logo text

Chapter 2. Interaksi

Aku menginjak kelas 11. Aku berpisah kelas dengan teman-temanku di kelas 10. Asyi teman dekatku di kelas 10 juga berbeda kelas denganku ia masuk IPA-5 sedangkan aku IPA-3. Seperti rencana semesta yang tak bisa kuduga. Aku melihat lagi Raka saat kelas 11. Kali ini aku melihatnya di parkiran sekolah kami dari kelasku. Kelasku berada di lantai 2 jadi aku bisa melihat keadaan bawah seperti lapangan sekolah, tempat parkir dan ruang Guru di lantai 1.
Ternyata Raka kelas IPA-5 sekelas dengan Asyi. Rasanya aku seperti pengagum rahasia Raka karena diam-diam memperhatikannya dari kejauhan saat pagi. Karena kejadianya itu cukup sering ku lakukan, karena saat pagi biasanya di depan kelas aku selalu berdiri memandangi orang yang lalu lalang datang. Tetapi Raka menjadi salah satu manusia yang menarik perhatianku lagi di kelas 11.
Setiap pagi biasanya aku ditemani oleh Asyi sebelum masuk kelas. Biasanya kami hanya sekedar mengobrol, terkadang juga Asyi bertanya pekerjaan rumahnya kepadaku jika ia tak mengerti. Asyi adalah teman ku saat kelas 10, kebetulan juga Asyi ini sekelas dengan Raka. Sungguh sebuah kebetulan, aku jadi bisa bertanya tentang Raka kepada Asyi.
"Eh itu Raka sekelas sama kamu?" tanyaku pada Asyi
"Iya, anaknya rada aneh sama nyebelin. Kamu gausah kenal sama dia lah" jawab Asyi
Aku tertawa mendengar jawaban Asyi. Seberapa aneh dan mengesalkannya Raka sampai Asyi bisa bicara seperti itu. Asyi memang tipe anak yang terang-terangan kalau tidak suka dengan orang. Ia tipe yang tidak bisa berpura-pura suka atau benci dengan seseorang.
Pada suatu hari, aku sedang penat dengan mata pelajaran yang cukup sulit untuk beberapa orang yaitu Fisika. Aku menulis dalam beranda facebook ku 'Pusing sama Fisika'. Selang beberapa menit, Raka mengomentari postingan ku. Aku sedikit terkejut. Seorang Raka yang biasanya hanya menyukai postingan ku tiba-tiba memberikan komentar.
'Ah masa sih pusing, kayanya lu jago deh' tulis Raka dalam komentar
'Mana ada jago, Fisika tuh bikin pusing apalagi gurunya killer cuy'
'Kayanya gue pernah liat lo kalau pagi deh suka ngajarin si Asyi kan, boleh kali minta ajarin sama lo nih gue'
'Loh liat juga ternyata. Boleh aja sih kalau ga pusing diajarin wkwkwk'
Postingan itu awal mula bagiku untuk bisa mengenal Raka. Aku memang sedikit tertarik dengan Raka tapi tidak lebih dari itu. Rasanya seperti mimpi bisa berinteraksi dengan Raka, walau hanya lewat komentar
Aku dan Raka akhirnya pindah ke pesan personal di facebook kami, isi pesannya sebatas membahas mata pelajaran, pekerjaan rumah, ulangan, materi mata pelajaran. Suatu hari aku memberikan nomor handphone ku kepada Raka untuk mempermudah jika ada pertanyaan lain terkait pelajaran pikirku.
'Ge..' tulis Raka dalam pesan
'Iya Raka’
'Besok kelas lu ada pelajaran Fisika ga ?'
'Ada sih pelajaran terakhir. Kenapa emang?'
'Ya gapapa sih nanya aja’
'Oh kirain kenapa'
'Gue ga ngerti nih fisika beda sama yang diajarin ibunya' keluh Raka
'Iya sih fisika emang susah-susah gampang'
‘Kalau sama kaya di buku sih enak, kalo beda sama yang di buku susah juga'
'Coba aja dulu. Aku off dulu ya kalo ada apa sms aja ke no ini 089679080**'
'Eh oke deh'
Aku sebenarnya sedikit malu saat memberikan nomorku untuk Raka. Padahal ia tak memintanya, tetapi aku memang senang jika Raka bisa terus menghubungi ku walau hanya tentang pelajaran. Raka juga tidak tahu bahwa selama ini aku memperhatikannya dari jauh. Biar ini menjadi rahasiaku saja pikirku.
Raka akhirnya mengirimkan pesan pertamanya padaku. Sejak saat itu kami sering bertukar pesan. Aku jadi paham maksud Asyi tentang Raka setelah aku bertukar pesan sengannya. Raka itu anaknya memang tidak pernah serius, jadi terkesan menyebalkan dan terkadang suka mengeluarkan guyonan aneh. Tetapi menurutku Raka anak yang baik dan menyenangkan.
Sejak itu Raka jadi berani menyapaku kalau tak sengaja berpapasan. Aku juga menjawabnya seperti layaknya teman yang lain saat menyapaku.
"Hai Gea" Sapa Raka saat aku sedang depan kelasku bersama Asyi
"Iya Raka Hai" Jawabku bingung. Ia melewati kelasku menuju kelasnya.
"Sejak kapan Ge jadi kenal sama Raka ? Sampai saling sapa lagi" Asyi bertanya bingung
"Gatau aku juga" Aku tak bercerita pada Asyi soal aku yang suka bertukar pesan dengan Raka.
Sebulan sudah kami saling bertukar pesan tak ada yang tahu tentang kedekatan kami. Walau kami jarang berinteraksi secara langsung, kami sudah mulai dekat. Pembahasannya sih ga jauh dari mata pelajaran, tugas, sesekali Raka menanyakan 'Lagi apa' atau 'Sudah makan belum' khas orang yang sedang pendekatan. Kalau berpapasan kami hanya tersenyum atau saling sapa. Tidak pernah kami mengobrol secara langsung.
Pernah suatu hari aku meminta bantuan kepada Raka untuk membuatkan sebuah email untuk mengirimkan tugasku. Saat itu aku memang ingin meminta bantuan saja dengannya.
‘Ka, aku boleh minta tolong ga ?'
'Boleh dong, apa tuh ?'
'Tolong buatin aku email buat kirim tugasku, emailku yang lama gabisa dibuka, tapi nanti aja kalau kamu udah pulang'
'Oke nanti ya kalau aku udah di rumah, nanti aku kabarin lagi. Aku mau pengambilan nilai dulu nih'
Sore harinya Raka mengirimkan nama dan password emailnya lewat pesan. Password yang ia gunakan membuatku berpikir ia lucu. Raka memang orang yang ceria, dengan sikap randomnya.
‘Ge, ini nama emailnya orianasaputrigea@gmail.com passwordnya nama aku ya' tulis Raka dalam pesannya
'Lah passwordnya nama kamu. Makasih ya Ka’
'Sama-sama payah :p'
'Ayo kamu mau minta batuan apa lagi ?'
'Ga ada sih'
Raka memang suka memanggil payah sebutan kalau aku sedang mode polos tak tahu apa-apa. Aku memang sedikit payah kalau dengan teknologi. Aku juga tidak terlalu update dengan perkembangan sosial media, bahkan disaat orang lain sedang heboh bermain instagram aku bahkan tak begitu memikirkannya. Sebenarnya aku punya akun instagram namun lupa password. Raka saat itu bertanya kepadaku tentang akun instagram ku.
'Ge, kamu punya instagram ga ?'
'Ada tapi aku lupa password Ka hehe'
'Payah amat, yaudah aku bikinin ya Ge'
'Buat apa Ka ?'
'Ya buat posting-posting photo lah payah banget sih kamu gitu aja ditanya'
'Hahaha iya juga ya'
Selang beberapa menit ia mengirimkan nama instagram yang ia buat. Seperti menjadi kebiasaan passwordnya adalah namanya.
'Nih Ge nama akun instagram kamu orianaputrigea passwordnya nama aku ya'
'Loh kok nama kamu lagi sih passwordnya’
'Gapapa semua akun sosial media kamu yang aku bikin passwordnya nama aku'
'Ga sekalian sama Twitter, Facebook juga Ka wkwkwk'
'Wah boleh tuh ide bagus'
'Engga Ka, aku bercanda tahu'
'Iya aku tahu ko payah :p'
'Kita tuh ga pernah ngobrol bareng ga sih ga kalau dipikir-pikir'
'Iya ya, gapapa ge kita diem-diem aja dulu'
'Apanya yang diem-diem ?'
'Kalau aku sama kamu lagi pendekatan'
Aku tersenyum membaca pesan Raka itu. Selama ini raka menganggap kami sedang dalam pendekatan. Aku juga mencari tahu tentang Raka di semua sosial medianya. Aku takut ia punya pacar. Kan aku bisa mundur dari sekarang kalau ia sudah punya yang lain.
Ternyata Raka juga bercerita padaku. Dulu saat kelas 10 ia punya pacar kakak kelas. Ia kenal di ekstrakulikuler yang diikutinya. Ia dan kakak kelas itu tak berpacaran lama sampai akhirnya kakak kelas itu memutuskan Raka. Ia juga bercerita pernah dekat dengan anak kelas lain. Aku sempat melihat di salah satu postingannya memupload foto wanita mungkin itu kupikir.
'Oh yang fotonya kamu upload di google+ itu bukan sih'
'Iya yang itu hahaha'
'Kenapa gajadi sama dia ?' tanyaku penasaran
'Ga tau aku juga gasuka kayanya dia sama aku'
'Ah masa sih' ledekku
'Beneran Ge, aku juga udah ga ada hubungan lagi sama dia'
'Aku kan ga nanya'
'Ya aku sih jelasin aja ke kamu'
Semua jelas Raka memang hanya dekat denganku. Aku tak perlu mundur bukan. Lagi pula selama ini aku tertarik duluan ke Raka sampai akhirnya Raka juga ikut tertarik padaku.

Komentar Buku (92)

  • avatar
    NandaAfrizal

    seru

    30/08/2024

      0
  • avatar
    YuniYunita

    bagus

    24/05/2024

      0
  • avatar
    Oishii

    okxxdfc

    14/05/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru