Beranda/TUAN MUDA, KAMU YANG KUTUNGGU!/
40. Valencia Dengan Berjuta Pesona
Setelah beberapa hari penuh petualangan di Zaragoza, Arnold dan Marsha melanjutkan perjalanan bulan madu mereka ke kota yang cerah dan penuh kehidupan, Valencia. Kereta cepat AVE yang mereka tumpangi meluncur mulus di antara ladang jeruk dan pegunungan kecil, membawa mereka dari timur laut Spanyol ke pesisir timur yang hangat.
Ketika mereka tiba di stasiun Joaquín Sorolla, matahari pagi menyambut dengan sinarnya yang lembut. Langit biru tanpa awan dan udara segar dari Laut Mediterania langsung memberi kesan santai dan menyenangkan.
“Kita udah di Valencia, Sayang,” ujar Arnold sambil menarik koper mereka.
Marsha menghela napas dalam, menikmati aroma laut yang samar. “Kota ini punya energi yang beda, ya. Cerah, tapi tenang.”
Tujuan pertama mereka adalah City of Arts and Sciences, kompleks arsitektur modern paling terkenal di Valencia. Keduanya naik taksi, dan sepanjang jalan, Marsha tak berhenti menatap ke luar jendela.
“Lihat bangunan itu!” serunya saat mereka melintasi Palau de les Arts Reina Sofia, gedung opera berbentuk seperti helm luar angkasa.
Tak lama, keduanya tiba di kompleks futuristik itu. Bentuk-bentuk bangunan yang seperti kapal angkasa putih mengambang di atas kolam biru membuat Marsha terpana.
“Rasanya kayak masuk dunia masa depan,” gumamnya sambil menggandeng suaminya.
Arnold tersenyum.
“Ini desainnya Santiago Calatrava. Arsitek dari Valencia sendiri. Keren banget, kan?”
Mereka pun menjelajahi bagian dalam Museu de les Ciencies Príncipe Felipe, tempat interaktif yang membuat ilmu pengetahuan menjadi menyenangkan. Marsha mencoba simulasi gravitasi, sementara Arnold sibuk memotret struktur langit-langit yang menyerupai tulang dinosaurus.
“Aku suka tempat ini,” ucap Marsha sambil tertawa setelah mencoba alat eksperimen kecil.
“Romantis tapi juga menakjubkan!”
Setelah itu, mereka menuju L’Oceanografic, akuarium terbesar di Eropa yang juga bagian dari kompleks ini. Di dalamnya, keduanya berjalan melalui terowongan bawah laut, dikelilingi hiu, ubur-ubur bercahaya, dan ikan pari raksasa.
“Arnold, lihat! Ikan-ikan itu berenang di atas kita!” Marsha menunjuk dengan mata berbinar.
Arnold menggenggam tangannya.
“Kayak mimpi ya? Tapi kita beneran di sini.”
Setelah puas berkeliling, mereka keluar dari kompleks dan berjalan kaki menuju Taman Turia atau Jardines del Turia, taman yang dulunya adalah aliran sungai, kini diubah menjadi ruang hijau sepanjang kota.
Jalur pejalan kaki yang rindang membentang sejauh mata memandang. Anak-anak bermain bola, pasangan duduk berdua di bangku taman, dan musisi jalanan memainkan melodi flamenco yang tenang.
Marsha melepas sepatunya dan berjalan di atas rumput. “Rasanya sejuk banget di kaki.”
Arnold ikut menyusul. “Aku suka suasana taman ini. Damai. Cocok buat istirahat setelah perjalanan panjang.”
Mereka lalu duduk di bawah pohon jeruk kecil yang mulai berbunga. Marsha bersandar di bahu Arnold, menatap langit biru yang cerah.
“Kita harus sering-sering begini. Nggak harus ke tempat mewah. Cukup duduk berdua di taman, lihat langit, dan pegang tangan kamu.”
Arnold mengangguk. “Selama aku sama kamu, di mana pun terasa seperti di surga.”
Ketika waktu menunjukkan tengah hari, pasangan itu menuju restoran kecil yang terkenal akan paella, hidangan khas Valencia. Restoran itu terletak di dekat taman, dengan teras yang menghadap kolam air mancur.
Mereka memesan Paella Valenciana, dengan nasi saffron, ayam, kelinci, kacang hijau, dan sedikit aroma rosemary.
Marsha mencicipi suapan pertama dan matanya langsung membesar.
“Oh wow! Ini enak banget!”
“Ha-ha-ha.”
Arnold tertawa.
“Paella pertama kamu di tanah asalnya.”
“Aku bakal inget rasa ini seumur hidup. Kayak, nasi yang dipeluk matahari. Panas dan gurih!” canda Marsha.
Sambil makan, mereka mengobrol ringan tentang masa kecil, impian masa depan, dan kota-kota yang ingin keduanya kunjungi berikutnya.
