logo text

Bab 8 BERPISAH

Hari ini suasana rumah Eca sangat ramai, banyak teman satu kelasnya datang untuk menjenguk Eca. Eca sendiri terharu melihat teman-temannya, apalagi ketika ia melihat teman seperjuangannya dari jaman SMP.
"Ca! Gua heran, kenapa cewek modelan lu bisa sakit separah ini?" Ajeng, teman Eca dari yogyakarta itu bertanya.
"Gatau jeng, kayaknya mabok Reihan deh!" Eca menjawab sembari terkekeh pelan, bahkan matanya berbentuk bulan sabit mengikuti senyumannya.
"Reihan, Reihan, dan Reihan! Sesekali mabok Ajeng gitu loh!" Ajeng kesal, pasalnya teman SMP nya ini sangat menjengkelkan. "Lagian lu kalo mau hunting Reihan gapernah tuh ngajak gua, kan gua jadi penasaran yang namanya Reihan kayak apa, ih!"
Eca mengernyitkan dahinya. "Heh, sumo! Yakali lu gatau Reihan, ngawur!" 
"Emang gatau, gua kan ga terlalu update soal cowok sekolahan!"
Eca menggelengkan kepalanya, ia melupakan fakta bahwa Ajeng tidak tertarik dengan anak SMA. Tipe Ajeng itu 5-10 tahun lebih tua darinya, pria matang lebih menggoda. "Tapi gua ngeri sama tipe idaman lu, padahal kita masih anak SMA kelas 10 loh!"
"Eleh, ngeri-ngeri, lu kira genderuwo!" Ajeng berdecak sebal, bahkan ia menonyor kepala sahabatnya. "Om-om tuh menggoda, biasanya udah pada mapan juga. Bagi gua yang apa-apa harus dituruti wajib punya pasangan spek om-om, lu mah terserah, kita beda level!"
Eca berdecih sinis. "Jelas lah! Selera gua mah Reihan, dia anak SMA tapi hot banget, buset dah!"
Ajeng menatap Eca jijik, hot darimana nya coba? Anak SMA kan rata-rata masih pada bocah, ga kayak om-om yang udah keliatan hot nya. "Hot dari Hongkong! Cungkring-cungkring gitu kok hot, aneh!"
Eca komat-kamit, ia menirukan gaya bicara Ajeng. Ajeng itu di jakarta baru 2 bulan, logatnya masih medok. "Anjir ca! Lambemu koyok bekicot!"
Eca melotot tak terima. "Emang lu tau mulutnya bekicot kek apa?!"
Ajeng tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan ia memukul paha Eca. "Perkiraan gua sih mirip lu, ca."
"Gila aja!" Sahut Eca kesal.
Tak lama kemudian Eca menatap teman-teman kelasnya yang mulai berpamitan untuk pulang, Eca mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk menjenguk Eca. Ia mendesah lega kala rumahnya mulai sepi, saat ini hanya tinggal dirinya dan Ajeng.
"Bunda lu kerja?" Tanya Ajeng.
Eca mengangguk. "Iya, padahal gua udah larang Bunda."
"Kalo dia ga kerja lu makan apa, ca?"
Pertanyaan Ajeng kali ini sukses membuat Eca menatapnya sinis, bahkan kini Eca menyentil dahi temannya itu. "Kan ada ayah. Dia selalu ngasih uang bulanan banyak kok, bahkan bisa buat Bunda juga."
Ajeng diam, ia ingin menjawab namun rasanya tidak enak. Ia tidak mau membuat Eca befikiran negatif, Eca terlalu berfikir positif soal ayahnya.
"Tapi jeng, gua kepikiran sesuatu." 
Ajeng mendekat mendengar perkataan Eca. "Kenapa? Ngomong aja!"
"Kemarin gua udah mutusin buat tinggal sama bunda, itu artinya sebentar lagi gua bakalan ikut bunda ke Yogya, ya kan?" Eca mendengus kasar, ia sudah betah disini. "Reihan gimana jeng?"
"Ih, semprul!" Ajeng mengumpat, ia mendorong kepala Eca pelan. "Kok Reihan yang lu pikirin? Gua, gimana? Lu ga mikirin gua?!" 
"Gua udah mindah kesini malah lu yang mau balik ke Yogya, sialan emang!" Ajeng benar-benar kesal, Eca malah lebih memikirkan orang lain.
Eca terkekeh pelan. "Lu mindah sini karena ortu lu ada kerjaan disini, lah gua? Bunda gua balik Yogya otomatis gua juga ikut, Jeng. Gua gamau jauh dari bunda, tapi buat ikut ayah kayaknya gua udah ga sudi."
"Terus lu kapan mindahnya?"
"Gatau, bunda belum ngomong apa-apa. Mungkin nanti kalo gua udah sembuh total." Eca menjawab sembari mengambil cemilan yang ada di depannya.
"Kalo lu balik Yogya lu gabakal balik kesini lagi?" Tanya Ajeng lagi.
Eca mengendikan bahunya acuh. "Soal itu gua gatau, gua penginnya di Yogya sampe kuliah. Kalo soal kerjaan bisa jadi gua nyari di jakarta. Oh ya, gua bakalan sempetin buat ketemu lu sama reihan nanti."
"Lu yakin ca?"
"Sebenernya ga yakin," jawab Eca lesu. Ia sudah betah disini, tapi dulu bundanya bilang kalau Eca pilih bunda mereka akan pindah ke Yogya. Pada saat itu Eca tidak memberi jawaban, ia bingung, ia ingin tinggal di jakarta tapi ia tidak mau berpisah dengan bundanya. Akhirnya bundanya mengalah, bundanya menunggu jawaban Eca dan bertahan di jakarta sampai Eca memberikan jawaban.
"Tadinya gua mau nahan bunda terus di sini, tapi setelah liat kelakuan ayah kemarin gua ga tega sama Bunda." Eca menunduk lesu, pikirannya terlalu dipenuhi keinginan bahagia tapi ia lupa keadaan sebenarnya berbanding terbalik.
Ajeng mengangguk, ia mengerti perasaan Eca. "Gua ngerti keadaannya rumit gini, tapi lu pikirin baik-baik dulu. Oke?"
"Gabisa," jawab Eca cepat. "Ga harus dipikiri baik-baik juga pasti pindah. Gua tau bunda udah ga betah tinggal di jakarta, cuman dia lagi perjuangin gua."
Setelahnya keduanya sama-sama terdiam, mereka hanya saling tatap. Ajeng mendengus kasar, kemudian merentangkan tangannya untuk menerima pelukan Eca. Eca sendiri tersenyum, kemudian mendekat dan memeluk Ajeng. 
"Gapapa, nangis aja."
Eca terenyuh, keadaan seperti apapun hanya Ajeng yang selalu ada. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti Ajeng, ia berharap ketika Ajeng mengalami masa sulit ia bisa membantunya. Hari itu Eca benar-benar menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ajeng, dan Ajeng tentunya ikut menangis melihat sahabatnya sehancur ini.
∆∆∆∆∆∆∆
Suasana lapangan kali ini cukup ramai, wanita dengan mata yang sedikit bengkak itu memperhatikan siswa-siswi yang bersorak ramai. Eca mendengus kasar, ia tahu ada Reihan dan Riski yang sedang bermain basket. 
"Padahal dia suka voli, tapi kalo di sekolahan mainnya basket Mulu. Dasar tebar pesona!" Eca, wanita yang saat ini memilih untuk duduk di tepi lapangan mendengus sebal. Ia menatap Reihan dengan seksama, kemudian mengambil kaca untuk melihat wajahnya sendiri memastikan tidak ada hal aneh di wajahnya.
Eca menatap wanita yang sedang duduk anteng tak jauh darinya, ia berdiri guna mendekati wanita itu.
"Hai, May!"
Maya menoleh, kemudian tersenyum cerah. "Eh, Eca! Kamu udah sehat?"
Eca mengangguk, kemudian duduk disamping Maya. "Sudah, kebetulan hari ini juga hari terakhir sekolah."
"Maksudnya?"
"Gua mau ikut bunda ke Yogya," jawab Eca tenang.
Maya membelalakkan matanya, ia menatap Eca tak percaya. "Serius?!"
Eca terkekeh pelan melihat respon Maya. "Gua serius, dan gua mau pamitan sama Reihan." Eca menatap dalam Maya, kemudian beralih menatap Reihan yang sedang berjalan ke arahnya sembari bercanda ria dengan Rizki.
