Flora kini sampai di restoran biasa dia bertemu dengan Sanders. Tak lama kemudian, Sanders menunjukkan dirinya dan mereka pun duduk saling berhadapan. Awalnya mereka saling bungkam satu dengan yang lain karena hubungan di antara Flora dan Sanders yang tidak berakhir dengan baik. “Aku ke sini karena ingin tahu bagaimana keadaan Ellena saat ini. Apa yang dilakukan keluarga Leonard kepadanya?” Sanders langsung memulai pembicaraan dengan Flora. “Itulah... aku sebenarnya tidak tega,” balas Flora dengan nada seakan –akan dia peduli. “Cih! Sudahi omong kosongmu itu, Flora! Kau pasti tidak benar –benar peduli kepada Ellena kan? Malahan, kau senang dia mendapat tekanan dari keluarga mertuanya kan?” Sanders sudah muak dengan segala sandiwara Flora. Wanita itu tidak bisa mengelabui dirinya di sisi seperti ini tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa kan? Buktinya, Sanders percaya kalau saat ini Ellena berada dalam tekanan. “Pernikahan mereka adalah hubungan kontrak yang belakangan diketahui keluarga Leonard dan kemungkina Ellena diceraikan oleh Damian,” kata Flora pada akhirnya dengan ekspresi yang lebih normal menurut Sanders. “Apa? Kalau mereka bercerai artinya aku masih bisa punya kesempatan untuk balikan dengan Ellena kan? Tapi sepertinya si Damian itu seperti terobsesi pada Ellena kan? Apa mungkin dia mau lepasin Ellena?” tanya Sanders mulai sedikit ragu. “Damian itu sangat menurut kepada keluarganya! Jadi coba kamu temui dan hibur Ellena jika bertemu dengannya. Jangan menyerah karena ini lah kesempatan yang diberikan untukmu, Sanders!” Flora mencoba membangkitkan semangat kepada Sanders untuk mendekati Ellena lagi. Mendengar itu, Sanders menganggukkan kepalanya setuju. Terakhir kali, dia menyerah karena Damian yang begitu kuat sebagai lawannya. Tapi kali ini, dia pasti bisa mendapatkan Ellena karena dengan ketahuannya hubungan kontrak di antara Ellena dan Damian tidak akan membuat hubungan mereka berdua bertahan lama. “Mungkin ini lah yang namanya jodoh ya, Flora? Walau berusaha sebagaimana pun untuk memisahkan kami, pasti ada kesempatan untuk mendapatkannya kembali kan?” Sanders tersenyum lega sambil menyesap minuman dinginnya. “Ya, itu benar! Aku merasa kalau kamu memang lebih cocok bersama Ellena.” Flora mengiyakan. Tapi kemudian, Sanders menatap Flora sambil menaikkan sebelah alisnya menunjukkan kalau dia penasaran apa tujuan Flora melakukan semua ini. “Kenapa kau melakukan semua ini, Flora?” tanya Sanders. “Tentu saja, karena aku ingin kembali mendapatkan hakku kembali untuk bersama Damian! Sejak awal, dia adalah milikku bukan Ellena!” jawab Flora seketika membuat Sanders tertawa terbahak –bahak. “Hahahaha! Astaga, kau lucu sekali!” Sanders merasa ini adalah puncak komedi. “Apa yang lucu?” kesal Flora karena mendengar tawa Sanders yang terkesan mengejeknya. “Ya, jelas saja lucu! Kau sudah tahu bagaimana keluarga Leonard tapi masih ingin menjadi bagian dari mereka? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Bahagia? Rasanya seperti mustahil saja!” Sanders memberi tahu alasannya. “Aku dan Ellena berbeda! Dia itu lugu dan juga lemah! Jadi aku pasti bisa menghadapi tekanan dari keluarga itu!” yakin Flora membuat Sanders menganggukkan kepala seakan dia yakin. “Kau salah kalau bilang Ellena lemah! Dia malah jauh lebih kuat dari kamu!” nilai Sanders terus terang. “Lancang juga bicaramu!” Flora tidak senang. “Ya, aku sudah tahu dari bagaimana dia menjalani kehidupannya yang berat! Dia adalah wanita yang luar biasa kuat! Dan kau itu lemah, Flora! Kau tidak bisa melihat orang lain bahagia walau hanya sedikit. Ya, begitu menurutku! Kalau begitu, aku pamit!” Sanders pun undur diri. Flora mengepalkan tangannya karena perasaan tidak senang dengan penilaian yang ditujukan oleh Sanders kepadanya kalau dia lemah. ‘Tidak! Aku tidak merasa begitu!’ Flora masih menyangkal hal tersebut lalu beranjak pergi untuk kembali. *** Setelah pertemuan dengan keluarga, kini sudah waktunya Damian dan Ellena pulang. Mereka berdua masih merasa teramat bahagia karena akan segera menjadi orang tua dalam sebuah keluarga kecil yang bahagia. Kemudian Damian melirik Ellena yang masih tersenyum lalu meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. “Aku berterima kasih sekali lagi, Ellena,” ungkap Damian. “Pernikahan kita awalnya tidak merencanakan ini kan, Kak? Awalnya, aku pikir kamu akan meragukan aku.” Ellena membalas dan menyatakan pemikirannya yang agak berlebihan. “Tidak mungkin! Aku adalah yang pelaku sehingga kamu bisa hamil. Ya, aku tidak akan melupakannya sama sekali. Tapi, kamu sudah maafkan aku untuk hal itu kan?” Damian ingin tahu perasaan Ellena. “Iya, aku sudah memaafkan kakak! Jangan kita pikirkan lagi, karena saat ini sudah ada anak yang akan hadir di antara kita. Dia bukan kesalahan!” Ellena menyatakan rasa bahagianya. Dalam hidup Damian yang biasanya selalu datar dan sama sekali tidak berwarna, baru kali ini dia merasakan kehangatan luar biasa. Jujur, tak pernah sekali pun dia berpikir kalau mereka akan segera mempunyai anak secepat ini walau bukan berarti Damian tidak menginginkannya. Mereka pun sampai di apartemen saat hari mulai malam. Ellena dengan sigap bergerak ke dapur untuk memasakkan makan malam untuk mereka. Damian memperhatikan kesigapan Ellena kemudian langsung memeluk wanita itu dari belakang. “Jangan banyak melakukan kegiatan, istriku! Kamu bisa lelah,” bisik Damian karena tidak mau membuat istrinya lelah karena mesti melakukan semua kewajibannya. “Aku tak apa! Nanti kakak tidak bisa makan malam,” balas Ellena sambil melepas pelukan Damian dari pinggangnya. “Aku bisa take away. Jangan terlalu dipikirkan! Kita mesti memperhatikan anak kita,” kata Damian masih berkeras. Tapi Ellena masih menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kegiatannya. “Tidak apa! Hanya kegiatan seperti ini tidak akan berbahaya untuk anak kita. Sekarang, kakak ganti baju dan mandi lalu kita makan malam seperti biasa ya,” suruh Ellena pada akhirnya hanya dibalas anggukan oleh Damian. Damian sama sekali tidak bisa menahan Ellena supaya tidak melakukan apa –apa. Tapi sebenarnya, sikap Ellena yang seperti ini lah yang membuatnya benar –benar jatuh hati. Ellena yang rajin, baik dan sangat cantik. Dia merasa sudah mendapatkan istri yang sangat sempurna walau pada mulanya awal hubungan mereka tidak baik. Siapa yang sangka segalanya akan sebaik ini. ‘Aku mesti lebih perhatian kepadanya. Jangan terlalu ego lagi karena hal itu tidak ada gunanya,’ pikir Damian lalu masuk ke kamar mandi. Setengah jam berlalu dan dia sudah selesai berpakaian. Kini di meja makan sudah ada masakan sederhana yang disiapkan istrinya . Damian pun duduk dan seperti biasa Ellena menyiapkan makanan untuknya. Setelah itu, mereka berdua makan malam dengan khidmat. “Terima kasih untuk makanannya,” ujar Damian selepas makanannya habis. “Sama –sama! Tapi aku sangat senang kalau sikap Kakak sudah lebih hangat kepadaku belakangan ini. Aku bersyukur!” ungkap Ellena membuat Damian berdebar. Kemudian, dia melihat sang istri sudah membereskan piring. Segera saja dia mengambil piring itu untuk dia bersihkan. “Aku saja!” Damian tidak mau Ellena terlalu sibuk. “Terima kasih,” balas Ellena diangguki oleh Damian. Tapi Ellena tidak diam saja saat suaminya mencuci piring. Dia langsung membersihkan meja dan mereka berdua selesai bersamaan. Setelah itu, Ellena menghela napasnya karena merasa cukup lelah dengan kegiatan hari ini. “Ellena, ayo kita istirahat!” ujar Damian sambil menarik tangan wanita itu dan ikut bersamanya. “Eh… tu –tunggu! Ki –kita tidak tidur di kamar yang sama kan?” Ellena berujar malu –malu karena mereka tak pernah sekali pun berada di kamar yang sama. Wajah Damian memerah lalu pria itu memalingkan wajahnya karena dia pun malu. “Kita ini… suami istri kan?” tanya Damian dibalas anggukan malu –malu oleh Ellena. “Apa tidak sebaiknya kita memulai dari awal?” Damian bertanya lagi dan hal itu berhasil membuat Ellena terdiam. Sejak awal pernikahan, segalanya sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Yang Ellena pikirkan dulu, mereka bisa bercerai setelah waktu yang ditentukan dalam kontrak. Tapi seraya waktu berlalu, dia merasa membutuhkan Damian yang selama ini selalu menunjukkan segala perhatian dan cinta kepadanya. Ellena belum yakin apa dia juga mencintai Damian, tapi satu hal yang dia yakini, Ellena membutuhkan Damian. “Kita akan tidur bersama?” tanya Ellena lagi. Damian mendengar pertanyaan itu seakan ada nada keberatan pada Ellena untuk melakukan hal yang seperti itu. Maka dia pun melepas tangan Ellena sambil memalingkan wajahnya. “Maaf sudah memaksamu,” balas Damian kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamarnya. Dia tidak mau membuat Ellena seakan merasa sangat terpaksa untuk menjalani hubungan pernikahan ini. Pria itu paling pantang jika membuat Ellena tersakiti lagi seperti sebelumnya. Tapi Ellena merasa kalau Damian terlalu mudah menyerah. Wanita itu sebenarnya sudah agak kesal karena Damian sama sekali tidak membujuknya sedikit lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah begitu karakter dari Damian yang tidak bisa mengerti kode seorang wanita. ‘Apa aku hanya diam saja? Aku yakin, besok dia akan cuek lagi! Tidak! Jangan lagi!” Ellena pun langsung berjalan dengan cepat sambil meraih tangan pria itu. “Kenapa aku ditinggalkan? Apa kakak tidak mau bersamaku?” tanya Ellena lagi. “Bu –bukan begitu! Aku hanya tidak mau memaksamu. Semua ini terlalu terburu –buru kan? Jadi santai saja,” jawab Damian masih malu –malu. “Aku mau!” Ellena berujar tegas sehingga membuat pria itu cukup terkejut. “Kamu tidak terpaksa kan?” Damian ingin tahu apakah benar Ellena sudah mulai menerima dirinya. “Ya… kan hanya tidur. Ta –tapi kalau yang lain se –sepertinya aku belum-“ Ucapan wanita itu terhenti kala Damian langsung menariknya ke dalam pelukannya. Dia menarik Ellena ke kamarnya dan menutup pintu sambil menggendong wanita itu. “Ka –kakak, kita benar –benar hanya istirahat bersama kan?” Ellena sungguh malu karena Damian sampai menggendongnya saat ini. “Iya, aku tidak mau istriku lelah karena melangkah ke sini,” jawab Damian kemudian meletakkan tubuh Ellena dengan lembut ke atas ranjang yang tadinya adalah miliknya sendiri. Kini, mereka sudah setuju untuk saling berbagi ranjang yang besar itu. Wajah Ellena memerah kala Damian kini sudah berada di sebelah kanannya. “Tidurlah!” kata Damian dengan lembut kepada Ellena. Karena gugup, wanita itu mengangguk saja lalu berbaring menyamping. Dia sangat malu karena sekarang ada seorang pria di sebelahnya. Ingin rasanya dia cepat terlelap karena tidak mau terus memikirkan ini dan itu. Damian juga merasakan hal yang sama. Dia ingin kantuk menyerangnya karena sampai detik itu jantungnya terus berdebar tak menentu. ‘Aku tidak pernah membayangkan hal ini! Kenapa sih, Damian? Dia adalah istrimu!’ rutuk Damian dalam hatinya. Pria itu masih berbaring lurus sambil menatap plafon di atas. Berusaha menutup matanya berkali –kali, tapi tetap saja tidak bisa! Maka dia pun menoleh ke samping untuk memastikan apakah Ellena sudah tidur atau belum. ‘Kenapa aku merasa seperti diperhatikan ya?’ pikir Ellena masih belum juga menutup matanya. Maka wanita itu pun berbalik perlahan dan ternyata Damian memperhatikannya sedari tadi. “Kak, apa rasanya tidak nyaman ya?” cicit Ellena dengan sangat sungkan. “Ini… karena baru pertama kali aku melakukannya,” jawab Damian dengan agak sungkan juga. “Sebelumnya, kita tidak pernah benar –benar di ranjang yang sama kan?” tanya Ellena. “Pernah! Saat bulan madu kalau kamu lupa.” Damian mengingatkan. “Ah, benar juga! Tapi saat itu kita cukup lelah hingga langsung istirahat kan? Kita juga… sudah melakukan banyak hal hari ini dan butuh istirahat. Jadi ya… aku akan tidur!” Ellena segera menarik selimutnya untuk segera terlelap. “Iya, tidurlah yang nyaman!” bisik Damian walau dia masih belum bisa tidur tapi situasinya perlahan tidak canggung lagi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ceritanya romantis
20/02/2025
0cerita paling bagus yang pernah aku baca🤩🫵🏻🤩🫵🏻🤩🫵🏻
31/08/2024
1Makin panas
09/06/2024
0Lihat Semua