logo text

Bab 83 Surabaya Punya Cerita

Natalie masih berdiri di depan pintu kamar. Ia tidak mengira Kevin akan mengusirnya dan menutup pintu. Natalie juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada lelaki itu. Pagi tadi sepanjang perjalanan hanya diam dan tidak banyak bersuara. Malam hari lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi lebih aneh.
Baru saja Natalie melangkah masuk, Kevin langsung menahannya dan mendorongnya mundur hingga keluar kamar. Ekspresinya pun menunjukkan keanehan dan sangat aneh.
“Kalau kamu ingin selamat, jangan temui aku malam ini. Tetap di kamarmu. Sampai ketemu besok.” Itulah ucapan Kevin sebelum lelaki itu menutup pintu.
Natalie tidak mau ambil soal hal itu. Mungkin saja menurut adalah pilihan terbaik. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Setidaknya Kevin sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Ia tidak mau ambil pusing soal sikap Kevin yang aneh, tapi bagaimanapun juga Natalie juga tidak bisa tenang.
Langkah Natalie terhenti dan berpikir untuk kembali. Dalam pikirannya Kevin sedang sakit dan butuh perawatan, tetapi ia kembali teringat dengan ucapan Kevin. Tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa merinding saat mengingat ucapan tersebut.
“Kenapa aku jadi merinding?” Natalie membuka pintu kamar.
Gadis itu memilih duduk sambil bermain ponsel. Jenuh rasanya jika harus di dalam kamar dari sore. Ia butuh teman berbincang. Mengunjungi Kevin, lelaki itu malah mengusirnya.
Natalie masih saja berselancar di media sosial miliknya. Ia mencoba membuka akun instagram milik Kevin, siapa tahu calon suaminya itu meng-upload sesuatu. Ternyata tidak ada postingan apa pun. Isi Feed milik Kevin masih sama tidak ada yang berubah. Bahkan lelaki itu terlihat aktif beberapa hari yang lalu.
[Istirahat, enggak usah tebar pesona sama siapapun!]
Satu pesan tiba-tiba masuk langsung muncul pada layar. Natalie hanya bisa tersenyum melihatnya.
[Aku aja di dalam kamar, bagaimana bisa tebar pesona?]
Natalie membalasnya.
[Tebar pesona tidak harus bertemu, berkirim pesan juga merupakan modus untuk tebar pesona.]
Natalie membaca balasan Kevin hanya bisa tertawa. Sang kekasih terasa konyol. Dia sendiri yang menolak bertemu dan sekarang malah melarang Natalie berkirim pesan.
[Baiklah, kalau begitu. Aku tutup ponselku.]
[Lho, kok.]
[Katanya enggak boleh berkirim pesan?]
[Enggak boleh ama yang lain!]
Natalie tertawa. Ia menutup ponselnya dan menghiraukan pesan dari Kevin. Ia memilih membuka galeri album foto di ponselnya. Foto lawas yang masih ia simpan pada memory card ponsel menjadi penawar rindunya pada sang ibu.
Kenangan saat mereka masih bersama dan berjualan bersama membuat Natalie sedih jika mengingatnya.
Kevin dan Natalie mempunyai kesamaan. Sama-sama merindukan sosok wanita masa lalu yang mereka sayangi. Membenci sesosok lelaki yang disebut ayah karena perlakuannya. Bedanya Kevin masih bisa berkumpul dengan ayahnya, sedangkan Natalie belum pernah bertemu dengan ayahnya kembali semenjak pergi dari rumah saat Natalie kecil. Dalam hati gadis itu hanya tersisa kebencian.
Bertahun-tahun lamanya ia telah melupakan sang ayah. Ia pun lupa dengan wajah lelaki yang menurutnya selalu berbuat kasar kepadanya dan sang ibu. Lelaki yang tidak pantas disebut ayah karena meninggalkan keluarganya karena tidak mau hidup susah.
“Bu, sebentar lagi aku akan mengunjungimu. Aku datang, Bu.”
***
Kevin menunggu Natalie di lobi hotel. Ia telah menyewa sebuah kendaraan untuk menemani perjalanan mereka seharian. Kevin juga mengajak Natalie untuk makan pagi di luar hotel untuk menikmati makanan khas Surabaya. Lelaki itu tertarik dengan makanan khas Jawa Timur yang terkenal dengan rasanya yang khas. Cara memasaknya yang rumit dengan bumbu rempah melimpah membuat nasi rawon selalu menjadi andalan.
Warna kuahnya yang khas membuat rasanya tidak akan mudah dilupakan. Kevin telah mencari tempat yang menjual Nasi rawon paling enak. Ia sengaja meminta supir datang lebih pagi dan mengajak Natalie makan di luar.
“Udah lama nunggu?” Natalie datang dengan penampilannya yang rapi.
Gadis itu selalu tidak lupa membawa tas kecil ke mana pun ia pergi. Memakai sepatu berhak tinggi seolah wajib menjadi style-nya. Terbiasa memakai flat shoes saat bekerja tidak membuat Natalie meninggalkan kebiasaannya memakai heels.
Sepatu keramat itu seolah menjadi benda wajib untuk melengkapi penampilannya. Ia akan menjadi semakin percaya diri jika sepatu berhak itu menghiasi kaki jenjangnya.
“Kita pergi sekarang.” Kevin beranjang dan langsung menggandeng Natalie keluar hotel. Wajah Kevin terlihat lebih segar dari semalam. Sikapnya pun kembali normal. Tidak dingin atau aneh seperti kemarin.
Kevin memperlakukan Natali seperti biasanya. Lelaki itu membuka pintu mobil dan memersilakan Natalie masuk. Setelah itu Kevin berjalan memutar dan masuk lewat pintu sebelah.
Setelah siap, mobil mereka langsung melaju menuju tempat yang Kevin inginkan. Ia sudah tidak sabar untuk memanjakan perutnya yang lapar. Jalanan kota Surabaya yang lumayan padat di hari libur membuat laju mobil mereka harus berhenti beberapa kali.
Natalie merasa takjub melihat kota kelahirannya yang sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Lama tidak pulang membuat Natalie kagum dengan keindahan taman dan tata kota yang semakin indah.
Akhirnya mobil mereka berhenti pada sebuah tempat makan yang lumayan ramai dan sesak. Natalie tidak mengira jika Kevin akan mengajaknya ke tempat yang paling dikunjungi Natalie sejak dulu. Karena keterbatasan ekonomi membuat gadis itu tidak bisa menikmati makanan di dalamnya. Ia hanya bisa memandangnya dari luar dan melihat wajah puas menikmati hidangan yang tersaji.
“Kita turun sekarang.”
Natalie masih duduk dan membayangkan betapa buruk nasibnya dahulu. Kevin masih diam mengamati Natalie dan memberi kode pada supir untuk turun terlebih dahulu dan memesan makanan untuk mereka terlebih dahulu.
“Hei, ada yang salah?”
“Apanya yang salah?” Natalie baru saja ingat jika dirinya masih bersama Kevin.
“Kamu kenapa melo kayak gini? Enggak mau makan di sini?” Kevin bertanya apa yang terjadi pada calon istrinya. Wajahnya mendadak sendu saat mobil mereka berhenti.
Natalie menggeleng, ia mengubah wajahnya menjadi tersenyum. Lebih tepatnya berusaha tersenyum.
“Kamu teringat mantan pacar?”
“Kevin!!!”
“Ingat juga enggak apa-apa, toh, hanya mantan pacar saja.”
“Enggak usah ngaco! Enggak ada mantan pacar di sini. Jangan-jangan kamu yang pernah pacaran di sini.”
Kevin malah menepuk jidatnya heran. Kekasihnya ini memang sama sekali tidak mau mengalah jika mereka berdebat. Ada saja hal yang membuatnya harus menang dan membuat posisi terbalik.
“Baiklah-baiklah, anggap saja seperti itu. Perempuan di manapun tempatnya selalu benar. Enggak boleh salah!”
Natalie tertawa mendengarnya, tidak penting juga jika harus menceritakan apa yang dirasakannya pada Kevin. Ia menganggap hal tersebut sangat memalukan jika Kevin sampai tahu betapa malang nasibnya dahulu.
“Kita makan sekarang. Setelah ini kamu bisa mengajakku keliling kota Surabaya sepuasmu. Hanya kamu dan aku.” Kevin tersenyum. Pesona ketampanannya memancar.
“Makan? Apa kamu tidak melupakan sesuatu?”
“Lupa?” Kevin merasa tidak ada hal penting yang dilupakan.
Natalie berpangku tangan dan melihat lelaki di depannya yang tampak bingung. Lelaki yang biasanya terlihat agresif berubah lebih normal. Bahkan Natalie yang merasa aneh dengan sikap Kevin yang normal.
“Kamu kenapa? Apa bibirmu gatal?” Kevin merasa aneh melihat Natalie yang menggigit bibirnya. Padahal gadis itu jarang sekali terlihat seperti itu. Tiba-tiba saja Natalie seperti mengharap sesuatu, tetapi tidak berani mengucap.
“Sepertinya lebih baik kita langsung makan saja daripada terlalu lama berada di sini.”
 

Komentar Buku (7)

  • avatar
    Akdhan

    KAYAK MANA MASUKI DIAMOND KE FF

    15/01/2025

      0
  • avatar
    janSuparjan

    San ng at bagus

    07/08/2024

      0
  • avatar
    Mellyanawati

    Ok bgt

    11/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru