Chapter 91

Malamnya ketika di meja makan, Risa tersenyum geli tiap kali bertatapan dengan Kala yang ada di seberang mejanya. Sementara itu, Dea ada di kiri Risa, Om Anthony di kepala meja, dan Tante Amy di kiri suaminya—yang berarti duduk di sebelah putranya yang luar biasa jail itu. Teganya menyembunyikan hal seberat itu dari Risa yang jauh di Jakarta. Seandainya Kala mengatakannya sejak awal, maka Risa tidak perlu stres dan galau tidak jelas hanya karena rindu.
Makan malam yang hangat diisi dengan cerita Dea yang tidak tahan ingin bercerita banyak ke Risa selama tiga bulan masa penderitaan kakaknya itu. Semua orang tertawa melihat gadis itu terlihat lega dan tidak jarang memperlihatkan foto Kala yang tertidur di ruang tamu dengan berbantalan buku tebal. Pulang dalam keadaan seperti zombie yang kelaparan karena seharian dikurung berjam-jam di simulator penerbangan. Sampai-sampai Kala mengigau di tengah malam dan mengucapkan teknis di penerbangan.
“Seriusan?” tanya Risa ke calon adik iparnya.
Dea mengangguk dengan cepat. “Oktober, dia nggak ada jadwal penerbangan sama sekali, tapi tiap balik ke rumah mukanya pucet kayak abis terbang dari Brasil dan balik lagi ke sini di hari yang sama.”
Tante Amy menuangkan ulang wine untuk suaminya. “Itu karena Mas belajar lagi buku manual pesawat yang tebalnya ribuan halaman, hukum penerbangan internasional, dan manajemen kru. Mas-mu itu harus bisa melewati serangkaian ujian tertulis dan lisan di depan dewan penguji maskapai, Moppie, makanya tiap pulang ke rumah langsung tepar.”
Om Anthony menghirup, lalu menggoyangkan pelan gelas wine-nya. Sama seperti papanya Risa di rumah, irit bicara saat di meja makan. Jadi, dia hanya menatap putranya dengan bangga dan fokus pada steak di depannya. Sementara itu, Dea dan Tante Amy sibuk menjadi juru bicara bagi Kala yang terlalu malu menceritakan perjuangannya di depan Risa.
Dea tersenyum lebar ke arah Risa. “Mas Kala sengaja nggak kasih tahu, soalnya takut Mbak Risa khawatir.”
Tante Amy mendengus geli. “Juga karena malu, kalau gagal. Jadinya, mau kasih tahu pas udah kelar aja. Iya, kan, Mas?”
Memang sejak kecil memanggil anak sulungnya itu ‘Mas’ agar Dea sebagai adik secara otomatis terus memanggilnya ‘Mas’. Meskipun keturunan Indonesia sekian generasi, tetapi keluarga ini memakai bahasa Indonesia jika berada di rumah. Membuat Risa merasa pulang tiap kali berada di Amsterdam dan bisa mengikuti obrolannya tanpa harus berpikir dua kali.
Kala mengangguk kecil. “Biar Risa juga fokus sama kerjaannya.” Kemudian melirik tipis ke Risa.
Tante Amy kembali menatap calon menantunya itu. “Jangan marah atau sedih selama Mas nggak ada jadwal ke Jakarta. Kami sendiri pun juga gregetan pengin cerita ke kamu, tapi Kala melarang cerita sebelum dia bener-bener berhasil.”
Dea tergelak. “Dia itu perfeksionis, Mbak. Sok keren.”
“Hadiah iPhone buat ultahmu Juli nanti nggak jadi, ya?” goda Kala diakhiri seringaian.
“Rese! Jadi, dong. Gajimu udah naik banyak soalnya,” gerutu Dea.
Tadi saat kejar-kejaran di lorong, Kala memang sekilas menjelaskan dia yang harus kembali belajar semua teknis pilot lagi di Oktober, harus melewati serangkaian ujian tulis dan lisan di depan dewan penguji maskapai. Di situlah Kala diuji cara mengambil keputusan (Decision Making) di situasi darurat yang paling mustahil sekalipun. Risa menatapnya dengan haru saat tahu alasan mengapa Kala menghilang berbulan-bulan.
Di November Kala menghabiskan waktu 4–8 jam per sesi di dalam simulator. Instruktur akan memberikan skenario terburuk; mesin mati saat lepas landas, kebakaran di dalam kabin, hingga kegagalan sistem hidrolik total di tengah cuaca buruk. Tujuannya untuk memastikan Kala bisa tetap tenang dan mendaratkan pesawat dengan selamat meski semua instrumen mati. Kelelahan mental dan stres tinggi karena satu kesalahan di simulator bisa membatalkan seluruh prosesnya.
Risa bertatapan cukup lama dengan Kala. “Ohh, sekarang masuk akal kenapa berat badan kamu turun sampai 2 kg … bukan karena ke Brasil, ya?” Lalu, tersenyum jail.
Kala memutar mata, tetapi segera tersenyum. “Itu alasan paling masuk akal biar kamu nggak cari aku buat video call-an kayak biasanya, Liefje.”
“Moppie, tolong ambilkan air dingin,” ujar Tante Amy ke Dea.
“Iya, Ma,” jawab gadis itu sebelum beranjak dari kursi.
Ketika Dea kembali ke meja makan dan membawa sebotol air dingin, dia menendang kaki Kala sebelum duduk ke kursinya sendiri. Risa hanya bisa tersenyum geli melihat interaksi kakak dan adik itu, persis seperti dirinya dan Levin. Namun, setidaknya Kala jauh lebih manis ke adiknya walaupun tidak pernah diakuinya sendiri. Dari cara-cara Kala memanjakan Dea, semua orang pun tahu hubungan mereka tidak sekasar di permukaan.
Kala berdeham beberapa kali. “Di Desember, aku mulai terbang kembali ke rute asli, tapi baru di penerbangan jarak pendek. Aku duduk di kursi kiri—kursi kapten. Di sebelahku ada TRE atau Type Rating Examiner. Dia instruktur senior yang bertugas mengawasi setiap gerakanku. Jadi, Liefje, pas aku cuti seminggu dan ke Jakarta … itu aslinya aku udah lolos final check. Tadinya Mama nyuruh aku liburan yang jauh, tapi pikiranku cuma mau ke Jakarta buat ketemu kamu.”
Risa kini mulai memahami betapa sulitnya apa yang Kala perjuangkan demi masa depan mereka. Pantas saja saat itu Kala terlihat sangat kelelahan, tetapi di satu sisi juga terlihat sangat bahagia. “Coba kamu kasih tahu aku dari awal, Mas. Mungkin aku akan bawa kalung bunga pas jemput kamu di bandara.”
Dea tergelak. “Mbak!”
“Astaga, Risa,” tukas Tante Amy diakhiri senyuman lebar.
Kala menggeleng sambil tersenyum tipis. “Kamu pikir aku ini atlet yang baru kelar Olimpiade? Penerbangan resmiku baru Januari, Liefje, aku sengaja pengin bikin kamu bingung pas di kabin Garuda. Di sistem maskapai SkyTeam, data kamu sudah terdaftar sebagai pendamping Captain. Itulah kenapa cabin crew langsung bertingkah berbeda. Kamu diperlakukan seperti VIP bukan karena uang, tapi karena hormat antar sesama rekan pilot dan rekan seperjuangan di udara.”
Dea bertepuk tangan. “Nah, kan, Mbak? Dia ini manipulatif dan tukang pamer.”
Semua orang di meja makan tertawa, Risa menunduk saat menatap supnya. Keberangkatannya ke Amsterdam adalah untuk terbang bersama Kala ke Dublin. Risa tidak menyangka akan ada kejutan semacam ini, padahal dia belum diberi cincin pertunangan. Bukan rahasia umum lagi dia akan dilamar, hanya saja begini pun sudah membuatnya melayang. Melihat pria yang dicintainya mewujudkan impian sekaligus membawa-bawa Risa ke dalam rencana masa depan—adalah hal yang sangat romantis.
Om Anthony meraih tisu di sebelah kanannya. “Kamu beneran cuma bayar sepuluh juta, Mas?”
Kala tersenyum lebar. “Iya, Pa, rasanya itu kabin kelas bisnisnya Garuda nggak ada harga dirinya setelah aku jadi kapten. Dulu, aku maju mundur mau pesen di tanggal berapa, takut kegeser di sistem sama kapten yang juga lagi nyari diskon. Tapi sekarang tanggal sepuluh aku udah berani pesenin Risa tiket tanpa harus takut.”
Dea mengernyit. “Emang biasanya berapa harga aslinya?”
Om Anthony mengusap kepala putrinya. “Tinggal kali enam aja, Moppie.”
“Hah?! What the fu—“ Kata-kata Dea terpotong.
Tante Amy memelototi anak gadisnya. “Moppie.”

Komentar Buku (1)

  • avatar
    Samsuri

    bagus banget

    23/03

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru