu. Brughkk.... Dia berbalik sambil meremas rambutnya tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, dia tidak pernah berpikir hubungan nya yang begitu lama dengan pria yang dia cintai bisa berakhir seperti ini. Semua kejadian yang diceritakan Larissa membuat sahabatnya geram "pria sialan, beraninya dia bermain gila dibelakangmu." Pekiknya kesal dia sedang duduk disofa berdiri mengangkat tangannya ke pinggang. "Aku akan memberikannya pelajaran." "Tidak perlu." "Pria sampah sepertinya tidak perlu kita balas." Leisy tampak kesal mondar mandir didepan sofa mengomeli Larissa yang tidak mau membalas Rangga. "Tidak bisa, pria seperti itu harus diberi pelajaran, aku tidak terima kau disakiti begitu." "Aku sudah tidak mau berurusan dengan pria sampah sepertinya, lebih baik lupakan saja dia." "Tapi.." "Sudah jangan bahas dia lagi, aku sudah melupakannya." Tegasnya meminta Leisy berhenti mengoceh tentang nya. Larissa menghapus tetesan air mata yang terisisa dipipinya. Ini terakhir kalinya dia meneteskan air mata untuk pria sampah sepertinya. "Sudah dulu aku mau makan, nanti kita bicara lagi." "Iya." Leisy mematikan telponnya. Siang telah berganti malam, tapi Larissa masih ada disofa dengan TV menyala. Setelah capek seharian menonton tv, ia tertidur disofa dengan posisi tangan kanan dibawah kepalanya dan kaki ditekuk kedalam. Suara tv yang begitu nyaring tidak membuat tidur Larissa terganggung, ia tampak tertidur pulas setelah beberapa hari ini menjalanin hari-hari yang penuh ketegangan. Malam sunyi, terdengar suara pintu yang terbuka perlahan. Sreett.. Sepasang sepatu Oxford berwarna hitam mengkilat muncul dibalik pintu apartemen Larissa yang terbuka. Sepasang sepatu itu masuk kedalam, ketukan sepatu berbunyi yang perlahan berhenti saat sosok itu berhenti tepat didepan Larissa yang tertidur pulas. Bersambung.....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss tapi kapan lanjutnyaaa??
19/06
0best
30/09
0terima kasih
25/08/2025
0Lihat Semua