"Reihan!" 
Reihan menoleh, wajah yang tadinya cerah berubah menjadi suram. Reihan mengernyitkan dahinya tak suka, padahal beberapa hari ini ia merasa lebih tenang tanpa kehadiran Eca di hidupnya.
"Aku mau ngomong berdua sama kamu," ujar Eca.
Kerutan di dahi Reihan bertambah, bahkan matanya menatap sengit Eca. Ia merasa terganggu dengan gaya bicara Eca yang menjadi lemah lembut, dan tentunya tenang."Lu masih belum kapok ya ternyata?"
"Ini terakhir kalinya kok, tapi aku butuh ngomong sama kamu." Perkataan Eca kali ini terdengar serius, bahkan Eca juga terlihat tenang.
"Oke, kita ke roftoop, tapi stop pake aku-kamu. Najis gua dengernya!'
Lagi dan lagi Eca hanya mengangguk, kemudian pergi meninggalkan tiga orang yang masih bingung melihat tingkahnya. Eca sendiri sudah memutuskan untuk tidak terlalu menggebu-gebu, ia akan menunjukan sisinya yang tenang.
Sesampainya di roftoop Eca hanya diam memandangi Reihan, ia berfikir hari ini ia akan memuaskan diri menatap Reihan sebelum ia benar-benar pergi. Eca berharap dirinya akan bertemu Reihan lagi di kemudian hari.
"Buruan, gua capek!"
Eca tersenyum simpul, kemudian mendekat dan duduk di samping Reihan. "Hari ini hari terakhir kita ketemu." 
Reihan hanya diam, ia tetap menatap ke depan tak mau menatap Eca. 
"Mulai besok gua udah pindah sekolah ke yogyakarta, gua juga bakalan kuliah disana." Tiba-tiba Eca merasa sedih. "Gua terpaksa pindah karena harus ikut bunda, tapi gua bakal usahain nyempetin waktu buat ketemu sama lu. Pokoknya ntah dua bulan sekali gua bakalan ke jakarta buat ketemu sama lu."
"Gausah!" Jawaban Reihan kali ini benar-benar singkat, padat, tajam, dan pastinya menusuk. "Kalo perlu ga usah balik lagi ke jakarta, gua ga tertarik sama lu ngapain lu semati-matian ini? Bahkan buat pindah sekolah aja lu harus ngomong begini, kocak!"
Reihan mendengus kasar melihat Eca yang sepertinya masih mencerna perkataannya. "Ca, lu ga buta kan soal sikap gua selama ini ke lu? Kenapa lu seakan-akan nganggep gua ini peduli sama lu? Mau lu pindah kota bahkan luar negeri sekalipun gua gabakalan peduli, Ca!" 
Reihan tetaplah Reihan, ia adalah manusia yang mempunyai pendirian teguh. Kalau dia mau A ya harus A kalo B ya harus B, Reihan selalu berpegang teguh pada pendiriannya.
"Tapi Han, gua boleh peluk lu kan?"
Pertanyaan Eca kali ini membuat emosi Reihan memuncak, ia tak habis fikir dengan pertanyaan wanita yang ada di depannya ini. "Lu gila?! Ga ada pelukan, ga ada kata-kata manis. Kalo lu mau pindah, ya pindah aja! Gua tekanin sekali lagi, gua ga peduli!"
Eca menundukan kepalanya ketika Reihan meninggalkannya, jarinya saling bertaut menyalurkan rasa sakit yang terasa di bagian dadanya. Ia sudah menduga respon Reihan tidak enak, tapi ia merasa lega karena sudah memberi tahu Reihan soal kepindahannya. Eca berharap di kemudian hari ketika mereka sama-sama sudah sukses bisa dipertemukan lagi, dan tentunya dengan perasaan yang masih sama.

Komentar Buku (3)

  • avatar
    Elsaaa

    sangat bagus

    20/06

      0
  • avatar
    TinaTina

    tulisan nya begitu menarik dan enak untuk di baca

    27/05

      0
  • avatar
    Ahmad Gebang

    sangat mnarik

    24/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru