Bab 57

Aku Mengalah, Mas Demi Ibumu! 57
Pagi ini, Zahra bangun kesiangan sehingga aku yang harus turun sendiri ke dapur untuk menyiapkan sarapan sambil menunggu Zahra mencuci muka. 
Aku memaklumi, karena setiap manusia butuh beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi suasana kota jauh berbeda dengan di desa. 
"Maafkan saya, Bu! Semalam ngga bisa tidur, baru bisa tidur setelah adzan Subuh." Zahra tergesa menghampiriku di dapur. Ia lantas mengambil alih roti yang sedang kuolesi mentega. 
"Ngga apa. Saya maklum. Asal besok jangan diulangi lagi." Aku memaklumi, namun tetap tegas. 
"Iya, Bu. Saya janji." Wajah Zahra tampak menunduk. Ia seperti tengah merasa bersalah padaku. Namun justru perasaan seperti itu yang membuatku iba. Minimal ia menyadari kesalahannya. 
"Ya sudah lanjutkan bakar rotinya, saya mau bangunin Rumi dulu," pamitku sambil menepuk halus pundak Zahra. 
"Sarapan roti aja ya, Mas?" ujarku pada Mas Yusuf. Setelah dari kamar Rumi, aku menghampiri Mas Yusuf yang masih bersiap di dalam kamar. Sambil bersiap, ia sesekali melihat layar ponsel yang berada di atas meja rias. 
"Mana kenyang, Dek?"
"Nanti siang bisa beli sarapan di luar, Mas. Hari ini Zahra mulai beradaptasi kerja disini, maklumin aja kalau masih belum terbiasa."
"Justru kalau hari pertama kerja harus menunjukkan kinerja yang baik. Bukan malah terlambat kayak gini!" ujarnya sambil mengoles rambutnya dengan gel. Ia lantas meraih sisir di dalam laci untuk merapikan rambut yang telah basah. 
"Dia punya bayi, Mas. Harap maklum kalau ia belum terbiasa jauh dari bayinya. Kasih kesempatan manusia untuk berubah ngga ada salahnya, kan?" 
"Ck! Kamu itu terlalu baik!"
Aku hanya meliriknya sekilas, kemudian pergi meninggalkannya untuk kembali menghampiri Rumi.
Mas Yusuf terlalu menuntut seseorang untuk menjadi sempurna, sementara ia lupa dirinya sendiri adalah manusia dengan banyak kekurangan. 
Sudah seminggu berlalu sejak Zahra pertama kali kerja di rumah. Mas Yusuf masih beradaptasi dengan masakan Zahra yang berbeda dengan Mbak Na. Tak jarang aku pun turut terjun ke dapur membantu Zahra menyiapkan makanan agar Mas Yusuf bisa menerima makanan buatan Zahra. 
"Ganti saja lah, Dek! Aku ngga cocok sama masakannya," ujar Mas Yusuf saat kami tengah dikamar berdua. Ia tengah duduk di bibir ranjang dan sedang memperhatikanku menyisir rambut di depan meja rias. 
"Ngga bisa asal ganti aja dong, Mas! Dia ngga pernah melakukan kesalahan fatal, ngga mungkin aku memintanya pergi!" Aku meliriknya sekilas.
"Mas lupa saat kita susah dulu, Mas ga coba bayangin jadi Mas yang susah cari kerja buat bisa kasih makan anak sama istri? Coba bayangin jadi Zahra yang seorang janda?" Aku kembali bersuara, mencoba memberinya pengertian bahwa ada seorang manusia di depan kami yang sedang membutuhkan bantuan. 
"Sudah lama itu, Dek! Ngga usah bahas masa lalu!"
"Ngga bisa gitu dong, Mas! Roda itu berputar. Sekarang kita di atas, ngga menutup kemungkinan suatu saat kita bisa berada di bawah lagi, bakal merasakan apa yang Zahra rasakan. Selama kita masih mampu menolong, ngga ada salahnya kita menolong sesama."
Mas Yusuf tampak berpikir. Matanya menerawang jauh, mungkin ia tengah mengingat masa lalu kami saat masih menumpang sama orang tua. 
