logo text

Bab 72 Kacau

Perasaan Ellena sangat sedih karena pertemuan dengan sang ibu. Ya, ibunya memang memebri selamat kepadanya atas kehamilannya. Tapi tak sekali pun sang ibu ingin menyebut dirinya sebagai seorang putri. Ellena tidak tahu kenapa dan itulah yang benar –benar membuat perasaannya sangat kacau. Hari sudah lewat tengah hari dan suaminya belum juga pulang dari rapat dengan para investor.
“Ah, aku belum menyiapkan makan siang untuknya. Dia pasti akan segera pulang,” gumamnya lalu mengumpulkan kembali tenaganya yang tadi terkuras karena kesedihan yang dia rasakan. Wanita itu melakukan kesibukannya supaya tidak memikirkan kesedihannya. Tapi sesudah makan siang selesai, Damian belum juga menampakkan dirinya.
‘Dia ke mana ya? Apa aku telpon saja?’ pikir Ellena lalu mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi suaminya. Tapi karena teringat situasi sang suami sedang rapat, dia pun mengurungkan niatnya itu.
‘Kak Damian pasti pulang kalau sudah waktunya. Dia memang orang yang sangat bertanggung jawab kalau itu sudah berhubungan dengan pekerjaannya. Lebih baik, aku melakukan hal lainnya saja,’ pikir Ellena kemudian.
Maka wanita itu melanjutkan pekerjaannya supaya hari ini dia terus sibuk. Tak lama, sebuah pesan masuk dan itu adalah dari seseorang yang sangat dekat dengannya. Ellena membaca pesan itu dan berpikir sebentar sebelum menanggapi pesan tersebut.
‘Apa aku harus bertemu dengannya? Bagaimana ini? Tapi memang, ini sudah waktunya untuk menerima semua kenyataan yang ada,’ batin Ellena kemudian membalas pesan itu dengan jawaban ‘Ya’.
Wanita itu pun mengirim pesan kepada suaminya untuk pergi sebentar. Ellena berpikir kalau lebih baik dia mengirim pesan saja supaya tidak mengganggu pekerjaan Damian. Dan setelah itu, dia pun pergi keluar dari apartemen untuk bertemu dengan orang yang tadi minta bertemu dengannya.
***
Damian kini berada di sebuah bar untuk menenangkan pikirannya. Mendatangi tempat seperti ini adalah hal yang biasa untuknya, terlebih lagi dulu dia lama tinggal di luar negeri. Damian sudah lama tidak datang ke bar semenjak dia berhubungan dengan Ellena. Tapi sekarang, dia kembali menginjakkan kakinya di sini. Kenapa? Karena dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
‘Kenapa aku meragukan istriku sendiri? Sudah jelas aku pelakunya waktu itu kan? Kenapa pikiranku jadi bercabang –cabang?’ pikirnya sambil meneguk gelas demi gelas minuman beralkohol itu untuk menenangkan dirinya.
Damian sudah setengah tahun mengenal Ellena sejak pertama pertemuan mereka. Dari sorot matanya, dia percaya kalau Ellena adalah wanita yang baik. Tapi saat bertunangan, dia melihat Ellena yang sulit berpaling dari masa lalunya bahkan sempat ingin kabur saat menikah. Hal itu membuat Damian merasa kalau Ellena masih memiliki rasa dengan mantan kekasihnya.
Hasutan Flora yang ingin dia tak percaya kepada Ellena kini sudah merambat ke pikirannya dan malah memikirkan kalau Ellena mungkin saja bermain di belakangnya untuk membalas apa yang sudah dia perbuat selama ini. Damian memang sadar kalau dia selalu mengikat Ellena dengan paksa seakan wanita itu berada dalam penjaranya. Menyadari itu, Damian jadi takut kalau itulah kebenarannya! Dia takut kalau ternyata Ellena masih mempermainkannya.
“Tapi… tapi itu pasti anakku! Aku yakin! Mana mungkin Ellena mau melakukan hal seperti itu kan?” Pikiran Damian semakin kacau karena alkohol yang terus dia konsumsi. Damian baru mengenal Ellena dan dia merasa kurang mengenal wanita itu.
Padahal, apa yang selama ini ditunjukkan oleh Ellena, itulah dirinya yang sebenarnya. Saat ini, Damian merasa kalau masih ada hal yang ditutupi oleh sang istri sehingga membuatnya ragu. Walau di depan Flora dia terlihat tenang, di balik itu dia tak bisa berhenti khawatir karena memikirkan semua ini.
“Aku tidak boleh begini! Aku harus pulang dan bicara saja dengan Ellena! Damian, dia istrimu dan jangan pikirkan yang aneh –aneh!” Damian berusaha untuk menstabilkan pikirannya yang kacau. Maka dia pun keluar dan melihat hari yang sudah mulai gelap. Dia ternyata satu harian di luar, padahal sejak tengah hari sudah selesai urusan kerjanya.
‘Aku harus bicara dengan istriku!’ Damian membatin lalu memilih untuk pulang. Dia sama sekali tidak mengecek ponselnya karena merasa tidak ada yang penting di dalamnya. Lagipula, dia masih mengaktifkan mode jangan ganggu karena sejak tadi pagi masih rapat.
***
“Ayah senang kamu mau datang ke sini, Ellena! Atau supaya lebih akrab, maukah kamu memanggil saya dengan sebuatan Papa?” ujar Simon dengan perasaan yang begitu bahagia karena sang putri menyambut undangannya untuk bertemu.
“Mungkin, saya akan lebih nyaman jika menyebut anda sebagai ayah walau terkadang masih kelu. Tapi ayah tidak akan tersinggung kan?” balas Ellena.
“Tentu saja tidak! Ayah senang kamu sudah datang ke sini. Artinya, kamu sudah mulai menerima ayahmu ini kan?” tanya Simon yang ingin sekali mendapatkan pengakuan putrinya supaya kedepannya mereka berdua punya hubungan yang baik.
“Saya akan mencoba, Ayah! Bagaimanapun, saya sudah kehilangan Mama yang bahkan enggan mengakui saya sebagai putrinya. Walau saya sudah berkeluarga, jujur saya membutuhkan orang tua juga. Apa ayah akan sangat menyayangi saya?” tanya Ellena yang benar –benar haus akan kasih sayang orang tuanya. Walau Mamanya sanga sulit menerima dirinya, setidaknya saat ini dia punya ayah yang kata mamanya akan sangat menyayanginya. Maka Simon tersenyum dan menggenggam tangan putri cantik yang dia sayangi.
“Tentu saja! Ayah akan berikan segala yang kamu inginkan dan apa pun yang kamu butuhkan! Ayah akan pastikan kebahagiaanmu sampai akhir hayat!” jawab Simon membuat Ellena tersenyum kecil.
“Ellena senang mendengarnya! Walai perlahan, saya ingin menerima ayah kandung saya yang syukurnya sangat menyayangi saya!” balas Ellena yang sudah merasa lebih baik dibanding beberapa hari yang lalu.
Dia menyadari kalau Simon memang sosok yang baik dan segala yang terjadi di masa lalu juga di luar kendalinya. Ellena menyadari kalau yang terpenting adalah apa yang dia miliki saat ini. Seorang suami yang sangat mencintainya dan juga seorang ayah yang sangat menyayanginya.
“Kalau begitu, ayo kita makan dulu!” ajak Simon diangguki oleh Ellena.
Keduanya makan malam bersama dan tak lama Ellena teringat soal suaminya. Dia pun segera mengecek ponselnya dan tidak ada satu pesan pun dari Damian. Memang Damian bukan orang yang sering mengirinmkan pesan, tapi kalau dia sudah janji akan pulang pada waktunya, pasti dia selalu tepat waktu, setidaknya memberi tahu Ellena walau hanya sedikit.
“Apa yang kamu pikirkan, Nak? Ah, sebenarnya ayah ingin tahu bagaimana kehidupan pernikahan kamu dengan Damian? Apa kamu benar –benar bahagia?” tanya Simon.
“Ayah, saya merasa bahagia dengan Kak Damian! Tolong jangan ragukan dia walau ayah mendengar kata –kata orang. Segalanya baik –baik saja,” jawab Ellena terlihat sangat yakin.
“Tapi kamu tidak mengatakan semua ini karena paksaannya kan? Jangan takut! Ada ayah yang bisa lindungi kamu!” Simon ingin Ellena terus terang saja.
“Ellena tidak takut kepad siapa pun, Ayah! Kami bahagia, sungguh!” Ellena bicara dengan sangat yakin dan akhirnya Simon hanya bisa menganggukkan kepalanya.
‘Apa Flora berlebihan menuduh Damian ya?’ Simon mulai terpikir kalau Flora lah yang berbohong kepadanya. Kemudian, mereka lanjut makan malam bersama dan tak lama masuk telpon dari Damian.
“Kak? Bagaimana pekerjaanmu?” Ellena mengangkat panggilannya dengan semangat.
‘PULANG! SEKARANG JUGA!’ balas Damian dengan penuh penekanan kemudian memutuskan sambungan telponnya. Ellena tertegun mendengar perkataan Damian yang tidak seperti biasanya seperti ada emosi di pihak pria itu.
“Ellena, ada apa? Bagaimana Damian?” tanya Simon yang melihat ekspresi Ellena saat ini.
“Ayah, aku harus pulang sekarang!” Ellena dengan cepat beranjak dari duduknya. Tapi Simon dengan cepat menyusuli putrinya lalu meraih lengan Ellena sambil berkata, “Biar ayah yang antarkan kamu!”
***
Damian merasa sangat kacau karena kepulangannya tidak ada yang menyambut. Dia merasa tak habis pikir ke mana Ellena pergi. Istrinya hanya mengirimkan pesan beberapa jam yang lalu kalau dia ingin keluar sebentar. Rasa curiga langsung memenuhi pikiran Damian karena takut istrinya bertemu dengan Sanders lalu mereka melakukan sebuah hubungan di balik pernikahan ini.
“Ellena… kau harus segera pulang! Aku akan menunggumu!” gumamnya kacau setelah menelpon Ellena yang tadi dia beri perintah dengan nada penuh penekanan. Damian sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Ellena di sana yang mendengar nada bicaranya yang tersemat emosi di dalamnya. Pria itu sudah setengah mabuk dan pikirannya terlalu kacau.
Bahkan efek alkohol membuat otaknya lebih banyak bekerja dan terpikir mengenai perkataan Flora lalu pernyataan Sanders mengenai siapa sebenarnya ayah dari anak yang dikandung Ellena. Padahal Damian ingin mengenyahkan pikiran yang tidak –tidak itu, tapi jujur itulah yang dia benar –benar pikirkan saat ini! Dia sangat memikirkan hal –hal yang tidak seharusnya terjadi dalma rumah tangganya. Tak lama, dia mendengar suara pintu terbuka sehingga Damian langsung menoleh dan melihat Ellena yang sudah pulang.
“Kakak baru pulang? Kenapa kerjanya sampai malam? Maafkan aku, kita jadi terlambat makan malam,” ujar Ellena tapi kemudian Damian menghampirinya dengan tatapan tajam.
“Dari mana?” tanyanya.
“Aku tadi bertemu dengan-“
“Dengan siapa?! Dengan bajingan itu lagi? Kenapa Ellena? Kenapa kamu tidak berubah juga? Kamu sengaja menceritakan kalau Sanders menemui kamu dan bilang ini dan itu tapi kamu seakan tidak memedulikan dirinya supaya aku percaya dengan kepicikanmu?” Damian langsung menyela sehingga membuat Ellena terkejut dengan pernyataan suaminya.
“Kak, apa yang sedang kakak pikirkan ini? Itu sama sekali tidak mungkin! Aku tadi bertemu dengan Ayah! Paman Simon!” tegas Ellena.
“Hah… pembohong! Secepat itu kamu menerima ayahmu? Hanya dalam dua puluh empat jam pikiranmu berubah? Kau jadikan orang itu sebagai tameng dari semua tipu dayamu? Kau ingin membuat aku terlihat seperti budak cinta yang bodoh, Ellena?” tuduh Damian benar –benar di luar dugaan Ellena.
Hati Ellena yang sempat kacau tadi siang karena pertemuan dengan mamanya kini bertambah kacau karena kemarahan tanpa alasan dari suaminya. Air matanya meleleh begitu saja karena merasa begitu sedih dengan pernyataan Damian yang sangat menyakiti hatinya yang lembut.
“Hah… kau hanya bisa menangis? Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan air mata buaya itu? Kau sudah mencurangi aku! Bukan hanya sekali tapi berulang kali!” tuduh Damian lagi.
“CUKUP! Hentikan Kak! Aku sama sekali tidak melakukan itu!” balas Ellena dengan teriakan pula. Dia sudah lelah dituduh seperti ini oleh suaminya. Entah dengan alasan apa tiba –tiba suaminya berubah begini padanya.
“Apa kau puas setelah membuat aku terlihat seperti pria bodoh yang terlalu mencintaimu? Ya! Aku memang bodoh karena tidak bisa melihat kebusukanmu, Ellena! Sekarang pertanyaannya, kapan kau akan berubah?!” Damian terus menuntut.
“Hikss! Berhenti menuduh aku seperti itu! Hentikan kumohon!” Ellena merasa sangat sedih dan kepalanya sangat pusing. Rasanya tubuhnya akan segera jatuh karena merasa tidak seimbang lagi. Semua ini bagaikan serangan bertubi –tubi yang mesti diterima Ellena. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu apartemen yang belum benar –benar tertutup dan menginterupsi pertengkaran pasangan muda itu.
“Ellena!” panggilnya kepada wanita yang mulai kehilangan keseimbangannya itu lalu menahan tubuh istri dari Damian itu. Lalu dia menatap Damian dengan penuh emosi sehingga membuat Damian terdiam di tempatnya.
“Apa yang sudah kau lakukan kepada putriku?” tanyanya ingin mendapat jawaban dari Damian. Ya, itu adalah Simon, ayah kandungnya Ellena!

Komentar Buku (271)

  • avatar
    RismawatiRismawati

    ceritanya romantis

    20/02/2025

      0
  • avatar
    AnnisaDzakiyah

    cerita paling bagus yang pernah aku baca🤩🫵🏻🤩🫵🏻🤩🫵🏻

    31/08/2024

      1
  • avatar
    rabiatul adawiyyah

    Makin panas

    09/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru