Matahari Jakarta seolah sedang ingin menguji kesabaran siapa pun yang berada di bawahnya. Di halaman depan St. Avery yang luasnya menyerupai lapangan bola, dua pangeran sekolah sedang memegang sapu lidi dan pengki dengan ekspresi paling tidak ikhlas sedunia. Kenzo Arkananta, dengan plester di sudut bibirnya, menyapu daun kering dengan gerakan mekanis yang kaku. Di sampingnya, Harry Ardhani Aldebaran, yang pelipisnya masih membiru, sesekali sengaja menendang tumpukan daun yang sudah dikumpulkan Kenzo. "Pukulan kau kemarin lemah sekali, Arkananta. Pantas saja kau dibuang ke Australia," sindir Harry sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan seragam yang sudah kotor. Kenzo tidak menoleh. "Setidaknya pukulanku cukup kuat untuk membuat kau mencium lantai koridor, Harry. Kau yang mulai duluan dengan mulut sampahmu itu." "Aku cuma bicara fakta. Gadis itu memang sampah di sini," Harry menyeringai licik. Srak! Kenzo menghentakkan sapunya ke aspal dengan keras. "Diam atau sapu ini masuk ke mulutmu." Tepat saat tensi kembali naik, sebuah bayangan menaungi mereka. Riky berdiri di sana dengan ban lengan Ketua OSIS yang masih terpasang rapi, lengkap dengan papan jalan di tangannya. Wajahnya tampak sangat berwibawa, jauh berbeda dengan sosok hangat yang memeluk Ghea kemarin. "Yang benar kerjanya, atau kalian berdua aku laporkan balik ke ruang BP sekarang juga!" tegur Riky dengan suara tegas. "Pak Gunawan minta laporan foto area ini dalam kondisi bersih sebelum jam istirahat selesai. Jangan harap bisa bolos." Harry mendengus. "Ketua OSIS kesayangan guru mulai beraksi. Kau rajin sekali, Riky. Apa kau berharap dapat medali karena mengawasi kami menyapu?" Riky hanya menatap Harry dengan datar. "Aku cuma menjalankan tugas. Lanjut menyapu, jangan banyak bicara." Belum sempat Harry membalas, suara sepatu yang beradu dengan aspal terdengar dari arah gedung utama. Amelia datang dengan gaya angkuh seperti biasanya, namun langkahnya mendadak melambat. Matanya melebar dan tubuhnya mematung saat melihat sosok Kenzo yang sedang berkeringat di bawah matahari. Ghea mungkin tidak tahu, tapi seluruh sekolah tahu bahwa sebelum Kenzo dikirim ke Australia, dia dan Amel adalah pasangan paling fenomenal di St. Avery. Harry, yang selalu punya insting tajam untuk merusak suasana, langsung menyadari perubahan ekspresi Amel. Dia menyenggol lengan Kenzo dengan siku. "Hei, lihat siapa yang datang. Mantan tersayangmu sepertinya rindu." Kenzo menegakkan punggungnya, menatap Amel dengan tatapan yang sangat datar. "Apa kabar, Amel?" ucapnya santai, seolah menyapa orang asing yang tidak sengaja lewat. Wajah Amel yang tadinya terkejut langsung berubah menjadi sangat ketus. Dia membuang muka, cemberutnya begitu dalam hingga bibirnya mengerucut. "Bukan urusanmu! Harusnya kau tetap membusuk di Australia!" semburnya dengan nada penuh gengsi yang tertahan. Melihat reaksi Amel yang begitu emosional namun kekanak-kanakan, sesuatu yang aneh terjadi. Kenzo dan Harry, dua rival bebuyutan yang baru saja ingin saling bunuh, tiba-tiba saling melirik. Untuk pertama kalinya, mereka mengeluarkan tawa pendek yang kompak. "Hahaha, dia masih sama saja ya, Ken?" celetuk Harry sambil menggeleng-geleng. Kenzo terkekeh pelan, tawa langka yang bahkan jarang ia tunjukkan. "Ya, tidak ada yang berubah." Riky yang berdiri di samping Amel menatap mereka dengan dahi berkerut, lalu ikut tertawa kecil. "Kenapa kalian jadi sehati begini? Lucu juga melihat kalian kompak begini." Riky kemudian merangkul bahu Amel dengan lembut, mencoba menenangkan pacarnya itu. "Ayo Mel, jangan diladeni. Mereka sedang stres kena hukuman." Begitu Riky membawa Amel pergi, tawa Kenzo dan Harry lenyap seketika, seolah-olah tawa itu hanya jeda iklan. Mereka kembali pasang wajah kesal dan lanjut menyapu dalam keheningan yang canggung. Sementara itu, di lantai atas, di sebuah koridor yang dijuluki Area High Class, seorang gadis berdiri dengan anggun sambil menyesap kopi latte mahalnya. Vania. Dia adalah definisi kesempurnaan di St. Avery yang cantik, kaya, dan yang paling penting, dia adalah tunangan resmi Kenzo Arkananta melalui perjanjian bisnis keluarga mereka. "Vania, kau dengar tidak?" bisik salah satu dayang-dayangnya. "Kenzo baku hantam dengan Harry kemarin gara-gara si anak beasiswa baru itu. Namanya Ghea." Gelas plastik di tangan Vania sedikit remuk. Matanya yang indah berubah menjadi tajam dan berbisa. "Kenzo? Membela seorang gembel? Itu penghinaan bagiku," ucap Vania dengan suara rendah yang mengancam. Vania tidak membuang waktu. Dia mencari tahu keberadaan Ghea dan menemukannya sedang berada di perpustakaan, tempat yang menurut Vania adalah sarang bagi orang-orang membosankan. Ghea sedang duduk di pojok perpustakaan yang sepi, mencoba menenangkan pikirannya dengan buku sastra klasik. Tiba-tiba, aroma parfum high-end yang sangat menyengat memenuhi indra penciumannya. Seorang gadis yang tampak seperti ratu dari kerajaan kuno berdiri di depannya. Vania membungkuk sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Ghea, lalu berbisik dengan nada yang sangat tajam hingga membuat Ghea merinding. "Menikmati bukumu, Anak Beasiswa?" Ghea tersentak dan menutup bukunya. Dia menatap gadis cantik di depannya dengan bingung. "Maaf, kau siapa? Aku merasa kita tidak saling kenal." Vania tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau. "Tentu saja kau tidak kenal. Orang sepertimu hanya melihat kakiku dari bawah. Aku Vania, dan aku punya satu pesan untukmu." Ghea menghela napas, dia sudah lelah menghadapi intimidasi sejak pagi. "Kalau pesannya adalah tentang kasta atau masalah uang, aku sudah mendengarnya dari Harry dan teman-temannya. Ada pesan lain yang lebih orisinal?" Vania terdiam sejenak, terkejut dengan keberanian Ghea bicara. Dia menyipitkan mata. "Berani juga kau. Dengar, segera pergi dari sini. Perpustakaan ini terlalu bersih untuk seseorang yang baunya seperti panti asuhan." "Perpustakaan ini milik yayasan sekolah, bukan milik pribadimu, Vania," balas Ghea dengan tenang, matanya menatap tajam. "Selama aku masih terdaftar sebagai murid sah di St. Avery, aku punya hak yang sama untuk duduk di sini. Kecuali kau mau mengakui kalau IQ-mu tidak sanggup bersaing di sini sehingga kau butuh pengusiran fisik agar merasa menang?" Vania mengepalkan tangannya, wajah cantiknya memerah karena kesal. Dia tidak menyangka si anak beasiswa ini bisa membalas kata-katanya dengan cerdas. Vania kemudian menarik kursi di depan Ghea, duduk dengan angkuh, dan mengeluarkan kartu as-nya. "Dengar baik-baik, Ghea. Jauhi Kenzo. Jangan bermimpi bisa mendekatinya karena dia menolongmu kemarin. Kenzo sudah dijodohkan denganku oleh orang tua kami sejak kami masih kecil. Masa depannya sudah tertulis, dan namamu tidak ada di dalam skenario itu. Kau tidak punya tempat di hidupnya, bahkan sebagai debu sekalipun." Ghea tertegun. Kata perjodohan itu terasa seperti hantaman di dadanya, meskipun dia sendiri tidak tahu kenapa dia harus merasa sesak. Dia menatap Vania yang kini tersenyum puas melihat keterdiamannya. "Aku dan Kenzo tidak punya hubungan apa-apa," jawab Ghea dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Dia menolongku karena dia punya hati, sesuatu yang mungkin tidak kau miliki." Vania berdiri, merapikan roknya yang tidak kusut sedikit pun. Dia menatap Ghea dengan tatapan menghina yang paling dalam. "Hati? Kenzo tidak punya hati untuk orang miskin. Dia cuma merasa kasihan, sama seperti saat dia melihat kucing liar yang kakinya pincang. Kau pantas dirundung, Ghea, karena kau berani bermimpi masuk ke dunia yang bukan milikmu. Tetaplah di lubangmu." Vania melangkah pergi dengan langkah anggun yang penuh kemenangan. Ghea menatap punggung gadis itu, merasakan tangannya yang gemetar di bawah meja. Di sekolah ini, musuhnya bukan lagi sekadar Harry yang liar, tapi juga Vania yang elegan namun berbisa. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Kenzo sudah memiliki pemilik sah, sementara dia hanya bayangan yang tidak diinginkan. ---
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
22/03
0sangat baguss dan alur nya keren
09/03
0lumayan
07/03
0Lihat Semua