"Besok ke rumah Ibu, yuk, Dek?"
"Boleh," sahutku. 
Sepertinya apa yang kusampaikan diterima dengan baik. Ia tak lagi memberikan penolakan pada Zahra. 
Semakin hari kinerja Zahra semakin baik. Terlebih soal masakan. Ia mulai bisa menyesuaikan masakannya dengan selera Mas Yusuf. Terlihat dari reaksi Mas Yusuf saat sedang menikmati masakan buatan Zahra pagi ini. 
Kami sedang bersiap untuk berangkat beraktivitas. Rumi dan Mas Yusuf sudah berada di meja makan. Mas Yusuf dan aku duduk di sisi sebelah kanan, sedang Rumi duduk di depan kami. Semangkuk besar nasi goreng sudah tersedia di atas meja dengan tiga telur mata sapi sebagai lauk. 
"Sini, Mas. Kuambilkan nasinya," ujarku seraya mengambil piring milik Mas Yusuf. Kuambilkan nasi juga lauk untuknya. Pun dengan Rumi. Setelah nasi berada di depannya,mereka berdua makan dengan lahap. Tak lagi protes seperti saat pertama kali Zahra datang kesini. 
Saat sedang menikmati sarapan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Kulihat dari jauh tertera nama "Reni" dalam panggilan. Tak butuh waktu lama segera kuangkat panggilannya, karena tak biasanya ia menghubungiku di jam seperti ini. 
"Ya, Ren?"
"Bu, saya izin hari ini ngga masuk. Ibu saya sakit, masuk rumah sakit. Saya harus menjaganya," ujarnya lirih.
"Oh ya udah ga apa-apa. Kamu jaga Ibumu, biar butik aku yang hendel hari ini."
"Baik, Bu. Makasih ya?"
"Iya, sama-sama. Semoga lekas sehat ya, Ibunya."
"Makasih, Bu."
Setelah panggilan terputus, aku kembali meletakkan ponsel di sebelah piring. Kemudian kembali melanjutkan sarapanku pagi ini. 
"Reni kenapa, Dek?" tanya Mas Yusuf memecah keheningan. 
"Izin ngga masuk hari ini. Ibunya sakit. Terpaksa aku yang harus gantikan kerjaannya. Aku ke butik ya habis ini? Sampe malem kayaknya," ujarku ragu-ragu. 
"Hhmm." Wajah Mas Yusuf berubah pias. Ia sama sekali tak melirikku setelah aku meminta izin untuk berada di butik hingga malam. 
Ada nada keberatan dari suaranya. Tapi biarlah, bagaimanapun butik ini adalah sumber penghasilan kedua bagiku setelah penghasilan Mas Yusuf. 
"Mas berangkat dulu, ya?" pamitnya setelah ia menghabiskan sarapannya. Mas Yusuf bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya padaku dan Rumi bergantian. Aku pun berdiri, mengantar kepergian suamiku untuk mencari nafkah. 
Tak lama kemudian, Rumi pun telah selesai makan. 
"Sudah, Kak? Yuk berangkat?"
"Sudah, Ma. Kakak ambil tas dulu di kamar." Rumi melangkah menuju kamarnya. Sedang aku tetap di meja makan menunggu Rumi kembali. 
"Permisi, Bu." Zahra datang untuk mengambil piring yang telah kugunakan. Dengan hati-hati ia membawa tumpukan piring itu menuju wastafel. 
"Saya pergi dulu, ya, Mbak? Titip rumah ya?" teriakku pada Zahra. Ia yang tengah berdiri di depan wastafel menoleh sejenak padaku. "Iya, Bu."
"Yuk, Ma." 
"Yuk."
Sedikit terburu-buru aku membawa mobil pagi ini karena kabar mendadak dari Reni. Satu asisten yang dapat dipercaya yang absen hari ini membuatku sedikit kelabakan. Biasanya aku hanya terima beres, maka pagi ini aku harus turun tangan sendiri. Ini mengingatkanku saat pertama kali merintis butik ini dulu. Semuanya kukerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Baru saat aku merasa keteteran, aku mulai merekrut pegawai untuk membantu melayani pembeli juga mendisplay barang di standing hanger yang terbuat dari besi. 
"Belajar yang rajin ya, Nak?" ujarku pada Rumi setelah kami sampai di depan gerbang sekolahnya. Sebelum turun, ia menyalamiku.
"Iya, Ma."
Rumi lantas turun dari mobil dan jalan perlahan menuju gerbang sekolahnya. Biasanya aku menunggu hingga Rumi benar-benar masuk ke dalam kelas, kali ini aku terpaksa pergi setelah ia turun karena harus ke butik lebih awal. 
Aku pun melanjutkan perjalanan pagi ini. Jalanan terasa padat karena bersamaan dengan jam karyawan berangkat ke kantor juga anak sekolahan. 
Sebelum sampai di butik, kuhubungi Dina untuk turut datang lebih awal. Aku butuh satu lagi orang yang dapat dipercaya saat Reni sedang tidak ada. Dulu aku pernah berpikir begini, namun selalu terabaikan karena Reni tak pernah absen masuk kerja. 
"Din, datang ke butik lebih awal ya? Bantu gantiin kerjaan Reni, hari ini dia izin ngga masuk," ujarku saat panggilan terhubung. 
"Baik, Bu. Saya sudah bersiap, sebentar lagi saya langsung berangkat," jawabnya cepat. 
Aku senang dengan kinerja Reni juga Dina. Dua pekerja itu sangat kompeten. Cekatan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tak rugi jika aku membayar mereka lebih karena sesuai dengan kinerjanya. Ini adalah salah satu bentuk ikhtiarku menjaga karyawan agar bertahan bekerja denganku. 
Di luar sana mereka bilang bahwa mencari kerja itu susah, namun bagi pemilik usaha, mencari karyawan jauh lebih susah. Tepatnya, mencari karyawan yang memang niat bekerja. Bukan yang bekerja asal-asalan tapi minta gaji besar. 
Sesampainya di butik, aku melihat suasana butik tampak rapi. Ada sedikit debu, tapi wajarlah karena semalaman tidak tersentuh manusia. Aku segera melangkah menuju meja kasir, melihat hasil penjualan kemarin juga menyiapkan modal kasir untuk jualan hari ini. 
Tak lama, Dina pun datang. Ia terlihat sungkan padaku karena aku datang lebih dulu. 
"Maaf, Bu. Saya sedikit terlambat." Ia mengulurkan tangannya padaku untuk bersalaman. 
"Tak apa, saya yang minta maaf karena meminta kamu datang lebih awal."
"Tak apa, Bu. Biasanya saya dengan Reni juga datang jam segini," ujarnya. Setelah menjawab ucapanku, Dina berjalan menuju ruangan khusus untuk karyawan meletakkan barang bawaannya. Seperti tas atau bekal makan siang. 
Dina kembali dengan membawa sapu juga pengki. Ia dengan cekatan menyapu mulai dari ujung butik hingga keluar. Aku melihat Dina mengerjakan pekerjaan itu merasa bahwa aku kurang memberikan karyawan tambahan khusus bersih-bersih agar karyawan yang mengurusi stok dan melayani pelanggan tak perlu bersih-bersih lebih dulu. 
Saat Dina tengah menyapu, Arum datang dengan santainya. Ia berubah cekatan saat tahu ada aku di balik komputer kasir. 
"Pagi, Bu." Arum menyapaku. Terlihat bahwa ia kaget karena sepagi ini aku sudah berada di sini. Maklum mereka bertiga terbiasa kerja tanpa aku, jadi saat aku ada rasa sungkan timbul dalam hati mereka. 
Setelah Dina selesai menyapu, ia membalik tulisan "Closed" menjadi "Open" tanda bahwa toko sudah buka. Kemudian Dina lanjut memasang hanger pada baju yang masih berada di dalam plastik untuk di display di dalam gantungan. 
Pelanggan datang satu persatu. Alhamdulillah meskipun tidak ramai hingga sesak pengunjung, butikku selalu didatangi pelanggan. Ada saja rejeki setiap harinya. Tak jarang mereka mencari pakaian dengan jumlah banyak untuk jamaah pengajian. Aku pun sudah berpesan pada semua karyawan agar menerima berapapun pesanan gamis, tentunya dengan harga variatif. 
Bakda Dhuhur aku pamit pada Dina untuk menjemput Rumi. Terpaksa menitipkan butik pada anak-anak karena pekerjaan menjemput Rumi tak bisa diwakilkan. Secapek apapun, akan selalu kusempatkan untuk berangkat sendiri menjemputnya. Ini adalah bentuk rasa sayangku padanya karena harus membagi waktu kebersamaan kami dengan usahaku. 
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya aku tiba di depan gerbang sekolah Rumi. Badan yang terasa letih membuatku hanya menunggu di balik kemudi dengan jendela kaca yang kubuka sepenuhnya. Tak lupa juga kuputar musik agar aku tak jenuh menunggu Rumi muncul di hadapanku.
"Mamaa," sapanya saat melihatku dari kaca yang terbuka. Rumi langsung masuk ke dalam mobil. Tak banyak bicara lagi aku segera menyalakan mesinnya. Kembali membelah jalanan di tengah terik sinar matahari yang kian menusuk. Beruntung aku memiliki kendaraan roda empat yang membuatku terlindungi dari panasnya mentari. 
Disaat seperti ini, tak ada lagi alasan untuk tidak bersyukur, apapun masalahnya. Allah sudah memberi nikmat yang begitu banyak disela rasa was-was yang seringkali menghinggapi pikiran. 
"Mama harus balik ke butik lagi, kamu mau diantar pulang apa mau ikut mama?" tanyaku saat dalam perjalanan. Rumi tampak berpikir sejenak. 
"Pulang aja, Ma. Aku capek."
"Tapi belikan cemilan dulu ya, Ma?" sahutnya lagi. Wajanya memelas, ia tahu bahwa aku paling tak bisa menolak permintaannya jika sudah disuguhi wajah yang begitu. 
"Baiklah, kamu memang paling tahu kelemahan Mama."
Rumi meringis saja. 
Bagi seorang Ibu bekerja, membahagiakan anak dengan memberikan apa yang diminta oleh anak adalah harapan yang ingin dicapai atas segala usaha yang telah dilakukan. Juga mengganti waktu yang Ibu bekerja gunakan untuk menghasilkan rupiah dengan menuruti segala permintaan anak adalah kebahagiaan tersendiri. Namun aku sadar, tetap harus memilah dan memilih keinginan apa yang bisa kukabulkan, tidak asal menuruti. Hanya saja kalau ia meminta cemilan adalah hal mudah bagiku. 
Puas menuruti keinginannya di indoApril, aku kembali mengantar Rumi pulang. Sudah ada Zahra yang menemaninya di rumah dan itu tak membuatku kepikiran. 
Dalam perjalanan kembali ke butik, aku menyempatkan diri untuk membeli makan siang buat karyawan juga untukku di sebuah kafe. Aku memesan secangkir kopi pahit sambil menunggu pesananku dibuatkan. 
Mataku menyapu pemandangan sekitar, lumayan bisa menghilangkan rasa jenuh setelah setengah hari bergelut dengan laporan dan komputer. Namun, aku kaget saat mataku tertuju pada sosok tak asing yang tengah duduk di bangku paling ujung. Seseorang itu pun sama terkejutnya denganku. 
Bersambung 🥀🥀🥀

Komentar Buku (19)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus kak semangat terus

    14/01

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    cerita nya bagus banget 🥰👍👍👍

    20/10

      0
  • avatar
    adongrendi

    nice

    17/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru