Membaca buku selalu lebih cepat daripada menuliskannya. Perjalanan pulang juga terasa lebih cepat dibandingkan saat perjalanan itu dimulai. Dia dan Kala akan selalu pulang ke satu sama lain, tetapi Risa dengan senang hati memulai perjalanan untuk memahami pria itu dengan amat sangat pelan. Sekarang pun masih. Seorang Kala Willem Dirk tidak bisa dibaca cepat-cepat, seperti buku bagus yang enggan Risa selesaikan sampai tamat. “No,” gumamnya, tidak mau menyambut ciuman Kala. “Makan dulu.” “Ciuman dulu,” kata Kala, masih berusaha membuat bibir Risa terbuka. Pada akhirnya Risa kalah karena pria itu menggigit bibir bawahnya dan secara otomatis membuatnya menyambut kerinduan Kala. Mereka berciuman sampai Kala puas dan mau makan siang. Keduanya duduk berhadapan di sofa, membicarakan hal-hal tidak penting, dan sesekali tertawa riang. Biasanya pria itu akan bercerita tentang insiden kecil yang lucu saat penerbangan, entah tentang kaptennya atau kelakuan staf di bandara. “Mama kamu lagi di Jakarta?” tanya Kala. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Risa tersenyum kaku. “Kenapa?” Kala mengambil botol air mineral. “Ya kayak biasanya, Risa, aku mau menyapanya. Masa pacaran sama anaknya, tapi nggak mau akrab sama ibunya?” “Ohh,” tukasnya pelan. Dua orang itu—apa yang mau dibicarakan saat mereka bertemu? Risa khawatir Mama mendesak Kala untuk segera menikahinya. Dia mengerti kekhawatiran ibunya, tetapi untuk hal yang satu ini dia tidak ingin ada orang yang menginterupsi atau mendikte. Dia ini perempuan dewasa, sehingga keputusan penting sebesar pernikahan adalah urusannya. Karena dia yang akan menjalaninya dan dia berhak menilai sebaiknya kapan. “Akhir tahun kayaknya kita enggak bisa ketemu, seniorku pengin liburan sama keluarga,” kata Kala sambil membuka camilan barunya. Risa menatapnya dalam-dalam dan tersenyum. “Ya enggak apa-apa.” Kala mengernyit. “Natal, Risa, tahun baru juga. Ulang tahun kamu tanggal tiga.” Lantas kenapa? Inilah yang terjadi jika dia memiliki kekasih sejenis Kala, hobinya adalah meromantisasi hal-hal yang menurut Risa tidak penting. Setiap tahunnya selalu ada Natal dan ada pesta penyambutan tahun baru. Benar, ulang tahunnya tanggal tiga Januari, tetapi kenapa? Apa masalahnya? Kala justru menjadi ribut sendiri hanya karena melewatkan hal-hal yang selalu ada di tiap tahunnya. Pria itu mendesah pasrah. “Aku enggak paham kenapa kamu bisa jadi penulis, tapi sama ulang tahun sendiri nggak happy?” Kali ini Risa yang menautkan kedua alisnya sendiri. “Excuse me? Aku bilang biasa aja, Mas, bukan berarti aku nggak happy.” “Astaga,” gumam Kala. “Kamu lahir di dunia ini, seharusnya disyukuri. Itulah kenapa ada tiup lilin dan banyak orang mau mendoakan kamu.” Benarkah? Risa bisa memahami jalan pikiran Kala tentang perlunya merayakan sesuatu, tetapi harus dia akui dirinya ini sungguh tidak suka dengan pesta-pesta sekecil apa pun itu. Sejauh ini pun Kala selalu salah memberikan hadiah ulang tahun dan membuat keduanya tertawa tiap kali Kala merasa bodoh. Lagi pula, tahun depan dia berusia 28 tahun, melihat angka itu membuatnya ingin berhenti makan nasi. “Mas, kamu inget tas mahal yang dari kulit itu? Cuma aku pakai pas kondangan.” Maksud Risa adalah hadiah ulang tahunnya yang ke-26, hadiah yang terpaksa dia terima. “Kalau gitu, sekarang kasih tahu aku … kamu ini mau apa untuk ultah kamu selanjutnya. Aku nggak mau disuruh baca buku, Sa, itu bukan kado, tapi aku tetep mau melakukannya di sela-sela penerbanganku.” Dalam hati Risa secara frontal dan blakblakan berkata, “Lamar aku, Mas! Kita nikah dan berhubungan seks seminggu lima kali!” dan sayangnya, di bibirnya hanya berkata, “Aku pengin tahu rasanya orgasme.” Seketika membuat Kala tersedak roti. “Apa?!” “Bercanda,” tukas Risa dengan ekspresi datar. *** Untuk apa belajar menulis ketika orang di zaman sekarang ini lebih suka menikmati video singkat ketimbang membaca? Untuk apa? Risa juga sering mempertanyakan hal tersebut. Seluruh dunia berlari ke arah dan tujuan yang sama dengan kecepatan yang nyaris sama pula, tetapi Risa duduk di depan laptopnya untuk menyelami dirinya sendiri. Terkadang merenung, melamun, dan tiba-tiba menangis sendiri. Kurang lebih dua setengah tahun lalu—sejak hubungan ini dimulai Kala meyakinkannya, bahwa tak ada salahnya menjadi dirinya sendiri. Memang tidak secara gamblang terucap di bibir, tetapi dari semua tindakan serta pengertiannya menunjukkan maksudnya. Harus ada orang-orang seperti Arisa Kirani untuk menjaga bumi ini agar tetap menjadi bumi yang layak untuk dihuni manusia. “Orgasme?” tanya Kala sekali lagi, menjatuhkan sandwich-nya ke atas piring kertas. Sebelah alis Risa naik. “Senafsu apa pun aku, nggak pernah sampai mainin diriku sendiri.” “Enggak, aku nggak mau.” Dahi Kala berkerut sambil memandang kekasihnya itu. “Kita belum nikah,” katanya lagi dan tiba-tiba dia mengerjap cepat sekali. “Liefje?” Risa memutar mata dan tersenyum geli saat melihat Kala mulai menyadari apa maksud dari permintaannya. “Ya?” “You are impossible,” ujar Kala diakhiri suara tawa renyah. Dia tahu Kala akan menyadarinya cepat ataupun lambat, tetapi keputusan akhir untuk ke depannya masih berada di tangannya. Risa terbiasa hidup dalam ketidakpastian, juga tidak peduli apa kata orang. Akan tetapi, Mama agaknya memang benar bahwa menikah adalah cara termudah untuk memutus jarak di antara dirinya dengan Kala. Tidak perlu memikirkan hal rumit tentang rumah tangga terlebih dahulu, dia menginginkan seorang pria yang sedekat kulit serta nadi untuk dicintai. “Not sex, I just want to feel it … dan aku yakin kamu bisa membuatku merasakan itu, Mas,” kata Risa tanpa tahu malu, mengabaikan semburat merah yang menjalar di wajah dan leher Kala. “Risa ….” Kala mengernyit sambil memaksakan senyuman. “Aku punya tangan sendiri, tapi aku lebih suka tanganmu.” Dia teringat dua pertemuan terakhir mereka yang lumayan tak terlupakan olehnya. “Aku nggak mau masturbasi, itu … memalukan.” Namun, permintaannya pada Kala juga lebih memalukan—dia tahu. Kala langsung beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menjauh. Risa bisa mendengar suara embusan napasnya yang terdengar frustrasi. Barangkali, sedang mengambil jarak antara kewarasannya sendiri dan ketidakwarasan kekasihnya. Entah mengapa Risa tahu Kala sedang mempertimbangkan dan sekarang Risa bersedia menunggu. Hadiah apa yang lagi yang diinginkan perempuan 28 tahun sepertinya? Dia bisa membeli apa saja yang dia mau, bisa pergi ke mana saja yang dia ingin, dan makan apa pun yang dia suka. “Tapi terakhir kali kita di Milan, kamu udah pegang payu—“ “Diam kamu!” kata Kala dengan ekspresi panik, memotong ucapan Risa. Dia menunjuk-nunjuk kekasihnya. Risa mengulum senyuman. “IQ-mu 135, Mas, kamu pilot yang udah biasa kontrol diri di atas pesawat, jadi, apa salahnya kalau aku mau kamu sedikit nakal. Cuma sedikit … sedikit nakal.” “IQ-ku nggak ada hubungannya sama nafsuku,” bantah Kala diakhiri seringaian geli.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
23/03
2Lihat Semua