logo text

Bab 50 Lowongan Pekerjaan

Natalie melirik ke arah  Jordan. Betapa malu dirinya, ternyata Kevin berada di sana sebelum Natalie datang. Bodohnya lagi ia sama sekali tidak menyadarinya. Natalie dengan cueknya tidak melihat keadaan sekitar.
“Kamu kenapa tidak bilang ada Kevin di sini?” Natalie berujar lirih. Ia menahan ekspresinya setenang mungkin.
Jordan hanya tertawa melihatnya. Sahabatnya itu malah memanggil Kevin untuk bergabung. Hal itu membuat Natalie semakin kelimpungan. Ia tidak tahu harus di mana menaruh mukanya menahan malu.
Ia memanggil pelayan dan kembali memesan minuman dingin untuk membuatnya lebih tenang.
Kevin mulai beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arahnya. Ia membawa minumannya dan menarik kursi di sebelah Natalie. Aroma parfum khas laki-laki yang melekat membuat Natalie semakin kikuk dan tidak bisa berkutik sedetik pun.
Kedatangan pelayan membawa satu botol minuman dingin tidak membuat Natalie bisa lebih tenang.
“Apa ada sesuatu?”
Pertanyaan Kevin membuat Natalie menutup matanya. Ia tidak bisa menoleh ke arah Kevin ataupun Jordan. Ia berada posisi yang sangat membuatnya malu.
“Ini Bos, Natalie mau mencari pekerjaan. Dia udah resign dari tempat Pak Andrew.” Jordan menjelaskan tentang pekerjaan Natalie. Seolah menunjukkan jika dirinya mengetahui banyak tentang pekerjaan Natalie.
Padahal tanpa Jordan menjelaskan, Kevin lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki itu sengaja hanya memperhatikan Natalie dari kejauhan. Ia melihat semua yang Natalie lakukan sebelum berangkat ke kantor hingga saat gadis itu berada di kafe.
Kevin sengaja diam saat melihat Natalie panik mencari taksi. Awalnya ia ingin mendekat. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Jordan mendekatinya.
Begitu pula saat Natalie berhadapan dengan Andrew. Ia melihatnya dari kejauhan dan melihat apa yang akan Natalie lakukan saat bertemu dengan Andrew. Apakah gadis cantik itu kembali luluh atau ia memegang komitmennya untuk resign dari kantor.
Ternyata Natalie memang sudah tidak tertarik lagi dengan Andrew. Ada perasaan lega. Akhirnya Kevin memutuskan pergi ke kafe. Ia tidak mengira jika akan melihat Natalie yang membuat janji dengan Jordan.
“Oh, kalau memang dia mau, ada lowongan office girl sepertinya. Jadi kalian berdua bisa jadi team yang kompak.” Kevin sengaja memancing. Ekspresi Jordan begitu senang mendengarnya. Sedangkan Natalie membuka matanya dan langsung menoleh ke arah Kevin. Matanya melotot seolah menunjukkan kalau dirinya protes.
Mana mungkin wanita dengan basic pendidikan tinggi sepertinya harus menjadi seorang office girl. Natalie tidak bisa membayangkan jika setiap hari ia harus bergelut dengan gula, kopi, dan kertas fotocopy.
“Gimana, Nat. Pak Bos udah nawarin, tuh. Pasti kamu bisa langsung kerja besok. Enggak usah khawatir enggak bakal digaji. Pak Bos orangnya baik, kok. Yakin, deh.” Jordan terlihat begitu senang. Ia berpikir jika Natalie menerima tawaran Kevin, ia akan semakin mudah mendekati Natalie.
Natalie masih tidak mengalihkan pandangannya. Ia masih menunjukkan rasa protesnya kepada Kevin.
“Mungkin saja Natalie masih malu untuk menjawabnya. Sebaiknya kalian bicarakan lebih dulu. Aku akan pergi.” Kevin mengangkat sebelah alisnya dan pergi meninggalkan Jordan dan Natalie. Ia membiarkan Natalie protes dan bersikap biasa saja.