“Kalau suatu hari nanti kita punya anak,” ujar Marsha pelan,
“Aku pengin cerita ke mereka tentang perjalanan ini.”
Arnold menatap istrinya lembut.
“Dan mungkin suatu saat kita bawa anak-anak ke sini juga.”
Setelah makan siang yang mengenyangkan, mereka menunggu matahari mulai turun sebelum melanjutkan ke destinasi terakhir hari itu:, La Lonja de la Seda, salah satu bangunan bersejarah paling mengagumkan di Valencia.
Bangunan bergaya Gotik itu berdiri megah dengan tiang-tiang tinggi berpola spiral dan langit-langit berkubah. Dahulu tempat ini adalah pusat perdagangan sutra, kini menjadi situs warisan dunia UNESCO.
Saat masuk, gema langkah kaki terdengar di ruangan besar dengan cahaya matahari menembus jendela berwarna.
Marsha berbisik, “Tempat ini megah banget, rasanya seperti masuk ke dalam aula kerajaan.”
Arnold menatap ukiran di langit-langit. “Arsitekturnya luar biasa. Dibangun pada abad kelima belas, tanpa bantuan teknologi modern.”
Mereka pun berjalan menyusuri ruangan-ruangan yang sunyi, menikmati keindahan arsitektur yang anggun namun kokoh.
“Aku suka warna kontras kota ini,” ujar Marsha.
“Tadi pagi kita di dunia masa depan, sekarang di abad pertengahan.”
“He-he-he.”
Arnold tertawa pelan.
“Valencia memang kota yang tahu caranya menyeimbangkan masa lalu dan masa depan.”
Sebelum keluar, mereka sempat duduk di taman kecil di halaman belakang bangunan. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma bunga dan kayu tua.
Marsha menatap mata Arnold.
“Hari ini sempurna.”
Arnold mengusap pipi istrinya dengan lembut. “Dan kamu yang membuat semuanya jadi lebih dari sempurna.”
Malam telah turun di Kota Valencia. Lampu-lampu jalan berpendar hangat di antara bangunan klasik dan modern yang menyatu harmonis. Setelah menjelajah kota sepanjang hari, Arnold dan Marsha bersiap untuk malam yang istimewa, makan malam romantis di sebuah restoran mewah di pusat kota.
Arnold mengenakan setelan semi-formal berwarna navy dengan dasi tipis, sementara Marsha tampil anggun dalam gaun satin merah marun yang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya ditata sederhana, hanya diselipkan bunga kecil berwarna putih di sisi kanan.
“Kamu cantik sekali malam ini,” ucap Arnold tak berkedip saat melihat Marsha keluar dari kamar mandi hotel.
Marsha tersenyum, malu-malu.
“Kamu juga tampan sekali. Kita sepertinya cocok jadi pasangan raja dan ratu.”
“He-he-he.”
Arnold terkekeh, lalu meraih tangan istrinya.
“Kalau begitu, ayo kita makan malam seperti bangsawan.”
Mereka pun naik taksi menuju restoran Mirador del Río, sebuah tempat eksklusif di rooftop gedung tinggi di pusat kota, yang menawarkan pemandangan Valencia dari ketinggian. Saat pintu lift terbuka, keduanya disambut cahaya lilin yang temaram, suara piano lembut yang mengalun, dan pemandangan kota yang gemerlap di bawah langit malam.
“Table for two, under the name Arnold,” ucap Arnold pada pelayan.
“Right this way, Sir,” jawab pelayan sopan, mengantar mereka ke meja dekat jendela kaca besar. Dari situ, keduanya bisa melihat kubah Basilika, menara-menara tua, dan lampu kota yang berkelip di kejauhan.
“Tempat ini indah sekali,” bisik Marsha, duduk di kursinya dengan takjub.
Arnold menatap mata istrinya.
“Tapi belum seindah kamu malam ini.”
“He-he-he.”
Marsha tertawa pelan.
“Kamu suka banget merayu akhir-akhir ini, ya?”
“Iya, dong. Karena aku jatuh cinta sama istriku tiap hari,” jawab Arnold sambil meraih tangannya di atas meja.
Mereka pun memesan makanan khas Valencia modern, Foie gras dengan saus jeruk, kerang lokal dengan krim saffron, dan paella laut versi eksklusif. Sambil menunggu hidangan datang, keduanya menikmati anggur putih dingin yang disarankan oleh sommelier restoran.
“Arnold,” ucap Marsha pelan.
“Aku bersyukur banget kita bisa punya perjalanan seperti ini. Nggak cuma soal tempatnya yang indah, tapi karena aku bisa berbagi semuanya sama kamu.”
Arnold mengangguk lembut.
“Perjalanan ini bukan hanya soal kota-kota yang kita kunjungi. Tapi juga tentang kenangan yang kita bentuk bareng. Dan kenangan paling berharga itu, kamu.”
Saat makanan datang, aroma harum langsung mengisi udara di sekitar meja mereka. Hidangan disajikan dengan plating artistik, hampir seperti karya seni.
“Wow,” gumam Marsha sambil melihat kerang yang disusun rapi dengan taburan edible flower.
Arnold mencicipi gigitan pertama dan mengangguk puas.
“Ini, luar biasa.”
Mereka pun menyantap hidangan sambil sesekali bertukar pandang, tertawa pelan saat mengingat kejadian lucu hari itu di taman, dan membicarakan destinasi berikutnya yang ingin keduanya kunjungi.
Setelah makanan utama, keduanya memesan crema catalana, dessert khas Spanyol yang mirip creme brulee, dengan permukaan karamel renyah yang dibakar di depan mereka.
“Manis banget,” komentar Marsha setelah mencicipinya.
Arnold menyentuh ujung sendoknya ke piringnya, lalu berkata,
“Sama kayak kamu.”
Marsha hanya bisa tertawa dan menggeleng.
“Kamu nggak pernah kehabisan gombalan ya?”
“Gombalan cuma cara untuk bilang aku cinta kamu dengan cara beda,” jawab Arnold dengan nada tulus.
Setelah makan malam usai, mereka kembali ke hotel dengan perasaan hangat. Saat masuk ke kamar, suasana tenang langsung menyelimuti. Lampu kamar dibiarkan redup. Tirai jendela dibuka, memperlihatkan cahaya kota dari kejauhan.
Marsha duduk di tepi tempat tidur, melepaskan sepatunya dan memijat pelan kakinya.
“Sepatuku cantik, tapi kaki rasanya pegal banget.”
Arnold mendekat, berlutut di hadapannya. “Biar aku bantu.”
Dengan lembut, dia mulai memijat kaki Marsha, membuat istrinya itu menghela napas lega.
“Kamu selalu tahu caranya bikin aku rileks,” ucap Marsha, memejamkan mata.
Setelah itu, Marsha bangkit, lalu menuju jendela dan berdiri di sana, memandangi kota yang terang benderang.
“Lihat,” katanya.
“Kota ini seperti lautan cahaya.”
Arnold berdiri di belakang istrinya, memeluknya dari belakang.
“Dan kamu adalah cahayanya buat hidupku.”
Marsha membalikkan badan dan menatap mata suaminya.
“Malam ini terasa sempurna. Aku nggak mau cepat berakhir.”
Arnold menyentuh pipi istrinya.
“Kalau begitu, mari kita buat malam ini lebih berkesan.”
Dia pun menyalakan speaker kecil di pojok kamar, menyetel lagu jazz lembut yang pernah mereka dengar saat pertama kali kencan di Jakarta. Lagu itu mengalun tenang, mengisi kamar dengan nuansa hangat dan romantis.
Arnold mengulurkan tangan.
“Boleh saya ajak Nyonya Arnold Zafazel berdansa?”
Marsha tersenyum, meraih tangan suaminya.
“Dengan senang hati, Tuan Arnold.”
Mereka pun mulai berdansa perlahan, hanya berdua, di kamar hotel yang remang-remang. Tidak ada keramaian, tidak ada musik keras. Hanya detak jantung keduanya dan alunan melodi yang lembut.
Langkah mereka pelan, mengikuti irama. Marsha menyandarkan kepala di dada Arnold.
“Terima kasih untuk semua momen indah ini.”
Arnold mengecup kening istrinya.
“Dan akan ada lebih banyak momen seperti ini. Selamanya.”
Mereka pun terus berdansa, hingga lagu berganti menjadi instrumental yang lebih syahdu. Dalam keheningan malam Valencia, cinta keduanya berpijar hangat seperti lampu kota di kejauhan.
Pasangan itu semakin larut dalam kemesraan yang semakin membelit. Keduanya saling membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Di pinggir jendela transparan sambil memandang lampu-lampu kota, Arnold dan Marsha melakukan penyatuan cinta maha dahsyat.
“Ah! Arnold, Sayang!” desah Marsha sambil bertumpu di dinding kaca kamar mereka.
Sementara suaminya melakukan penyerangan dari arah belakang. Awalnya goyangan maut itu pelan dan dalam. Namun lama kelamaan menjadi cepat dan sangat cepat.
Marsha mencoba mengimbangi permainan panas suaminya yang begitu memabukkan. Sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.
Tubuh Marsha terkulai lemas di bahu suaminya.
Lelah tapi sangat puas dengan servis Arnold di tubuhnya.
Ketika mereka akhirnya berbaring di ranjang, berpelukan di bawah selimut hangat, Marsha berbisik,
“Kalau ini mimpi, aku nggak mau bangun.”
Arnold memejamkan mata, memeluk istrinya erat.
“Kita nggak sedang bermimpi. Kita sedang hidup di cinta yang nyata.”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (10)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
mantab dan menarik.👍
14/07
0aku suka
28/06
0Mantap..............
18/06
0Lihat Semua