Kepintaran seseorang memang selalu menjadi akuan banyak orang. Tapi yang terpenting, bagaimana kepintaran yang kamu dapat bisa bermanfaat untuk dirimu sendiri dan orang lain. *** Arman merebahkan badannya di kasur sembari menatap langit kamar. Belum ada tanda-tanda Arba akan pulang. Padahal seharusnya Arba sudah pulang. Jadwal mata kuliah hari ini cuma sampai pukul 12 siang. Arman bangkit dan berjalan menuju depan rumah, menunggu saudara kembarnya pulang. “Arba belum pulang juga, kok perasaan gue kagak enak, ya?” pikir Arman. Cowok itu akhirnya tetap berusaha berpikir positif dan tidak berpikir yang aneh-aneh. Lima belas menit berlalu, Arba belum juga pulang. Arman semakin resah dan memilih untuk menelepon Arba. Arman lalu masuk ke kamar dan menelepon Arba. Tidak ada jawaban. “Ini anak ke mana, sih?” Arman keluar kamar dan mondar-mandir di depan kamar. Kebetulan Juli sehabis dari pasar membuka pintu dan melihat anaknya mondar-mandir tidak jelas. “Ngapain kamu, Man?” tanya Juli, lalu menghampirinya. “Kok Arba belum pulang, ya, Bu?” Arman menunjukkan perasaan khawatir. Juli menepuk bahu Arman menyuruh anaknya itu untuk tetap tenang. “Mungkin Arba lagi pacaran,” celetuk Juli yang membuat Arman langsung tertawa.
“Ahh, Ibu, kayak nggak ngerti Arba aja, dia mana pernah deket sama cewek!” Juli menyenggol lengan Arman. “Halah, kamu juga nggak pernah deket sama cewek, jangan ngejekin saudaramu, Nak.” Arman terkekeh mendengar jawaban Ibunya. Benar apa yang dikatakan Ibunya kalau Armand an Arba belum pernah sesekali membawa dan memperkenalkan seorang perempuan pada Ibunya sama sekali. Tragis. “Bener juga, Bu. He he.” Tak berselang lama terdengar suara motor di depan rumah mereka. Arman langsung berjalan ke depan dan benar Arba yang memarkirkan motor di depan rumah. “Lo ke mana aja, sih?” Arba mencopot helm-nya. “Gue tadi mampir makan dulu.” “Tega amat lo, ya, nggak bawain gue makanan balik, gitu?" Dengan cepat Arba menggeleng. “Nggak.” “Lo jahat sama gue, Ba,” jawab Arman. “Jahatan mana sama orang yang nggak balas cinta lo?” Arba menaikkan sebelah alis. “Jahatan orang yang nggak balas cinta kita. Hiks.” “Berarti gue nggak jahat-jahat?” “Amat.” Arman langsung menggeret tangan Arba menuju kamar sesudah Arba menstandarkan motornya. “Gue lolos lomba itu, dan besok lo yang ke sana, ya?” “Kok gue?” “Gue cuma nggak mau ngecewain kampus lo, Ba,” kata Arman. “Plis.” “Terus besok lo mau ke kampus lo?” Arman mengangguk. “Oke kalau mau lo gitu, Man,” kata Arba. “Bukunya mana? Gue mau belajar.” Arman membuka tas dan mengambil buku itu. “Nih,” Arman menyodorkan buku Statistika pada Arba. “Makasih, Man. Lo dapat urutan lolos nomor berapa?” “Agak akhir, dan itu sangat mengecewakan bagi gue.” “Nggak apa-apa. Dalam lomba menang atau kalah itu hal biasa.” **** Arba sudah berada di atas panggung bersama finalis lain. Pemberi pertanyaan mengajukan satu demi satu pertanyaan. Arba selalu menekan tombol dengan cepat dan jawaban Arba selalu benar. Sorak-sorak para pendukung terdengar di telinga Arba. Arba berusaha tenang dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Arba tidak berharap menang, karena saingannya lebih haandal, dan pasti lebih pintar darinya. Arba tidak minder sama sekali. Pola pikirnya selalu mengatakan semua manusia itu sama, yang membedakan hanya sikap dan ketakwaan kepada sang pemberi hidup. “Pertanyaan terakhir,” ucap pemberi pertanyaan yang sudah bersiap memberikan pertanyaan. “Soal essay.” Pemberi pertanyaan membacakan soal terakhir. Sekarang antara Arba dan peserta bernama Fahri skor seimbang. Tandanya, hanya ada satu pemenang untuk menjadi juara satu. Dengan tenang, Arba menuliskan rumus di sebuah kertas dan menghitungnya. Bel ditekan, saingan Arba bernama Fahri menekan tombol dan menjawab. “Cos 37.” “Salah,” ucap sang pemberi pertanyaan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Arba. Selesai menghitung Arba langsung menekan tombol dan menjawab. “Cos -40.” “Benar dan pemenangnya adalah Arba Givanandra.” Sorakan-sorakan selamat kembali terdengar di telinga Arba. Pembawa acara membacakan para pemenang dan menyuruh para pemenang maju ke depan. Tiga pemenang berdiri dengan kokoh dan bangga karena bisa membawa nama kampus mereka. Rektor penyelenggara acara pun memberikan hadiah berupa piala dan uang, tak lupa memberikan selamat para pemenang. Mulai dari juara ke tiga sampai juara satu. Arba senang bukan main, sebenarnya dia juga tidak menyangka bisa menang. Arba tahu, saingan pada kompetisi ini sangat berat. Tetapi kenyataannya Arba bisa mendapat juara satu. Dengan bangga Arba mengangkat pialanya dan ampolop berisi uang secara bergantian. Setelah itu, para pemenang turun panggung. Julian yang tahu Arba sudah turun dari panggung langsung menghampiri cowok itu. “Selamat, Ba,” kata Julian. “Lo itu memang hebat!” Arba sekilas tersenyum dan merangkul bahu temannya itu.”Ah, lo itu, Sob, jangan terlalu memuji, gue nggak suka dipuji.” “Tapi memang kenyataannya lo hebat, Sobat!” Julian membalas merangkulan Arba. “Duit ini mau gue kasihin ke ibu gue, Jul,” kata Arba. “Kalau piala pasti taruh di kampus. Ya, kan?” Julian mengangguk dan pikirannya kembali kepada kemarin, saat ada perempuan yang mengira Arba bernama Arman. “Gue masih kepikiran sama cewek yang kemarin, deh, Ba,” ucapnya terhenti. “Cewek yang mana?” Arba kebingungan. “Yang kemarin dia lewat dan ngira lo namanya Arman, Ba,” jawab Julian. “Lo masih inget, kan? Jangan bilang lo lupa. Aneh aja akhir-akhir ini lo jadi agak aneh aja.” “Oh, yang kemarin? Gue inget, kok. Udah jangan dipikirin, mungkin dia salah orang, Jul.” Arba berucap sambil berargumen supaya jawaban yang dilontarkan tidak menimbulkan kecurigaan. Arba tahu siapa perempuan yang dimaksud Julian, siapa lagi kalau bukan Hilma, karena Arba tahu, Hilma yang mewakili kampus Arman. “Tapi, kok?” Belum sempat Julian melanjutkan perkataan, Arba langsung memotong pembicaraan Julian. “Jangan dipikir, Jul, mendingan kita makan-makan, gue traktir, ya?” Tanpa jeda Julian langsung mengangguk antusias. “Nah, itu yang gue tunggu dari tadi.” Julian menjentikkan jari yang membuat Arba tertawa. “Oke. Berangkat!” Arba berjalan dan diikuti Julian. Langkah Arba terhenti dan menengok ke belakang. “Jalannya berdampingan, dong, biar kayak lo sama doi.” Julian tertawa, lalu menyamakan langkah. Mereka menuju ke parkiran dan melengang pergi dari tempat perlombaan. Motor Arba terhenti di sebuah angkringan bernama “Angkringan Masa Lalu” “Yakin kita ke sini?” tanya Julian. “Angkringan Masa Lalu?” Julian mengeja setiap kata dari nama angkringan itu. “Iya, lah, biar menatap ke depan, bukan ke masa lalu, Jul.” Arba dan Julian lalu memarkirkan motor dan memasuki angkringan itu. Tapi berbeda dengan angkringan kebanyakan. Angkringan ini sudah modern seperti di warung makan pada umumya. Dengan nuansa Jawa Klasik, angkringan ini membuat suasana berbeda. Ditambah keunikan paa pelayan yang memakai baju adat jawa dan blangkon bagi pelayan laki-laki dan yang perempuan menggunakan kebaya dan kepalanya disanggul, menambah suasana yang unik. Saat Arba dan Julian duduk, ada seorang pelayan perempuan menghampiri mereka. “Mau pesen apa, ya, Mas?” tanyanya sambil memberikan sebuah menu pada Arba dan Julian. Arba langsung membaca menu yang ada di daftar. “Nasi kucing manis sama es teh aja, Mbak.” “Kalau Masnya?” “Samain aja, Mbak,” jawab Julian. Pelayan itu mengangguk dan beberapa saat kemudian kembali membawa nampan yang langsung diletakkan di atas meja. Segera, Arba dan Julian memakan nasi kucing itu. Bukan seperti kebanyakan nasi kucing lainnya, porsi nasi kucing di tempat ini lebih banyak walaupun menggunakan bungkusan seperti nasi kucing pada umumnya. “Makasih udah traktir gue, Ba.” “Sama-sama, Jul.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (228)
Leni Meidola Putri
cerita nya sangat menarik
28/05/2022
0
channelBASRI PUTRA
semangat dan semoga ke depannya akan ada terus cerita cerita yang lebih menarik.!!!
22/12/2021
0
Putry Sumba
bagus bangat cerita x..kita pun senanq membaca x..
kita senanq bacax kalau seperti in..jqn lupa semanqat lagi............................................................................................
cerita nya sangat menarik
28/05/2022
0semangat dan semoga ke depannya akan ada terus cerita cerita yang lebih menarik.!!!
22/12/2021
0bagus bangat cerita x..kita pun senanq membaca x.. kita senanq bacax kalau seperti in..jqn lupa semanqat lagi............................................................................................
07/09/2025
0Lihat Semua