Natalie masih tidak percaya apa yang terjadi. Lelaki itu terlihat tidak peduli. Kevin pergi begitu saja, padahal dia pernah berjanji untuk selalu menjaga Natalie. Semua terasa omong kosong. Natalie kesal melihat sikap Kevin yang tidak peduli.
Ia berharap Kevin mau membantunya tanpa Natalie harus memohon kepadanya. Karena ia pikir hubungannya dengan Kevin lebih dari dekat. Bahkan lelaki itu telah mengatakan untuk membiarkan perasaan mereka berkembang dengan berjalannya waktu, tetapi Kevin malah terlihat mendukungnya dengan Jordan.
“Nath, kamu baik-baik saja?” Jordan merasa aneh melihat Natalie yang masih memandang kepergian Kevin. Ada rasa kecemasan, tetapi Jordan yakin bahwa itu hanya kebetulan.
Jika dibandingkan dengan Kevin, Jordan jelas terlihat begitu kecil di depan Kevin. Dari segi finansial Kevin jelas lebih unggul. Dia merupakan anak pengusaha terkenal dengan harta kekayaan yang tidak diragukan lagi. Usaha yang dimiliki Kevin pun terbilang sukses. Lelaki itu memiliki segalanya dibandingkan dengan Jordan.
Pemuda yang hanya bekerja sebagai OB meskipun latar pendidikannya mendukung untuk mendapat pekerjaan lebih baik. Namun, Jordan menikmati prosesnya. Ia ingin menempa dirinya agar bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Merangkak dari bawah dan akan menikmati hasil kesuksesannya kelak.
“Jordan, kita pulang sekarang. Sepertinya aku perlu berpikir untuk menerima tawaran bosmu itu.”
“Baiklah.” Jordan menyetujui permintaan Natalie. Ia masih mempunyai waktu 30 menit sebelum waktu istirahatnya selesai. Setelah itu ia harus mengirim dokumen penting untuk relasi bisnis EO milik Kevin. Di sela-sela pekerjaannya ia sengaja mencuri waktu agar bisa bertemu dengan Natalie. Setidaknya ia mencoba membangun kedekatannya lagi bersama Natalie.
*** 
Natalie meminta Jordan untuk menurunkannya di depan gang masuk. Ia tidak ingin merepotkan Jordan. Ia tahu sahabat kecilnya itu masih memiliki pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak ingin Jordan dalam masalah karena mengantarnya pulang.
Setelah Jordan menghilang akhirnya Natalie berjalan menuju tempat tinggalnya. Ia berjalan pelan sambil berpikir bagaimana nasibnya ke depan. Mencari pekerjaan tidaklah hal mudah. Meskipun secara kualitas Natalie mampu, tidak menutup kemungkinan ia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang setara di tempat yang lama ia bekerja.
Belum lagi jika Andrew serius dengan omongannya. Lelaki itu tidak segan akan memasukkannya ke dalam daftar hitam ke seluruh perusahaan di Bandung agar membuat Natalie susah mendapatkan pekerjaan. Rasanya hal itu merupakan ancaman yang begitu berat.
Natalie bisa mati kelaparan jika hal itu benar terjadi. Mau tidak mau ia harus menerima tawaran Kevin sebagai office girl untuk menyambung hidup. Nasib sial seolah menantinya, impiannya untuk menikah dengan pria otomatis pupus karena pekerjaannya.
“Kenapa nasibku jadi apes begini?” Natalie mengayunkan tasnya. Ia merasa hidupnya selalu tidak beruntung dari kecil. Terkadang membuatnya ingin protes pada Tuhan, tetapi itu semua sudah menjadi jalannya. Ia tidak bisa mengubahnya selain selalu berusaha. Namun, saat berkehendak, ia tidak bisa menolaknya. Semua sudah digariskan dan Natalie harus menerimanya.
Sampai di halaman tempatnya tinggal. Natalie melihat mobil sport warna kuning yang tidak asing baginya. Ia pernah beberapa kali merasakan kencangnya laju mobil tersebut. Hatinya kembali berdegup saat melihat pria berkacamata hitam keluar dari dalam.
Natalie tidak menyangka jika Kevin menemuinya. Lelaki itu membuka kacamatanya dan masih menunjukkan ekspresi datar.
Natalie berhenti dan tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia menjaga jarak dari tempat Kevin berdiri. Ia merasa sungkan mendekat saat Kevin memperlihatkan ekspresi datarnya.
“Kenapa berhenti? Apa aku menakutkan?”
Natalie menggeleng. Ia masih berada di tempatnya dan tidak mengeluarkan suara.
“Jordan mengantarmu?” tanya Kevin datar. Ia tidak melihat keberadaan Jordan.
“Iya.”
“Anak itu selalu saja mencuri waktu selagi tugas luarnya.” Kevin menggeleng. Ia mencoba melangkah, tetapi Natalie langsung mundur. Ia merasa belum siap saat Kevin mendekat.
“Ah, dia hanya meluangkan waktu istirahatnya.” Natalie terdengar membela. Ia tidak ingin Jordan terkena masalah karena dirinya.
Kevin memicingkan matanya. Ia mendengar perkataan yang tidak biasa. Ia merasa Natalie dan Jordan saling mengenal.
“Kalian sedang pendekatan?” Kevin langsung to the point. Ia merasa perlakuan Jordan kepada Natalie tidak biasa. Wajahnya terlihat berseri dan lelaki itu terlihat sok tahu semua tentang Natalie.
“Kenapa? Apa ada yang salah?”
“Tidak, tentu tidak ada yang salah.”
“Lantas?” Rasanya Natalie belum puas mendengar jawaban Kevin. Lelaki itu hanya datar menanggapinya. Padahal bukan hal itu yang ia harapkan. Setidaknya Natalie ingin melihat Kevin menunjukkan rasa cemburunya.
“Aku pikir jika kamu tertarik bekerja di tempatku, datanglah. Aku menunggumu pukul sepuluh pagi.”
“Tapi ... aku ....”
“Itu kalau kamu tertarik. Kalau tidak aku bisa merekomendasikan kamu di perusahaan temanku. Dia tidak kalah sukses dan tampan. Mungkin bisa menjadi rekomendasi kamu.”
“Hei, kamu pikir aku wanita apa?” Natalie merasa marah. Ia pikir Kevin menganggapnya gadis matere yang melihat fisik dan materi. Padahal memang itulah tolok ukur Natalie untuk mencari pendamping hidup.
“Ops, sorry. Aku hanya ingin membantumu saja.”
“Kalau memang kamu niat membantuku, mana alamat kantormu?” Natalie menodongkan tangannya. Bagaimana mungkin ia bisa ke sana sedangkan Kevin belum sama sekali memberi tahu alamat kantornya.
“Aku pikir Jordan bisa mengantarmu. Dia lebih tahu dari segalanya.”
Natalie mulai kesal. Ia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Kevin. Lelaki itu terasa menyebalkan. Bahkan ia merasa Kevin tidak tahu hubungan sebenarnya antara Jordan dan dirinya.
“Baiklah, mungkin lebih baik aku meminta tolong pada Jordan. Setidaknya aku akan lebih aman bersamanya.” Natalie menjawabnya sengit. Seolah sengaja menyulut api di antara mereka. Ia mulai kesal dengan Kevin yang tidak jelas. Terlihat menginginkannya, tetapi lelaki itu mengulur perasaannya seperti layangan.
“Baiklah. Aku tunggu. Sampai ketemu besok.” Kevin mengucapkan salam perpisahan dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Setidaknya pembicaraan mereka berdua tidak berarti apa-apa. Mereka saling melontarkan kekesalan yang mereka sendiri belum menyadarinya jika mereka saling membutuhkan.

Komentar Buku (7)

  • avatar
    Akdhan

    KAYAK MANA MASUKI DIAMOND KE FF

    15/01/2025

      0
  • avatar
    janSuparjan

    San ng at bagus

    07/08/2024

      0
  • avatar
    Mellyanawati

    Ok bgt

    11/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru